
Raka kemudian mendekat kearah Gilen dan menatapnya tajam. “Kalau kau benar-benar mencintainya, kau tidak akan tega melihatnya menderita seperti ini.”
“Aku tidak butuh nasehatmu,” celetuk Gilen.
“Jangan bodoh Gilen. Aku sudah memperingatimu berkali-kali. Tapi kau tidak pernah mendengarku,” racau Mike.
“Sekarang kau lihat, dia terbaring dirumah sakit lagi karena ulahmu,” lanjut Mike sembari menunjuk Bianca dengan dagunya.
Gilen pun hanya terdiam dan tak menggubris perkataan Mike. Suasana saat itu menjadi hening. Hanya suara hembusan angin dari AC yang terdengar. Tak ada satupun dari mereka yang mau membuka suara. Mereka saat itu tenggelam didalam pikirannya masing-masing.
Setelah prosedur transfusi darah selesai, Ketiga Pria itu diminta untuk menunggu diluar. “Aku ada urusan. Aku pergi dulu. Kau jagalah Bianca,” ucap Gilen sembari menepuk pundak Mike.
“Ya,” ucap Mike singkat.
Gilen kemudian melirik kearah Raka yang juga menatapnya tajam kemudian pergi sembari membenarkan dasinya. Raka dan Mike pun tetap berada dirumah sakit sampai Bianca sadar dan dipindahkan keruang perawatan.
“R-raka,” gumam Bianca saat ia membuka matanya perlahan dan langsung melihat Raka dihadapannya.
“Iya. Aku disini,” ucap Raka dengan senyuman manisnya.
“Raka,” rintih Bianca sekali lagi sambil mencoba meraih tangan Pria yang ada dihadapannya itu.
“Iya. Aku Raka,” ucap Raka sembari meraih dan menggenggam tangan Bianca.
Mike yang melihat itu pun hanya bisa memicingkan sebelah matanya sembari melipat tangannya didada guna menahan rasa sakitnya. “Bi, apa kau sungguh tidak akan pernah mencintaiku?” batin Mike lirih saat melihat kedekatan mereka.
“R-raka,” lirih Bianca sekali lagi dengan air mata yang mulai mengalir dari pelupuk matanya.
“Hei, kenapa menangis?” ucap Raka lembut sembari mencoba menyeka air mata Bianca.
“Raka, aku sangat sakit,” lirih Bianca yang mulai sesegukan.
Raka kemudian menoleh kebelakang dan mengerutkan dahinya seolah memberi tanda pada Mike. Mike kemudian ikut mendekat keranjang Bianca dan menatap Bianca sendu.
“Jangan mencoba mencelakai dirimu lagi. Bi, aku sungguh tidak bisa melihatmu seperti ini,” lirih Mike dengan air mata yang sudah tertumpuk dipelupuk matanya.
“H-hiks. M-maaf Mike,” lirih Bianca sembari terus menangis histeris.
Raka dan Mike pun hanya bisa menemani Bianca saat ia menangis tersedu-sedu tanpa berbicara sepatah kata pun. Mereka membiarkan Bianca menangis agar Wanita itu menjadi lebih lega atas apa yang sudah ia alami.
Hingga beberapa saat kemudian, Bianca pun sudah kembali tenang. Kedua Pria itu mulai menawarkan makanan pada Bianca untuk dimakan oleh Wanita itu.
__ADS_1
“Kau harus makan walaupun sedikit,” ucap Mike sembari menyuapi makanan pada Bianca.
“Aku tidak selera Mike,” tolak Bianca sembari memalingkan wajahnya.
“Bi, kau ingin cepat sembuh kan?” ucap Mike mencoba membujuk Bianca.
“Benar kata Mike. Makanlah walaupun sedikit,” sahut Raka.
Bianca kemudian menatap kedua Pria itu sebelum akhirnya membuka mulut dengan terpaksa. “Sudah,” ucap Bianca dengan mulut penuh.
“Minumlah,” ucap Raka kemudian menyodorkan segelas air putih pada Bianca.
Bianca kemudian minum dengan perlahan dan kembali berbaring diranjangnya. Wanita itu kemudian menatap Mike dan Raka secara bergantian dengan mengernyitkan dahi. “Sejak kapan kalian menjadi sedekat ini?” tanya Bianca penasaran.
“Kami tidak dekat tuh,” tukas Mike memalingkan wajahnya.
