Istri Kedua Mr.Billionaire

Istri Kedua Mr.Billionaire
Menikahlah dengan suamiku


__ADS_3

"Aku setuju menjadi istri kedua mr.winston." sebuah perkataan yang sangat berat untuk di ucapkan namun dengan sangat terpaksa harus bella lakukan untuk kehidupannya dan ayahnya yang kini tengah berada di ambang kematian.


Semua ini berawal dari pagi tadi saat tiba-tiba bella mendapatkan sebuah kabar buruk bahwa perusahaan jordan-ayah bella mengalami sebuah kebangkrutan dan mobil yang dikendarai sang ayah juga mengalami kecelakaan saat hendak pulang yang mengakibatkan bagian tubuhnya mengalami luka yang sangat parah.


Bella, saudara tiri dan juga ibu tirinya kembali dikejutkan oleh hal lain, ayahnya yang selama ini tidak pernah cerita apapun mengenai keuangan ternyata memiliki hutang yang jumlahnya tak sedikit.


Sampai tiba-tiba disaat disaat tiga perempuan yang sedang dilanda kebingungan dengan bagaimana membayar biaya pengobatan sang ayah yang harus segera dilunasi jika ingin mendapatkan penanganan, seorang wanita tak di kenali datang dan berkata hal yang benar-benar tak masuk akal.


"Aku bisa membayar biaya pengobatan suamimu atau bahkan aku juga bisa menjamin keuangan keluarga mu, dengan satu syarat."


"Berikan salah satu putrimu untuk aku jadikan sebagai istri kedua suamiku, dan semua biaya hidup kalian akan aku tanggung dengan senang hati."


Sebuah perkataan yang sama sekali tak masuk akal bagi bella, tentu saja bagaimana bisa seorang wanita tiba-tiba datang dan menawarkan wanita lain yang tak dikenali untuk menjadi istri kedua suaminya, bukankah itu gila.


Namun bella kembali dibuat tak percaya oleh sasmita-ibu tirinya yang dengan tega mengorbankan dirinya untuk kelangsungkan hidup keluarganya.


Bella di paksa untuk menyetujui syarat yang di berikan wanita itu tanpa mendengar penolakan bella.


"Baguslah jika kau setuju, berarti acara pernikahan ini akan di langsungkan secepat mungkin." wanita yang baru bella kenali bernama sarah itu berbicara dengan senyum miringnya.


"Tunggu dulu! Bisakah aku mengajukan beberapa hal?" bella menyela.


"Tentu."


Dengan rasa gugup bella memandang wanita anggun yang duduk di depannya, tangannya tak berhenti memilin-milin pakaian yang dipakai, "Apakah setelah aku menikah aku masih bisa berkuliah."


"Tentu saja, kau masih bisa berkuliah seperti biasanya, semua biaya kuliah, pengobatan ayahmu, dan biaya hidup keluarga mu akan aku dan suamiku tanggung asalkan kau mau menikah dengan suamiku dan memberikan seorang anak untuk kami."


"Lalu berapa lama aku menikah dengannya?"


"Semakin cepat kau memberikan anak maka semakin cepat juga kau terbebas dari pernikahan ini."


"Dan sekarang..." sarah mengeluarkan sebuah kertas dari tasnya dan menaruhnya di hadapan bella, "Jika kau sudah setuju, tanda tanganilah surat itu."


Dengan hati-hati bella mengambil kertas itu, disana ada sebuah perjanjian tertulis yang menjelaskan....



Pihak wanita tidak boleh menyebarkan bahwa telah menikah dengan pihak laki-laki.

__ADS_1


Pihak wanita bisa meminta berapapun uang yang dibutuhkan selama menjadi istri pihak laki-laki.


Selama masa perjanjian pihak laki-laki berhak memiliki tubuh pihak wanita.


Pihak wanita boleh menjalin hubungan dengan laki-laki manapun asalkan tidak memberitahu tentang pernikahan yang telah terjadi.


Dan pihak wanita dilarang untuk JATUH CINTA pada pihak laki-laki.


Semua perjanjian berakhir setelah pihak wanita memberikan seorang anak pada pihak laki-laki.



Sejenak bella terdiam sampai akhirnya dengan ragu tangannya mengambil sebuah pulpen, ada rasa bimbang dan ingin mundur namun hidup dan mati ayahnya saat ini berada di tangannya membuat pada akhirnya bella mulai menandatanginya dan memberikan kembali surat perjanjian itu pada sarah.


"Dua hari lagi datanglah ke alamat ini." sarah menyodorkan secarik kertas yang langsung di ambil oleh bella.


Wanita dengan penampilan yang cukup mencolok di antara yang lain itu mulai berdiri dan pergi dengan langkah yang cukup anggun bagai model, meninggalkan bella yang kini mulai menyenderkan tubuhnya di kursi caffe itu.


