Istri Kesayangan Milliader Tampan

Istri Kesayangan Milliader Tampan
• IKMT 35 •


__ADS_3

“Maaf. Aku tidak mau melihatmu lagi. Silahkan pergi.”


“Hei, ada apa denganmu?” tanya Gilen saat melihat bibir Bianca mulai memucat.


“Jangan mendekat. Gilen, pergilah,” ucap Bianca sembari mencoba memalingkan wajahnya.


Seluruh tubuh Bianca gemetaran, bibir Wanita itu juga memucat. Bayangan-bayangan masa lalu yang membuatnya sakit hati pun kembali terputar didalam pikirannya. Dengan tubuh gemetaran, Bianca mencoba meraih botol minum didekatnya.


“Ini,” ucap Gilen sembari menyodorkan botol minum padanya.


“Aku mohon, pergilah,” lirih Bianca sembari berusaha membuka botol minumnya.


“Jangan bodoh. Ayo kerumah sakit,” ucap Gilen sembari mencoba membantu Bianca.


“Jangan mendekat! Aku bilang pergi ya pergi!” bentak Bianca sembari menjauhkan tubuhnya dari Gilen.


“Bianca, kau ini sakit. Aku akan membawamu kerumah sakit,” ucap Gilen sekali lagi.


“Aku seperti ini karenamu. Jadi pergilah, aku mohon,” lirih Bianca sekali lagi dengan wajah yang semakin pucat.


Bianca kemudian meneguk air yang berada didalam botol minumnya sembari berusaha menenangkan dirinya. Gilen yang melihat sikap Bianca yang tak wajar pun langsung mematung. Ia kemudian mengamati setiap gerak-gerik Wanita itu sebelum akhirnya membawa Bianca dengan paksa menuju rumah sakit.


“Ayo kerumah sakit. Jangan membantahku lagi!” ujar Gilen sembari menarik tangan Bianca dan membawanya keluar butik.


Para Karyawan Bianca yang menyaksikan itu pun memasang raut wajah bingung sekaligus khawatir karena melihat Kondisi Atasannya yang sedang tidak baik. Salah satu Karyawan Bianca yang bernama Fey pun mencoba menghampiri keduanya dan bertanya karena takut terjadi sesuatu oleh Atasannya itu.


“Bos! Apa yang terjadi denganmu?” tanya Fey yang tiba-tiba datang dan bertanya dengan wajah khawatir.


“Saya tidak apa Fey. Lanjutkan saja pekerjaanmu,” ucap Bianca dengan tertatih.


Gilen kemudian kembali menarik Bianca dan menyuruhnya masuk kedalam mobil. “Kerumah sakit sekarang,” ujar Gilen pada Sopirnya.


“Aku tidak butuh penanganan medis,” lirih Bianca dengan tubuh yang masih bergetar.


“Jangan berisik,” ketus Gilen.


“Aku benar-benar tidak membutuhkan penanganan medis!” gertak Bianca.

__ADS_1


“Lalu aku harus berbuat apa?! Apa aku harus diam dan melihatmu seperti orang sekarat seperti itu?!”


Mendengar suara Gilen yang mulai meninggi, mata Bianca menjadi berkaca-kaca. Hatinya sangat sakit seolah ia mengalami tekanan batin terhadap Pria dihadapannya ini. “Yang harus kau lakukan hanyalah pergi dan jangan pernah muncul dihadapanku lagi,” racau Bianca.


“Jangan mimpi!”


Mendengar itu, Bianca hanya bisa menghela nafas dan mencoba sekuat tenaganya untuk menenangkan diri. Wanita itu kemudian memejamkan matanya dan mencoba menstabilkan mafasnya.


“Gilen, sadarlah. Kita sudah bercerai. Kenapa kau masih terus seperti ini?” ucap Bianca sembari menatap mata Gilen sendu.


Hati Gilen pun semakin teriris saat mendengar perkataan Bianca barusan. “Karna aku masih sangat mencintaimu. Apa kau puas?”


“Cinta? Kalau kau cinta padaku harusnya kau tidak terus menyiksaku seperti ini. Kau harusnya membiarkanku menjalani hidup dengan baik dan bahagia. Bukan terus melakukan hal-hal yang membuatku semakin merasa sakit karena kehadiranmu,” lirih Bianca.


Suasana pun hening. Bianca kembali menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi mobil milik Gilen sembari memijit pelipisnya. Sementara Gilen, ia hanya menatap lurus kearah depan sembari bergelut dengan pikirannya.


