
“H-hei! Hentikan!” jerit Bianca sembari mencoba mendorong tubuh Raka.
“Raka! Jangan gila kau!” bentak Bianca sekali lagi saat Raka tak kunjung menghentikan aksinya.
“Baiklah-baiklah. Aku akan berhenti jika kau tidak mau,” ucap Raka mengalah kemudian berbaring disamping Bianca.
Bianca pun segera bangkit dan berlari menuju kamar mandi. “Sial! Bianca kenapa kamu bodoh sekali?! Apa yang sudah kamu lakukan?!” racau Bianca sembari mengacak rambutnya frustasi.
Wanita itu kemudian segera mencuci wajahnya kemudian segera keluar dan berniat untuk pergi. “Mari makan!” ujar Raka sembari menghidangkan semangkuk Sup dimeja makan.
“A-ah, aku sudah terlambat. Aku harus segera pergi bekerja!” ujar Bianca menolak.
“Kau akan pergi dengan Pakaian seperti itu?” tanya Raka sembari menatap Bianca heran.
“Aku akan pulang berganti baju lalu segera pergi bekerja. Maaf,” ucap Bianca kemudian segera berlari mengambil barang-barangnya dan pergi dari Apartemen Raka.
“Imut sekali,” gumam Raka dengan senyuman kecilnya saat melihat tingkah Bianca yang begitu menggemaskan baginya.
“Astaga, astaga kenapa jantungku tidak mau berhenti berdebar!” gerutu Bianca sembari menyandarkan tubuhnya di dinding Kamarnya.
Tiba-tiba, Ponselnya berdering.
“Halo?” ucap Bianca.
“Kau dimana? Apa sudah sarapan?” tanya Mike.
“A-ah aku baru saja pulang. Dan mau langsung bersiap untuk ke Butik. Belum sempat sarapan,” ucap Bianca.
“Oh begitu. Aku akan membawakanmu makanan. Sampai jumpa nanti,” ucap Mike kemudian menutup teleponnya.
Bianca kemudian segera bersiap untuk berangkat kerja. Setelah siap, ia pun segera keluar dari Apartemennya dan berjalan menuju Butiknya yang tak terlalu jauh.
“Mobil Gilen? Untuk apa dia datang lagi?” gumam Bianca saat melihat Mobil Mantan Suaminya itu sudah terparkir rapi didepan butiknya.
“Bisa tidak sehari saja aku tidak bertemu dengan orang-orang yang selalu menggangguku,” gerutu Bianca kemudian melanjutkan perjalanannya.
“Pagi,” sapa Bianca saat memasuki butik.
“Nona, Tuan Gilen menunggu di ruangan,” ucap Salah satu Pegawai Bianca.
“Baik,” ucap Bianca kemudian tersenyum dan pergi menuju ruangannya.
Ceklek\~
“Kau datang juga,” ucap Gilen sembari menyeruput secangkir tehnya.
“Kau tidak ada urusan lain selain minum teh di sini?” ketus Bianca sembari menaruh tasnya dan mendudukkan pantatnya di kursi kerjanya.
“Tidak ada. Aku sangat bosan makanya aku kemari,” ucap Gilen.
“Jangan Konyol. Kau itu CEO mana mungkin kau tidak sibuk,” ucap Bianca sembari sibuk dengan pekerjaannya.
“Yah, tugasku bisa dihandle oleh Leo. Untuk apa aku membayarnya jika dia tidak bisa mengurus pekerjaanku?” ucap Gilen.
“Cih. Sombong sekali,” gumam Bianca yang dapat didengar oleh Gilen.
Tiba-tiba pintu kembali terbuka dan memunculkan Mike yang sudah membawa beberapa makanan ditangannya.
“Kau disini?” tanya Mike saat melihat Gilen.
__ADS_1
“Iya,” ucap Gilen.
Mike pun meletakkan makanannya dan duduk disebelah Gilen. “Dimana Gavin?” tanya Mike.
“Masih tidur mungkin,” ucap Gilen santai.
“Anak itu belum bekerja juga?” tanya Bianca.
“Entahlah,” jawab Gilen.
“Makanlah dulu sebelum bekerja,” ucap Mike.
“Sebentar,” ucap Bianca.
“Ada urusan apa kau mendatangi dia?” tanya Mike pada Gilen.
“Apa aku harus mengatakannya padamu?” jawab Gilen dengan ketus.
“Tentu saja,” ucap Mike.
“Memangnya kau siapa?” kesal Gilen.
“Bisa diam tidak? Aku sedang bekerja! Kalau mau berkelahi silahkan keluar! Huh,” racau Bianca.
Seketika ruangan menjadi hening. Tak satupun diantara Mike maupun Gilen berani bersuara sedikitpun. Mereka hanya duduk diam sembari melirik satu sama lain.
