Istri Kesayangan Milliader Tampan

Istri Kesayangan Milliader Tampan
• IKMT 15 •


__ADS_3

“Apa ini yang Kami ajarkan kepadamu?” ucap Ayah Gilen yang membuat semua orang terkejut.


“Ayah,” lirih Gilen dengan raut wajah bersalah.


Melihat itu, Alice langsung menjauhkan dirinya dari tubuh Gilen. “Kau mengorbankan Istrimu demi Wanita yang tidak memiliki harga diri?” celetuk Ibu Gilen.


“Kami sangat kecewa padamu,” ucap Ibu Gilen dengan air mata yang tertahan dipelupuk matanya.


“Aku salah. Maafkan aku,” lirih Gilen.


“Jangan meminta maaf kepada kami. Minta maaf lah kepada Istrimu,” ujar Ayah Gilen kemudian duduk dikursi yang berada diseberang Gilen.


Selang beberapa saat, Dokter pun keluar setelah lampu tanda operasi sudah mati. Semua orang yang menunggu kabar langsung berdiri dan menunggu penjelasan dari dokter yang mengoperasi Bianca.


“Salah satu keluarga dari Pasien silahkan ikut saya,” ujar Dokter yang bernama Dokter Alexander.


Gilen kemudian mengikuti langkah kaki Dokter Alex kembali keruangannya.


“Kalau boleh tahu Tuan siapanya Nona Bianca?” tanya Dokter Alex.


“Suaminya,” jawab Gilen singkat.


“Baiklah. Sebelumnya saya mohon maaf karena harus memberitahu hal ini. Nona mengalami cedera berat pada kepalanya. Kemungkinan ia akan mengalami Amnesia. Juga pada tangan dan kaki sebelah kiri yang mengalami patah tulang,” jelas Dokter Alex.


“Amnesia? Apa dia bisa sembuh?”


“Tentu saja bisa. Tapi, butuh proses. Untuk saat ini lebih baik tidak menekannya karena kondisinya masih belum stabil. Terlebih juga disaat seperti ini dia harus mendapatkan dukungan untuk tetap bertahan,” ucap Dokter Alex.


“Dan juga saya memasang gips pada Kaki dan tangan Nona. Disarankan Nona harus bedrest dan perbanyak Istirahat untuk beberapa waktu kedepan,” lanjutnya.


“Baik. Saya mengerti,” lirih Gilen.


Gilen kemudian keluar dari ruangan dan kembali menuju tempat keluarganya berada. “Bagaimana?” tanya Mike saat melihat Gilen kembali.


“Amnesia dan patah tulang,” ucap Gilen pasrah.


“Baguslah. Jadi dia tidak perlu mengingat hal yang membuatnya sakit hati. Lebih baik kau tidak udah temui dia lagi,” ujar Mike pada Gilen.


“Jaga mulutmu,” geram Gilen yang mulai tersulut emosi.


“Sudah cukup. Jangan seperti anak kecil,” lerai Gavin.

__ADS_1


Pintu ruang operasi terbuka. Beberapa perawat sedang mendorong ranjang dengan Bianca diatasnya yang masih tak sadarkan diri dengan beberapa selang yang masih terpasang ditubuhnya.


“Kami akan memindahkan pasien ke ruang ICU untuk memantau kondisi Pasien,” ucap salah satu perawat Wanita dan diangguki oleh kedua Orang Tua Gilen.


Orang Tua Gilen bersama Gavin dan Mike kemudian mengikuti arah Perawat yang membawa Bianca. Sementara Gilen, ia menoleh kearah Alice.


“Kau, Pulanglah. Jangan membuat masalah,” ucap Gilen dengan raut wajah dingin.


“Gilen, kau mengusirku?” ucap Alice seakan tak percaya.


“Alice, ingatlah aku sudah berkeluarga. Jangan berharap aku bisa dapat kembali denganmu. Pulanglah dan carilah kebahagiaanmu sendiri,” ucap Gilen kemudian pergi meninggalkan Alice yang masih mematung ditempat.


“Sial! Lagi-lagi karena Wanita itu!” geram Alice merutuki Bianca sembari menghentakkan kakinya dilantai.


36 jam sudah terlewati. Tapi, Bianca tak kunjung sadar. Kedua Orang Tua Gilen juga sudah pulang. Mike juga ada jadwal yang tidak bisa dibatalkan. Kini hanya tersisa Gavin dan Gilen yang masih setia menunggu Bianca sadar.


“Berdoalah agar Wanita itu bisa melewati masa kritisnya,” ucap Gavin yang tak henti-hentinya mengingatkan Gilen untuk selalu mendoakan Istrinya.


