Istri Kesayangan Milliader Tampan

Istri Kesayangan Milliader Tampan
• IKMT 31 •


__ADS_3

“Aku sudah lelah. Aku sudah lelah dengan semua sikapmu. Kita sudah bercerai! Apa kau tidak bisa membiarkanku hidup dengan tenang tanpa gangguanmu?!” jerit Bianca dengan keadaan sangat frustasi.


Melihat keadaan Bianca, Gilen dan Raka pun tak berkutik. Mereka hanya mematung ditempat sembari mencoba mencerna situasi. Bianca kemudian langsung berlari keluar dari Apartemen Raka dan pergi ke Apartemennya untuk mengurung diri sekaligus menenangkan pikirannya.


“Apa sudah puas menyakitinya?” ucap Raka membuka suara.


“Kau jangan ikut campur,” ucap Gilen memperingati Raka dengan tatapan tajamnya itu.


“Sebenarnya aku tidak ingin ikut campur. Tapi aku sudah tidak bisa melihat Wanita itu terus tersakiti seperti itu karenamu!” geram Raka.


“Heh, lalu apa hubungannya denganmu? Ini adalah urusan rumah tangga kami,” celetuk Gilen.


“Jangan konyol. Kalian sudah bercerai. Dan kau bertanya apa hubungannya denganku? Bianca adalah Kekasihku. Aku berhak untuk marah para orang yang menyakitinya termasuk Mantan Suaminya!” geram Raka.


Mendengar itu, Gilen langsung memicingkan matanya dan mengepalkan tangannya sebelum akhirnya ia pergi dari Apartemen milik Raka. Setelah Gilen pergi, Raka pun mencoba menghampiri Bianca di Apartemennya. Tapi sayang, Bianca tak mau membukakan pintu untuk dirinya.


“Biarkan aku masuk dan melihat keadaanmu sebentar saja,” lirih Raka didepan pintu Apartemen Bianca.


Raka pun menunggu hingga beberapa saat. Tapi hasilnya, Bianca tak kunjung membuka pintu. Pria itu semakin cemas dan gelisah karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi ia mencoba untuk terus berpikir positif. Pria itu kemudian memilih kembali ke Apartemennya dan mencari solusi agar ia bisa menemui Bianca dan memastikan bahwa Wanita itu aman.


Keesokan harinya, Raka mencoba mendatangi Apartemen Bianca lagi. Tapi tetap saja, Bianca tidak mau membukakan pintu untuk siapapun. Raka yang semakin cemas pun langsung memutar otak. Pria itu langsung menghubungi pihak Apartemen dan meminta kunci cadangan pada kamar Bianca karena takut terjadi suatu hal yang tidak diinginkan pada Wanita itu.


Mike yang saat itu juga datang dan melihat keramaian didepan kamar Bianca pun menjadi penasaran dan langsung menghampiri salah satu staff yang berdiri disana. “Ada apa ini?” tanya Mike sembari mengalihkan pandangannya masuk kedalam Kamar Bianca.


“Tadi ada Pria meminta kunci cadangan kamar ini karena Khawatir Pacarnya terluka. Katanya Pacarnya sedang bersedih dan tidak keluar kamar sejak tadi malam,” jelas Staff Wanita itu.


Mike kemudian langsung berlari masuk dan mencari keberadaan Bianca. “Bi,” ucap Mike saat melihat Bianca yang berada didalam gendongan Mike dengan wajah pucat pasi dan pergelangan tangan yang sudah teriris.


“Apa yang terjadi dengannya?” tanga Mike dengan wajah khawatir.


“Entahlah. Aku menemukannya sudah seperti ini. Kita harus bawa dia kerumah sakit,” ucap Raka.


“Baik. Naik mobilku saja,” ucap Mike.

__ADS_1


Mike kemudian berlari keluar diikuti Raka yang sedang menggendong tubuh Bianca yang sudah ditutupi selimut itu. Para Staff yang melihat itu pun langsung bertanya-tanya dan menjadi cemas dengan keadaan Bianca saat itu.


“Cepat naik,” teriak Mike dari dalam mobil pada Raka yang sudah menunggu didepan lobi.


Raka pun segera masuk mobil dan mobil pun langsung melaju kerumah sakit terdekat. “Bagaimana dia bisa sampai seperti ini?” tanya Mike.


“Kau tanya saja pada Sahabatmu itu. Apa yang telah dia lakukan pada Bianca,” ucap Raka dengan nada penuh penekanan.


