
Di ruangan yang bernuansa coklat dan di penuhi dengan beberapa buku itu Arabella dan semua mahasiswa yang sempat di panggil tadi terduduk di kursi dengan seorang profesor yang kini tengah duduk di meja khususnya.
"Mungkin beberapa dari kalian sudah tahu tujuan saya memanggil kalian kesini." ucapnya sembari membenarkan kacamata yang bertengger di wajahnya.
"Namun saya akan kembali menjelaskan agar lebih mudah di pahami oleh kalian."
"Baik prof."
"Setiap tahun kampus ini akan mengirimkan beberapa mahasiswa untuk magang di salah satu perusahaan ternama di kota ini, dan tahun ini kalian semua yang ada disini adalah mahasiswa yang sudah di pilihkan oleh saya dan para dosen yang lainnya."
"Jadi sebelum kalian pergi kesana saya ingin bertanya, apa disini ada yang keberatan untuk pergi kesana? Karena jika ada mungkin kalian bisa membatalkan'nya sekarang."
Arabella dan yang lainnya pun saling bertatapn satu sama lain, ada juga yang berbisik dan berdiskusi.
'Company Winston'
Siapa sih yang tidak ingin bekerja disana? Semua orang pasti menginginkan untuk bekerja disana, menjadi salah satu karyawan yang beruntung dan yang pasti memiliki masa delan yang menjaminkan.
"Bagaimana?" tanya prof kembali.
Beberapa detik tak ada yang menjawab sampai Arabella mengangkat sebelah tangannya.
"Ternyata miss arabella, apa ada hal yang ingin di sampaikan?"
Dengan ekpresi yang penuh keraguan bella mengangkat kepalanya, "Apakah jika saya menolaknya tidak apa-apa?" tanya bella dengan nada hati-hati.
Dan semua pasang mata yang berada disana seketika menatap Arabella dengan pandangan sedikit terkejut.
"Alasannya?"
"Emm.. I'm sorry prof." bella berkata dengan senyum canggungnya.
"Saya mengerti, meskipun sayang tapi mau bagaimana lagi?" ucap sang prof pasrah.
"Baiklah, apa ada lagi yang ingin menyampaikan sesuatu?"
Dan mereka kembali terdiam pertanda sudah tidak ada lagi.
"Kalau begitu kalian boleh pergi dan untuk kelanjutannya akan kami kabari segera."
"Baik prof, kalau begitu kami permisi." ucap salah satu dari mereka.
Satu persatu dari mereka pun mulai keluar begitu pula dengan Riana dan Arabella yang berjalan di belakang.
"Kenapa kau menolaknya?" tanya riana setelah mereka keluar dari ruangan.
"Aku..."
"HEYYY GIRLS!!!" ucapan bella terpotong dengan kedatangan cessa si gadis heboh yang langsung memeluk bahu mereka berdua.
"Apa yang kalian bicarakan di dalam tadi?" tanya cessa yang terlihat sudah sangat penasaran.
Riana menepis tangan cessa dari bahunya, "Kepo." ucapnya dan pergi dari sana.
...*******...
__ADS_1
"WHATTT!!!" bella segera membekap mulut cempreng cessa yang membuat hampir semua mahasiswa melihat ke arah mereka duduk.
"Bisakah kau pelankan volume mu?" bisik bella sembari tersenyum meminta maaf pada para mahasiswa di sekitarnya yang sempat melihat ke arah mereka.
Cessa menjauhkan tangan bella dari mulutnya, "Bella, kenapa kau bodoh sekali menolak sesuatu yang sangat berharga? Kau tahu aku saja ingin sekali bekerja di perusahaan itu dan kau malah menolaknya." ucap cessa dengan sangat cepat tanpa memberi jeda.
"Atau kau ingin bekerja di perusahaan ayahmu?" tanya cessa yang membuat ekpresi bella berubah seketika.
Gadis itu pun menunduk sembari memainkan jari-jari'nya, "Perusahaan ayahku sudah.... Bangkrut."
"WHATTT!!!" Dan sekali lagi cessa kembali berteriak syok begitu juga dengan riana yang sedari tadi diam memainkan ponselnya kini menatap bella dengan pandangan terkejut.
"Apa katamu? Kau... Tidak bercandakan?" Arabella menggeleng.
"Sejak kapan? Dan kenapa?"
"Saat ayah mengalami kecelakaan dan soal kenapanya aku tidak tahu."
"Kenapa kau tak memberitahu kami?" dan kini riana yang bertanya yang di angguki oleh cessa.
