
Musik menggema di setiap sudut ruangan dengan lampu remang-remang yang menerangi, kerumunan orang-orang yang tengah asik berjoget ria menjadi pemandangan malam itu.
Bau alkohol yang cukup menyengat menjadi pengharum ruangan kala itu.
"Kenapa kau tiba-tiba mengajak ku kesini?" tanya Riana menatap Arabella yang kini tengah menikmati minumannya.
Yap. Malam ini mereka Berdua tengah berada di salah satu club malam dan Arabella lah yang mengajak Riana untuk datang kesana.
Arabella memang tipe anak rumahan yang tidak suka pergi keluar kecuali teman-temannya memaksanya, tapi bukan berarti Arabella adalah gadis polos yang tidak pernah minum alkohol.
Memang tidak sering, hanya ketika ada sesuatu yang menganggu pikiran nya.
"Apa kau ada masalah?" tanya Riana kembali saat Bella tidak merespon ucapannya.
Arabella menggeleng dengan padangan menatap ke arah gelas yang ia pegang, "Tidak, hanya ingin minum saja, sudah lama tidak merasakannya."
"Karena kau minum hanya saat ada sesuatu." Sahut Riana, "Katakanlah!!"
Arabella menghembuskan nafasnya berat, menaruh kembali gelasnya di meja bar dan memutar tubuhnya menghadap ke arah Riana, "Aku ingin bertanya padamu, Tapi dengan satu syarat kau hanya bisa jawab tanpa bertanya balik padaku, oke?"
Riana mengerutkan keningnya, "Tanya apa?"
"Janji dulu."
"Oke, aku akan menjawab tanpa bertanya." ucapnya.
Arabella menunduk sejenak sembari memainkan jari-jemari, "Misalkan ya, misalkan kau ada di situasi harus menikah dengan seorang pria beristri tanpa ada pilihan lain dan jatuh cinta adalah pantangan yang harus di hindari, tapi...suatu hari kau mulai merasakan sesuatu padanya, apa yang akan kau lakukan?"
__ADS_1
"Siapa yang kau maksud?" tanya Riana dengan garis kerutan yang terlihat.
"Ku bilang jangan bertanya, kau hanya perlu menjawabnya."
"Tentu saja melupakannya. dia pria beristri akan sangat menyusahkan diri sendiri jika aku memiliki perasaan padanya." jawab Riana dengan santai dan kembali meminum minumannya.
"Lalu bagaimana cara melupakannya sedangkan pria itu sering berkeliaran di dekatmu?"
"Kau bertanya padaku bagaimana cara agar tidak mencintainya kan?" tanya Riana yang di jawab anggukan oleh Bella.
"Berkencan saja dengan pria lain."
...*******...
'Berkencan saja dengan pria lain.'
Kata-kata Riana di club malam tadi terus terngiang di kepala Arabella membuat gadis itu merasa bingung apakah harus mengikuti kata sahabatnya itu atau tidak.
Dan sekarang saat ia mulai merasa ada sedikit ketertarikan pada laki-laki, ia harus melupakannya karena itu tidak seharusnya terjadi.
"Ahhh kenapa jadi begini?" teriak Arabella frustasi sembari memendam wajahnya dengan bantal sofa.
drttttt...
Arabella menegakan kembali tubuhnya dan melihat ke arah meja dimana ponselnya berdering dan menampilkan nama Kenneth disana.
"Ada apa Ken?" tanya Bella setelah panggilan di terima.
__ADS_1
"Keluarlah! aku ada di depan rumahmu." Arabella terdiam.
*1 detik
2 detik
3 detik
4 detik*
Arabella tertawa seketika, "Tidak usah bercanda kau." cetus Bella sembari menggeleng pelan.
"Aku serius Arabella Clarita adellina, cepatlah aku sudah sangat pegal berdiri disini."
"Buktikan, agar aku percaya kau di dekat tempat tinggalku." ucap Bella.
tok tok tok.
Dan suara ketukan pintu membuat Arabella kembali terdiam sembari memandang ke arah sana.
"Kau dengar!! apa kau percaya sekarang?"
Arabella menelan ludahnya sendiri dengan padangan tak berkedip, "K-kau berbohong kan?"
suara decakan terdengar dari sebrang telpon, "Keluar lah dan lihat sendiri."
dengan ragu dan sedikit gugup Arabella berdiri, "Awas saja jika kamu mengerjaiku." gadis itu melangkah ke arah jendela kaca.
__ADS_1
dengan rasa tak percaya dia mengintip sedikit lewat gordennya dan wajah Ken yang yang menatapnya dengan kedua tangan bersidakep di dada menjadi pemandangan pertama kala itu.
"Buka sekarang." ucap laki-laki itu tanpa nada.