
Dret!!! Dret!!! Dret!!!
Ponselnya berdering. Aryan keluar untuk mengangkat telepon.
[Hallo!]
[.......]
[Bagaimana bisa?]
[......]
[Tunggu, sebentar lagi saya kesana]
"Aghh!!! Gila! Banyak banget masalah yang harus gue hadapi!"
"Gue gak mungkin ninggalin, lo sendiri Key. Tapi, gue juga harus selidiki siapa dalang di balik musibah yang menimpa lo, Key."
Saat Aryan bimbang, kebetulan Vidya datang. "Ah, syukurlah! Akhirnya lo datang juga, Vid."
"Emangnya kenapa? Kok kaya seneng banget tu muka? Mbak Kesya udah siuman?"
"Bukan. Abang harus pergi bentar. Ada urusan penting. Tapi gak mungkin, Abang tinggalin Kesya sendirian di sini. Berhubung ada, lo. Abang titip, Kesya ya."
"Abang mau kemana?"
"Mau ngurus dalang di balik keracunan, Kesya ini."
"Oh! Ya udah Abang pergi aja. Biar Mbak Kesya aku yang jaga. Semoga semuanya terbongkar ya, Bang."
"Aamiin. Kamu jaga Kesya baik-baik ya. Kalo ada apa-apa, telpon Abang aja."
********
"Bagaimana mungkin?"
"Maaf, Mas. Memang begitu kejadiannya. Mas bisa liat sendirikan?"
"Gedung semewah ini, bahkan Cctv nya error? Kalian mau menipu saya?"
"Bukan begitu, Mas. Cctv di sini semuanya masih berfungsi. Sepertinya ini ada yang mensabotase, Mas sehingga Cctv nya mati."
"Cuma ini salah satunya kunci agar terbongkar dalang di balik ini semua. Kalo Cctv nya rusak gini, gimana mau tau ini ulah siapa?"
"Sekali lagi kami minta maaf, Mas. Baru kali ini kami kecolongan masalah sebesar ini."
"Em, ah iya. Siapa pelayanan yang tadi memberi kami minuman itu?"
"Namanya, Edo Mas. Dia kabur, jadi sekarang jadi buronan polisi."
"Apa tidak ada satu pun Cctv yang nyala di sini?"
"Tidak ada, Mas. Semua padam. Jadi gak bisa ngerekam apa yang terjadi barusan."
"Aghh!!!" Aryan teriak frustasi.
Dret!!! Dret!!!! Drett!!!
Tiba-tiba ponsel Aryan berbunyi. Terpampang jelas di sana, bahwa Vidya sedang menelponnya.
[Hallo, Vid. ada apa?]
[Bang! Mbak Kesya kejang-kejang!]
__ADS_1
[Apa? Kamu serius?]
[Serius, Bang. Sekarang lagi di tangani sama dokter.]
[Oke! Abang kesana sekarang]
Sambungan telpon di putus oleh Aryan. "Saya permisi dulu, Mas. Nanti kalo ada informasi, kabari saya ya."
Aryan balik lagi ke rumah sakit. Dengan pikiran yang campur aduk, dia membelah jalanan dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di rumah sakit, Aryan langsung berlari menuju ruangan Kesya berada.
"Vid, gimana keadaan, Kesya?"
"Belum tau, Bang. Kasihan banget, Mbak Kesya!" Vidya menangis melihat keadaan kakak iparnya itu.
"Lo punya musuh kali, Bang? Coba lo inget-inget, lo ada buat masalah sama siapa?"
"Gak ada, Vidya! Gue mana pernah punya musuh-musuh gitu sih. Kalo pun ada, pasti gue yang kena bukan, Kesya."
"Oh iya, gimana? Udah kebongkar pelakunya?"
Aryan menggeleng. "Ada yang mensabotase Cctv nya. Jadi, pas kejadian itu Cctv nya dalam ke adaan mati."
"Astaga! Kalo gini ceritanya, gimana ketahuan siapa pelakunya."
"Sekarang pelayan itu lagi jadi buronan polisi. Abang rasa, dia yang udah nyampurin minuman itu. Karena begitu minum minuman dari dia, Kesya langsung jatuh."
"Tapi siapa dia ya, Bang? Atau jangan-jangan dia di suruh sama orang?"
"Kalo masalah itu, Abang juga gak tau, Vid. Semoga aja semua nya cepet kelar."
"Semoga aja ya, Bang."
"Gimana keadaan istri saya sekarang, dok?"
"Kondisi Istri, Mas semakin memburuk. Racun yang di dalam tubuhnya, sempat menjalar ke organ tubuh lainnya."
