
Arabella terduduk sembari menunggu calon atasannya yang baru di ketahui bernama dave itu membaca berkas data yang dibawa arabella tadi.
"Asisten pribadi ku sedang mengambil cuti, jadi mungkin selama masa magangmu kau akan menjadi asisten sementara ku." ucap dave.
"Asisten?"
"Ya, tenang saja ini hanya untuk sementara, setelah asisten ku kembali aku akan menempatkan posisimu berdasarkan kemampuan mu selama magang disini." jelasnya dan Arabella pun mengangguk.
"Ya, apapun itu aku akan lakukan."
"Baiklah." dave berdiri dari tempatnya di susul dengan bella yang ikut berdiri, dan sebelah tangannya terulur tepat ke arah bella yang langsung ia balas jabatan tangan itu, "Semoga berhasil arabella."
"Terima bos." ucap bella membalas senyuman bos barunya.
"Lalu kapan kau akan memulai magang disini?"
"Mungkin sekitar 4 hari lagi."
"Baiklah aku tunggu kehadiran mu."
Dan begitulah akhir dari sebuah percakapan antara bos dan karyawan barunya.
...******...
Dan setelah dari kantor yang akan menjadi tempat bekerjanya sebentar lagi, bella pun pergi ke sebuah caffe dimana teman-temannya mengajaknya untuk berkumpul bersama.
"Pasti nanti kita akan jarang berkumpul seperti ini." guman cessa dengan raut wajah sedih.
"Kenapa sih waktu begitu cepat berlalu, padahal... Terasa baru kemarin kita bertemu dan sebentar lagi kita akan di sibukan dengan pekerjaan masing-masing." gumannya lagi sembari memainkan minuman di depannya dengan sendok.
"Jadi kau mau terus kuliah dan mengerjakan banyak skripsi." cetus riana.
"Bukan seperti itu, maksud ku aku hanya masih ingin menikmati bersenang-senang lebih dulu dan... Bertemu kalian lebih sering."
"Kan kita bisa berkumpul saat libur kerja nanti." ucap bella.
"Tapi itu berbeda, kita pasti akan sangat jarang bertemu, shopping sama-sama, maraton drama saat menginap dan banyak hal lain yang akan jarang dilakukan bersama." cessa mulai mengerluarkan semua keluh kesah nya, memang sejak pertemuan Pertama kali di hari pertama masuk kampus mereka tak pernah lagi berpisah dan selalu kemana-mana bertiga dan pasti hal itu akan menjadi sangat berbeda jika tiba-tiba kebersamaan yang selalu terjadi kini akan sangat jarang dilalui mereka lagi.
Apalagi cessa yang akan di percaya ayahnya untuk belajar memimpin perusahaan keluarganya menggantikan sang kakak yang kini fokus merintis usahanya sendiri.
__ADS_1
"Bagaimana jika nanti kalian menemukan teman baru dan melupakan aku seorang diri?" ucap cessa dengan semua kekhawatirannya.
"Hey, kita hanya akan bekerja di tempat yang berbeda bukan di negara yang berbeda." ketus riana lagi sembari menggelengkan kepalanya tak percaya melihat tingkah satu sahabatnya itu.
"Ngomong-ngomong dimana tempat magangmu nanti bel?" tanya riana.
"Di perusahaan new saphire." jawab bella sembari mulai meminum minumannya.
"Enak sekali ya, kalian bisa bekerja di perusahaan yang di inginkan. Sementara aku harus terjebak bersama ayahku." sahut cessa dengan ekpresi wajah penuh keirian.
"Cessa semua perusahaan sama saja, kitanya saja yang harus bisa membuat nyaman diri kita sendiri."
Cessa menundukan kepalanya.
"Sudahlah, bukankah tujuan kita kesini untuk bersenang-senang? Kenapa malah jadi acara sedih-sedihan begitu." bella berkata.
"Tau nih, inget umur sekarang bukan lagi anak kecil, jadi gausah apa-apa sedih apa-apa sedih." ucapan pedas keluar lagi dari mulut riana.
