
Pagi itu Arabella terbangun dengan segala kesunyian yang ada, tidak ada kecupan di dahi dan juga ucapan selamat pagi dari sang ayah yang biasa menyambut paginya yang indah.
Hanya ada suara burung dan sinar matahari yang mulai menampakan dirinya melalui celah-celah gorden kamar Arabella.
Terbangun dari kamar yang masih terasa asing seketika mengingat Arabella bahwa apa yang terjadi kemarin bukanlah sebuah mimpi buruk yang ingin sekali Arabella lupakan.
Dengan rasa kantuk yang masuh terasa gadis itu menyikap selimutnya dan berdiri dari sana, melangkah ke arah kamar mandi untuk bersiap memulai kuliahnya lagi.
...*****...
Dengan memakai celana jeans dan sweater Arabella melangkah menuruni tangga, suasana rumah itu terasa begitu sunyi.
Dimana Nicholas? Tentu saja dirinya telah pergi, karena saat Arabella membuka jendela tadi mobil Nicholas sudah tidak ada di tempatnya.
Arabella menghembuskan nafasnya secara perlahan sebelum akhirnya membuka pintu keluar untuk memulai harinya yang baru.
Gadis itu berjalan ke depan gerbang rumahnya saat taksi yang sempat dirinya pesan tadi sudah tiba di sana.
Arabella merupakan siswa tahun akhir yang kini sedang belajar di fakultas ekonomi, ia juga salah satu siswa pintar yang selalu meraih nilai yang sangat tinggi, ia bahkan sempat di beri beasiswa untuk kuliah di luar canada, namun sang ayah yang selalu menghawatirkan putrinya membuat Arabella tidak bisa pergi kesana dan lebih memilih menetap di negaranya sendiri bersama sang ayah.
Selain memiliki otak yang cerdas, Arabella juga memiliki wajah yang sangat cantik dan manis tentunya, tak sedikit pria yang telah menyatakan cintanya pada Arabella namun sayang tidak ada satupun dari mereka yang berhasil menjadikan Arabella kekasihnya.
"ARABELLA!!" Sebuah panggilan dari seorang wanita yang kini tengah berlari ke arah bella menjadi sambutan pertama saat bella turun dari taksi.
Cessa dan si gadis tomboy-riana, kedua sahabat Arabella yang berada di jurusan yang sama dengannya.
"Akhirnya kau masuk juga, Kau tahu kemarin kami melakukan kuis dan seperti biasa Miss. Elena selalu saja menargetkan aku." cessa mulai kembali dengan segala kehebohannya.
"Tidak bisakah kau berhenti berbicara, kau tahu sejak tadi pagi kupingku sakit mendengar segala ucapanmu." ketus riana yang membuat cessa menatap sinis padanya.
"Sudah-sudah, bagaimana jika kita ke kelas? Kaki ku pegal terus berdiri disini." lerai Arabella sembari merangkul kedua temannya masuk ke dalam Universitas.
Mereka bertiga pun berjalan menyusuri lorong kampus dan berakhir di salah satu kelas yang memang sudah terjadwalkan.
"Bagaimana kabar ayahmu? Apa sudah cukup membaik?" tanya riana setelah mereka mendudukan di salah satu bangku di kelas itu.
"Masih sama, ayah belum sadarkan dirinya. Tapi kata dokter sih kondisinya sudah cukup membaik." jawab Arabella.
"Mr. Riyan datang!!" salah satu siswa laki-laki datang dan sedikit berteriak membuat para siswa yang tadinya sedang asik mengobrol dan bermain ponsel langsung terduduk dengan rapih tanpa suara.
Dan detik itu juga seorang pria berjas hitam dengan kacamata yang bertengger di wajahnya yang cukup tampan datang dengan membawa beberapa buku di tangannya.
"Selamat pagi semua!" sapanya sembari membuka laptop yang sudah tersedia di mejanya.
"PAGI PROF." jawab para mahasiswa Serentak dan pelajaran ekonomi pun di mulai.
Beberapa Waktu kemudian....
__ADS_1
"Baiklah karena waktu sudah habis, cukup disini untuk hari ini kita lanjut esok." ucap Mr. Riyan sembari membereskan buku-bukunya.
"Oke prof!!"
"Dan untuk Arabella, bisa ikut saya sebentar ke kantor." ucapnya lagi menatap ke arah arabella.
"Baik prof."
Sementara itu cessa menyenggol bahu bella dengan tatapan menggoda, "Cepatlah sana! Bukankah ini kesempatanmu." bisiknya dengan kedua alis terangkat menatap bella.
