Istri Kesayangan Milliader Tampan

Istri Kesayangan Milliader Tampan
• IKMT 29 •


__ADS_3

“Kau sangat menggemaskan,” kekeh Raka sembari mencubit kedua pipi Bianca.


“Ish, aku sedang makan,” ucap Bianca sembari menepis pelan tangan Raka dengan wajah memerah.


Mereka pun berbincang-bincang sampai larut malam. “Ah, sepertinya aku harus pulang,” ucap Raka sembari melirik jam.


“Baiklah,” ucap Bianca.


Bianca kemudian mengantar Raka sampai pintu kemudian kembali masuk untuk membersihkan dirinya dan beristirahat.


Keesokan harinya, Bianca bangun lebih awal karena memiliki janji dengan Raka. Ia kemudian segera bersiap dengan memakai Jeans panjang berwarna biru langit dan blouse berwarna putih dengan renda simple yang terdapat di beberapa sisinya. Ia kemudian mengoleskan make up dengan tipis dan menguncir rambutnya keatas.


Belum selesai bersiap, Bel sudah berbunyi. Bianca kemudian berlari kearah pintu dan membuka pintu tersebut.


“Pagi. Kau sudah siap?” tanya Raka sembari memandang cerah wajah Bianca.


“Tunggu. Sebentar lagi! Ayo masuk dulu,” ucap Bianca sembari mempersilahkan Raka masuk.


Bianca pun menutup pintu dan kembali menuju kamarnya untuk menyelesaikan acara berdandannya. Ia kemudian memasukkan barang2 yang ia bawa untuk bekerja kedalam tas kemudian pergi menemui Raka diruang tengah.


“Ayo,” ucap Bianca.


“Tumben kau mengikat rambutmu,” ucap Raka.


“Hanya ingin saja,” ucap Bianca.


“Baiklah. Ayo.”


Mereka pun keluar dari Apartemen Bianca dan berjalan menuju parkiran mobil. “Kau terlihat tidak nyaman. Apa kau sedang sakit?” tanya Raka sembari memperhatikan wajah Bianca yang mengeluarkan keringat dingin.


“T-tidak,” jawab Bianca mencoba menahan rasa sakit diperutnya.


“Kenapa harus sekarang?” batin Bianca sembari memejamkan matanya.


“Yang benar? Kau kenapa?” tanya Raka mencoba memastikan keadaan Bianca.


Bianca kemudian berhenti dan memegang perutnya. “Tidak. Aku sungguh tidak apa-apa,” ucap Bianca.


“Raka, sepertinya aku harus kembali dulu. Kau duluan saja, nanti aku akan menyusulmu ke Kantor,” ucap Bianca.


“Hah,” ucap Raka menghela nafas sembari menatap Bianca.


Raka kemudian melepas jasnya dan mengikatnya dipinggang Bianca. “Kenapa harus disaat seperti ini,” batin Bianca dengan wajah memerah karena menahan malu.


“Aku akan menemanimu,” ucap Raka kemudian memapah Bianca kembali ke Apartemen.


“S-sebentar ya,” ucap Bianca kemudian segera berlari mengambil pembalut dan pergi ke kamar mandi.


“Gemas sekali,” kekeh Raka saat melihat kelakuan Bianca yang menurutnya sangat menggemaskan.


Beberapa saat kemudian, Bianca keluar setelah membersihkan diri dan berganti baju. “Jasmu akan kukembalikan setelah kucuci. Maaf ya,” ucap Bianca dengan kepala tertunduk malu.

__ADS_1


Raka kemudian mendekat dan mengacak rambut Bianca. “Tidak papa,” ucap Raka dengan senyuman manisnya.


Seketika jantung Bianca semakin berdebar saat mendapat perlakuan manis dari Pria itu. “Iya,” balas Bianca.


Mereka kemudian keluar dari Apartemen Bianca dan menuju Apartemen Raka untuk sekedar mengambil jas dan pergi bekerja. “Aku tunggu disini saja,” ucap Bianca sembari berdiri didepan pintu Apartemen Raka.


“Bianca!” panggil seseorang.


Bianca kemudian menolehkan pandangannya kearah lift dan mendapati Mike yang sedang berjalan kearahnya. “Sedang apa disini?” tanya Mike sembari menatap masuk kedalam Apartemen Raka.


“Menunggu Raka,” ucap Bianca dengan wajah lugunya.


“Kau tidak pergi ke Butik?” tanya Mike.


“Aku ada urusan kerjaan dengan Raka. Mungkin aku akan ke Butik setelah selesai. Ada apa memangnya?” tanya Bianca balik.


“Tidak. Oh ya, sepertinya Gilen menunggumu di Butik,” ucap Mike.


“Benarkah?”