Sedangkan Raka, Pria itu hanya mendengus sebal dan ikut memalingkan wajahnya kesembarang arah. Bianca pun hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah kekanakan kedua Pria dihadapannya itu. Waktu pun berjalan semakin cepat. Kini, hari sudah semakin larut.
“Kalian tidak pulang?” tanya Bianca saat melihat Raka dan Mike tertidur di sofa dekat ranjangnya itu.
Raka dan Mike seketika terbangun dan melirik jam dinding. “Ah, aku akan menginap disini dan menjagamu,” lenguh Raka sembari meregangkan tubuhnya.
“Aku juga,” sahut Mike.
“Mana mungkin kami meninggalkanmu,” ujar Mike.
“Aku sungguh tidak papa. Kalian tidak usah khawatir. Kan bisa besok kesini lagi?”
“Tidak. Aku akan tetap disini,” bantah Raka.
Bianca kemudian menghela nafasnya kasar sembari bergantian menatap Raka dan Mike. “Kalau begitu, kalian gantian saja menjagaku. Agar kalian juga bisa dapat beristirahat,” ucap Bianca final.
“Kau saja yang pergi,” ucap Raka dan Mike kompak.
“Tidak. Kau saja,” tolak Mike.
“Hei, kau besok saja menjaga dia. Malam ini aku dulu,” ucap Raka tak terima.
Mendengar perdebatan itu, Bianca langsung melerai keduanya. “Hentikan! Kertas gunting batu saja untuk menentukan siapa yang menjagaku malam ini!” ujar Bianca.
Raka dan Mike kemudian bermain Kertas, Gunting, Batu sebanyak 5 kali. Dan akhirnya, Raka menang. Mike pun mengalah dan berpamitan pada Bianca untuk pulang terlebih dahulu.
__ADS_1
“Aku akan datang besok pagi,” ucap Mike seraya mengelus kepala Bianca.
Mike kemudian melirik kearah Raka dengan tajam kemudian melenggang pergi meninggalkan ruangan itu.
“Tidurlah. Ini sudah larut,” ucap Raka.
“Hm. Maafkan aku karena terus membuatmu repot,” ucap Bianca.
“Jangan minta maaf. Aku sangat senang jika dibuat repot olehmu,” ucap Raka sembari mengusap lembut surai Bianca.
“Terimakasih, Raka,” ucap Bianca kemudian mengulas senyuman manisnya itu.
Raka kemudian tersenyum pada Bianca dan mengambil tangan Bianca kemudian mengecupnya hingga membuat Wanita itu menjadi berdebar karena ulahnya itu.
“Sama-sama,” balas Raka.
Malam itu, mereka lewati dengan tenang. Begitu juga seterusnya hingga Bianca diperbolehkan pulang dan melakukan rawat jalan oleh Dokter yang merawatnya.
“Terimakasih ya. Dan maaf karena membuat kalian menjadi repot untuk mengurusku,” ucap Bianca pada Raka dan Mike saat diperjalanan pulang menuju Apartemen.
“Sama-sama,” balas Mike dan Raka kompak.
Sesampainya di Apartemen Bianca, Raka dan Mike membantu membawakan barang Bianca masuk dan membantu Wanita itu membereskan Apartemennya yang hampir 2 minggu tidak ditempati itu.
“Biar aku saja,” ucap Mike sembari mengambil sapu yang ada ditangan Bianca.
“Terimakasih Mike,” ucap Bianca dengan senyuman manisnya.
Setelah Apartemen Bianca kembali bersih dan rapi, Raka dan Mike pun berpamitan pulang. Bianca pun berterimakasih lagi kepada keduanya karena telah membuat mereka repot untuk mengurusnya.
“Aku akan mentraktir kalian lain kali,” ucap Bianca saat mengantar Raka dan Mike hingga depan pintu.
“Iya. Kalau terjadi sesuatu segera hubungi aku ya,” ucap Mike sembari mengacak rambut Bianca.
Mike pun pergi terlebih dahulu. Sementara Raka, Pria itu masih berdiri disana seolah ingin mengatakan sesuatu pada Bianca.
“Apa aku boleh memelukmu?” tanya Raka tiba-tiba hingga membuat Bianca menjadi heran.
“K-kenapa tiba-tiba?” balas Bianca kebingungan.
Raka kemudian tersenyum dan memeluk tubuh Bianca sembari mengelus surai Bianca dengan lembut.
__ADS_1
“Kau harus berjanji padaku bahwa kau tidak akan menangis lagi.”