Meskipun bella pernah membayangkan sebuah pernikahan tapi tak pernah sekalipun bella berpikir akan menikah di usianya yang masih cukup muda dan masih duduk di bangku perkuliahan, apalagi menikah dengan laki-laki yang sudah beristri, sungguh ini bagai mimpi buruk yang selalu ingin bella hapus dalam memorinya.


Tapi lagi-lagi takdir mengharuskan bella untuk menerima semuanya, seperti pada halnya dirinya yang dulu yang harus menerima kenyataan tentang ibundanya yang meninggal lebih dulu.


...******...


Nicholas Winston.


Memiliki paras yang sempurna membuat dirinya digilai para wanita-wanita di luaran sana, menikah di usianya yang ke 27 tahun dengan seorang wanita bernama sarah yang merupakan seorang secretaris di perusahaan'nya.


"Apa sekarang selera mr. Dosenmu berubah menjadi mr. Billionaire arabella?" seorang wanita dengan tawa renyahnya datang dan duduk di hadapan bella yang sedang membaca sebuah majalah.


Bella menutup majalah itu dan menghembuskan nafasnya tanpa menjawab ucapan wanita di depannya, dia cessa-sahabat bella.


"Bagaimana keadaan ayahmu?" tanyanya sembari melihat-lihat buku menu di tangannya.


"Sudah membaik, meskipun belum siuaman." jawab bella seadanya yang di angguki oleh cessa.


Hembusan nafas berat kembali terdengar dari mulut bella membuat cessa yang melihatnya mengkerutkan keningnya menatap bella, "Kenapa wajahmu seperti seseorang yang tengah di timpa banyak musibah? Apa ada masalah lain?"


Bella menggeleng pelan, "Tidak."

__ADS_1


"Lalu kenapa kau berekpresi seperti itu? Kau bagaikan perempuan malang yang habis di tinggal kekasihnya di hari pernikahan." ucapnya yang di akhiri sebuah kekehan geli.


"Boleh aku bertanya?"


Lagi-lagi kening cessa mengerut mendengar ucapan bella, "Kau sakit bell? Sejak kapan kau meminta izin jika ingin bertanya?"


"Apa kau pernah bertemu Mr. Nicholas?" tanya bella tanpa memperdulikan ucapan cessa.


Cessa mengurungkan niatnya untuk meminum minuman pesanan'nya, "Nicholas Winston?" tanya'nya memastikan yang di angguki oleh bella.


"Pernah. Saat aku menghadiri pesta perusahaan bersama ayah."


"Lalu.. Menurutmu bagaimana dia?"


Cessa menatap bella kembali dengan tatapan aneh, cessa mengenal bella cukup lama sejak mereka pertama kali masuk perkuliahan tapi baru kali ini bella terlihat penasaran dengan sosok laki-laki, dari dulu hanya bella satu-satunya temannya yang tak pernah tertarik untuk membahas laki-laki bahkan dulu cessa sempat mengira dirinya seorang lesbi sampai pada akhirnya semua firasatnya tidak terbukti saat ternyata diam-diam bella menaruh hati pada dosen tampan di kampusnya yang sekarang sudah memiliki seorang istri.


"Cess kenapa kau diam saja?" ucap bella membuyarkan lamunan cessa.


"Jangan bilang.... Kau mulai tertarik dengan Nicholas, kau pernah bertemu dengannya? Dimana? Tapi bukankah dia sudah memiliki istri?"


"Tidak. Cessa."


"Lalu? Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang dia?"


"Aku hanya..." bella menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal, "Tidak bisakah kau menjawab saja, aku hanya ingin tahu." alih bella.


Dan cessa pun tersenyum, "Baiklah-baiklah, karena ini pertama kalinya kau bertanya tentang laki-laki maka akan ku jawab dengan senang hati."


"Emm dia itu tampan dan.... Sexy." jawabnya di akhiri dengan senyuman nakal yang membuat siapapun pasti bisa menebak bahwa cessa sedang membayangkan hal-hal kotor.


"Aku tahu itu, maksudku keperibadiannya."


Cessa memutar matanya, "Dia dingin dan sedikit.... Sombong."


"Sombong?" beo bella dengan kening berkerut.


"Ya, waktu itu aku pernah meminta berfoto dengannya tapi dia malah pergi tanpa bicara, bukankah itu sangat menyebalkan?" cessa berbicara dengan wajah sinisnya. "Tapi entah kenapa wajah tampannya membuat ku tak bisa berhenti melihatnya." ucap cessa yang kembali ke mode si gadis yang sedang terobsesi pada laki-laki tampan.


Bella hanya menggelengkan kepalanya dan kembali meminum minumannya sembari melihat ke luar jendela.

__ADS_1


Nicholas Winston.


Sepertinya hari-hari lajang arabella akan sedikit berubah sebentar lagi.


__ADS_2