
"Hih, kegatalan, lo Vid!" Cibir Aryan
"Diem lah, Bang! Iri aja, lo jadi orang."
"Mbak, jangan lupa ya?" Ucap Vidya sambil mengedipkan matanya sebelah.
"Dasar, manusia aneh!" Gumam Aryan sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya.
Setelah selesai sarapan, Aryan kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaian.
"Aryan, buruan! Lama amat sih ganti baju doang!" Teriak Kesya dari bawah
"Sebentar kenapa sih. Gak sabaran banget jadi orang."
Aryan turun dengan setelan atasan kemeja berwarna biru laut, dengan bawahan celana panjang hitam berbahan katun itu.
"Ayo kita berangkat." Kesya langsung berjalan
keluar mendahului, Aryan.
"Eh, tunggu dulu." Aryan langsung menarik pergelangan tangan, Kesya.
"Ck! Apa lagi sih? Buruan, ntar lo kesiangan tau."
"Lo mau ikut, gue kerumah sakit pake begini doang?"
"Jadi? Kan gak ada yang aneh. Kecuali gue gak pake baju, baru itu namanya aneh."
"Ck! Bukan itu makasud, gue."
"Terus?"
"Masa lo ikut gue pake baju beginian? Apa gak ada lagi baju, lo yang lain?"
"Kenapa sih, Aryan? Salah mulu, gue di mata, lo?"
"Kan memang aneh sih, Kesya! Pakaian, lo ini gak pantes kalo di pake untuk keluar rumah."
"Yang penting kan pake baju!"
"Kalo, lo mau ikut gue. Lo ganti baju dulu, kalo lo tetep masih pake baju itu, gak mau gue ngajak, lo pergi."
"Masa ikut gue kerumah sakit, lo pake daster? Jatuhin martabat, gue aja lo!" Tambah nya lagi.
"Ck! Iya bawel. Bentar, gue ganti baju dulu." Ucap Kesya sambil bangkit dari duduknya.
"Pake yang sopan! Jangan yang kurang bahan, yang, lo pake."
"Pake bikini, gue. Lo liat aja deh."
"Yaelah! Ngejawab mulu kalo di bilangin!"
"Terserah, gue dong. Mulut-mulut, gue. Kok malah, lo yang repot!"
"Udah gak usah ngerepet di situ! Buruan ganti baju. Lima menit, gue tunggu. Kalo lewat, gue tinggal!"
"Key, masih lama gak? Entar, gue di marahin papa kalo telat."
"Ini udah siap." Sahut Kesya sambil berlari saat menuruni tangga.
"Hey, jangan lari-lari!"
"Biar cepat. Sempat nanti, lo di pecat, mau makan apa gue?"
"Iya, tapi gak perlu sampe lari juga. Nanti kalau jatuh gimana?"
"Cie...mulai perhatian nih ye!"
"Gak juga. Gue kasihan aja sama lantainya. Takutnya licet, kan jadi jelek."
"Ih, kok malah lantai sih yang di pikirin? Bukannya, gue."
"Kalo mikirin, lo entar gue gak bisa tidur. Makanya mikirin lantai aja."
"Udah ayo! Nanti keburu telat. Awas aja sampai, lo di pecat. Mau, lo kasih makan apa, gue? Makan batu, iya?"
"Shut! Berisik!"
Aryan meletakkan jari telunjuknya ke bibir, Kesya.
Kesya sempat diam beberapa saat, sambil terus menatap, Aryan.
"Udah liatinnya, nanti naksir."
"Ye, geer banget. Lagian, gue kesel sama, lo. Bukannya kerja, malah kelayapan. Untung anak orang kaya, kalo kaya gue? Gak makan pastinya."
"Udahlah! Peka kuping, gue di ceramahi mulu. Mana ceramahnya gak berbobot lagi."
Aryan langsung berjalan dan meninggalkan, Kesya.
"Kok gue di tinggal? Gak ada romantisnya banget deh jadi suami."
"Bodok!" Aryan menyahut sambil terus berjalan tanpa menoleh kearah, Kesya sedikit pun.
