Istri Kedua Mr.Billionaire

Istri Kedua Mr.Billionaire
Malam yang panjang


__ADS_3

20:30


Malam itu di sofa ruang tamu bella tengah terduduk di temani secangkir coklat hangat dan cemilan sembari mengerjakan tugas kantor yang diberikan oleh dave padanya tadi.


Gadis itu tampak fokus mengetik di laptop dengan sesekali menikmati cemilannya.


Sampai...


Ting tong..


Bel rumahnya berbunyi membuat bella terhenti untuk mengetik, gadis itu menaruh laptop dan berjalan ke arah pintu.


Arabella mengikat tali cardigan panjangnya untuk menutupi tubuhnya yang hanya berbalut dengan tangtop dan celana pendek.


Dan saat pintu terbuka Nicholas berdiri di luar.


"T-tuan kenapa ada disini?"


"Kenapa? Apa aku tidak boleh kemari?" ucap Nicholas dan melangkah masuk tanpa di persilahkan.


"Tidak, maksud ku bukankah tuan selalu datang tengah malam." Bella menutup pintu dan berjalan di belakang Nicholas.


"Pekerjaan ku hari ini tidak terlalu banyak, itulah mengapa aku sudah pulang lebih cepat, kenapa? Apa kau sedang membawa laki-laki ke rumah ini? Sampai kau takut jika aku kembali lebih awal dan melihat dia." Ucap Nicholas sembari mendudukan dirinya di sofa dengan tangan yang kini tengah melepaskan ikatan dasi.


"Tentu saja tidak, aku tidak mungkin membawa seseorang apalagi laki-laki ke rumah ini." sanggah bella yang masih berdiri.


"Baguslah."


"Kalau begitu akan aku buatkan teh hangat dulu sebentar." bella pun melangkah ke arah dapur dan membuat segelas teh.


Tak membutuhkan waktu lama bella kembali ke arah ruang tamu dengan membawa sebuah nampan dan menyajikannya di atas meja.


"Ini masih belum terlalu malam, jadi bisakah tuan membiarkan aku menyelesaikan tugasku dulu?" ucap bella.


Nicholas menatap ke arah laptop yang tergeletak di atas meja, "Terserah, lagian lau berbicara seolah-olah kedatangan ku kesini hanya untuk menyentuh mu saja." guman Nicholas sembari mulai meminum teh buatan bella.

__ADS_1


Bella hanya mengedikan bahunya, gadis itu mendudukan dirinya dengan laptop yang sudah berada di pangkuannya kembali.


Tanpa menghiraukan Nicholas bella mulai fokus kembali mengerjakan tugas pertama dari kantornya agar besok bisa ia serahkan pada bosnya.


"Kenapa kau menolak untuk magang di perusahaan ku?" sebuah pertanyaan tiba-tiba membuat bella menghentikan aktivitasnya.


"Tuan.. T-tahu?" bella menatap Nicholas.


"Aku ceo'nya, bagaimana bisa aku tidak mengetahui para calon magang di perusahaan ku sendiri." Ucap Nicholas.


"Iya juga." guman bella sembari menggaruk belakang tengkuknya yang tak gatal sama sekali.


"Kau belum menjawab pertanyaan ku."


Dan bella kembali menunduk, "Tidak'kah kau merasa tertarik untuk bekerja di perusahaan besar?"


"Bukan begitu, hanya saja..." bella memainkan jari jemarinya, "Pertemuan kita sekarang hanya karena sebuah perjanjian di atas kertas, dimana saat dari kita menemukan masing-masing hal yang kita sejak awal sudah tercapai maka perjanjian ini sudah berakhir dan tak akan ada lagi keterikatan di antara kita. Maka dari itu lebih baik aku menolak tawaran itu agar nanti saat kontrak kita habis kita akan dengan mudah melupakan semuanya dan kembali ke kehidupan masing-masing, aku fokus pada karir dan masa depanku dan tuan akan fokus dengan keluarga tuan." Arabella mendongakkan kembali kepalanya menatap ke arah Nicholas yang juga menatapnya.


