Istri Kedua Mr.Billionaire

Istri Kedua Mr.Billionaire
Hamil? II


__ADS_3

"Setelah kemarin makan di luar dan sekarang di dalam kantor pun kalian makan bersama, aku jadi tak percaya hubungan kalian hanya sebatas karyawan dan atasan." sindir sarah menatap dave dan Arabella bergantian.


"Kau tidak usah berpikir macam-macam sarah, aisten menemani atasanya makan itu hal biasa, jadi tak usah di lebih-lebihkan." ucap dave.


Sementara Arabella hanya menunduk kepalanya sembari memainkan jari-jemarinya saat merasakan tatapan menusuk Nicholas yang terus mengintai.


"Aku baru tahu tugas asisten menemani atasanya makan." sarah yang tak berhenti menggoda sepupunya.


Dave mengerlingkan kedua matanya jengah, "Bisakah kalian beritahu aku kedatangan kalian kemari?" tanya dave mengalihkan perhatiannya.


"Tadi aku habis menemani Nick bertemu salah satu klien'nya dan kebetulan kami lewat sini jadi aku mengajaknya untuk mampir, tapi sepertinya kami salah untuk datang kes..... "


Huek...


Ucapan sarah terpotong oleh suara arabella yang kini lagi-lagi menutup mulutnya yang sangat mual.


"Arabella."


Arabella berdiri, "Tuan sepertinya...huek.."


"Pakailah Toilet ku saja bella, itu disana." ucap dave yang kini sudah berdiri.


Karena sudah tak tahan bella berlari ke arah toilet tanpa menghiraukan mereka yang ada disana.


"Kenapa dengan dia?" kini Nicholas bertanya.


"Sejak pagi Arabella sudah muntah-muntah, aku sudah menyuruhnya untuk pulang tapi dia menolaknya." ucapnya sembari kini melangkah ke arah meja di dekat pintu toilet dan mengambil sesuatu disana.


"Muntah-muntah?" beo sarah dengan kening yang mengerut.


"Ya, mungkin dia masuk angin."


Sarah melirik ke arah Nicholas dengan tatapan penuh arti.


Dave mengetuk pintu toilet, "Bella, jika sudah keluarlah, ini aku bawakan minyak angin untuk mu." ucap dave di balik pintu.


Dan tak selang beberapa lama pintu terbuka dengan Arabella yang keluar dengan muka yang sudah pucat.


"Ini, agar tubuhmu hangat." ucap dave memberikan minyak angin pada bella.


"Terimakasih tuan."


"Wajahmu pucat, bagaimana jika aku antar pulang saja?" tawar dave dan bella lagi-lagi menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Tidak usah tuan."


"Tapi jika terus bekerja kau hanya akan memperburuk tubuhmu sendiri bella."


"Aku dan Nick akan segera pulang, bagaimana jika kami saja yang mengantarkannya?" sahut sarah yang kini sudah berjalan mendekat.


Wanita itu memeluk sebelah tangan bella, "Bagaimana?"


"Tidakkah merepotkan Nick?" tanya dave.


"Tentu saja tidak, aku dan Nick akan dengan senang hati menolongnya."


...*******...


Mobil Nick melaju membelah jalanan kota disana sarah duduk di samping nick sementara arabella berada di belakang dengan kepala yang bersender di kaca jendela.


"Sejak kapan rasa mual itu datang?" tanya sarah dan Nick yang sedari tadi terus mengintip arabella dari kaca depan.


"Sejak pagi." jawab bella.


"Apa kau merasakan keanehan di tubuhmu?"


"hanya mual dan sedikit pusing."


Sarah mengubah posisinya dengan kepala sedikit melihat ke arah bella di belakang, "Dan bagaimana datang bulanmu?"


Dan senyum di wajah sarah seketika terbit, "Baiklah nick, ayo kita ke rumah sakit sekarang."


Arabella menegakan tubuhnya, "N-nona aku tidak apa-apa, aku bisa mengistirahatkan tubuhku di rumah saja." jawab bella yang mulai merasa tak tenang.


"Tidak bella, kau harus ke rumah sakit, kita akan memeriksakan tubuhmu. Kau tahu, gejala yang kau alami sama seperti wanita hamil."


