Istri Kedua Mr.Billionaire

Istri Kedua Mr.Billionaire
Tak di duga


__ADS_3

Pintu ruangan Nicholas terbuka menampilkan sesosok sarah yang baru saja datang.


"Sarah, ada apa?" tanya Nicholas yang sedang mengerjakan dokumen di mejanya.


"Ada apa? Kau bertanya seolah-olah aku baru pertama kali kesini." guman sarah yang tidak di tanggapi oleh Nicholas.


Wanita itu berjalan mendekati Nicholas dan menyentuh kedua bahu suaminya dari belakang, "Nick, tadi malam kau dimana? Kenapa tidak pulang?"


"Bukankah kau yang menyuruh ku untuk ke rumah bella."


"Ya, tapi bukankah biasanya kau selalu pulang setelah melakukannya."


Nicholas menghembuskan nafasnya dan bersender di senderan kursi, "Aku kelelahan dan tak sanggup untuk menyetir jadi aku menginap disana."


Sarah hanya mengangguk tanpa merasa curiga atau apapun, "tapi lain kali kau pulanglah, kau tahu kan bagaimana ibumu? Tadi dia terus mengoceh karna kau tidak pulang."


"Hmm oke."


"Ohh ya Nick" Sarah mengelus pundak sang suami dengan tangannya, "Kau sudah lama loh tidak menemani aku belanja, emm... Bagaimana jika sekarang kita pergi ke mall?" ajak sarah dengan nada manjanya.


"Bukankah kemarin kau habis belanja?" ucap Nicholas sembari membuka kembali dokumennya.


"Ohh ayolah nick, itu berbeda kemarin aku bersama teman-teman ku dan sekarang aku ingin kau menemani ku, mau ya? Pleaseee!!" bujuk sarah lagi tak pantang menyerah.


Nicholas menatap jam ditangannya, "Baiklah tunggu aku menyelesaikan dokumen ini dulu dan kita akan berangkat setelahnya." senyuman sarah mengembang saat Nicholas menyetujuinya.


"Oke sayang."


...*******...


Di ikuti dave di belakangnya Arabella masuk ke dalam ruangan sang ayah yang kini terlihat sudah siap untuk pulang dengan ibu dan saudara tirinya yang juga berada disana.


"Ayah."


"Bella... Dan tuan dave kenapa ada disini?" tanya sang ayah saat menyadari kehadiran dave di belakang bella.


"Saya kebetulan tadi bersama bella, jadi sekalian mengantarkannya kesini." jawab dave.


"Ahh begitu, maafkan anak saya jika merepotkan Anda." ucap sang ayah.


"Tidak, justru anak anda sangat membantu pekerjaan saya."


"Baguslah kalau begitu."


"Bisakah bicaranya nanti saja, hari sudah mulai malam kita tidak mungkin terus berdiam disini." ucap sang ibu dengan nada dingin.


"Kebetulan mobil saya cukup muat untuk kita semua, bagaimana jika saya antarkan kalian ke rumah."


"Tidak usah..."


"Baguslah, aku tidak mau mengenakan taksi lagi." sahut joana memotong ucapan bella.


Dan pada akhirnya dengan sedikit rasa tak enak arabella membiarkan tuan dave yang mengantarkannya dan keluarganya ke rumah.

__ADS_1


......******......


Arabella menuntun sang ayah masuk ke dalam rumah yang sudah beberapa minggu ini tidak pernah ia kunjungi di bantu dengan tuan dave menuju ke kamar tidur.


"Terimakasih telah mengantarkan kami kesini, maaf sekali lagi telah merepotkan tuan dave." ucapnya sang ayah yang ikut merasa tak enak.


"Tidak apa." ucapnya.


"Kalau begitu saya pamit untuk pulang." ucapnya lagi.


"Tidak ingin minum dulu." tawar sang ayah.


"Tidak usah terima kasih, bella saya pamit ya."


Dave keluar dari kamar dan bella pun segera izin pada sang ayah untuk mengantarkan dave menuju pintu depan.


"Tuan dave, biar saya antar sampai depan." bella berjalan di samping dave menuju ke keluar.


"Terimakasih sekali lagi, saya tak enak dengan tuan masa sebagai ceo malah mengurus urusan bawahannya."