__ADS_1
"Lo mau ikut, atau mau terus berdiri kaya patung di disitu?"
"Ih, cuek banget deh. Untung udah sah, kalo gak udah gue tinggal, lo!"
"Bodok! Di luaran masih banyak! Masih bisa gue cari lagi. Modelan kaya, lo mah. Banyak di pasar-pasar ikan."
"IH, ARYAN!!! Kok gue di samain sama ikan sih? Jahat banget!"
Aryan tak menggubris ucapan, Kesya. Dia terus berjalan hingga menghilang dari balik pintu.
"Kesel banget deh. Masa princes yang cantiknya tiada tara ini di samain sama ikan? Beda kasta dong." Gerutu Kesya sambil menghentak-hentakkan kakinya di lantai
Tin... Tin... Tin...
Aryan terus membunyikan klakson mobilnya dari luar.
"Ck! Berisik banget! Bukannya di susul coba? Di susul kek. Ayo Key atau apalah gitu basa basinya. Ini enggak."
"Untung sayang. Kalo gak, udah gue tinggal!" Sambung Kesya lagi sambil berjalan ke arah pintu.
Tin... Tin.... Tin...
"Ih, berisik!!!"
"Cepetan makanya. Nanti gue di pecat, gak bisa ngasih, lo makan pula. Jadi deh makan batu."
"Ck! Nyindir aja taunya!"
"Eh, ada yang merasa rupanya?"
Kesya berdiri mematung di samping mobil. "Lo gak mau masuk?"
'Kan, malah nanya. Gak peka banget sih. Gue kan mau juga di bukain pintu kaya yang di film-film itu.' Batin Kesya
"Yaelah, malah bengong. Masuk! Gak ada acara buka-bukain pintu ya. Bukan babu soalnya."
Kesya masuk kedalam mobil, lalu menutup pintunya dengan kuat.
"Astaga! Rusak Mobil Lamborghini Aventador gue entar."
"Lamborghini pala, lo peang. Mobil Avanza ini bego! Gini-gini tau lah gue dikit-dikit nama mobil."
"Sengaja. Soalnya gue takut kalo make mobil mahal gue, entar rusak lagi lo naikin."
"Astaga, Aryan! Gak segitunya juga kali."
"Udah, mulai mancung tuh bibir." Aryan mulai mengemudi mobilnya ke jalan raya.
Sepanjang jalan Kesya hanya diam tanpa bicara sepatah kata pun.
"Lo mau makan apa, Key?" Lagi-lagi, Kesya hanya diam dan tak mengopeni ocehan, Aryan.
'Bah, merajuk beneran si kawan ini ah.' Batin Aryan
Aryan terus memikirkan cara agar Kesya mau bicara lagi.
"Besok kita jalan-jalan naik lamborghini ya, mau gak?"
"Beneran?"
Kesya langsung menyahut senang
'Ck! Giliran di iming-iming lamborghini senang dia langsung. Ya ampun, ribetnya jadi wanita ini.' Batin Aryan
"Kapan-kapan aja deh. "
Sahut Aryan. Kesya yang tadinya senang, kini kembali merengut.
"Merajuk lagi! Kan gak mungkin, gue ke rumah sakit naik itu."
"Kenapa rupanya? Selagi itu punya kita, berhak dong kita pakai kemana aja."
"Iya juga. Tapi kan, lebih bagus kalo tampil sederhana. Lagian juga, kalo di pake ke rumah sakit, bakalan nganggur di parkiran."
"Apa bedanya sama di rumah? Toh, dia nganggur juga."
Aryan membelokkan mobilnya ke arah rumah sakit.
"Udah sampai ni. Nanti aja kalo mau ngomelnya." Aryan langsung turun dari mobil.
"Di tinggal lagi. Bukannya di bukain pintu, malah di tinggal gitu aja." Gerutu Kesya
"Aryan, tunggu!" Kesya berlari mengejar Aryan
"Makanya jangan lelet! Udah siang ini."
"Ih cuek banget sih, lo. Mana main ninggalin aja lagi."