Baru saja Gavin menasehati Gilen, tiba-tiba Perawat keluar dari ruangan Bianca dan langsung berlari memanggil Dokter dengan tergesa-gesa. Melihat itu, Gilen dan Gavin langsung berdiri dan mengintip ke dalam ruang ICU. Betapa terkejutnya mereka saat melihat Bianca mengalami kejang. Seluruh tubuhnya kaku dan bergetar hebat.


Dokter kemudian segera datang diikuti beberapa perawat dan langsun menangani Bianca. Dokter kemudian langsung menyuntikkan obat anti kejang dan memeriksa keseluruhan tubuh Pasien. Gilen yang menyaksikan itu semakin khawatir dan merasa bersalah pada Bianca.


“Kau memang payah. Kelak, jangan berharap dia akan kembali kedalam pelukanmu lagi,” sahut Mike yang tiba-tiba muncul dibelakang mereka.


Beberapa saat kemudian, Dokter keluar dan kembali membawa Gavin keruangannya.


“Nona saat ini mengalami Koma,” ucap Dokter Alex dengan raut wajah sedih.


“Sembuhkan dia dengan cara apapun,” ucap Gilen yang sudah sangat frustasi.


“Banyaklah Berdoa Tuan. Saya akan berusaha semaksimal mungkin,” ucap Dokter Alex.


Disisi lain, Alice sedang berdiskusi dengan seorang Wanita yang memakai seragam Perawat.


“Kerja bagus. Memang tidak sia-sia aku membayar mahal. Ini sudah cukup. Setidaknya, Wanita itu tidak akan bangun dalam waktu dekat hingga aku bisa merebut kembali Pria ku,” ucap Alice sembari menyodorkan segepok uang pada Wanita itu.


“Terimakasih Nona,” ucap Wanita itu kemudian segera pergi.


“Heh, ingin berebut denganku? Jangan mimpi!” gumam Alice sembari menatap punggung Wanita yang baru saja ia temui.


“Halo Tuan. Saya ada berita penting,” ucap salah seorang Pria yang sedari tadi mengikuti Alice.

__ADS_1


Pria itu kemudian segera pergi menuju Basement rumah sakit dan menemui Pria yang ia sebut Tuan.


“Ada berita apa?”


“Nona Alice memerintahkan Seorang Perawat untuk mencelakai Nona Bianca,” ucap Pria itu menjelaskan kepada Tuannya.


“Aku mengerti. Pergilah,” ucap Pria yang disebut Tuan itu.


Sementara didepan ruang ICU, Gilen kembali dengan wajah frustasi. Ia kemudian segera memerintahkan orang untuk mengganti semua Perawat yang menjaga Bianca kemudian menyuruh beberapa orang untuk berjaga ketat disekitar ruang ICU.


“Untuk apa melakukan ini?” tanya Gavin saat melihat Gilen melakukan hal yang tak biasa.


“Aku hanya tidak ingin, ada orang yang mencelakai Istriku,” ujar Gilen.


“Gilen, kau masih disini?” ujar Alice kemudian mendekat kearah Gilen dengan senyuman manisnya.


“Untuk apa datang lagi?” tanya Gilen dingin.


“Sayang. Kau ini kenapa sih?” rayu Alice sembari bergelayutan manja ditubuh Gilen.


Gilen pun langsung menepis tubuh Alice dengan kasar hingga membuat Wanita itu terjatuh kelantai.


“Aw! Gilen! Kau ini berani-beraninya kasar padaku?!” bentak Alice.


“Pergilah,” ucap Gilen dengan nada yang semakin dingin.


“Kau tidak tahu malu ya? Sudah diusir tapi masih saja berani menampakkan diri disini,” celetuk Mike.


“Brengsek,” geruru Alice kemudian segera pergi meninggalkan tempat itu.


“Kau sudah tahu kan? Wanita itu yang membuat keadaan Bianca semakin parah seperti ini?” bisik Mike pada Gilen dan membuat Gilen terkejut.


“Kenapa? Terkejut? Kau pikir aku hanya diam dan tidak melakukan apapun saat melihat Bianca dalam bahaya?” sambung Mike.


“Kau harus tegas pada Wanita itu Gilen. Atau tidak, Hubungan antara Kau dan Bianca akan benar-benar berakhir,” ucap Gavin memperingati.


“Biar saja. Bukankah itu sangat bagus?” celetuk Mike yang membuat Gilen semakin terpancing emosi.


Gilen yang sudah terbakar emosi langsung menarik kerah baju Mike dan memukuli Mike hingga babak belur. Gavin yang melihat itu kembali melerai kedua Temannya yang terus-terusan berkelahi.


“Kalian gila?! Ini rumah sakit!”

__ADS_1


__ADS_2