Istri Kedua Mr.Billionaire

Istri Kedua Mr.Billionaire
Malam yang menegangkan


__ADS_3

Malam itu hujan turun dengan sangat derasnya, angin kencang dan juga petir yang bergemuruh semakin membuat malam seketika menjadi sangat mencekam.


Disana di rumah klasik itu seorang Arabella tengah tertidur di atas sofa dengan buku yang berada di pangkuan'nya.


Ting tong..


Matanya yang terpejam perlahan terbuka saat suara bel rumahnya terdengar berbunyi.


Gadis itu menggosok kedua matanya dan melihat ke arah jam di dinding yang menunjukan sudah pukul sebelas malam.


Ting tong...


"Iya sebentar!!" Teriak Arabella yang kini sudah berdiri dan berjalan menuju ke arah pintu.


Perlahan tapi pasti Arabella membuka pintu rumahnya dan sosok Nicholas adalah hal pertama yang terlihat saat pintu terbuka dengan sempurna.


Disana Nicholas berdiri dengan tubuh yang basah kuyup, kemeja putihnya terlihat transparan memperlihatkan otot-otot perutnya.


Membuat Arabella seketika terpaku melihat penampilan Nicholas saat itu.


"Apa kau akan terus diam memandangiku sampai pagi?" suara dingin yang cukup menusuk membuyarkan lamunan bella.


"M-maaf tuan, masuklah." ucap bella sembari menyingkirkan tubuhnya untuk memberi jalan Nicholas.


"Aku akan ambilkan handuk sebentar!"


"Tidak usah." ucapnya saat Arabella hendak melangkah ke atas.


"Aku akan membersihkan tubuhku di atas." lanjutnya yang langsung berjalan meninggalkan Arabella yang kini tertunduk.


Singkat cerita, Nicholas pun keluar dari dalam kamar mandi dengan tubuh yang di balut sebuah bathrobe putih.


Tok tok...


Tanpa menunggu jawaban Nicholas pintu terbuka menampilkan Arabella yang memvawa nampan berisi teh hangat.


"Ini teh hangat, agar tubuh mu tidak kedinginan" Ucap Arabella menaruh minuman di atas meja dengan kepala yang masih menunduk.


Sejenak Nicholas memandang diam gadis itu dan teh di meja, "Emm terimakasih." ucapnya.


Nicholas berjalan ke arah samping ranjang dan duduk disana dengan tangan yang sibuk mengeringkan rambutnya menggunakan handuk, sementara bella gadis itu tampak masih berdiri dengan jemari yang memilin-milin bajunya sendiri.


"Ku harap kau tahu maksud kedatangan ku kemari." ujar Nicholas tanpa menoleh pada bella.


"Ya, aku tahu. Tapi..."


"Kenapa? Kau belum siap lagi?"

__ADS_1


Bella segera mendongakan kepalanya dan menggeleng dengan cepat, "Tidak! Bukan seperti itu, aku hanya ingin minta satu hal sebelum melakukan'nya."


Nicholas melirik ke arah bella, "Lakukan'lah apa yang mau kau lakukan, aku tidak akan melarangnya."


"Terimakasih."


Arabella berjalan ke dekat nakas di samping Nicholas duduk dan mengambil sebuah botol minuman yang membuat Nicholas mengernyit menatapnya.


"Jangan bilang kau ingin berpura-pura mabuk dan mengundur waktu lagi." bukan sebuah pertanyaan melainkan lebih ke sebuah sindiran yang membuat Arabella lagi-lagi menggeleng dengan cepat.


"Bukan!" sangahnya, gadis itu tampak ragu mengatakan, "Aku sangat gugup... Ini pertama kalinya aku tidur bersama laki-laki, jadi mungkin saja jika aku minum mungkin tubuh ku agar sedikit rileks." ucap Arabella dengan kepala terduduk memainkan jari-jari'nya.


Dan lagi-lagi Nicholas mengernyitkan Keningnya dengan sedikit terkejut, "Pertama kalinya?" beo Nicholas.


"Kau.. Belum pernah melakukannya?" tanya'nya dengan sedikit rasa tak percaya.


Hey ayolah ini jaman modern, sudah jarang bahkan hampir punah wanita yang masih perawan di umurnya yang sudah menginjak dewasa, apalagi ini adalah amerika, negara dengan segala kebebasannya.


Dan sontak Nicholas terdiam saat Arabella menggelengkan kepala kembali.


*1 detik....


