Istri Kesayangan Milliader Tampan

Istri Kesayangan Milliader Tampan
• IKMT 11 •


__ADS_3

“Aku mencintaimu,” bisik Bianca.


“Aku lebih mencintaimu,” balas Gilen dengan senyuman manisnya.


Pasangan itu kemudian menikmati pemandangan sembari duduk di sofa dengan secangkir coklat panas yang menemani mereka.


“Kenapa kau tidak mengajak teman-temanmu?” tanya Bianca.


“Temanku? Siapa? Gavin dan Mike?”


“Memangnya siapa lagi temanmu kalau bukan mereka?”


“Huh. Aku tidak ingin mereka mengganggu Honeymoon kita Sayang,” ujar Gilen kemudian merangkul Bianca dengan mesra.


“Oh? Jadi kau selama ini berpikir mereka pengganggu ya haha,” ujar Bianca meledek.


“Aku sedang ingin berduaan denganmu tidak ingin diganggu oleh siapapun,” ujar Gilen kemudian mengusap hidungnya di dada sintal milik Istrinya itu.


“Gilen kita masih diluar,” bisik Bianca sambil mengedarkan pandangannya karena malu jika dilihat oleh orang lain.


“Kenapa? Aku akan mencongkel mata mereka jika mereka berani melihat,” ujar Gilen.


“Hush, kenapa sangat kejam sih?”


Gilen kemudian menindih tubuh mungil Istrinya itu. “Kejam? Apa kau tahu artinya kejam?” ucap Gilen dengan seringai nya.


“G-gilen jangan seperti ini,” ucap Bianca gelisah.


Gilen kemudian menggendong tubuh Istrinya itu dan membawanya masuk kedalam kamar. Bug. Ia kemudian melempar tubuh Bianca keatas ranjang dengan kasar.


“Aku harus mengajarimu agar kau tahu apa artinya kejam,” bisik nya kemudian menggigit kecil leher Bianca dan merobek Bikini istrinya itu dengan kasar.


“Awh! Pelan!” rintih Bianca.


Gilen kemudian berhenti dan merogoh laci disebelahnya. Ia mengambil dasi kemudian mengunci kedua tangan Bianca dan mengikatnya ke tiang kasur.


“Aku ingin bermain dengan ekstrim kali ini,” bisik Gilen dan membuat bulu kuduk Bianca merinding.


“Pria ini sudah gila?” batin Bianca yang sedikit khawatir dan takut saat melihat Gilen yang tak seperti biasanya.


Saat itu, Bianca disiksa habis-habisan oleh Gilen hingga beberapa jam kedepan. Wanita itu tak habis pikir dan tak menyangka bahwa Suaminya memiliki sifat seperti ini.


“Dia sungguh menakutkan,” batin Bianca sembari menatap dalam wajah Gilen yang sedang tertidur pulas disebelahnya.


“Ouch,” rintih Bianca saat hendak bangkit.


“Ada apa?”


“T-tidak,” balas Bianca.


“Kau kenapa?” tanya Gilen sembari menahan tangan Bianca.


“T-tidak apa-apa,” jawab Bianca gugup.

__ADS_1


Gilen kemudian menyingkap rambut Bianca dan melihat punggung Bianca yang membiru diselingi bekas gigitan Gilen.


“Tunggu disini. Aku akan mengambil obat,” ujar Gilen kemudian bangkit dari ranjangnya.


“I-iya,” ucap Bianca kemudian menutup tubuhnya dengan selimut.


Gilen kemudian pergi keluar kamar untuk mengambil beberapa obat dan segera kembali untuk mengobati Istrinya itu.


“Maaf. Aku hilang kendali,” ucap Gilen sembari mengoleskan obat dipunggung Bianca.


“T-tidak papa. Stamina mu sangat bagus!” ucap Bianca dengan canggung.


“Kau pasti terkejut kan?” lirih Gilen kemudian mengecup pundak Bianca.


“Haha tidak kok,” ujar Bianca mencoba mencairkan suasana.


“Aku tidak akan mengulangnya kelak,” ujar Gilen.


“I-iya tentu saja!” ucap Bianca.


Suasana diantara mereka pun menjadi canggung hingga mereka kembali ke Villa keluarga Gilen. Ayah dan Ibu Gilen pun menyambut mereka dengan bahagia berharap dapat mendengar kabar gembira dari anak dan menantunya itu. Tapi sayangnya, yang mereka dapat hanyalah kecanggungan diantara keduanya.


“Aku ada urusan hari ini. Aku akan segera kembali,” ujar Gilen kemudian pergi diikuti Leo.


Ayah dan Ibu Gilen yang melihat sikap Kedua anaknya yang tak biasa itu pun mencoba bertanya kepada Bianca.