Dengan kepala yang masih menunduk bella menjawab, "Aku tidak ingin kalian ikut khawatir."
"Bell." riana memegang kedua bahu bella dan membalikkan tubuhnya menghadap ke arahnya, "kita berteman sudah cukup lama, bukankah dulu kau bilang bahwa suka maupun duka kita akan berbagi bersama. Lalu kenapa sekarang kau yang malah seperti ini?"
"Maaf." ucap bella dengan nada lirih.
"Sudah sudah yang penting'kan sekarang bella sudah memberitahu kita." tangan cessa terangkat dan merangkul pundak bella.
"Iya kan bell."
"Hemm oke."
"Tapi tunggu!!" cessa kembali melepas rangkulannya, "Kau belum memberitahu kami kenapa menolak tawaran tadi?" ucap cessa yang kembali teringat.
Dan membuat bella kembali berpikir untuk alasannya, "Itu... Aku sudah memilih perusahaan ku sendiri untuk magang nanti." ucap bella dengan rasa gugup dan bersalah atas kebohongan'nya pada mereka.
"Begitukah? Ku kira kenapa." dan senyuman lega terlihat dari bibir bella saat melihat kedua temannya tidak merasa curiga.
Jujur bukan itu alasan bella menolak tawaran itu, ia hanya tak mau berurusan lebih dalam dengan keluarga Winston. Karena bella harap setelah perjanjian kontrak yang bella dan Nicholas selesai semuanya juga akan kembali seperti biasa, dan bella akan dengan mudah melupakannya seolah-olah tak pernah ada yang terjadi di antara mereka.
Menjalani hidupnya kembali dengan damai dan bisa bersama-sama lagi dengan ayahnya.
...*******...
"Butuh tumpangan nona?" bella tersenyum seketika saat melihat mobil ken yang berhenti di sampingnya.
Tanpa berbicara bella membuka pintu mobil Ken dan masuk ke dalamnya karena jika pun menolak pada akhirnya ken juga yang akan memaksa.
"Ke rumah sakit?"
"Kau sudah tahu tanpa harus ku jawab."
Dan mobil pun mulai berjalan keluar dari halaman kampus.
"Apa kau akan bekerja di perusahaan Company Winston?" tanya ken dengan dirinya yang masih fokus menyetir.
__ADS_1
"Tidak, aku menolaknya." jawab bella yang membuat ken menatap ke arahnya sejenak.
"Why?" tanya'nya dengan ekpresi tak percaya.
"Tidak ada alasan."
"Kau memang tak bisa di tebak."
"Itulah Arabella clarita adelina." ucap bella dengan bangganya dan ken menggelengkan kepalanya dengan senyum tipis.
"Lalu kau mau magang dimana?"
"Entah."
"Bagaimana jika di perusahaan ayahku, kebetulan aku juga akan disana untuk belajar."
"No." jawab bella dengan cepat, "Aku tidak ingin merepotkan kau dan keluarga mu."
"Arabella bukankah sudah ku bilang kau tidak..."
"No ken." potong bella dengan tegas.
"Baiklah terserah kau saja."
Sejak mereka berteman di bangku sekolah menengah atas Ken selalu membantu Arabella saat dia membutuhkan atau sedang merasa kesusahan, bahkan ayah ken juga pernah membantu ayah bella saat perusahaan sedang membutuhkan modal yang sangat banyak kala itu.
Saat ibunda bella meninggal saja, ibu ken lah yang menenangkan bella yang tak berhenti menangis dan ayah ken juga membantu mengurus pemakaman bunda bella saat sang ayah yang waktu itu sedang berada di luar negeri karena sedang melakukan pekerjaan.
Dan itulah salah satu yang membuat bella selalu merasa berhutang budi pada ken dan keluarga'nya.
"Bel." panggil ken.
"Iya."
"Besok malam ayahku akan mengadakan pesta perusahaan dan ayah menyuruhmu untuk datang ke pesta."
"Besok malam?" guman bella.
"Tidak boleh menolak."
"Baiklah." putus bella.
"Kalau begitu aku jemput jam 7 malam."
"TIDAK." tegas sangat cepat bella menolaknya membuat ken menatap bella dengan kening mengkerut.
"Kenapa?"
"Tidak apa, kau kirimkan saja alamatnya dan tunggu aku di pintu masuk."
"Akhir-akhir ini kau sangat aneh, tapi tak apa yang terpenting kau datang kesana." ucapnya.
Dan mereka pun terdiam setelahnya.
...*******...
__ADS_1