"Tapi nona itu tidak mungkin, aku hanya masuk angin."


"Kita tidak akan tahu jika tidak memeriksanya sendiri, arabella."


...*******...


Rasa lega begitu terlihat dari wajah bella saat sang dokter mengatakan bahwa dirinya hanya masuk angin biasa.


"Tapi dok, gadis ini belum datang bulan sampai saat ini. Apa dokter tidak bisa memeriksa nya lagi?" kekeh sarah yang masih tak percaya dengan ucapan sang dokter.


"Ibu, telatnya datang bulan itu di sebabkan banyak hal, salah satunya mungkin nona ini lagi banyak pikiran dan itu sangatlah berpengaruh." jelas sang dokter.

__ADS_1


"Tapi... "


"Sudahlah sarah, ayo kita pergi sekarang." ucap Nicholas yang kini berdiri di belakang kursi arabella dan Sarah.


"Tapi nick."


"Ayo!" Nick memegang tangan Sarah dan menariknya membuat wanita itu keluar dengan ekpresi kecewa nya di susul dengan Arabella yang berada di belakang.


"Kalian bersama sudah cukup lama, tapi kenapa sampai hari ini tidak ada hasilnya." oceh sarah setelah mereka benar-benar keluar dari ruangan.


"Sarah, sabar lah dulu. Kau kira semuanya bisa di lakukan secara instan." ucap Nick.


"Tapi aku sudah cukup sabar nick, kau tahu jika saja ibumu tidak selalu mengoceh padaku aku juga tidak akan seperti ini." balas sarah dengan nada tinggi.


"Sudah ku bilang jangan kau dengarkan ibuku, kau anggap saja tak mendengarnya."


Sarah menatap ke arah nick dengan pandangan yang penuh emosi. "Aku memiliki kuping nick, bagaimana bisa aku tidak mendengarnya." ucapnya dengan nafas yang kini mulai tak teratur.


"Tuan nick, nona sarah sudahlah jangan bertengkar kita sedang berada di rumah sakit." lerai bella dengan lirih.


"Sudahlah, tidak ada gunanya berdebat dengan mu yang jelas-jelas tidak mengerti bagaimana rasanya jadi aku." Sarah melangkah melewati nick.


"Kau mau kemana?" tanya nick.


"Bertemu teman-temanku." ucapnya dan pergi begitu saja meninggalkan arabella dan Nick yang kini mengepalkan kedua tangannya sembari menghela nafas berat.


"Tuan, kau tidak apa?" tanya bella memegang tangan nick.


"Ayo pulang." ucapnya tanpa menjawab pertanyaan bella.


......*******......


Di dalam mobil Nicholas fokus menyetir dengan bella yang terdiam melihat jalanan dari samping jendela.


"Kau tadi begitu gugup, jangan-jangan sedari awal kau memang tidak berniat untuk memiliki seorang bayi?"


Bella segera menggelengkan kepalanya dengan cepat dan melihat ke arah Nicholas, "Tidak tuan, bukan begitu. Hanya saja...." Bella menyenderkan tubuhnya di jok mobil, "Sebenarnya aku takut..."


"Takut?"


"Sebelum bunda ku meninggal dia pernah mengandung seorang bayi yang tak lain adalah adik ku sendiri, tapi....waktu itu bayinya keguguran karena bunda jatuh tanpa sengaja di anak tangga. Dan aku takut... Bunda saja yang sudah berpengalaman bisa keguguran, bagaimana denganku aku masih terlalu dini untuk ini dan bagaimana jika aku tidak menjaganya? Aku hanya akan membuat kecewa kalian."


Dan tiba-tiba sebelah tangan Nicholas berpindah menggenggam sebelah tangan bella yang berada di pangkuan gadis itu, "Kau tidak perlu takut, jika kau nanti hamil bukannya hanya kau akan menjaganya tapi kita.. Ada aku juga bella." ucapnya menatap bella yang kini juga menatapnya dengan diam.

__ADS_1


Detak jantung bella seketika berdetak lebih cepat, gadis itu memalingkan wajahnya dengan cepat dan menjauhkan tangannya dari tangan Nicholas.


"Ada apa denganmu bella" rutuknya dalam hati.


__ADS_2