“Kalian ini seperti anak kecil saja,” gerutu Bianca kemudian berjalan menuju Sofa bersama Gilen dan Mike.
“Kalian sudah sarapan?” tanya Bianca.
“Belum,” jawab Mike dan Gilen kompak.
“Yasudah. Ayo makan bersama,” ucap Bianca kemudian menghidangkan makanan dimeja.
“A-ah tidur kok,” ucap Bianca gugup.
“Oh. Tumben sekali kau menginap dirumah temanmu,” ucap Mike mulai memprovokasi Bianca.
“I-itu karena dia akan menikah. Jadi aku terpaksa menginap disana,” ucap Bianca berbohong.
“Siapa?” sahut Gilen.
“Teman kerja,” ucap Bianca.
“Siapa?” tanya Gilen lagi.
“Kepo sekali sih,” ketus Bianca sembari menyuap makanan kedalam mulutnya.
Sementara itu, Mike memasang wajah muramnya karena tahu bahwa Bianca berbohong. Hatinya seperti teriris karena tahu kenyataan bahwa Bianca menginap di Apartemen milik Raka.
“Bagaimana keadaan Ayah dan Ibu?” tanya Bianca tiba-tiba.
“Baik. Mereka selalu menanyakanmu,” ucap Gilen.
“Benarkah? Aku rindu sekali dengan mereka,” ujar Bianca.
“Mau bertemu?” tanya Gilen.
“Ah, sebenarnya ingin sekali. Tapi aku masih banyak kerjaan,” ucap Bianca.
__ADS_1
“Baiklah,” ucap Gilen sembari menghela nafas.
Waktu pun terus berputar hingga menunjukkan pukul 6 sore. Kini, Bianca masih berada diruangannya seorang diri sembari mengerjakan pekerjaannya yang tak kunjung selesai.
“Lelahnya,” lenguh Bianca sembari meregangkan tubuhnya dan melirik jam.
Bianca kemudian memutuskan untuk kembali ke Apartemennya dan beristirahat sejenak. Saat ia hendak membuka pintu, ia dikagetkan oleh sebuah paper bag yang tergantung di pintunya. Ia kemudian mengambilnya dan melihat isi paper bag tersebut.
\~Makan malam special buatanku. Jangan lupa dimakan ya.
Raka Virendra\~
“Terimakasih,” gumam Bianca dengan senyuman kecilnya.
Wanita itu kemudian masuk dan memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah itu, dia kembali keruang tengah untuk menyantap makanan yang diberikan oleh Raka dengan ditemani sebotol Wine.
“Hah, nikmatnya!” ujar Bianca.
“Tapi, Raka ini terlalu berlebihan tidak ya?” gumam Bianca dengan mulut penuh.
“Masa bodolah. Yang penting kenyang!” ujar Bianca sembari meneruskan makan malamnya.
Saat sedang makan, tiba-tiba bel berbunyi. Bianca kemudian segera membuka pintu.
“Halo,” sapa Raka dengan senyuman manisnya.
“Hai,” balas Bianca.
“Kau sedang apa? Apa aku mengganggu?” tanya Raka.
“Ah, aku sedang makan makanan yang kau berikan. Ayo masuk!” ajak Bianca.
Bianca dan Raka kemudian duduk diruang tengah. “Terimakasih atas makanannya. Kau seharusnya tidak perlu serepot ini,” ucap Bianca sungkan.
“Tidak repot kok. Aku malah senang,” ucap Raka.
“Baiklah,” ujar Bianca sembari melanjutkan makan.
“Kau baru pulang?” tanya Raka.
“Iya. Hari ini banyak sekali kerjaan dibutik jadi aku pulang lebih lambat,” ucap Bianca.
Raka kemudian mengacak rambut Bianca. “Semangat!” ucap Raka.
“Raka, aku sudah memutuskan. Sepertinya aku mau menerima tawaranmu,” ucap Bianca.
“Benarkah? Bagus sekali!” ujar Raka antusias.
“Kalau begitu besok apa kau bisa datang ke kantorku?” ucap Raka.
“Eh tidak, berangkat denganku saja,” ujar Raka.
“Baiklah,” ucap Bianca kemudian tersenyum.
“Ehm, Bianca. Soal tadi pagi-“
“Ah soal itu, aku akan memikirkannya terlebih dahulu,” sela Bianca.
“Memikirkan apa? Aku hany ingin minta maaf karena bersikap tidak sewajarnya,” ucap Raka dengan wajah kebingungan.
__ADS_1
“Oh? Baiklah. Lupakan saja,” ucap Bianca.
“Kau sangat menggemaskan,” kekeh Raka sembari mencubit kedua pipi Bianca.