
"Udah, udah! Gak perlu pakai kode-kode segala. Kalo memang lo mau, kita gas sekarang juga." Ucap Aryan sambil menarik tangan Kesya
"Lo mau bawa gue kemana?"
"Katanya mau ke kamar, yaudah nunggu apa lagi coba? Udah ayo."
"Aryan, gue gak mau! Bi, tolongin Kesya! Aryan!!!"
Aryan tak mempedulikan teriakan, Kesya. Ia terus menarik Kesya naik ke atas.
"Aryan, please! Lepasin!"
"Bising amat sih, Key? Gue lakban tu mulut baru tau."
"Lepas, Aryan! Gue gak mau bunting dulu. Oh, tuhan tolong hamba mu ini."
Aryan malah tertawa mendengar ucapan Kesya barusan. "Takut bunting? Siapa juga yang mau hamilin, elo? Geer banget!"
"Ya, elo lah. Lo mau nidurin gue kan? Gada akhlak lo memang."
"Ck! Sudah lah, Key! Lo itu ya fitnah terus bawaannya. Udah gitu, sok-sokan merasa terzholimi pula itu, najis!"
"Bukan fitnah. Kan elo sendiri yang bilang tadi. Udah kegatelan ya? Modal kek, kalo mau enak gitu."
"Ngapain harus keluarin duit, kalo ada yang gratisan? Itu namanya blo'on."
"Jadi lo ngatain gue gratisan? Enak aja! "
"Padalan gue tadi mau ngajak lo jalan-jalan. Ya, berhubung udah di fitnah, gak jadi deh."
"Ha! Jalan-jalan? Yang bener? Is, gak ngomong sih. Kan, kalo tau di ajakin jalan-jalan gini kan pasti seneng, gue."
"Giliran di ajak jalan-jalan aja, lo cepet. Giliran di bilang mau ke kamar, jerit-jerit lo."
"Ya beda lah. Kalo jalan-jalan kan enak."
"Padalan, kalo di kamar juga enak lo. Lebih bersensasi lagi."
"Au ah, bodo! Gue mau siapan dulu ya! Jangan di tinggal, awas aja kalo, lo tinggal. Habis lo gue buat."
"Udah buruan! Pake acara ceramah segala. Gue kasih waktu lima menit. Lewat dari itu, gue tinggal."
Sudah lebih dari empat puluh lima menit, Aryan menunggu Kesya.
"Astaga, Key! Udah satu jam gue nungguin lo dari tadi. Lo ganti baju atau bersemedi?"
"Jaipongan, gue!"
"Astaga! Keburu bau asem nih badan gue."
"Sabar kenapa? Masih juga satu jam, udah ketar
Ketir lo."
"Gimana lagi kalo setahun? Jadi orang kok gak ada sabar-sabarnya. Heran gue."
*******
Setelah sekian lama menunggu, Kesya akhirnya keluar juga.
Keduanya langsung masuk ke mobil, dan mulai bergabung dengan kendaraan yang lain.
"Kita mau kemana?"
"Ke rumah gue."
Mendengar ucapan Aryan barusan, Kesya langsung keringat dingin.
__ADS_1
"Gak salah, lo? Ih, gue gak mau! Udah lah, gue turun di sini aja."
"Kan gak ada salahnya mencoba. Siapa tau bakalan sesuai ekspetasi, kan lumayan."
"Kalo iya, kalo enggak? Udah lah, Yan balik aja. Gak enak nih perasaan gue."
"Udahlah, nanggung."
Aryan terus fokus mengemudi mobilnya hingga berhenti di suatu rumah mewah.
"Waw, rumah siapa ini? besar banget." Kesya menatap sekeliling dengan takjub
"Rumah gue lah! Masa iya rumah hantu."
"Rumah elo? Gak salah ni? Ini rumah atau kerajaan?"
"Katrok amat, lo! Udah ayo masuk. Pegel kaki gue berdiri mulu."
"Ih, gue takut banget!"
"Udah ayo." Aryan langsung membawa Kesya masuk ke dalam.
"Hai, Mah." Sapa Aryan
"Wah, anak Mama sudah pulang." Ucap Mama Indri senang lalu memeluk Aryan.
"Kenalin, Mah ini, Kesya." Ucap Aryan memperkenalkan Kesya pada Mamanya.
Kesya langsung menyalami tangan Mama Indri. "Kesya tante."
"Pacar baru lagi? Kanaya kamu kemanain? Heran Mama liat kamu, bolak balik ganti. Kalo satu, ya satu aja!" Omel Mama Indri
"Em, anu, Mah. Sebenarnya, Kesya ini em..."
"Ngomong itu yang jelas! Am..em...am..em! Gak pande ngomong iya? Buat lama aja kamu itu."
"Apa? Istri? Kamu sudah menikah, Aryan? Kapan? Masa anaknya udah nikah, mama nya gak tau? Buruan kamu jelasin ke mama, Aryan!"
