
"12 Minggu Melisa? Berarti sudah 3 bulan usia kandunganmu,betul kan?"tanya Albar dengan masih meredam emosinya.
"GA ITU PASTI SALAH!!!!
"APA KAMU BILANG! BOHONG! SALAH! BULSHIT!"bentak Albar
"Ar.... perlihatkan bukti semuanya, agar Dia tau siapa disini yang berbohong."Ucap Albar pada Arya.
"Dan kamu," tunjuk Albar pada melisa tepat di wajahnya. "Kamu kira istriku dokter yang tidak kompeten, yang dengan sengaja mendiagnosa dengan seenak Dia? Dan satu lagi, 2 minggu lalu sebelum Aku menemuimu Aku sudah diberikan obat penawar, sehingga minuman yang Kau berikan padaku sama sekali tidak bereaksi. Dan perlu kamu tau, saya dalam keadaan sadar sepenuhnya dan tidak terjadi apapun diantara kita."Ucap Albar dengan penuh penekanan sambil tersenyum smirk menandakan jika Dia tidak bisa di bodohi.
Melisa menegang, pikirannya kalut. entah apa yang akan Dia lakukan sekarang. Dia tau jika Dia kini sudah masuk dalam perangkap Albar. Dia memikirkan sesuatu agar bisa keluar dari sana. Melihat Albar sedang konsentrasi dengan Arya yang sedang menyiapkan barang bukti di flashdisk yang di sambungkan ke laptop milik Raysa. Melisa berfikir ini waktu yang tepat untuk Dia pergi, kabur dari mereka.
"Mau kemana bu Melisa?"tanya Raysa sambil berdiri beranjak dari tempat duduknya.
"Mau kemana kamu? Mau kabur? IYA!!!! "Bentak Albar
"Ng...Ng...Gak... Aku mau kemar mandi iya benar Aku mau kemar mandi."alasan Melisa
"Oh... Anda mau ke kamar mandi? Silakan... Anda tidak perlu keluar, di ruangan Saya juga ada kamar mandi yang bisa Anda pakai."jawab Raysa sambil menunjukkan kamar mandi yang ada di dalam ruangannya.
__ADS_1
"I...Iya terima kasih."jawab Melisa dengan gugup.
Mereka bertiga menunggu Melisa, sambil membicarakan langkah apa aja yang akan di ambil setelah ini.
CEKLEK
"Sudah selesai bu Melisa? Ayo duduk dulu disini."ajak Raysa dengan lembut.
"I...Iya."Sambil mengikuti arah yang di tunjukkan Raysa padanya.
Kini mereka berempat sudah duduk bersama di ruang tamu yang masih juga di dalam ruangan kerja Raysa.
"Terserah dokter saja."pasrah Melisa, Dia hanya berfikir sekarang Dia hanya ingin mengalah diam lebih baik dan mengikuti alur.
"Baik, Saya panggil mbak saja ya... Mbak Melisa sebelumnya kami minta maaf, tidak ada maksud kami untuk menekan mbak Melisa. Kami tentunya juga ingin mbak Melisa hidup dengan tenang dan bahagia, seperti yang Kami harapkan pada rumah tangga kami maksudnya rumah tangga saya dengan mas Albar. Saya faham mbak Melisa adalah kekasih suami saya.....Sebelum menikah dengan saya "Raysa sambil melihat ke arah Albar, yang di balas dengan tatapan memohon pada Albar agar tidak bicara yang macam-macam. "Akan tetapi, takdir dari Allaah sayalah yang menjadi istrinya. Jika mbak Melisa sudah hamil tentu ada laki-laki yang harus bertanggung jawab dengan kehamilan mbak dan itu bukan suami saya. Sampai disini apalah mbak Melisa faham?"tanya Raysa dengan panjang kali lebar dengan tetap santun dan lembut.
Albar melihat dan mendengar istrinya memperlakukan Melisa dengan lembut dan tetap santun, semakin membuat Dia jatuh cinta. "Sungguh Aku menyesal telah menyia-nyiakan waktu yang hilang kemarin. Sungguh Aku bersyukur diberikan seorang istri yang hebat sepertimu istriku."gumam Albar dalam hatinya dengan menatap Raysa penuh cinta.
"Mbak Melisa.... Apakah perlu bantuan Kami untuk meminta laki-laki yang telah menghamili mbak Melisa unyuk bertanggung jawab?"tanya Raysa menawarkan bantuan tentunya Diapun tidak tega melihat seorang perempuan dalam situasi seperti ini.
__ADS_1
"Tidak perlu, Terima kasih saya bisa menyelesaikannya sendiri."jawab Melisa lirih, kini hanya bisa menahan emosinya Dia tidak mau gegabah agat Dia bisa lolos.
"Melisa... Aku harap ini yang terakhir Aku berurusan denganmu. Semua bukti tentang rencanamu sudah Aku kantongi, jika sewaktu-waktu kamu masih mengganggu keluarga ku Aku tidak segan-segan membawamu ke kantor polisi."tekan Albar
"Melisa hanya diam tidak mengiyakan atau memberikan jawaban pada Albar. Cukup diam dan diam, yang pasti hari ini tidak akan Dia biarkan tanpa membalas mereka."Rencana licik Melisa.
"Jaga kandungan mbak Melisa, bayi mbak cukup sehat. Semoga diberikan kelancaran ya sampai melahirkan nanti."Doa Raysa pada Melisa.
"Terima kasih, Saya mau pulang bisakah pintunya kalian bukakan untukku?"tanya Melisa.
"Oh... Silakan mbak, mari saya antar. Saya tunggu jadwal kontrol bulan depan ya, jangan sungkan untuk datang kesini."ucap Raysa dengan tulus.
Setelah Melisa pulang, Arya kembali ke kantor. Sedangkan Albar masih setia menemani sang istri, bermanja ria dengan sang istri.
"Yank... Mas rindu....."bisik Albar di telinga Raysa.
"Pulang yuk."
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
__ADS_1
..."Belajarlah dari kesalahan, agar tidak melakukan kesalahan yang sama di kemudian hari. Jadikan setiap peristiwa adalah pelajaran berharga yang bisa divambil ibrohnya."...