2 detik...


3 detik*....


"Mungkin kita bisa menikmati minuman terlebih dahulu." ucap nick yang membuat bella menatap bingung ke arah'nya.


"Tunggu apa lagi? Ambilah gelasnya!!"


"Ahh iya tuan."


...********...


Semakin malam angin semakin kencang melanda, rintik hujan masih terdengar di luar sana.


Di kamar itu Arabella dan Nicholas terduduk di pinggir kaca yang langsung memperlihatkan gelapnya malam yang dibasahi dengan guyuran hujan sembari menikmati minuman alkohol yang tinggal setengah botol.


"Berapa umur mu?" tanya Nicholas di sela-sela mereka minum.


"23." jawab Bella.


"Kenapa kau menyetujui pernikahan ini jika pada dasarnya belum siap?" tanya Nicho melirik bella yang sedang memandang lurus ke depan.


"Karena ayah, jika aku tidak melakukan ini biaya rumah sakit ayah tidak akan bisa di bayar dan ayah tidak akan pernah bisa di sembuhkan." ucapnya di akhiri dengan senyuman miris yang terlihat begitu menyedihkan.


"Memangnya tidak ada anggota keluarga yang lain yang bisa membantu?" Nicholas yang biasanya tampak acuh kini merasa penasaran dengan gadis di sampingnya yang terlihat sudah mulai hilang kesadarannya.

__ADS_1


"Ada, tapi.. Begitulah semuanya tampak acuh tak acuh."


Arabella hendak menuangkan kembali minuman'nya namun di atahn oleh tangan kekar Nicholas, "Sudah, tidak baik meminum banyak-banyak."


Bella menatap langsung bola mata abu-abu milik Nicholas, gadis itu tersenyum tanpa alasan, "Sepertinya ucapan orang-orang bohong."


"Bohong?"


"Hmmm, kata mereka kau itu sombong dan tak memiliki perasaan." ucap bella yang kini mulai melantur dengan tangan yang menunjuk-nunjuk dada Nicholas.


"Memang menurutmu aku seperti apa?"


"Jujur saat pertama kali melihat mu aku juga berpikir sama seperti orang lain, tapi sepertinya itu tidak benar, nyatanya kau peduli tadi." bella terkekeh kecil entah apa yang lucu seperti bukan bella yang Nicholas tahu.


Bella yang hanya tertunduk sembari memainkan jari-jarinya, bukan bella yang pendiam dan tampak gugup saat Nicholas berbicara.


"Kau sudah mabuk?"


Bella menjauh dari Nicholas dan menyenderkan tubuhnya di dinding kaca.


"Aku paham sekarang, kenapa orang-orang suka mabuk-mabukan saat sedang ada masalah." racau bella dengan mata terpejam.


Nicholas menarik nafas ringan menatap Bella yang kini memang sudah benar-benar tak sadar, "Sepertinya kita harus mengundur waktu lagi, istirahat'lah aku akan tidur di bawah."


Baru saja Nicholas akan berdiri namun bella sudah lebih dulu menarik tangannya dan membuat tubuh Nicho seketika tak ada jarak dengan tubuh bella.


"Tidak." ucap bella dan tangannya kini mulai mengusap lembut wajah tampan Nicholas, "Semakin cepat kita melakukan'nya, maka semakin cepat pula semuanya berakhir."


"Jadi ayo lakukan sekarang!!"


Tanpa aba-aba bella menarik lebih dekat wajah Nicholas dan menciumnya sebentar sebelum akhirnya di lepas kembali.


"Aku belum pernah melakukannya, aku..."


Ucapan bella terpotong saat Nicholas dengan cepat memegang tengkuk bella dan ******* bibir tebalnya dengan agresif.


Gadis itu terdiam sejenak sebelum akhirnya membalas ciuman Nicholas dengan mata terpejam.


Tubuh bella di angkat dan di bawa ke pangkuannya tampak melepas pangutan mereka, setelah saling ******* dan menukar saliva satu sama lain Nicho pun berdiri dengan bella yang berada di pangkuannya.


Nicho membawa bella ke atas ranjang dan menidurkan bella dengan dirinya yang berada di atas.


Sorot mata laki-laki itu tampak berubah menjadi penuh dengan gairah menatap bella yang masih memejamkan matanya.


Dan sebelum kembali menyerang bella, Nicholas mematikan lampu pencahayaan ruangan itu.


...********...

__ADS_1


__ADS_2