
"Astaga, dasar anak durhaka. Medit bener, padalan untuk orang tuanya sendiri."
"Suka-suka dong. Duit juga duit, gue kok lo yang sibuk."
"Terserah lo deh, Yan." Sahut Kesya lalu kembali ke mobil.
Setelah membelikan pesanan papa serta adiknya, Aryan pun langsung mengemudi mobilnya kembali ke rumah.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Eh, udah pulang?"
"Masyaallah! Banyak bener tuh belanjaan? Gak sekalian aja tokonya kalian beli juga?" Ucap Vidya
"Gara-gara, Aryan lah tuh. Main asal ambil aja."
"Sudah-sudah. Mana pesanan, Papa?"
"Nih, Pah." Kesya memberikan sekotak brownies pesanan papanya tadi.
"punya aku mana?" Tanya Vidya
"Nih, punya kamu."
"Yey, makasih Mbakku sayang."
"Udah yok, Key. Ngelama-lamain lo di sini." Aryan langsung menarik tangan Kesya
"Kami ke kamar dulu ya, Mah." Ucap Kesya.
"Katanya laper, kok malah ke kamar? Aneh, lo."
"Astaga! Iya ya, lupa gue."
"Yaudah, lo aja yang masak, Key."
"Gak mau ah. Entar gosong lagi, gue di hina lagi."
"Enggak. Kalo udah lapar, yang hangus pun jadi enak."
"Yaudah ayo turun."
Saat sampai di dapur, Kesya mulai menyiapkan beberapa bahan-bahan yang akan di masaknya.
"Mau di masakin apa ini, Yan?"
"Terserah, lo aja deh, Key. Nasi goreng juga boleh."
"Nasi goreng pake sosis bakar gimana? Mau gak?"
"Yaudah, boleh lah. Buruan, laper bener nih gue."
Kesya pun mulai meracik bumbu untuk membuat nasi goreng.
********
Setelah makan malam, Aryan dan Kesya kembali ke kamarnya.
Kesya mulai merebahkan tubuhnya di ranjang berukuran king size itu.
'Ck! Kapanlah gue di sentuh sama, Aryan ya? Kan pengen juga ngerasain rasanya gimana.'
'Em, tapi kalo gue yang ngajak duluan, ih enggak banget. Dimana harga diri gue coba?' Batin Kesya
"Key!" Panggil Aryan
"Hem!"
Aryan terlihat ragu-ragu utuk berbicara.
'Duh, udah saatnya nih kayanya. Santai Kesya, tenang.' Batinnya lagi sambil menarik nafasnya dalam, lalu membuangnya perlahan
"Kenapa tuh monyong? Udah kaya ikan gak di kasih air aja."
"Em...itu... gimana ya bilangnya."
"Ngomong aja gak usah bertele-tele."
Sebenarnya Kesya sudah tahu maksud, Aryan. Cuma dia pura-pura tak tahu saja.
__ADS_1
"Ah, masa lo gak tau sih, Key."
"Apaan sih, Yan? Gak jelas banget! kaya hidup lo."
"Em, kalo udah menikah itu ngapain? Dah tau dong pastinya?"
Ucap Aryan memberi kode-kode untuk malam pencoblosan wkwkwk.
"Kalo udah menikah, yaudah halal dong. Gitu aja ribet amat."
"Enggak loh, Key. Duh, gimana sih ngejelasinnya? Em itu loh, ritual. Kan biasanya langsung ngejalani ritual gitu loh."
"Apaan sih, Yan? Ritual apaan? Lo mau ngajak gue ngepet iya? Pake acara ritual segala."
"Udah keras banget nih kode gue, masih gak ngerti juga? Astaga, Kesya! Terbuat dari apa sih otak, lo?"
"Bodok!"
"Itu loh, Kesya. Belah duren. Tau kan?"
"Belah duren? Oh, lo pingin makan duren? Yaudah keluar sana beli. Kok malah minta sama gue."
"Astaga! Kesya! Ya robby, ampuni dosa hambamu ini!" Teriaknya frustasi sambil menjambak-jambak rambutnya.
"Kenapa sih, Yan? Aneh banget."
"Gue mau minta hak gue! Dah, masih gak paham juga?"
"Hak yang mana? Gue gak punya apa-apa loh, Yan. Serius deh. Apa yang mau gue kasih coba?"
"Tubuh, lo! Puas?!" Sahut Aryan geram.
"Oh, lo mau tubuh gue? Enak aja!"
"Udahlah, key gak jadi." Ucap Aryan lalu bangkit dan hendak menuju pintu
"Mau kemana?" Kesya langsung menahan Aryan.
"Cari angin."