"Satu-satu dong kalo nanya itu, Mah. Udah kaya kereta api aja, panjang bener."
"Jawab mama dulu, Aryan! Bagaimana bisa kamu sudah menikah tanpa sepengetahuan, Mama?"
Aryan mulai menceritakan semua kronologi kejadian yang menimpanya di kala itu.
"Astaga, Aryan! Gak bisa lagi Mama ngomong sama kamu! Ada aja masalah yang kau buat."
"Ini kan musibah, mah. Aryan juga gak mau ini terjadi. Tapi gimana lagi, semuanya udah terlanjur."
"Sudah berapa lama kalian menikah?"
"Kurang lebih, tiga bulan, Mah."
"Apa? Sudah tiga bulan? Kenapa kamu merahasiakan ini semua sama mama? Apakah gak kamu anggap lagi Mama mu ini, Aryan?"
"Bukan begitu, Mah."
"Lalu? Kau anakku, Aryan! Aku harus tau semua yang terjadi pada mu. Masalah sebesar ini, namun aku tak tau. Ibu macam apa aku ini?"
"Aryan takut mau jujur, Mah. Aryan takut Mama bakalan marah tentang masalah ini. Makanya Aryan gak kasih tau."
"Mama gak marah kan? Atau, kalo mama mau marah juga gak apa-apa. Ini juga kesalahanku. Jadi terserah mama, Aryan pasrah."
"Sudahlah! Mau marah juga sudah terlanjur, semuanya sudah terjadi. Mendingan sekarang kita makan aja. Tuh udah di siapin di meja makan."
"Untung Mama gue gak marah ya, Key. Gue kira bakalan sama kaya di mimpi gue." Bisik Aryan sambil mengikuti Mamanya ke meja makan
"Ck! Gue jantungan tau! Untung Mama lo baik hati kaya gue."
__ADS_1
"Halu, lo!"
"Udah bulan madu kemana aja?" Tanya Mama Indri saat kedua pasangan itu duduk di meja makan
Keduanya hanya menyengir kuda. "Kesya udah isi, nak?"
"Isi? Isi apa ya, tante? Kesya gak paham." Sahutnya sambil cengengesan
"Bolot banget sih, lo! Isi itu maksudnya udah hamil gitu loh. Perempuan apaan sih model kaya, lo gini? Isi doang aja gak ngerti."
"Ck! Diam deh lo!"
"Hei, kok malah bertengkar sih. Kamu belum jawab pertanyaan, saya tadi loh."
"Em, belum kok, Tan."
"Gak papa, sering-sering aja, nanti bakalan jadi juga kok."
"Jangan kan sering, mah. Sekali aja pun belum." Sahut Aryan.
"Loh, berarti belum di coblos?" Keduanya menggeleng.
"Kok belum sih. Mau nunggu sampe kapan? Keburu berlumut entar di anggurin mulu."
"Gak apa-apa, Mah. Kalo lumutan, tinggal di sikat dikit aja. Ntar ilang juga kok." Sahut Aryan
Kesya menatap sinis ke arah Aryan. "Kenapa mata, lo? Kesurupan?"
"Jaga mulut lo, Aryan! Sekali lagi lo ngomong yang enggak-enggak, gue penggal anu, lo!" Ancam Kesya sambil berbisik
"Sudah! Jangan di bahas lagi, mari kita makan dulu." Mereka pun makan dengan khidmat.
"Kalo bisa secepatnya kalian kasi mama cucu. Jangan takut-takut! Kalo masih pertama emang takut, tapi kalo udah tau rasanya, setiap detik rindu terus." Ucap Mama Indri di sela makannya
"Udah lah, Ma. Lagi makan pun, masih sanggup bahas soal ranjang." Protes Aryan
"Gak papa. Seru tau makan sambil bahas ginian, jadi makin seger. Duh, jadi pengen." Ucap Mama Indri sambil senyum-senyum.
"Mama lo kenapa, Yan?" Bisik Kesya
"Biasa! Belum kena. Kalo udah kena, diam nya ini. Keluar kamar pun gak mau."
"Wah, ngerih juga mama lo yan. Makin tua, makin jadi."
"Bahkan ada yang lebih parah, lo mau tau gak?"
"Wah, apa tuh? Kasih tau dong."
"Papa gue lari-lari ke kamar, gue. Gara-gara mama gue. Ganas banget kan?"
"Tancap banget, Mama lo, Yan? Topcer deh. Kayanya gue harus belajar sama mama lo deh."
"Ha? Mau ngapain?"
"Biar ikutan topcer tapi. Lumayan juga, buat nambah ilmu."
"Enggak, enggak! Lo mau kita kejer-kejeran kaya mama sama papa gue? Hih, merinding gue."
"Kan gak papa, pemanasan dulu. Jadi agak berasa dia."
"Au ah! Stres gue!"
"Gimana kalo langsung kita praktekin aja, Yan?"
"Uhuk...uhuk...uhukk. Terkejut batin gue denger kata lo barusan."
Bersambung....
__ADS_1