Istri Kesayangan Milliader Tampan

Istri Kesayangan Milliader Tampan
• IKMT 30 •


__ADS_3

“Tentu saja itu urusanku. Kau tidak boleh dekat dengan Pria selain aku. Paham?” ucap Gilen dengan wajah serius.


Bianca kemudian menatap wajah Gilen sebentar sebelum akhirnya menghela nafasnya kasar. “Memangnya kau ada hak untuk melarangku?” ketus Bianca kemudian kembali memalingkan wajahnya.


“Sudahlah. Turunkan aku disini,” ucap Bianca.


Gilen kemudian kembali menarik tubuh Bianca dan langsung mencium bibir milik Mantan Istrinya itu. Bianca pun dengan sekuat tenaga langsung menggigit bibir Gilen, kemudian memukul tubuh Gilen dan mendorongnya.


“Turunkan aku atau aku akan lompat!” geram Bianca dengan emosi yang mulai meningkat.


“Kau, apakah kau benar-benar sudah tidak mencintaiku?” tanya Gilen dengan suara lirih sembari memegang bibirnya.


“Tidak! Maka dari itu sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi,” ucap Bianca dengan mata berkaca-kaca.


Saat itu, Bianca merasa dadanya sangat sesak. Hatinya seperti teriris saat ia menatap wajah Mantan Suaminya itu. Saat ia berusaha menahan air matanya untuk tidak jatuh, Gilen malah menanyakan hal konyol dan membuat ia tidak bisa menahan air matanya lagi.


“Sudahlah Gilen. Turunkan aku,” lirih Bianca dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.


Gilen yang tidak sanggup melihat Bianca menangis pun langsung menarik tubuh Wanita itu kedalam pelukannya. “Maafkan aku. Caca, aku masih sangat mencintaimu,” ungkap Gilen.


Bianca pun lagi-lagi menepis tubuh Gilen. “Maaf Gilen. Aku sudah tidak bisa,” ucap Bianca sembari menyeka air matanya.


Gilen pun menekan tombol seolah memberi tanda pada Sopir untuk berhenti. Setelah mobil berhenti, Bianca langsung keluar. “Kelak sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi,” ucap Bianca kemudian menutup pintu mobil dan pergi.


Bianca kemudian berjalan tanpa arah dengan air mata yang tak berhenti mengalir. Dadanya terasa sangat menyesakkan hingga ia tak mampu menahannya. Sampai ia menemukan sebuah taman dan langsung duduk dikursi taman sembari menangis sejadi-jadinya.


Wanita itu terus menangis melepaskan semua apa yang ia rasakan. Emosi dan kesedihan semuanya diluapkan dalam tangisan itu. Beberapa pasang mata sempat melirik kearahnya karena menangis dengan sangat histeris. Tapi tak satupun orang yang berhenti dan menanyakan keadaan Wanita itu.


“Kenapa aku harus semenderita ini?” lirih Bianca.


“Ayah, Ibu. Jemput aku. Aku sudah tidak sanggup lagi,” lirih Bianca sembari menarik kuat rambutnya.


“Aku sudah tidak mau hidup lagi,” lanjutnya sambil terus menyakiti dirinya.


Sementara itu, Gilen yang memperhatikannya sedari tadi pun hanya bisa diam dan merenung. Ia menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga perasaan Bianca bahkan membuatnya hingga seperti ini.


“Maaf Caca. Ini salahku,” gumam Gilen sembari terus memperhatikan Bianca dari jauh.


Beberapa jam pun terlewati. Bianca masih duduk di kursi taman sembari terus melamun dengan keadaan yang sangat kacau. Ponselnya berkali-kali berdering tapi tak ia hiraukan. Pandangannya kosong seperti orang ling-lung. Wajahnya pucat dan matanya sembab karena habis menangis.

__ADS_1


Sampai akhirnya saat ponselnya berbunyi dan menunjukkan nama Raka, Ia lanhsung mengangkatnya.


“Halo,” ucap Bianca dengan suara khas orang habis menangis.


“Halo. Kau dimana? Kau habis menangis?”


“Aku dimana? Aku juga tidak tahu aku dimana,” lirih Bianca.


“Kau ada masalah?”


“Hm, tidak tahu.”


“Hah, tunggulah disitu. Aku akan segera mencarimu.” ucap Raka.


Telepon kemudian ditutup. Raka segera mengerahkan orang untuk mencari keberadaan Bianca. Sementara Gilen, ia masih memantau Bianca dari jauh. Pria itu sebenarnya ingin sekali turun dan memeluk Bianca. Tapi, ia tidak mau membuat Bianca semakin sakit hati karena dirinya.