"Biarin." sahut cessa, meskipun selalu mengatakan kata-kata yang pedas dan tak enak di dengar cessa tidak pernah marah semarah-marahnya pada riana karena ia tahu di balik perkataan riana itu semua tidak benar-benar serius, riana hanya tidak bisa mengungkapkan sebuah kelembutan dan kemudian digantikan oleh kata-kata pedas yang sering di keluarkan.
Sebenarnya riana dan bella juga pasti merasakan hal yang sama seperti halnya cessa sekarang namun mereka hanya bisa diam tanpa mengeluarkan semua unek-uneknya karena perjalanan ini memang sudah menjadi hal yang seharusnya mereka hadapi, karena tidak selamanya mereka akan bersama-sama seperti halnya sekarang ini. Akan ada saatnya dimana mereka akan sibuk menjalani hidup masing-masing, mulai dari kehidupannya, pekerjaannya atau pun saat nanti mereka sudah mulai memiliki pasangan dan keluarga yang harus di urus.
...*******...
"Tidak, aku habis bertemu dengan teman-teman ku dan kebetulan melihat kalian jadi aku kemari." jawab ken.
"Benarkah?"
"Bohong." balas ken dengan cepat membuat bella dan riana terkekeh kecil.
"Ayo bel!"
"Kalau begitu aku duluan ya." pamit bella yang sudah berjalan ke arah depan.
"Emm... Sampaikan salam kami pada ayahmu." ucap riana.
"Iya."
Setelah bella masuk ken mulai menjalankan mobilnya keluar dari halaman caffe itu, meninggalkan kedua sahabat bella yang masih setia berdiri melihat mobil ken yang mulai berjalan menjauh.
__ADS_1
"Apa kau percaya jika ken tidak memiliki perasaan pada bella?" tanya cessa dengan pandangan masih menatap lurus ke depan.
"Tidak."
Kenneth, pria tampan dan ramah yang tak sedikit perempuan mengangguminya, apalagi dari keluarga yang berada membuat dirinya banyak di incar para wanita yang haus akan sebuah uang dan kejayaan.
Namun sayang, sejak perasaan ken yang di tolak oleh bella beberapa tahun lalu laki-laki itu tak pernah lagi di kabarkan dekat dengan wanita manapun.
Melihat dari cara ken memperlakukan bella, cara bicara bahkan tatapan matanya yang menatap pada bella saja semua orang sudah bisa melihat bahwa ken masih memiliki perasaan pada bella.
Namun, disisi lain bella seolah biasa saja pada ken, dia bahkan selalu menyanggah semua hal yang berkaitan dengan perasaan ken padanya, entah itu bella memang tidak peka atas apa yang ken lakukan selama ini untuknya atau bella hanya pura-pura tak tahu perasaan ken yang sebenarnya?
Entahlah, karena hanya bella dan tuhan yang tahu.
"Bel!!" bella menengok ke arah ken yang sedang menyetir.
"Hmmm."
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tentu."
"Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" Arabella kembali menengok ke arah ken dengan kening mengkerut.
"M-maksudmu?"
"Sebenarnya saat pesta kemarin aku hendak menjemput mu di rumah tanpa memberitahu mu dan saat sampai di sana ibumu berkata kau ada di rumah sakit... Tapi saat ku tanya kau ada di rumah. Dan tadi pagi aku tak sengaja bertemu dengan pelayan di rumah mu lalu aku tanya apa kau ada di rumah dan kata bibi kau belum pernah pulang ke rumah akhir-akhir ini."
"Apa... Ada sesuatu yang tidak aku ketahui?" tanya ken membuat arabella mencengkram kuat roknya.
"I-itu..." arabella tampak memutar semua pikirannya, mencari-cari alasan yang tepat dengan wajah yang berusaha ia buat baik-baik saja.
"Dari raut wajahmu terlihat kau memang sedang menyembunyikan sesuatu dariku..."
"Maaf." bella segera berkata dengan cepat.
"Maaf ken, ada sesuatu hal yang memang belum bisa aku beritahukan padamu..."
"Tentang?"
__ADS_1
"Maaf, aku benar-benar tidak bisa memberitahukannya sekarang, dan aku mohon jangan mencari tahu jika aku belum memberitahukannya sendiri padamu."
"Kau tidak melakukan hal yang macam-macam kan?" ken bertanya dengan hati-hati memgingat situasi keluarga bella yang sekarang.