Istri Kesayangan Milliader Tampan

Istri Kesayangan Milliader Tampan
• IKMT 18 •


__ADS_3

“Kenapa sangat susah untuk mengabaikanmu?” batin Bianca.


“Bisakah kau keluar? Aku ingin Istirahat. Tidak nyaman bagiku jika kamu masih berada disini,” ucap


Bianca.


“Baiklah. Aku akan keluar setelah membantumu berbaring,” ucap Gilen.


Gilen kemudian menggendong tubuh Bianca dengan perlahan dan menidurkannya diatas ranjang berukuran King Size itu. Sebelum keluar, Gilen mengecup kening Sang Istri dan pergi meninggalkan Bianca.


“Heh, dia masih bersikap manis padaku. Entah karena merasa bersalah atau karena dia memang tidak tahu malu,” batin Bianca sembari menatap kearah pintu yang baru saja tertutup.


“Tak kusangka Pria itu benar-benar membuatku menjadi Gila hingga seperti ini,” batin Bianca seraya menatap langit-langit Kamarnya itu.


Tak berselang lama, Wanita itu sudah terlelap. Dia kembali bermimpi panjang didalam tidurnya. Sedangkan Gilen, ia kembali berkumpul bersama Gavin dan Mike yang berada diruang tengah sembari bermain PS.


“Bagaimana?” tanya Mike pada Gilen.


“Dia sedang istirahat,” ucap Gilen.


“Bukan itu. Maksudku, Bagaimana dengan Alice?” tanya Mike.


“Aku akan mengirimnya kembali ke Negara M,” ucap Gilen sembari memijat keningnya.


“Lihat temanmu ini. Dia benar-benar keras kepala,” ucap Mike sembari menepuk pundak Gavin.


“Aku sudah lelah menasihatinya. Dia kan memang seperti itu,” celoteh Gavin.


“Kalau kau masih bersikap seperti itu, aku akan membawa Bianca pergi. Tidak peduli dengan status kalian, aku akan tetap membawa dia pergi ke tempat yang aman,” ucap Mike mengancam Gilen.


“Diamlah Mike. Jangan mempersulitku,” celetuk Gilen frustasi.


“Aku bukan mempersulitmu. Aku tidak mau Bianca dicelakai oleh Wanitamu lagi,” ujar Mike.


“Dia bukan Wanitaku. Aku hanya berutang budi pada Keluarganya,” ujar Gilen.

__ADS_1


“Alasan itu lagi. Mereka akan terus mempersulitmu karena mereka tahu kelemahanmu itu bodoh,” celetuk Gavin.


“Beri mereka uang dan katakan bahwa kamu sudah tidak bisa menjaga maupun berhubungan dengan Alice lagi. Simple kan?” ucap Mike.


“Kalau tidak biar aku yang bicara pada Pamanku,” ujar Gavin.


“Tidak perlu. Aku akan memikirkan cara lain,” ujar Gilen.


“Kau ini benar-benar ya? Sudahlah, aku akan membawa Bianca pergi,” ujar Mike kemudian bangkit dari duduknya. Belum sempat Mike pergi, ia langsung ditahan oleh Gilen.


“Jangan bertindak sembarangan! Dia adalah Istriku!” geram Gilen dengan nada yang mulai meninggi.


“Hah kelahi lagi,” gumam Gavin sembari melirik kedua temannya itu.


“Kau memang Suaminya tapi kau selalu membuatnya kesusahan. Apa pantas kau masih berada di sampingnya jika kau tidak bisa melindunginya?” ujar Mike dengan penuh penekanan.


“Sudahlah. Berkelahi tidak akan memecahkan masalah. Kalau kalian ribut terus maka aku yang akan membawa Bianca pergi dan tidak akan membiarkan kalian bertemu dengannya,” ancam Gavin yang sudah lelah dengan pertikaian itu.


Mike kemudian menepis tangan Gilen dan kembali duduk disofa dengan wajah kesal. Begitu juga dengan Gilen yang masih memasang raut wajah emosi pada Mike.


“Saya akan menuntut Anak anda,” ucap Ibu Gilen yang dikenal sebagai Nyonya Farensca.


“Memang apa yang dilakukan Anak Saya hingga Nyonya mau menuntutnya?” tanya Ibu Alice dengan wajah shock.