“Gilen?” tanya Mike sembari melirik kearah Raka melalui spion.


“Kau peringati saja dia sebaiknya jangan pernah mengganggu Wanita ini lagi,” ucap Raka.


“Dia memang benar-benar tidak mendengarkan peringatanku ya?” geram Mike sembari memukul stir didepannya.


Sesampainya di rumah sakit, Bianca langsung dilarikan ke IGD untuk mendapat pertolongan pertama. “Kalau sampai dia tidak selamat, aku benar-benar akan membuat perhitungan,” racau Raka sembari terus mondar-mandir karena gelisah.


Beberapa saat kemudian, Dokter IGD pun menghampiri Raka dan Mike. “Apa pasien sedang depresi hingga melakukan percobaan bunuh diri?”


“Sepertinya iya,” jawab Raka.


“Jadi bagaimana kondisinya sekarang?” tanya Mike.


“Untuk saat ini ia membutuhkan transfusi darah karena ia kehilangan cukup banyak darah akibat mengiri pergelangan tangannya itu. Hanya saja, darah Nona Bianca sedikit langka. Jadi kami tidak memiliki persediaan untuk jenis darah itu. Saya harap kalian bisa secepatnya menemukan darah yang cocok dengan Nona,” jelas Sang Dokter.


“Golongan darah O Rh negatif. Saya juga akan berusaha mencari golongan darah tersebut,” lanjutnya.


Mike dan Raka pun hanya bisa saling bertatapan kemudian menghela nafasnya kasar.


“Baik Dok,” ucap Mike.


“Kalau begitu saya permisi dulu,” ucap Sang Dokter kemudian pergi.


Raka kemudian sedikit menjauh dari Mike sembari menelepon seseorang dan memerintahkannya untuk mencari golongan darah O Rh negatif untuk bisa didonorkan pada Bianca.

__ADS_1


“Sepertinya golongdan darah Bianca sama dengan Gilen,” ucap Mike sembari melirik pada Raka.


“Tidak. Aku tidak mau darahnya mengalir ditubuh Bianca,” tolak Raka cepat.


“Jangan egois. Dia butuh transfusi darah secepatnya,” ucap Mike.


“Aku akan mencari pendonor secepat mungkin,” ujar Raka.


“Kalau kau menyayanginya kau harus bisa mengalahkan egomu. Kandidat kita sekarang hanya Gilen. Pikirkan itu!” racau Mike mencoba menjelaskan.


“Apa kau rela, Darah Pria itu mengalir di tubuh Orang yang kamu cintai? Dia sudah menyakiti Bianca!” balas Raka geram.


Tiba-tiba Mike menarik kerah baju Raka. “Dengarkan aku, kalau kau sayang padanya jangan mementingkan egomu!” geram Mike kemudian menepis tubuh Raka dan memukul dinding.


Mike kemudian memutuskan untuk menelepon Gilen dan menjelaskan keadaan Bianca. “Aku tidak akan membiarkan dia lagi jika dia berani menyakiti Wanitaku,” racau Raka.


“Wanitamu? Kau berpacaran dengannya?” tanya Mike terkejut.


“Tidak perlu tahu,” balas Raka cuek sembari menyenderkan tubuhnya didinding rumah sakit.


Beberapa saat kemudian, Gilen benar-benar datang. Ia kemudian melirik tajam kearah Raka kemudian menghampiri Mike yang sedang terduduk lemas.


“Ayo,” ucap Gilen.


“Aku antar kau bertemu dengan Dokternya,” ucap Mike.


Mike dan Gilen kemudian pergi bersama menemui Dokter yang menangani Bianca. Setelah melalui pengecekan kesehatan pada Gilen, Dokter pun mengambil beberapa kantong darah Gilen dan memberikannya pada Bianca.


Selama transfusi berlangsung, Raka dan Mike berjaga didalam ruangan tanpa membuka suara sedikitpun. Hanya suara peralatan rumah sakit yang terdengar diruangan itu.


“Kau, sebaiknya jangan pernah menemui Bianca lagi,” ucap Raka pada Gilen.


“Bukan urusanmu,” ketus Gilen sembari memejamkan matanya.

__ADS_1


Raka kemudian mendekat kearah Gilen dan menatapnya tajam. “Kalau kau benar-benar mencintainya, kau tidak akan tega melihatnya menderita seperti ini.”


__ADS_2