Istri Kesayangan Milliader Tampan

Istri Kesayangan Milliader Tampan
• IKMT 22 •


__ADS_3

“Gilen, kumohon. Jangan ganggu aku lagi, aku sudah tidak sanggup menahan semua ini. Kau tidak kasihan padaku? Aku sudah tidak memiliki semangat hidup lagi karena ulahmu dan ulah Mantan Kekasihmu itu. Aku mohon, biarkan aku pergi,” ucap Bianca dengan air mata yang sudah tidak bisa ia tahan lagi.


Mendengar itu, Gilen merasa rapuh. Hatinya sangat teriris saat mengetahui bahwa Bianca menjadi tak berdaya karena dirinya. Gilen kemudian mematung sejenak dan merenung untuk beberapa saat.


“Ayo,” ucap Bianca.


Mike kemudian mendorong Bianca pergi. Sedangkan Gavin, ia menepuk pundak Gilen dan membantu Gilen berdiri kemudian langsung menyusul Mike dan Bianca yang sudah menghilang.


“Ini,” ucap Mike sembari menyidorkan tisu untuk mengelap air mata Bianca.


“Terimakasih,” ucap Bianca dengan mata yang sembab.


“Jangan menangis lagi. Kau jelek jika menangis,” ucap Mike mencoba menghibur Bianca.


“Benarkah? Aku kira aku menjadi jauh lebih cantik jika aku menangis,” ucap Bianca kemudian tertawa renyah.


“Tidak tuh. Kau sangat jelek jika menangis. Aku saja takut melihatmu,” ucap Mike.


“Bi, apa kau baik-baik saja?” tanya Gavin yang baru saja tiba.


“Iya. Memangnya aku kenapa?” ucap Bianca mencoba terlihat kuat dihadapan Kedua Pria ini.


“Jangan berpura-pura. Kau tidak pantai berakting,” celetuk Gavin.


Setelah selesai mengurus perceraian, Mereka pun memutuskan untuk kembali ke hotel.


“Aku sepertinya akan kembali ke Apartemen lama ku,” ucap Bianca.


“Jangan. Untuk sementara disini saja dulu sampai keadaanmu pulih,” tolak Gavin.


“Iya. Kami tidak bisa membiarkanmu sendirian,” ucap Mike yang menyetujui perkataan Gavin.


“Mike, Gavin. Aku ini bukan anak kecil lagi,” ucap Bianca.


“Kami tahu. Tapi kan kondisimu sekarang tidak memungkinkan untuk tinggal sendiri. Kami tidak mau terjadi sesuatu lagi padamu,” ucap Gavin.


“Lagipula untuk saat ini sangat tidak aman untukmu sendirian. Keluarga Alice pasti akan memburumu,” lanjut Gavin memperingati.


“Hais, meresahkan sekali,” gerutu Bianca.


“Kau pasti kesal ya dengan Alice?” goda Mike sembari menyodorkan Bianca sekaleng minuman.


“Sangat kesal! Mana mungkin aku tidak kesal padanya. Dia bahkan membuatku lumpuh!” racau Bianca.

__ADS_1


“Apa kau benar-benar akan membebaskannya?” tanya Gavin.


“Entahlah. Aku juga bingung,” ucap Bianca.


“Hais, aku akan mulai berlatih berjalan dengan tongkat,” lanjut Bianca mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Apa kau yakin?” tanya Gavin.


“Tentu saja. Aku tidak mau terus-terusan duduk dikursi roda seperti nenek-nenek,” ucap Bianca.


Disisi lain, Gilen sedang bertemu dengan Ibu Alice di sebuah restoran. “Gilen, kapan kau akan membebaskan Alice?” tanya Ibu Alice.


“Bibi, bukankah Alice sudah dijatuhi hukuman? Aku tidak bisa membebaskannya begitu saja,” ucap Gilen mencari alasan.


“Jangan membodohiku. Dengan kekuasaanmu mana mungkin kau tidak bisa membebaskan Alice?”


“Kau ini sudah dibutakan oleh Wanita itu hingga berani mencampakkan Alice hingga seperti ini ya?!”


“Bibi, jangan bawa-bawa Istriku. Dia tidak tahu apa-apa,” ucap Gilen.


“Jangan membela Istrimu didepanku. Memang dia yang membuat kalian berpisah kan? Apa sih bagusnya dia? Bukankah dia hanya anak yatim piatu yang tidak berpendidikan?”


“Kau ini memang buta ya? Kau bahkan meninggalkan Alice yang sudah mendapat gelar demi Wanita seperti dia.”


“Kau sudah mulai berani denganku ya? Seharusnya dulu aku tidak menyelamatkanmu dari peristiwa itu. Kau itu memang tidak tahu balas budi!”