“Kau tahu, aku sangat trauma saat melihatmu berciuman dengan mantan kekasihmu saat itu.”


“Dan kau pikir menyembuhkan trauma itu tidak memerlukan waktu lama?”


“Hingga saat ini aku bahkan belum bisa menghilangkan rasa trauma itu, Gilen,” isak Bianca.


“Kau pikir aku berkencan dengan Raka bisa membuatku melupakan kejadian saat itu? Tidak!”


“Aku bahkan belum bisa percaya pada Raka hingga saat ini gara-gara kau!” bentak Bianca balik dengan suara yang tak kalah tinggi.


Gilen yang sudah tak bisa mengendalikan emosinya langsung menindih tubuh Bianca dan mencium bibir Wanita itu dengan kasar. Bianca pun awalnya melawan dengan sekuat tenaga. Tapi tenaga Gilen lebih besar darinya. Akhirnya, Wanita itu hanya bisa menangis dalam diam sambil menutup matanya dan membiarkan mantan Suaminya itu melampiaskan emosinya kepada dirinya.


Beberapa menit kemudian, situasi mulai memanas. Gilen kini benar-benar tidak dapat mengendalikan dirinya. Pria itu mulai menanggalkan kancing baju milik Bianca dengan cepat.


“Emhhh!” jerit Bianca sembari memukul pundak Gilen yang semakin kesetanan.


Gilen pun tak menggubris Wanita itu dan terus melanjutkan aksi bejatnya. Ciuman Pria itu mulai turun keleher dan dada mulus milik mantan Istrinya itu. Bianca yang sudah tak memiliki kekuatan pun hanya bisa menangis tak berdaya dan pasrah terhadap keadaannya saat ini.


“Aku sudah tidak sanggup lagi,” batin Bianca dengan air mata yang terus mengalir.


“Enghh,” rintih Bianca saat Gilen mulai menyentuh area sensitifnya.

__ADS_1


“Aku sangat merindukanmu Caca,” bisik Gilen seduktif.


Gilen pun melanjutkan aksi panasnya didalam mobil hingga membuat Bianca tak sadarkan diri.


Malam harinya, Bianca pun terbangun. Wanita itu mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan yang sangat familiar diingatannya.


“Aku dimana,” batin Bianca sambil terus melihat sekelilingnya.


Saat ia sadar, Wanita itu langsung terduduk diatas ranjang mewah itu dan mengucek matanya untuk memastikan keberadaannya. Ia kemudian melihat sekujur tubuhnya yang dipenuhi oleh tanda yang dibuat oleh Gilen tadi.


”Aku sudah tidak sanggup hidup seperti ini,” isak Bianca sembari menutupi setengah tubuhnya yang hanya memakai baju tidur yang sangat tipis dengan selimut.


“Ayah, Ibu, tolong jemput aku,” isaknya dengan air mata yang sudah membasahi selimutnya.


Beberapa saat kemudian, tiba-tiba pintu kamar terbuka.


Brakkkk\~


Bianca pun terkejut dan langsung melihat kearah pintu.


“Bianca!” jerit Raka sembari menghampiri Kekasihnya itu.


“Raka,” lirih Bianca dan langsung memeluk tubuh Raka dengan erat.


Melihat keduanya berpelukan, Gilen pun menjadi murka. Ia langsung menarik tubuh Raka dan menghajarnya habis-habisan. Perkelahian pun terjadi diantara kedua lelaki itu.


“CUKUP! APA KALIAN TIDAK BISA BERHENTI?!” jerit Bianca yang sudah tidak sanggup melihat perkelahian itu.


Raka pun mundur beberapa langkah dan menjauh dari Gilen.


“Gilen sudah cukup,” lirih Bianca sembari menatap tajam kearah Gilen yang sedang menyeka darah di bibirnya.


Gilen pun hanya menatap sendu kearah Bianca kemudian melirik tajam kearah Raka sebelum akhirnya pergi meninggalkan keduanya. Melihat itu, Raka langsung kembali memeluk Bianca dan mengelus surai Wanita itu dengan lembut.


“Raka aku disentuh lagi olehnya,” isak Bianca didalam pelukan Raka.


“Bi, maafkan aku. Aku tidak datang tepat waktu,” balas Raka dengan perasaan yang sangat menyesal.

__ADS_1


Raka kemudian melepas pelukannya dan melihat seluruh tanda yang ditinggalkan oleh Gilen ditubuh Bianca.


“Dasar tidak tahu malu,” gumam Raka sembari menggertakkan giginya.


__ADS_2