
“Hah, ketahuan juga,” ucap Raka sembari menghela nafasnya panjang.
“Maaf, aku tidak tahu sebelumnya,” ucap Bianca.
“Kenapa minta maaf? Kau tidak melakukan kesalahan,” ucap Raka.
“Aku hanya merasa tidak enak karena tidak mengenalimu,” ucap Bianca kemudian tersenyum canggung.
“Santai saja. Jadi bagaimana dengan tawaranku tadi?” tanya Raka.
“Hm, aku akan mempertimbangkannya terlebih dahulu,” ucap Bianca.
Keduanya pun sampai di supermarket dan langsung membeli beberapa makanan instan kemudian segera kembali ke Apartemen mereka.
“Masuklah,” ucap Raka yang mengantar Bianca sampai depan pintu Apartemennya.
“Terimakasih. Apa mau mampir dulu?” tanya Bianca.
“Lain kali saja. Lagipula ini sudah larut. Kalau begitu aku kembali dulu,” ucap Raka sembari melambaikan tangannya.
“Terimakasih ya!” ujar Bianca dengan senyuman manisnya.
Wanita itu kemudian masuk dan langsung makan makanan yang baru saja ia beli.
“Bekerja sama dengan Cath Company ya?” gumam Bianca sembari melamun dan menyuap makanan kedalam mulutnya.
Saat sedang melamun, tiba-tiba Ponselnya berdering.
“Halo?” ucap Bianca.
“Apa kau masih bekerja?” tanya Mike melalui telepon.
“Iya. Ada apa?” tanya Bianca balik.
“A-ah tidak. Apa kau sudah makan? Mau kubawakan makanan?”
“Tidak perlu repot-repot. Ini aku sedang makan.”
“Oh? Yasudah kalau begitu. Selamat malam,” ucap Mike.
“Hm,” balas Bianca kemudian mematikan telepon.
“Hah, Mike sangat baik dan perhatian padaku. Tapi aku sama sekali tidak punya perasaan untuknya,” ucap Bianca sembari menatap ponselnya.
Bianca pun melanjutkan makannya dan kembali bekerja hingga pekerjaannya selesai. Tepat pukul 4 pagi, Semua kerjaan berhasil ia selesaikan. Ia kemudian meregangkan tubuhnya sebentar sebelum akhirnya melangkah kekakamar dan melompat keatas ranjangnya dan tertidur.
Keesokan Paginya, ia terbangun karena alarm yang berbunyi. Waktu pun sudah menunjukkan pukul Setengah sembilan pagi. Masih ada waktu untuk ia bersiap sebelum ia pergi ke butik Miliknya.
Wanita itu segera bersiap dan memakan sepotong roti sebelum berangkat bekerja.
Klik\~
Bianca kemudian keluar dari kamarnya dan menuju lift.
“Oh? Hai,” sapa Bianca pada Raka yang juga sedang menunggu lift.
__ADS_1
“Pagi Bianca. Kau terlihat fresh sekali hari ini,” ucap Raka dengan senyuman manisnya.
“Terimakasih. Omong-omong, apa kau akan pergi ke kantor?” tanya Bianca basa-basi.
“Tentu saja. Kau sendiri?” tanya Raka balik.
“Aku akan ke Butik,” jawab Bianca.
“Mau kuantar?” tanya Raka.
“Ah tidak perlu. Itu akan merepotkanmu,” tolak Bianca.
“Tidak apa. Akan kuantar ya?” tawar Raka sekali lagi.
“Ah baiklah kalau begitu. Terimakasih,” ucap Bianca gugup sembari menunduk dan tersenyum kecil.
Tiing\~
Lift pun terbuka. Mereka pun masuk dan menekan tombol menuju lantai 1.
“Apa kau sudah sarapan? Mau sarapan bersama?” ajak Raka.
“Boleh. Aku tahu restoran enak disekitar sini. Mau coba kesana?” ucap Bianca.
“Tentu saja,” ujar Raka sembari tersenyum manis.
Pintu lift pun terbuka. Saat hendak keluar, tiba-tiba mereka bertemu Mike yang hendak masuk kedalam lift.
“Bianca?”
“A-ah halo Mike. Kau mau menemuiku? Baru saja aku akan berangkat ke Butik,” ucap Bianca canggung.
“O-oh begitu. Ah iya, perkenalkan ini Raka. Dia tinggal di dekat kamarku,” ucap Bianca memperkenalkan Raka dan Mike.
“Raka Virendra?” ucap Mike.
“Iya. Salam kenal,” ucap Raka dengan senyuman manisnya kemudian menjulurkan tangan pada Mike.