Aryan terduduk lemas luluh ke lantai. Dia begitu terkejut dengan ucapan dokter barusan.
"Astaga! Jadi bagaimana itu, dok? Apa tidak berbahaya?"
"Ini masalah yang sangat berbahaya, Mbak! Kalau tidak langsung di tangani, pasien bisa sampai kehilangan nyawanya."
"Lakukan yang terbaik, dok. Berapa pun akan kami bayar, demi kesembuhan Mbak Kesya."
"Mbak Kesya harus segera di operasi. Agar racun yang di dalam tubuhnya dapat di keluarkan."
"Maaf, bukannya Mas Aryan ini dokter juga ya?" Aryan mengangguk lemah dengan masih di posisi semula.
"Kalo gitu, apakah Mas bisa bantu saya untuk melangsungkan operasi, Mbak Kesya?"
"Saya gak sanggup, dok."
"Baiklah. Operasi dilakukan lima menit lagi."
"Suster, siapkan semua. Kita akan melakukan operasi untuk, Mbak Kesya."
"Baik, dok."
Kesya segera di larikan ke ruangan operasi. Aryan dan Vadya menyusul dari belakang.
****
__ADS_1
"Bang, makan dulu yuk? Abang belum ada makan loh dari tadi pagi."
"Abang gak selera, Vid. Kamu makan deluan aja."
"Aku udah makan. Abang belum sama sekali. Nih makan dulu, kalo Abang belum makan ntar sakit loh. Gimana mau rawat Mbak Kesya, klo Abang sakit juga?"
"Gue gak tenang, sebelum Kesya baik-baik aja. Gimana ya keadaan, Kesya sekarang? Pasti dia juga lapar karna belum makan."
Tak lama, dokter pun keluar. "Alhamdulillah, operasinya berjalan dengan lancar."
"Alhamdulillah, syukur deh kalo gitu."
Saat operasi telah selesai, Kesya di pindahkan kembali ke ruangan rawat inap dengan vasilitas VIP.
Para sahabat dan kolega bisnis mulai berdatangan untuk menjenguk dan melihat kondisi Kesya.
Walaupun racun di dalam tubuh, Kesya telah di angkat seluruhnya. Namun Aryan masih sangat cemas, sebab sampai sekarang Kesya belum siuman.
****
Hari berlalu. Sudah tiga hari lamanya Kesya terbaring lemah di dalam rumah sakit.
Sampai sekarang, Belum siuman sama sekali. Aryan selalu menemani dan menjaganya selama di rumah sakit.
"Key! Bangun dong, Key! Apa gak bosen, lo tidur mulu? Bangun kek, gue khawatir tau!"
Tak lama, jari-jari Kesya mulai ada pergerakan.
"Key, lo udah sadar?" Ucap Aryan sambil terus memperhatikan setiap pergerakan dari Kesya.
Perlahan, mata Kesya terbuka sempurna. "Aryan, gue dimana?" Ucapnya lemah sambil memegangi kepalanya.
"Ya ampun, Key! Gue seneng banget!" Aryan langsung memeluk tubuh lemah, Kesya.
"Aryan! Pelan-pelan dong. Kesya belum pulih seutuhnya, kamu lihat tuh badannya masih lemas banget."
"Aryan seneng banget, Mah. Astaga!" Ucapnya kegirangan.
"Bang Aryan emang gitu, Mah. Sukanya main nyosor aja." Sahut Vidya sambil tertawa
"Shut! Anak kecil gak usah ikut campur! Masih belum cukup umur kamu tuh."
"Ck! Gak jelas lo Bang." Sahut Vidya sambil memutar bola mata malas.
"Alhamdullillah, kamu udah sadar nak. Kami semua senang lihatnya."
"Kesya kenapa, Mah?"
"Kamu koma, Sayang. Udah tiga hari. Tuh kamu lihat, Aryan sampe gadel gitu karna gak pernah mandi. Dia yang selalu menunggu kamu di sini."
Kesya langsung menatap ke arah, Aryan. "Jangan di percaya, Mbak! Emang dasar Bang Aryan aja yang males mandi." Celutuk Vidya
"Wah, gue pites lo lama-lama. Mah mulut, Vidya sekarang makin lemes banget deh! Asal jeplak aja klo ngomong."
Semua orang tertawa bahagia. Namun tiba-tiba ponsel Aryan berdering.
Dret!!! Dret!!! Dret!!!
[Hallo!]
[.......]
[Bunuh diri? Bagaimana bisa?]
__ADS_1
Bersambung.....