“Dia mencoba membunuh Menantu Saya dan mencoba memghancurkan hubungan rumah tangga Anak Saya. Menantu Saya saat ini mengalami cedera parah dan patah tulang akibat ulah Anak Anda. Jadi saya mau dia merasakan akibat atas semua perbuatannya,” jelas Nyonya Farensca.


Seketika Kedua Orang Tua Alice Shock karena mendengar perkataan Ibu Gilen barusan. Ia tak menyangka bahwa Putrinya yang lembut dan bersikap baik pada semua orang itu juga memiliki sisi buruk dibelakangnya.


“Tolong maafkan Alice Nyonya. Dia pasti tidak sengaja melakukan itu,” lirih Ibu Alice sambil berlutut dihadapan Nyonya Farensca.


“Tidak sengaja? Dia bahkan membayar orang untuk membuat Menantu saya koma. Apa itu yang kamu bilang tidak sengaja?”


“Saya berjanji akan mengajari dia lebih baik kedepannya. Jangan biarkan dia masuk penjara. Itu akan merusak masa depannya,” ucap Ibu Alice yang sudah tak berdaya.


“Memangnya dia memikirkan Perasaan menantu saya? Apa dia memikirkan bahwa apa yang telah dia perbuat jug bisa menghancurkan masa depan Menantu saya? Tidak kan? Jadi untuk apa Saya harus memikirkan masa depan Anak Anda?”

__ADS_1


“Saat ini, Saya sudah membuat laporan dan sudah diserahkan ke kantor polisi. Anak Anda saya laporkan atas tuduhan Percobaan pembunuhan. Sampai berjumpa di persidangan,” ucap Nyona Farensca kemudian bangkit dan pergi.


“Tuan Bisakah mencabut laporannya? Kami berjanji akan memberi pelajaran pada Alice,” ujar Ayah Alice pada Ayah Gilen.


“Maaf, Keputusan kami sudah bulat,” ucap Ayah Gilen kemudian pergi keluar menyusul Istrinya dan meninggalkan Kedua Orang Tua Alice.


“Kalau Gilen tidak mau bertindak karena memiliki utang budi maka biar aku yang bertindak Pah,” ujar Ibu Gilen.


“Iya Mah. Sudah tenang dulu. Kita bicara lagi setelah kembali,” ujar Ayah Gilen kemudian membukakan pintu mobil untuk Istrinya itu.


Sementara itu, Polisi sudah mulai mencari keberadaan Alice untuk membawa Wanita itu ke kantor polisi. Beberapa hari setelah pencarian dilakukan, Akhirnya Alice ditemukan disalah satu Hotel di Kota itu. Ia kemudian dibawa ke Kantor Polisi dan ditahan selama penyelidikan. Saat itu, Berita penangkapan Alice juga sudah terdengar hingga ke telinga Ketiga Pria itu.


“Orang Tuamu memang lebih pintar daripada kamu,” ejek Gavin pada Gilen.


“Sepertinya Anak mereka adalah Bianca bukan kamu,” sambung Mike.


Sementara Gilen, ia tenggelam dalam pikirannya. Ia tak menyahuti perkataan Kedua Temannya itu dan tetap melamun seolah memikirkan sesuatu.


“Kalau kamu tidak mau mencari keadilan untuk Istrimu maka biar kami yang melakukannya,” sahut Ibu Gilen yang tiba-tiba datang ke Mansion.


“Bibi, Bibi sangat keren!” puji Mike sembari mengacungkan kedua jempolnya.


“Iya Bi. Kami sudah lelah menasehati Gilen tapi dia tak mau mendengar dan malah hendak mengirim Alice kembali ke negara M,” ujar Gavin.


“Gilen memang seperti itu. Untung saja kalian selalu menemani dia,” ujar Ibu Gilen yang ikut bergabung.


“Bibi sendiri? Paman mana?” tanya Gavin sembari mengedarkan pandangannya mencari Ayah Gilen yang ia panggil Paman.


“Dia ada urusan sebentar. Nanti akan menyusul,” ucap Ibu Gilen,


“Ibu, aku ingin bicara,” ujar Gilen kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ruang kerja diikuti oleh Sang Ibu.


“Ada apa Sayang?” tanya Ibu nya.


“Kenapa Ibu melakukannya? Ibu tahu kan aku memiliki Utang Budi pada Keluarga mereka?” ujar Gilen.

__ADS_1


“Gilen sudah cukup! Jangan sampai membuat Ibu marah hanya karena kau terus-terusan membela Wanita itu. Buka matamu! Dia mencelakai Istrimu!”


__ADS_2