Seketika Gilen terdiam dan tak berani melawan perkataan Ibu Alice lagi. Ia kemudian menghela nafas dalam dan mengusap wajahnya kasar karena bingung harus berbuat apa.


“Bagaimana? Kapan kau akan membebaskan Alice?” tanya Ibu Alice sekali lagi.


“Aku akan berusaha semampuku,” jawab Gilen pasrah.


“Baiklah. Aku akan menunggu kabar baik darimu,” ucap Ibu Alice kemudian pergi meninggalkan Gilen.


“Brengsek!” umpat Gilen sembari memukul meja dihadapannya dan mengacak rambutnya.


“Tuan, kita harus segera pergi menemui Klien,” ucap Leo yang baru saja datang menghampiri Gilen.


“Oke,” ucap Gilen kemudian bangkit dan merapikan sedikit Pakaiannya dan pergi.


Hari demi hari berlalu, Kini Bianca sudah pulih seperti semula. Ia sudah bisa menggunakan kakidan tangannya dengan normal walau harus masih sangat berhati-hati. Dan tiba juga saatnya persidangan dimulai.


Pagi itu, Bianca bersiap menggunakan Kemeja dan rok selutut berwarna putih dan tak lupa memakai Outer hitam sebagai luaran. Ia menguncir rambut panjangnya keatas dan mengoles sedikit make up diwajahnya agar wajahnya terlihat lebih fresh.

__ADS_1


“Bianca, kau pasti bisa!” ucap Bianca didepan cermin sambil mencoba menyemangati dirinya sendiri.


“Kau harus tenang dan jaga sikapmu. Jangan sampai menangis,” lanjutnya sembari menepuk-nepuk kedua pipinya.


“Jangan sampai terlihat lemah,” ucapnya terakhir kali sebelum ia keluar dari kamar dan menjumpai Kedua teman Prianya yang sudah menunggunya didepan kamar.


“Halo. Maaf sudah menunggu lama,” ucap Bianca sembari menyapa kedua Temannya itu. Siapa lagi kalau bukan Gavin dan Mike.


“Kau terlihat berbeda hari ini,” ucap Gavin sembari merangkul Bianca.


“Benarkah? Perasaan sama saja,” ucap Bianca.


Mereka kemudian segera pergi ke parkiran dan langsung menuju pengadilan untuk menghadiri sidang. Dan sesampainya disana, Bianca dapat melihat mobil Gilen yang sudah terparkir rapi di antar deretan mobil lainnya.


“Kuatkan hatimu Bianca. Kau tidak boleh lemah!” batin Bianca dalam hati mencoba meyakinkan hatinya.


Saat menuju ruang persidangan, mereka bertemu dengan Kedua Orang Tua Gilen yang juga datang.


“Ibu,” sapa Bianca pada Nyonya Farensca.


“Bianca. Bagaimana kabarmu Nak?” tanya Nyonya Farensca sembari memeluk Menantunya itu.


“Baik Ibu,” ucap Bianca.


“Apa pengobatanmu berjalan lancar?” tanya Tuan Bagas.


“Iya Ayah,” ucap Bianca sebelum akhirnya dia mengalihkan pandangannya kearah Gilen yang baru saja tiba.


“Caca,” lirih Gilen sembari menatap sendu kearah Bianca.


Bianca pun hanya melemparkan senyuman manisnya pada Gilen tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


“Dia berada dekat denganku. Tapi kenapa aku merasa dia sangat jauh dariku?” batin Gilen sembari terus memandangi Bianca.


Beberapa saat kemudian, persidangan dimulai. Sidang pertama, hakim akan mempertanyakan permasalahan terlebih dahulu dan memastikan identitas penggugat telah benar. Kemudian hakim akan melakukan percobaan untuk mendamaikan kedua belah pihak.


“Saya rasa kami tidak bisa berdamai yang mulia. Sudah tidak ada kecocokan diantara kami,” ucap Bianca.


Mendengar itu, Gilen menoleh kearah Bianca yang berkata dengan wajah penuh keyakinan. Gilen tak bisa berkutik. Ia hanya bisa merenungi nasibnya sekarang. Ia hanya bisa menerima keputusan Bianca yang memilih untuk bercerai darinya.


Sidang pun selesai. Sebelum pergi, Bianca mendatangi Gilen dan mengembalikan cincin pernikahan mereka. Bianca kemudian menatap wajah Gilen sambil mengulas senyuman manisnya


“Terimakasih untuk semua yang kau berikan padaku selama ini. Semoga kedepannya kau bisa menjadi Pria yang lebih baik.”

__ADS_1


__ADS_2