
“Hei, Kami bahkan bisa membakar Villamu. Apa kamu lupa? Hahaha!” celetuk Gavin sambil tertawa terbahak-bahak.
“Kalian berdua ini memang sangat Konyol!” ujar Bianca sambil tertawa kecil mendengar cerita Ketiga Pria dihadapannya itu.
“Mereka mungkin benar-benar bisa menghancurkan Mansion ini Caca,” ujar Gilen frustasi.
“Memangnya apa yang mereka lakukan hingga membuat Villamu terbakar?” tanya Bianca penasaran.
“Mereka melakukan eksperimen bodoh dan membuat ledakan disana. Untung saja api berhasil dipadamkan,” ucap Gilen merutuki kedua Temannya itu.
“Gavin yang mengajakku,” ujar Mike membela diri.
“Kau kan juga setuju! Bagaimana kalau kali ini kita membuat eksperimen lava dengan dry ice dikolam renang nya! Itu pasti menyenangkan!” usul Gavin.
“Coba saja kalau kau mau mati ditempat,” ujar Gilen dengan senyuman paksanya itu.
“Hahaha Chill Bro! Aku hanya bercanda!” ujar Gavin.
Setelah makan, mereka pun bersantai sejenak diruang tengah sembari bermain game maupun sekedar berbincang saja. Hingga tepat pukul 11 malam, Gilen dan Bianca memutuskan untuk istirahat karena besok harus bekerja. Sedangkan Gavin dan Mike masih bermain game bersama.
“Gilen, tentang pertanyaanku tadi. Apakah aku boleh pergi ke Kota M besok?” tanya Bianca dengan raut wajah memohon.
“Apa akan menginap?” tanya Gilen.
“Kru lain mungkin iya. Tapi aku akan pulang, aku berjanji!” ujar Bianca.
“Pergilah dan menginap disana. Kau pasti akan kelelahan jika harus kembali,” ucap Gilen sembari mengusap surai Bianca.
“Eh? Kau tidak marah?” tanya Bianca heran.
“Tidak. Ingat untuk jaga diri,” ucap Gilen kemudian mengecup kening Bianca.
“B-baiklah,” ujar Bianca gugup dengan wajah yang memerah.
Bianca pun mulai memejamkan matanya dan tertidur didalam pelukan Suaminya itu. Sedangkan Gilen, ia masih merenung sambil terus menatap sendu wajah Sang Istri yang sudah tertidur pulas.
***
Kota M
“Dimana Kostum untuk pemeran utama?”
“Saya sudah memberikannya langsung Ketua,” balas Bianca.
“Apakah yang kamu maksud gaun dengan robekan itu?”
“Hah? Robekan bagaimana?!”
__ADS_1
Tiba-tiba Pemeran utama yang bernama Sherra datang dengan membawa gaun yang sudah rusak. “Seharusnya ini tanggung jawabmu kan?”
“Maafkan Saya karena lalai. Saya akan segera mencari solusi,” ujar Bianca kemudian menelepon seseorang.
“Hei! Aku sedang berbicara denganmu?!” bentak Sherra pada Bianca yang sedang menelepon.
“Saya?” tanya Bianca.
“Siapa lagi kalau bukan kau! Kau adalah tim wardrobe yang bertanggung jawab untuk ini semua. Saya tidak bisa syuting kalau gaunnya rusak seperti ini!”
“Saya sudah bilang saya akan mencari solusi. Bisa sabar sebentar tidak?” ujar Bianca.
“Jangan mentang-mentang kamu Istri Bos jadi bisa seenaknya sama saya!”
“Loh? Anda ini memiliki penyakit iri ya? Apa hubungannya kostum yang rusak dengan status saya?”
“Ada apa ini Bi?” tanya Mauren yang datang setelah melihat keributan diantar Sherra dan Bianca.
“Kostumnya rusak,” ujar Bianca.
“Aku tidak akan syuting kalau masalah kostum ini belum selesai!” ujar Sherra kemudian pergi dan membuang kostum yang rusak ke tanah.
“Heh, dia sengaja mencari masalah denganku ya?” geram Bianca sembari memungut kostum yang tergeletak ditanah.
“Sabar Bi. Dia memang selalu seperti itu,” ucap Mauren kemudian membantu Bianca.
“Ada apa Ca?” tanya Gilen yang mendengar semua percakapan tadi dari dalam telepon.
“Oh baiklah aku tutup dulu,” ujar Gilen kemudian mematikan telepon.