"Gak kerjaan harus nungguin, lo." Tak sengaja mata, Kesya melihat pasangan muda sedang bermesraan di hadapannya.
"Sayang, kamu mau makan apa nanti?"
__ADS_1
"Ucap seorang pria pada pasangannya."
"Em, pizza kayanya enak deh."
"Oh, kamu mau pizza? Nanti kita beli ya."
"Yang bener? Aaa... makasih, sayang!" Sahut si wanita lalu memeluk pasangannya
Kesya terpelongo melihat sikap pasangan yang di lihatnya.
"Mingkem! Masuk lalat baru tau."
"Ih, apaan sih? Ganggu aja."
"Lagian ngeliatin orang sampe segitunya."
"Udah ayo masuk aja. Katanya udah telat."
Keduanya terus berjalan beriringan masuk kedalam rumah sakit.
"Pagi, dok!" Sapa perawat yang kebetulan sedang lewat berlawanan arah dengan mereka.
"Pagi!" Sahut Aryan sambil terus berjalan
"Pagi, Dokter Aryan!"
Sapa seorang dokter wanita yang sok kecantikan itu.
"Pagi, dok."
"Apa kabar, dok? Udah lama nih gak jumpa. Kemana aja?"
"Ganjen bener!" Celetuk Kesya
"Baik."
Seolah tau kalo, Kesya lagi ngambek. Dia langsung pergi meninggalkan, dokter itu.
" Maaf, dok saya ada piket pagi ini. Saya duluan ya."
Aryan langsung menggandeng tangan Kesya dan membawanya pergi.
"Jangan ganjen jadi perempuan!"
"Huh, awas lo ya!"
"Yang tadi siapa, Yan? Mantan, lo ya? Atau selingkuhan, lo?"
"Jangan ngaco deh, Key. Lo bisa nunggu di ruangan, gue atau boleh juga di ruang tunggu. Gue mau urus pasien dulu."
"Ikut ke dalam aja gak boleh?"
"Gila, lo! Mana boleh. Udah lo di ruangan, gue aja. Ada tv kok di sana. Jadi lo gak bosen."
"Gak mau ah, Yan. Gak enak."
"Siapa suruh mau ikut? Udah terserah, lo mau kemana. Gue masuk dulu ya. Ini nyawa, jadi gak boleh main-main."
Aryan langsung masuk ke dalam ruang operasi, dan meninggalkan, Kesya sendirian.
"Aneh banget! Yang mana ruangannya aja gue gak tau, gimana mau kesana?"
"Kalo di lihat-lihat, rumah sakit papa Aryan besar juga yah. Apa gak bertumpuk tuh uang di bawah kasur? Hahaha."
Kesya berjalan mengelilingi rumah sakit besar itu. Kesya yang tak tau dimana ruangan Aryan berada, terus mutar-mutar di situ aja.
"Maaf, Mbak. Mau cari siapa ya?" Tanya seorang dokter pria padanya.
"Em, ini saya mau cari ruangan, Dokter Aryan. Dokter tau gak ya?"
"Oh, ruangan Aryan? Saya tahu. Tapi, Dokter Aryan sekarang lagi menangani pasien. Mungkin sedikit lama."
"Iya saya tau. Saya mau mencari ruangannya. Apa dokter tau?"
"Em, mbak ada keperluan apa ya?"
"Saya istrinya!"
Kesya yang mulai kesal, menjawab dengan nada ketus.
"Oh, jadi ini istrinya, Dokter Aryan? Cantik banget!"
"Terima kasih. Bisa kasi tau saya, ruangannya dimana?"
"Lurus aja, ruangan nya paling ujung sebelah kiri."
"Makasih." Sahut Kesya lalu berjalan menyusuri koridor rumah sakit.
"Ribet banget! Tinggal jawab apa susahnya coba? Pake belit-belit segala lagi." Kesya ngedumel sambil terus berjalan.
Saat hendak masuk ke dalam ruangan, Aryan. Kesya melihat Kanaya masuk ke dalam ruangan kandungan.
"Ngapain, kanaya ke ruang kandungan?" Batin Kesya.
__ADS_1
Bersambung...