"Jadi apapun yang terjadi sekarang itu hanya sebuah kontrak semata dan saat kontrak itu selesai maka hubungan di antara kita tidak akan ada lagi, lebih tepatnya kita akan kembali menjadi dua orang yang tak pernah saling mengenal satu sama lain." ucapnya.


Dan Nicholas memalingkan wajahnya, entah kenapa kata tak saling mengenal yang bella terasa aneh di dengarnya.


Dan Nicholas pun tak pernah berpikir untuk akrab bersama seorang yang sekarang menjadi istri keduanya karena menurut dirinya kehadiran wanita lain dalam hidupnya hanyalah seorang wanita yang hanya akan membantunya untuk memiliki seorang penerus keluarga tanpa ada hal lainnya


Namun.... Semua hal yang dirinya pikirkan sepertinya salah, malam itu saat untuk pertama kalinya Nicholas menghabiskan malam bersama seorang Arabella sesuatu yang aneh mulai muncul dalam tubuhnya.


Bayangan bella terus memenuhi pikirannya, aroma tubuhnya, suara dan ekpresi wajahnya terus melekat bahkan saat dirinya disibukan dengan berbagai pekerjaan di kantor.


Pelayanan kecilnya yang menyiapkan minum saat Nicholas datang selalu ia tunggu saat pulang ke rumah ini entah sejak kapan.


Dan sekarang perkataan bella yang menyatakan bahwa pertemuan mereka hanya sebatas kontrak semata terdengar tak mengenakan di telinganya.


Seolah-olah Nicholas menginginkan hal lebih dari bella, namun nyatanya di sisi lain perkataan bella memang sebuah kenyataan yang seharusnya.


Pertemuan mereka hanya sebatas kontrak semata yang akan berakhir kapanpun.

__ADS_1


"Ya, kau benar pertemuan ini hanya sementara." ucap Nicholas.


Nicholas berdiri dari tempatnya dan berjalan ke arah sofa dimana bella duduk.


Bella terdiam saat Nicholas mengambil laptop di pangkuannya dan menaruhnya di atas meja.


"Maka dari itu ayo manfaatkan waktu kita." ucapnya.


Arabella tersentak saat Nicholas dengan tiba-tiba mencium bibir dan ********** seperti seseorang yang kelaparan.


Tubuhnya di dorong Nicholas sampai terbaring di sofa, tanpa memberikan arabella kesempatan untuk berbicara Nicholas kembali ******* bibirnya dengan tubuh yang berada di atas tubuh bella.


Tangannya menarik simpul tali cardigan bella yang menutupi tubuhnya namun arabella segera menahannya dengan mendorong dada bidang Nicholas.


"Tuan, ini di ruang tamu." lirih bella dengan pandangan ke arah lain.


"Biarlah, hanya ada kita disini." ucapnya dan kini leher arabella menjadi sasaran bibirnya.


Arabella terdiam dalam keraguan namun Nicholas yang kembali mencium bibirnya membuat bella menyerah dan membalasnya dengan kedua tangan yang ia lingkarkan di leher Nicholas.


Bella akui sentuh Nicholas sudah membuat ia tidak bisa menghindar ataupun menolak, caranya menyentuh membuat dirinya seakan-akan dibawa terbang ke atas.


Sebuah kenikmatan yang tak pernah bella rasakan sebelumnya membuat bella kadang merasa ingin lebih sering melakukannya.


"Ahhh nicho." Arabella memejamkan matanya saat kaki Nicholas menekan inti tubuhnya yang masih berbalut celana pendek.


"Disini terlalu terbatas, ayo lanjutkan di atas." tanpa aba-aba Nicholas mengangkat tubuh bella dan memangkunya dari depan.


Tanpa peduli takut jatuh ataupun tersandung Nicholas kembali melanjutkan lumatannya dan meremas bokong arabella sembari berjalan menuju atas.


"Malam ini jangan harap untuk bisa tidur sedetik pun." bisiknya di sela-sela ciuman mereka.


...*******...


...**Jangan lupa vote and comment sebanyak-banyaknya untuk menghargai saya sebagai penulis. ...

__ADS_1


...Dan terima kasih untuk para pembaca yang sudah mau mampir membaca cerita pertama saya. ...


...Semoga kalian akan terus menyukainya**. ...


__ADS_2