“Iya. Aku melihat mobilnya terparkir didepan Butikmu,” ucap Mike.


“Hah, Pria itu memang tidak ada kerjaan ya? Kaau begitu aku akan mampir sebentar kesana untuk menyuruhnya pergi saja. Tidak ada gunanya menungguku disana,” ucap Bianca sembari melirik jam yang terpasang rapi dipergelangan tangannya.


Raka kemudian keluar. “Kau bicara dengan siap-“


“Oh. Ada urusan apa?” tanya Raka pada Mike.


“Kau pergi saja bekerja. Biar aku yang memberitahu Gilen,” ucap Mike.


“Terimakasih Mike!”


“Baiklah. Aku pergi dulu,” ucap Mike sembari menepuk pundak Bianca dan melirik tajam kearah Raka.


“Sudah?” tanya Bianca pada Raka.


“Iya. Ayo pergi,” ucap Raka kemudian menarik tangan Bianca dan pergi.


Mereka pun segera berangkat menuju Perusahaan Raka untuk menanda tangani surat kontrak kerja. “Aku harap kau bisa secepatnya mengirim desain bajumu agar kita juga bisa cepat menentukan mana yang sesuai untuk dikirim,” ucap Raka.


“Tentu saja. Aku akan berusaha semaksimal mungkin,” ucap Bianca.


“Kau memang Wanita pekerja keras. Aku salut padamu,” puji Raka sembari mengulas senyuman manisnya.


“Jangan memuji terlalu berlebihan,” ucap Bianca.


“Ah aku belum memberitahu Gilen soal ini,” batin Bianca yang tiba-tiba teringat tentang tawaran Gilen.


“Kalau begitu sepertinya aku harus pergi,” ucap Bianca sembari merapikan tasnya.


“Cepat sekali. Kau mau kembali ke Butik?” tanya Raka.

__ADS_1


“Iya. Tidak masalah kan?” tanya Bianca.


“Hm. Aku akan ada meeting tidak bis mengantarmu,” ucap Raka sembari melirik jam dinding.


“Iya. Aku akan naik taxi. Kau tidak usah khawatir,” ucap Bianca kemudian bangkit dari duduknya.


“Kalau begitu aku pergi ya,” ucap Bianca.


“Hati-hati. Nanti malam aku akan menemuimu,” ucap Raka.


“Iya. Dah,” ucap Bianca kemudian pergi.


“Cantik sekali,” gumam Raka sembari terus memandangi punggung Bianca yang semakin menjauh.


Bianca kemudian berdiri ditepi jalan untuk mencoba mencari Taxi. Tapi tak satupun Taxi berhenti saat ia memanggilnya. Tiba-tiba, sebuah mobil mewah yang tak asing dimatanya berhenti tepat dihadapannya.


“Gilen?”


“Caca, kau mau kemana?” tanya Gilen sembari membuka kaca mobilnya.


“Aku baru saja mau kembali ke Butik untuk bertemu denganmu,” ucap Bianca.


“Benarkah? Kalau begitu ayo naik!” ucap Gilen.


Bianca kemudian membuka pintu mobil dan duduk disebelah Gilen. “Kau merindukanku?” tanya Gilen dengan sangat percaya diri.


“Jangan berpikiran aneh-aneh. Aku hanya ingin memberi tahu bahwa aku tidak bisa menerima tawaranmu,” ucap Bianca.


“Karena kau sudah bekerja sama dengan Raka Virendra kan?” celetuk Gilen tiba-tiba hingga membuat Bianca terkejut.


“Bagaimana kau tahu?” tanya Bianca.


“Ck, kau pacaran dengannya?” tanya Gilen dengan wajah kesal.


“Kenapa mau tahu?” tanya Bianca yang juga memasang wajah kesal.


Gilen kemudian segera menarik pinggang Bianca agar mendekat dan langsung menekan tombol pembatas antara Kursi sopir dan kursi bagian belakang tempat dimana Gilen dan Bianca berada.


“Hei! Apa yang kau lakukan!” jerit Bianca sembari memberontak dan mencoba mendorong tubuh Gilen.


“Apa yang ku lakukan?”


“Caca, aku merindukanmu,” bisik Gilen seduktif ditelinga Bianca.


“Jangan gila! Kita sudah bercerai!” bentak Bianca dengan wajah yang mulai memerah karena emosi sembari menjauh dari tubuh Gilen.


“Kau ini galak sekali. Kau ada hubungan apa sebenarnya dengan Raka?” tanya Gilen tiba-tiba.


“Itu bukan urusanmu!” ketus Bianca kemudian memalingkan wajahnya kearah jendela.


“Tentu saja itu urusanku. Kau tidak boleh dekat dengan Pria selain aku. Paham?”

__ADS_1


__ADS_2