"Kesempatan apa?"
"Tentu saja untuk berdekatan dengan Mr. Dosen mu itu." ucapnya yang langsung mendapatkan pukulan kecil di paha cessa oleh tangan bella.
"Kenapa kau memukulku?" protesnya dengan tangan yang mengusap bagian kulit yang arabella pukul.
"Kau yang kenapa, dia sudah menikah cessa. Bagaimana bisa kau terus-terusan menyuruhku untuk berdekatan dengannya."
"Memangnya kenapa kalau sudah menikah? Jika memang cinta bukankah harus di perjuangkan?"
"Sudah bel, jangan dengarkan wanita gila itu, bisa-bisa kau akan ikut gila jika mendengar sarannya." ucap riana yang sedari tadi hanya diam menatap ke arah luar jendela.
Cessa mengerlingkan kedua matanya sementara arabella hanya menggeleng pelan dengan senyum tipis di bibirnya, "Baiklah aku kesana dulu ya." pamit bella dan pergi keluar menyusul sang dosen yang sudah berada tak jauh di depan.
Langkah Arabella memelan saat dirinya berada tepat di belakang dosen itu.
Mr. Riyan.
Memiliki wajah yang tampan dan otak yang cerdas membuat siapapun pasti pernah bermimpi untuk menjadi pasangannya.
Dan Arabella'lah salah satu dari sekian banyak wanita yang menganggumi sosok riyan.
Semua itu di awali saat hari pertama dimana dirinya baru menjadi seorang mahasiswa, waktu itu Arabella tanpa sengaja menabrak Mr. Riyan yang sedang membawa sebuah minuman dan membuat minuman itu terjatuh ke arah Arabella.
Dengan gentle'nya sosok Mr. Riyan memberikan jas yang di pakai itu ke bella untuk menutupi pakaian putih Arabella yang saat itu menjadi transparan akibat terkena air.
Dan sejak saat itu pula Arabella mulai tertarik pada sosok Mr. Riyan, bahkan Arabella sampai menjadi seorang asisten dosen hanya untuk berdekatan dengannya.
Namun sayang, 2 tahun memendam perasaan padanya malah di patahkan oleh sebuah kabar bahwa dia akan melangsungkan sebuah pernikahan.
Sejak saat itu Arabella mulai melupakan perasannya meskipun terlalu sulit karena sebagai asisten dosen dia tidak akan pernah bisa menghindar untuk bertemu dengan laki-laki itu.
"Arabella!!" panggilan Mr. Riyan yang kini mereka sudah berada di ruangannya.
"Iya prof."
"Besok saya tidak bisa mengajar untuk sehari, jadi saya minta tolong untuk besok suruh teman-teman mu mengerjakan tugas yang sudah saya tandai disini." ucapnya lagi sembari menyodorkan buku ke arah Arabella.
__ADS_1
"Iya prof."
"Kalau begitu saya undur diri."
Bella pun mulai melangkah keluar dari ruangan itu untuk kembali menghampiri kedua temannya.
"Bell!!"
Namun baru beberapa langkah keluar dari ruangan dia Kembali berhenti saat namanya kembali di panggil.
"Ken, ada apa?"
Kenneth, satu-satunya teman laki-laki yang Arabella punya sejak dirinya menginjak sekolah menengah atas.
"Ku dengar kemarin kau sakit?" tanya ken.
Arabella terdiam sejenak mencerna pertanyaan Kenneth sebelum akhirnya mengingat bahwa kemarin ia memang beralasan sakit pada kedua temannya karena memang tidak mungkin bella jujur bahwa ia akan melakukan sebuah pernikahan, yang ada mereka akan heboh sendiri.
"Iya, tapi sekarang sudah mendingan kok." jawab bella dengan senyum canggung.
"Baguslah."
"Ohh ya.. "
Drettttt......
Ucapan ken terpotong oleh suara ponsel Arabella yang berbunyi, dengan cepat Bella segera mengambil dan mengangkat panggilan telpon yang ternyata dari mama tirinya.
"Hallo!"
"^_^"
"Ayah sudah sadar."
"^_^"
"Iya, bella kesana sekarang."
"Om jordan sudah sadar?" tanya ken setelah sambungan telpon terputus.
"Iya, Sepertinya aku akan ke rumah sakit sekarang."
"Biar aku antar." tawar ken.
"Bagaimana dengan kelas mu?"
"Tidak apa, aku bisa izin nanti. Yang terpenting sekarang kita harus segera ke rumah sakit, Ayo!!"
__ADS_1
......**********......
......Jangan lupa vote and comment ......