“Sayang, ada apa?” tanya Ibu Gilen dengan lembut.


“Tidak ada apa-apa Bu,” jawab Bianca dengan senyuman paksa.


“Ibu tak usah khawatir. Tidak ada yang terjadi diantara kami,” ucap Bianca sembari menggenggam erat tangan Ibu mertuanya itu.


“Baiklah kalau begitu. Beristirahatlah Nak. Ibu akan membuatkan susu untukmu,”ucapnya.


Bianca pun kembali kekamar dan berganti baju. Saat berganti baju, ia menghadap cermin dan memandangi luka di punggungnya yang mulai memudar.


“Suamiku itu, memiliki sisi yang mengerikan ternyata,” gumam Bianca.


“Tapi kenapa kita menjadi canggung seperti ini? Apa dia merasa bersalah padaku?”


Tiba-tiba pintu diketuk. “Bianca! Ibu membawakan susu untukmu Nak,” ujar Ibu Gilen yang kemudian membuka pintu kamar.


Betapa terkejutnya Sang Ibu saat melihat punggung Bianca yang penuh dengan luka lebam dan bekas gigitan.


Praangg\~


Mendengar itu, Ayah Gilen ikut berlari kearah kamar Bianca karena khawatir.


“Apa yang terjadi?” tanya Ayah Gilen pada Istrinya saat melihat Sang Istri sedang berdiri dengan shock.


Bianca yang juga terkejut sontak segera memakai bajunya dengan cepat.


“Apa yang terjadi denganmu Nak? Apa Gilen menyakitimu? Kenapa bisa sampai seperti ini,” lirih Ibu Gilen dengan air mata yang bercucuran.

__ADS_1


“I-ibu aku sungguh tidak apa. Gilen tidak menyakitimu. I-ini hanya kesalah pahaman kecil,” ujar Bianca mencoba menjelaskan.


“Tidak mungkin! Jangan membela dia jika memang salah!”


“Aku bersumpah Bu! Dia tidak menyakitiku. Ibu tenanglah dulu,” ujar Bianca mencoba menenangkan Ibu Mertuanya itu.


“Apa yang terjadi Bianca? Apa maksud Ibumu?” tanya Ayah Gilen.


“I-itu,” jawab Bianca terbata-bata tapi disela oleh Ibu Mertuanya.


“Tubuhnya penuh luka lebam!” jawab Ibu Gilen yang semakin histeris.


Ayah Gilen kemudian menatap kearah Bianca dengan tatapan bersalah. Ia kemudian membawa Istrinya duduk dan menenangkan Istrinya terlebih dahulu baru kembali berbicara dengan Bianca.


“Bianca. Coba ceritakan detailnya pada Ayah,” ucap Ayah Gilen lembut.


“Ayah. Aku bersungguh-sungguh, Gilen tidak menyakitiku,” ujar Bianca mencoba meyakinkan Ayah Mertuanya itu.


“Kau tidak perlu takut pada Ayah. Ceritalah Nak.”


“Ayah, kau yang paling mengerti Gilen dan juga Aku. Apa menurutmu Gilen tega menyakitiku? Tidak kan?”


“Lalu kenapa tubuhmu bisa luka seperti itu Nak?”


“Em i-itu sebenarnya hanya kesalah pahaman kecil saja,” jawab Bianca sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Apa maksudmu? Dia memukulmu?”


“Bukan Ayah! A-anu itu, kami terlalu bersemangat Hehehe,” ujar Bianca canggung.


Ayah Gilen yang mengerti pun langsung tertawa karena tak habis pikir dengan kelakuan Pasangan ini yang membuat rumah menjadi Heboh.


“Ada apa ini?” tanya Gilen yang tiba-tiba muncul.


“Kau jangan terlalu kasar pada Istrimu. Kasihan dia,” ucap Ayah Gilen.


Gilen kemudian menatap Bianca yang mencoba memberi kode pada Gilen bahwa Kedua Orang Tuanya sudah mengetahui luka tersebut.


“Aku lepas kendali Ayah. Maaf,” ujar Gilen.


Ayah Gilen kemudian membawa Istrinya keluar untuk memberi ruang pada Gilen dan Bianca.


“Kau kembali secepat ini?” tanya Bianca basa-basi.


“Iya, Urusanku sudah selesai,” ucap Gilen dan diangguki oleh Bianca.


Keduanya kemudian duduk dipinggiran ranjang tanpa berani membuka suara sedikitpun.


“Aku-“


Keduanya tiba-tiba berkata bersamaan dan kemudian tertawa.


“Kau duluan saja,” ujar Bianca.

__ADS_1


“Baiklah. Aku ingin minta maaf Caca.”


__ADS_2