Istri Hebatku

Istri Hebatku
47. KEGELISAHAN ALBAR


__ADS_3

"RAYSA!!!!!" Albar segera menggendong tubuh istrinya yang sudah di penuhi dengan darah. Di dalam kepanikannya Dia berusaha untuk tetep waras. Semua keluarga ikut serta pergi ke rumah sakit. Tak membutuhkan waktu lama mereka sudah sampai di rumah sakit. Albar menggendong sendiri istrinya untuk di tangani dokter di ruang IGD.


Semua irang gelisah menunggu baru 15 menit pintu IGD terbuka.


"Maaf Tuan Albar, Kami harus segera melahirkan bayinya. Dokter Raysa cukup banyak kehilangan darah, dan kami perlu persediaan darah A+ agar nanti jika di butuhkan tidak perlu menunggu lama. Dan ini.... Alhamdulillaah karena ini pisau yang tertusuk tidak terlalu dalam jika tidak maka nyawa bayinya tidak tertolong. Saya minta tanda tangan Anda untuk segera melakukan operasi kepada dokter Raysa."


Albar segera menanda tanganinya, "Lakukan yang terbaik dokter, selamatkan istri dan juga putra saya."


"In sya Allaah tuan Albar, kita juga oerlu banyak berdoa."


Sebuah Alqur'an kecil seukuran saku yang sudah lubang di tengahnya karena bekas tusukan pisau. Albar segera sujud syukur akan hal itu, berharap istrinya selamat dan tidak terjadi apa-apa dengannya.


Sungguh pertolongan Allaah selalu di waktu yang tepat kepada orang yang selalu taat kepadaNya. Semua keluarga bersyukur dan takjub akan hal ini. Dengan gerak cepat Arya mencari donor darah yang sesuai dengan milik Raysa, sebenarnya darah milik kakak Raysa yaitu Fahrezi sama akan tetapi sekarang kondisinya Fahrezi sedang perjalanan ke luar kota. Sudah di hubungi lewat telp dan massage namun belum juga ada balasan. Tentu mereka tidak bisa menunggu itu. Sudah hampir 1 jam dari di lakukannya tindakan operasi namun belum ada tanda-tanda didapatkannya pendonor sesuai dengan yang di cari. Seorang perawat yang turut membantu di ruang operasi keluar.


"Maaf... Pak! Stok darah sudah menipis dan ini sudah memakai stok darah terakhir pasien masih membutuhkan banyak lagi darah segara usahakan agar tidak terlambat. Bayi anda sudah lahir, laki-laki lengkap namun bayi masih lemah masih dalam pantauan para dokter."


"Bersabarlah Nak... banyak-banyak berdoa. Mama tau istrimu wanita yang sangat kuat!"


"Ma....." Hanya itu yang keluar dari mulut Albar, di bersamai dengan lelehan air mata yang sudah tidak bisa di bendung lagi. Tangisannya semakin menjadi dalam pelukan wanita yang di cintainya itu.

__ADS_1


"Ini salah Albar ma, 2 hari yang lalu Raysa sudah memberi tahu jika Dia mendengar orang yang akan mencelakaiku. Dengan sombongnya Albar mengngangap semua aman tanpa penjagaan yang ketat."


"Jangan menyalahkan diri sendiri, ini sudah bagian dari takdir."


"Kenapa selalu begini ma.... Di kehamilan pertamanya Aku sudah gagal. Di kehamilan inipun Aku juga gagal menjaganya ma..... Dia berkorban untukku, Aku takut ma...."


"Sstttt..... Tidak akan terjadi apa-apa dengan menantu mama. Berdoalah Al minta pertolongan sama Allaah."


Albar hanya bisa menganggukan kepalanya, ga sanggup membayangkan kondisi istrinya berjuang di dalam.


Alhamdulillaah tidak berapa lama Albar datang bersama Fahrez. Entah bagaimana caranya mereka bisa bertemu. Yang penting sekarang dalam fikiran mereka adalah Raysa selamat.


"Sabar Al...."menepuk pundak Albar dan sehera berlalu ke ruangan khusus pendonor.


"Ar... Selidiki pelakunya, tangkap mereka dalam waktu 24 jam sudah harus ada di markas!"


"Siap boss!!! Sabar Al, Raysa pasti akan baik-baik saja!!!"


Albar gelisah dalam penantian sebuah kepastian. Berharap istrinya segera selesai dan kembali bisa di peluknya. Harapan Dia yang sudah dalam bayangannya akan bahagia bersama istri dan anaknya seakan tidak akan di gapainya.

__ADS_1


CEKLEK


"Bagaimana istri saya dokter?"


"Operasi berhasil, namun kondisi dokter Raysa belum stabil. Anda harap bersabar, semoga dokter Rayaa bisa segera bangun dari komanya."


"Apa KOMA!!!"


"Maaf tuan kami sudah berusaha semaksimal mungkin, sekarang kekuatan doa yang perlu kita langitkan!"


Albar seakan tak bertulang, badannya seketika luruh ke lantai. Dia nangis sesenggukan tak peduli lagi dengan pandangan orang sekitarnya.


"Sabar Al.....Masuklah kuatkan hatimu, Dalam keadaan komapun mereka masih bisa mendengarkan kita. Bahagiakan Dia dalam tidur lelapnya, hingga ketika Dia bangun nanti cintanya tak akan mampu jauh darimu. Bangunlah nak, bersihkan dulu dirimu sebelum melihat istrimu."


Albar hanya mengangguk pelan, tak mampu membalas satu katapun karena bibirnya kelu untuk berucap.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


..."Bergantunglah pada Allaah dalam setiap urusanmu."...

__ADS_1


__ADS_2