
Setelah berhasil membujuk sang suami, Raysa akhirnya turut menemui Melisa. Walau ada rasa kekhawatiran besar dalam diri Albar, namun mencoba percaya pada istrinya. Perjalanan di tempuh hampir 2 jam karena letak rumah yang akan mereka datangi tepat di perbatasan kota.
Semua anak buah yang sudah di perintahkan oleh Arya sudah memberikan aba-aba untuk segera masuk. Sesuai instruksi Albar, mereka harus menangkap target sebelum Albar datang. Hingga ketika Albar datang bersama Raysa, Melisa tidak akan bisa berbuat macam-macam. Paling tidak itu cara Albar meminimalisir kejadian yang membahayakan istrinya.
Sesampainya Albar tidak langsung membolehkan istrinya masuk, Ia harus memastikannya terlebih dahulu jika benar-benar aman.
"Tunggu disini sebentar ya sayang, mas turun dulu kalau situasi benar-benar aman mas jemput kamu hmm..."
"Iya mas... Ray tunggu sini, hati-hati mas."balas Raysa lirih sambil mengecup bibir suaminya sekilas. Dia tau suaminya sedang tegang, Dia berusaha menenangkan dan merilekskan suaminya.
"Iya sayang....."Albar segera turun dan memastikan kepada anak buahnya. Sesampainya di dalam Albar melihat anak buahnya tenang tidak ada keributan, dan pastinya kondisinya memang benar-benar aman.
"Dimana mereka?"
"Di dalam bos!''
"Oke antar saya!"
Albar pun masuk di antar oleh anak buahnya yang berjaga di luar rumah, di dalam anak buahnya yang berjaga juga cukup banyak.
"Boss!" Ucap beberapa anak buahnya ketika melihat Albar. Albar hanya memberikan tanda dengan mengangkat tangannya saja.
"Dimana mereka?"
"Di ruang tengah Bos!" Albar segera ke ruang tengah.
"Pastikan semua aman!"
"Saya pastikan semua aman Bos!"
Albar melihat Melisa yang sedang di ikat di kursi, begitu juga dengan laki-laki yang menemani Melisa.
"A....Al..!"
"Hm..."
"Maafkan Aku Al.."
"Semudah itu Kamu mengucapkan maaf? Kamu hampir membunuh istri dan anakku!"bentak Albar.
__ADS_1
"Maafkan Aku."
"Hanya itu yang bisa Kamu ucapkan? Istriku ingin menemui mu, jika kamu sampai melukainya lagi Aku pastikan detik itu juga tidak ada ampun bagimu. Kamu pasti masih ingat sisi gelapku kan? Sejak Aku menikahi istriku hampir hilang sisi itu, namun karena ulahmu Aku terpaksa melakukannya lagi!"
"Maafkan Aku."
"Ga guna!"bentak Albar, "Jaga mereka saya mau jemput istri saya di depan!" perintah Albar pada anak buahnya.
Tak berapa lama Albar sudah kembali bersama istrinya, kini Melisa hanya bisa menunduk. Menyesal sudah pasti, hal lumrah yang sering terjadi jika penyesalan selalu di belakang.
"Selamat malam Mbak Melisa?" sapa Raysa dengan lembut setelah Ia mendudukkan dirinya di kursi di seberang Melisa. Melisa segera mendongakkan kepalanya, dan menatap sedih ke Raysa.
"Maafkan Saya..."
"Bagaimana kandungan Mbak Melisa?"Raysa pun faham pasti selama bersembunyi Melisa tidak memeriksakan kandungannya.
"Ba...Baik."
"Boleh Aku memeriksa mbak?"
"Sayang....!"sanggah Albar
"Ga pa pa mas, aman in sya Allaah." Raysa mencoba menenangkan suaminya, Raysa beranjak mendekati Melisa meminta anak buah suaminya untuk melepaskan ikatan tangannya namun tetap ikatan tubuhnya tidak bisa di lepas perintah Albar yang tidak bisa di tolak.
"Tekanan darah Mbak Melisa rendah, namun masih aman tapi harus hati-hati agar tidak semakin turun usahakan tetap menjaga nutrisinya ya Mbak Melisa. In sya Allaah selebihnya bagus."
"Terima kasih..."
"Sama-sama..." Suasana hening untuk beberapa waktu hingga suara Albar menyadarkan semua orang.
"Sayang apakah sudah selesai, jika sudah ayi kita pulang!"
"Sebentar mas..."
"Apalagi sayang, putra kita sudah terlalu lama di tinggal?"
"Jangan khawatir, persediaan ASI nya in sya Allaah cukup untuk dua hari ke depan. Sebentar ya, Ray masih ingin berbincang dengan Mbak Melisa." ucap Raysa yang di jawab anggukan pasrah dari suaminya.
"Mbak Melisa, bagaimana perasaannya sekarang?"
__ADS_1
"Baik... Maafkan Saya."
"Saya sudah memaafkan mbak, saya ada satu permintaan apakah mbak bisa melakukannya?"
"Apa itu, jika itu bisa menebus rasa bersalahku dan Aku mampu akan Aku lakukan."
"Lupakan masalah yang sudah terjadi, bukalah lembaran baru dan berbahagialah dengan keluarga kecilmu."
"Sayang!" Gelengan kepala Raysa sudah menjadi tanda untuk Albar sementara diam saja.
"Mbak Melisa bisa melakukannya, Sayapun akan melupakan apa yang sudah terjadi pada Saya. Kita bisa hidup dengan tenang, bahkan kita bisa berteman bukan?"
"Kenapa Kamu masih baik padaku?"
"Allaah memberiku kesempatan hidup setelah perjuangan suamiku di ujung hidupku , kenapa tidak Aku gunakan untuk melakukan hal yang baik. Aku tidak ingin menyimpan dendam yang nantinya bisa merusak dan orang lain. Kita bisa berteman, jika Mbak mau periksa di rumah sakit akan saya bantu."
"Aku janji untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi, Aku menyesal telah menyakitimu. Sekali lagi maafkan Aku." Raysa mendekati Melisa dan memeluk erat wanita itu mereka sama-sama terisak.
"Maukah berteman denganku?"tanya Melisa pada Raysa.
"Sure! Kita teman sekarang, jaga kandungannya baik-baik periksakan kembali ke rumah sakit ya Mel. Jangan sungkan untuk berkabar denganku."
"Terima kasih.... Sekali lagi terima kasih."
"Sama-sama... Saya izin pamit ya, berbahagialah.... Nikmati kehamilanmu dengan bahagia."
"Iya terima kasih..."
"Selamat malam."
"I...Iya Selamat malam."
Sungguh Albar hanya bisa tercenung melihat sang istri, semudah itu memaafkan orang yang hampir menghilangkan nyawanya. Namun di balik itu juga dia bersyukur memiliki istri berhati mulia.
"I LOVE U MY ANGEL!" teriak Albar setelah masuk ke dalam mobilnya. Raysa hanya tertawa dan segera memeluk erat sang suami.
"I LOVE U MORE."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Thank semua kakak-kakak readers, atas suportnya... Maaf karena absen beberapa hari. Dukung terus saya dengan like dan komennya ya, bisa semangat saya terus strong untuk lanjut bercerita.
Love U My Readers 💞💞💞