“Ah iya. Senang bertemu denganmu,” ucap Mike kemudian membalas jabatan tangan Raka.
“Bagaimana kalau kita sarapan bersama?” usul Bianca.
“Boleh juga,” ucap Raka kemudian diangguki oleh Mike.
Ketiganya pun mulai berjalan kaki menuju restoran yang dimaksud Bianca tadi.
“Oh ya? Apa kau benar-benar mengerjainya?” ucap Bianca pada Raka dengan tawa renyahnya.
“Tentu saja. Pak Tua itu selalu saja mengusikku maka aku harus mengerjainya sesekali. Hahaha,” balas Raka.
Bianca dan Raka berbincang dengan girang. Sementara Mike, Pria itu berjalan dibelakang Bianca dan Raka sambil memasang wajah kesal.
“Hubungan mereka sedekat ini? Kenapa aku tidak tahu?” batin Mike sambil terus memandangi Bianca dan Raka.
Tiba-tiba Bianca tersandung dan hampir saja terjatuh. Untung saja Raka dengan sigap menahan tubuh Wanita itu. Mike yang melihat itu semakin merasa kesal karena kehadiran Raka diantara dirinya dan Bianca.
__ADS_1
“Hati-hati,” ucap Raka.
“Terimakasih,” ucap Bianca.
Melihat itu, Mike langsung menarik lengan Bianca. “Apa kau tidak papa?” tanya Mike dengab wajah khawatir.
“Aku baik-baik saja Mike. Tidak perlu cemas,” ucap Bianca dengan senyuman manisnya.
“Baiklah. Ayo,” ucap Mike melanjutkan berjalan sambil terus menggenggam tangan Bianca.
“Apa-apaan dia?” gumam Raka.
Mereka pun sarapan di Restoran sebelum akhirnya berpisah karena harus melanjutkan aktivitas mereka masing-masing.
“Aku harus segera berangkat. Aku akan menghubungimu nanti. Sampai jumpa,” ucap Raka sembari melambaikan tangannya pada Bianca.
“Hati-hati!” ujar Bianca membalas lambaian tangan Raka.
“Kau sejak kapan dekat dengan dia?” tanya Mike yang masih menatap Raka yang sudah berjalan menjauh.
“Tadi malam,” ucap Bianca.
“Hah? Baru kenal tadi malam tapi sudah sedekat ini?” ucap Mike dengan wajah terkejut.
“Kenapa? Memangnya tidak boleh?” tanya Bianca dengan wajah lugunya.
“Y-ya boleh-boleh saja. Tapi kau harus berhati-hati dengan orang asing seperti dia,” ucap Mike.
“Baiklah-baiklah. Ayo!” ucap Bianca kemudian menarik tangan Mike.
“Kenapa kau masih datang ke butikmu? Apa kau tidak lelah setelah bekerja semalaman?” tanya Mike.
“Tidak. Aku malah bingung harus melakukan apa jika tidak datang kebutik,” ucap Bianca.
“Kau ini memang pekerja keras sekali,” ucap Mike sembari mengacak rambut Bianca.
“Ish, jangan mengacak rambutku,” kesal Bianca sembari menepis tangan Mike.
“Kenapa? Aku suka melakukannya,” ujar Mike sambil terus mengacak rambut Bianca gemas.
“Mike! Kau merusak rambutku!” gerutu Bianca.
“Baiklah-baiklah,” ucap Mike.
“Oh ya, aku lupa memberitahumu. Mulai besok aku akan mulai bekerja di Perusahaan Ayah,” ucap Mike.
“Benarkah? Kau sudah menyetujuinya?” tanya Bianca.
“Iya. Aku tidak tega pada Ayah. Sudah setua itu tapi masih harus bekerja,” ucap Mike.
“Akhirnya kau tidak menjadi pengangguran lagi,” ejek Bianca.
“Apa kau tidak suka jika aku menjadi pengangguran?” tanya Mike.
“Eh? Aku? Aku hanya tidak ingin karirmu terhenti begitu saja. Masa depan mu masih panjang. Tidak ada yang tahu kita akan seperti apa kedepannya. Makanya aku tidak terlalu suka jika kau terus mengandalkan Ayahmu. Kau seorang Pria. Bukankah harus bekerja untuk menghidupi Istri dan Anakmu kelak?”
__ADS_1
“Aku tahu kau sangat berkecukupan. Warisan Ayahmu mungkin bisa cukup hingga tujuh turunan. Tapi, bukankah Harta dari hasil keringat sendiri lebih memuaskan?”
“Bi, apa kau akan jatuh hati padaku jika aku bekerja keras?”