Bianca pun segera memanggil tim wardrobe lainnya dan menanyakan bagaimana bisa kostum sampai rusak. Para Staff pun tidak ada yang menjawab dan lebih memilih diam.
“Sudahlah. Lanjutkan pekerjaan kalian, aku akan mengurus masalah ini,” ucap Bianca frustasi kemudian segera menghubungi beberapa designer untuk mencari kostum yang mirip dengan kostum syuting yang rusak itu.
Saat Bianca sedang sibuk mencari kostum, Sutradara mulai marah karena pemeran utama yang seharusnya sudah mulai syuting malah belum ada persiapan sama sekali.
“Kostum saya rusak! Mana mungkin saya syuting dengan Kostum robek seperti itu! Salahkan saja Tim Wardrobe yang tidak bertanggung jawab!” ujar Sherra sambil menunjuk-nunjuk Bianca.
“Maaf Pak. Ini kelalaian Saya. Mohon beri saya waktu. Saya sedang berusaha mencari ganti kostum yang lain,” ujar Bianca meminta maaf sembari menunduk.
“Kalau begitu cepat urus! 30 menit lagi saya mau Syuting sudah dimulai!” ujar Sutradara yang mencoba menahan emosi.
Sherra yang melihat Bianca dimarahi oleh Sutradara pun semakin senang atas penderitaan yang dialaminya. “Heh, siapa suruh berani bersikap sombong dihadapanku,” gumam Sherra.
“Sudahlah. Aku tahu kau tidak bisa melakukannya. Lebih baik pulang saja daripada terus menerus membuat kekacauan,” ejek Sherra.
“Jangan berisik. Kau menggangguku,” ketus Bianca.
__ADS_1
Tiba-tiba Sherra menjambak rambut Bianca hingga membuat Bianca mengerang kesakitan. “Berani kau melawanku Wanita sialan!”
“Argh! Kau gila ya?!” erang Bianca.
Bianca yang tak tahan pun langsung mendorong tubuh Sherra dengan cukup keras hingga Wanita itu menjerit. “Aw!”
“Ada apa ini?”
Semua orang pun menoleh ke sumber suara. “Gilen?” gumam Bianca saat melihat Suaminya muncul di sana.
“Bos! Dia mendorong saya!” tuduh Sherra sambil menunjuk Bianca.
“Huh Dia sangat jago Akting,” ucap Bianca sambil menghela nafasnya kasar.
Gilen kemudian mendekat kearah Bianca dan merangkul Istrinya itu. “Oh ya? Saya pikir kamu yang memfitnah dia terlebih dahulu?”
“S-saya.”
“Bukankah kamu yang merobek Kostum Syuting agar membuat Bianca dimarahi?”
“T-tidak mungkin saya melakukan itu!” tukas Sherra.
“Wah tak disangka dia melakukan itu untuk memfitnah Bianca,” bisik para Staff yang melihat kejadian itu.
“Sudahlah Caca. Ayo pulang. Mulai besok kau tidak usah datang lagi bertemu dengan orang seperti ini,” ujar Gilen kemudian membawa Bianca pergi.
“T-tapi tugasku belum selesai disini,” ujar Bianca menolak.
“Aku akan menyuruh orang menyelesaikannya. Kau patuhlah sedikit,” ucap Gilen dengan nada penuh penekanan.
“Baiklah,” ujar Bianca murung kemudian mengikuti langkah Gilen.
Mauren pun menatap sedih kepergian Temannya itu. “Sampai jumpa,” ucap Bianca kepada Mauren sambil melambaikan tangannya.
“Huhuhu, dimana lagi aku bisa bertemu teman sepertimu,” rengek Mauren menatap sendu Punggung Bianca yang mulai menjauh.
“Kalau kau tidak mengizinkan aku bekerja lagi, lalu apa yang harus kuperbuat?” ucap Bianca kesal sambil mengerucutkan bibirnya.
“Hm, apa kau ingin membuka bisnis?”
“Maksudmu?”
“Jika kau ingin, aku akan memberikan modal untukmu. Pikirkanlah dulu,” ucap Gilen.
“Aku tidak mau bantuan darimu. Itu akan membuatku terus bergantung padamu!” ujar Bianca menolak.
“Caca, aku tidak meminjamkannya secara gratis. Saat bisnismu lancar, kau harus mengembalikannya kepadaku,” ujar Gilen.
__ADS_1
“Oh? Baiklah. Aku akan berpikir dulu. Ngomong-ngomong kenapa kau tiba-tiba berada disini?”
“Hm. Hanya rindu dengan Istri. Apa tidak boleh?”