Dan benar saja, tak butuh waktu lama, Raka datang dan langsung berlutut dihadapan Bianca yang sudah tak berdaya.


“Bianca! Kau kenapa!” ucap Raka histeris saat melihat Kondisi Bianca.


“Aku? Aku baik-baik saja. Sungguh,” ucap Bianca lemas sembari tersenyum.


“Tidak ada. Aku hanya ingin seperti ini saja,” ucap Bianca.


Raka yang merasa iba pun langsung menarik tubuh Bianca dan memeluknya. Bianca pun kembali menangis tersedu-sedu didalam pelukan Raka. Wanita itu seakan menyalurkan semua rasa sakitnya kepada Pria yang memeluknya saat ini.


“Sialan,” geram Gilen dari kejauhan saat melihat Raka dan Bianca berpelukan.


Beberapa saat kemudian, Raka membawa tunuh Bianca yang sudah tertidur lelap kembali ke Apartemennya. Ia kemudian menaruh tubuh Bianca dengan perlahan diatas ranjang kemudian menyelimutinya.


“Aku tidak tahu kalau kau sangat terpuruk saat ini,” gumam Raka sembari menatap sendu wajah Bianca.


Raka kemudian memilih untuk keluar dan duduk di sofa depan karena tidak ingin mengganggu Bianca untuk beristirahat. Pria itu kemudian memilih untuk membersihkan diri dan memasak untuk makan malam.


Saat ia sedang memasak untuk makan malam, tiba-tiba bel berbunyi. Saat ia menuju pintu, pintu tiba-tiba diketuk dengan sangat keras. Raka kemudian membuka pintu dengan wajah kesal.


“Siapa?” tanya Raka dengan wajah kesalnya itu.


“Ada urusan apa?” tanya Raka dengan memicingkan sebelah matanya saat melihat Gilen datang ke Apartemennya.

__ADS_1


“Dimana Bianca?” tanya Gilen dengan wajah menahan amarah.


“Untuk apa mencarinya?” tanya Raka mencoba menyelidiki.


“Itu bukan urusanmu. Dimana dia?” tanya Gilen sekali lagi sembari mengintip masuk kedalam Apartemen Raka.


“Tidak ada disini,” balas Raka sembari mencoba terlihat tenang.


“Jangan bohong. Aku tau dia disini,” ucap Gilen.


Gilen kemudian mencoba menerobos masuk kedalam Apartemen Raka. “Jaga sopan santunmu dirumah orang!” bentak Raka pada Gilen sembari mencoba menahan Pria itu.


Gilen kemudian langsung menarik kerah baju Raka dengan emosi yang mulai meluap. “Jangan menghalangiku brengsek!” murka Gilen kemudian menepis tubuh Raka.


Gilen kemudian masuk dan mencari keberadaan Bianca. Terakhir, ia menendang pintu kamar Raka hingga membuat Bianca bangun dan terkejut. Gilen kemudian langsung menarik Wanita itu dan membawanya keluar.


“Gilen! Lepaskan aku!” jerit Bianca sembari mencoba melepaskan cengkraman Gilen dari tangannya.


Raka yang melihat itu pun langsung menahan Gilen. “Jangan mencari masalah disini,” geram Raka mencoba menahan emosinya.


“Gilen! Sakit!” lirih Bianca.


Gilen pun menoleh kearah Bianca dan melepaskan cengkramannya dari tangan Wanita itu. “Sudah kubilang untuk tidak dekat dengan Pria manapun. Kenapa kau tidak mendengarku?” ucap Gilen.


“Kau tidak berhak melarangku. Kau bukan siapa-siapaku,” geram Bianca sembari mengelus pergelengan tangannya yang terasa sakit.


“Caca aku masih mencintaimu. Tidak bisakah kau menghargai ketulusanku ini?” ucap Gilen sembari mencengkram pundak Bianca.


“Jangan menyentuhnya,” geram Raka sembari menepis tangan Gilen dari tubuh Bianca.


“Jangan ikut campur!” bentak Gilen pada Raka.


“Gilen cukup! Pergi sekarang juga!” usir Bianca dengan wajah memerah karena emosi.


“Sudah kubilang jangan pernah temui aku lagi! Pergi sekarang!” lanjut Bianca dengan nada tinggi dan menunjuk kearah pintu.


“Caca,” lirih Gilen dengan lemas.


“Aku sudah lelah. Aku sudah lelah dengan semua sikapmu. Kita sudah bercerai! Apa kau tidak bisa membiarkanku hidup dengan tenang tanpa gangguanmu?!”

__ADS_1


__ADS_2