"Gue tau maksud, lo. Dosa juga kan kalo gue nolak?"
"Jadi mau nih? Ucap Aryan senang."
"Apa yang di takutin coba? Enggak gini aja, kalo emang lo belum siap, gak papa. Gue mau nunggu kok."
"Ah, gue tau lo kecewa kan?"
"Enggak, kok. Udah ah, gue mau keluar bentar."
"Gak boleh! Nah, tubuh, gue sekarang udah jadi hak lo. Terserah mau lo apain."
"Gue gak mau maksa. Kalo belum sanggup ya udah tunda dulu."
"Dari mata, lo gue bisa lihat kalo, lo lagi kecewa, Aryan."
"Bener nih? Ikhlas lahir batin? Dan gak ada paksaan dari pihak mana pun. Kalo gak ikhlas, mendingan gak usah deh."
Kesya mengangguk.
Aryan tak jadi keluar. Dia mengunci pintu, dan Kesya langasung mematikan lampu.
"Kok dimatikan lampunya?"
"Loh, jadi? Mau terang-terangan gitu?"
"Shalat dulu. Baru kita gas."
"Oh, oke deh. Gak usah di rem ya."
Mereka pun melaksanakan shalat sunnah dua rakaat, baru memulai kegiatan panas itu.
"Yan!"
"Hem"
"Gue malu deh."
"Ngapain malu? Tadi katanya tubuh gue, sekarang jadi milik, lo. Belum apa-apa udah ciut duluan."
__ADS_1
"Bukan gitu, malu gue kalo dilihatin."
"Sama laki sendiri aja malu, lo. Parah amat. Udah kalo gak gini aja, lo tutup aja mata, lo. Pasti gak ada yang lihat."
"Bukan gak ada yang lihat, gue nya aja yang gak lihat orang. Orang mah lihat, gue. Gimana sih, lo?"
"Lagian, gue takut, Yan. Pasti sakit banget tuh. Hih, seramnya gak sanggup gue ngebayanginnya."
"Ya makanya jangan di bayangin kalo takut. Udah buruan yuk, lama amat."
"Ah, gak mau ah. Berubah pikiran gue."
Dari banyaknya perdebatan, akhurnya Kesya mulai memberanikan diri dan mengiyakan permintaan, aryan.
"Ya ampun, Key. Lebat amat? Udah kaya semak belukar aja."
"Gak sempat gue mau babatnya. Jadi gini deh."
"Astaga! Jorok banget tau. Apa gak gatal itu? Tanya Aryan sambil geleng-geleng kepala."
"Ya, kalo gatal tinggal di garuk. Gitu doang pake nanya."
"Lah, malah ngegas. Di tanya betul-betul juga."
"Udah ah, lo belum apa-apa udah main komen aja. Bikin kesel aja tau."
"Enggak loh, Key. Merinding aja gitu gue lihatnya."
"Lebay! Udah ah, malu gue. Mana di liatin mulu lagi, keburu masuk angin ini."
"Sabar deh, biar gue basmi dulu nih semak-semak belukar."
Dengan telaten dan hati-hati, Aryan membabat habis semak belukar yang sangat lebat itu.
"Astaga! Ternodai tubuh gue ah. Kenyang pasti lo kan, ngeliatinnya?"
"Di cobain aja belum, gimana mau kenyang? Ganggu aja nih semak-semak belukar. Jadi lama kan prosesnya."
"Sabar dong. Makanya ikhlas, jadi cepat selesai."
"Udah ikhlas banget nih, gue."
Setelah selesai, Aryan langsung menindihi tubuh, Kesya.
"Astaga, Yan. Pelan-pelan kek, main timpa-timpa aja. Lo kira gue kasur apa?"
"Siap, Key?"
"Siap gak siap sih sebenarnya."
"Udahlah, bodok. Mau pemanasan dulu atau langsung ke inti ini?"
"Terserah deh, Yan."
Aryan bener-bener rakus. Tak di lupakannya setiap inci dari tubuh, Kesya.
Kesya tak henti tertawa.
"Ketawa mulu, lo?"
"Geli, Aryan! Ih, udah ah. Sakit perut, gue."
"Sabar, itu masih pemanasan. Belum ke intinya."
"Aryan!!! Sakit banget!!!"
Teriak Kesya kesakitan
"Sabar, Key. Ini juga udah pelan-pelan."
"Ah udahlah. Sakit banget gila!"
"Sabar, Key. Dikit lagi nih."
Kesya mencengkram erat kain sprey yang mereka tiduri itu.
"Satu...dua...tiga...."
"Aryan!!!"
__ADS_1
Akhirnya, jebol juga benteng pertahanan Kesya selama ini. Wkwkwk
Bersambung....