Pangkah mereka terhenti saat sudah sampai di depan mobil, "Memangnya tidak boleh seorang atasan membantu bawahannya?" Arabella menggeleng.


"Tidak juga sih." guman bella menggaruk tengkuknya.


"Lain kali saya janji saya akan balas jasa tuan." ucap bella sembari menunjukan jari kelingkingnya.


"Lain kali? Memangnga tidak bisa sekarang saja ya?" ucap dave dengan kedua alis terangkat.


"Kebetulan aku belum makan dan perutku sudah meminta untuk di isi, bagaimana jika kamu meneraktir saya makan?" lanjutnya.


"Baiklah, kau yang tentukan tempatnya."


...******...


Lonceng pintu berbunyi saat arabella membuka pintu restoran dan masuk bersama dengan dave.


Mereka memilih duduk di dekat jendela yang langsung memperlihatkan arah jalanan.


Arabella membuka buku menu begitu juga dengan dave dan mereka pun segera memesannya satu persatu.


"Kau sering kesini?" tanya dave setelah sang pelayan menuliskan pesanan mereka.


"Ya, bersama teman-teman ku."


"Lalu bersama pacarmu ya?" goda dave.


"Tidak, aku tidak memiliki pacar." sanggah bella dan Dave menatapnya dengan rasa tak percaya.


"Tidak usah bohong, mana mungkin wanita seperti dirimu tidak memilikinya." tuding sang bos.


Dan bella menggeleng dengan cepat, "Tidak tuan, saya benar-benar tidak memiliki."


"Bella, ini bukan jam kantor, bisakah kamu berhenti memanggil saya tuan." ucap dave.

__ADS_1


"Tuan bos saya, bagaimana bisa saya tidak memanggil mu tuan."


"Ohh jadi kau harus di pecat dulu sepertinya agar berhenti memanggil..."


"Tidak-tidak.. Bukan begitu. Baiklah kalau begitu aku harus memanggil apa?" tanya bella balik.


"Panggil apa saja asalkan jangan tuan."


Dan bella terdiam sembari berpikir, "bagaimana jika om?"


"Aku tidak setua itu." ucapnya yang membuat bella terkekeh.


"Kalau begitu kakak?"


"Nah mungkin itu lebih baik."


Bella tersenyum pada bosnya yang menurut nya cukup mengasikan jika kenal lebih dalam, "Baiklah, kakak dave."


"Oke adik bella."


Dan mereka pun tertawa bersamaan, seperti seorang yang sudah kenal sejak lama tanpa ada rasa canggung atau pun tak enak seperti bos dan karyawan lainnya.


"Dave!!" sebuah panggilan sepontan membuat mereka yang tengah asik berbicara menatap ke asal suara.


Arabella terdiam begitu juga dengan sepasang suami istri yang tak lain adalah Nicholas dan sarah yang tadi memanggil nama dave.


"Sarah Nicholas? Kalian disini juga?" tanya dave, sementara Arabella menatap mereka bertiga bergantian.


"Ya, dan dia... " sarah menatap ke arah bella dengan pandangan seperti seseorang yang tak saling mengenal.


"Ohh perkenalkan dia arabella asisten sementara ku, dan Arabella itu sarah sepupuku bersama Nicholas suaminya." dan bella hanya mengangguk pelan tanpa tahu harus bereaksi bagaimana.


Karena bukankah memang seharusnya mereka bersikap tak saling mengenal saat di luar.


Dan sarah pun ber-ohhh ria.


"Kalian ingin makan bukan? Bagaimana jika bersama kita saja? Agar lebih ramai." tawar dave.


Sarah dan Nicholas bertatapan sebentar, "Bagus juga."


"Bella kemarilah, duduk bersamaku biar mereka duduk disana."


"Tidak usah." Nicholas memotong ucapan dave dengan cepat dan dengan segera duduk di samping dave.


"Biar aku yang duduk disini dan sarah bersamanya." ucapnya.


...******...


**Jangan lupa vote and comment sebanyak-banyaknya untuk menghargai saya sebagai penulis cerita.


Jika ada kesalahan kata maupun tanda baca mohon di maafkan karena saya juga baru belajar.


Dan untuk kalian pembaca 'Istri kedua Mr. Billionaire' terimakasih dan semoga menyukai cerita pertama saya ini.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak**.


__ADS_2