
Raka kemudian menarik lengan Bianca. “Apa tidak menginap disini saja?”
“Ah, eh? I-itu.”
Belum sempat Wanita itu menyelesaikan kata-katanya, Raka langsung menarik tubuh Bianca hingga terjatuh kedalam pelukan Raka. “Menginaplah disini. Kau tidak takut jika Gilen datang?” bisik Raka sembari menatap dalam wajah Kekasihnya itu.
“R-raka, aku harus bekerja besok,” ucap Bianca kemudian menjauhkan tubuhnya dari Raka.
“Lain kali aku akan menginap disini. Aku kembali dulu,” lanjut Bianca kemudian segera keluar dari Apartemen Raka dan kembali menuju Apartemennya.
Bianca kemudian membersihkan tubuhnya terlebih dahulu kemudian beristirahat. Keesokan harinya, Wanita itu terbangun tepat pukul 8 pagi. Ia kemudian segera mengecek Ponselnya dan langsung bangkit dari tempat tidurnya untuk bersiap pergi kerja.
“Halo?” ucap Bianca pada seseorang yang meneleponnya.
“Kau sudah bangun? Apa mau pergi kerja bersama?” tanya Raka yang ternyata menelepon Wanita itu.
“Baru saja bangun. Kau kesini saja. Aku masih bersiap,” ucap Bianca sembari menggosok giginya itu.
“Baiklah,” ucap Raka kemudian mematikan teleponnya.
Bianca kemudian segera berkumur dan berlari menuju pintu depan untuk menyambut Kekasihnya itu. Dan benar saja, saat ia membuka pintu, Raka baru saja hendak menekan bel.
“Hai. Ayo masuk,” sapa Bianca kemudian mempersilahkan Raka masuk.
Raka pun mendekat dan mengecup pucuk kepala Bianca kemudian masuk dengan membawa sebuah kantongan yang tidak tahu apa isinya itu.
“Kau membawa apa?” tanya Bianca sembari berjalan dibelakang Raka.
“Ini? Sarapan untukmu,” ucap Raka sembari menyodorkannya kepada Bianca.
“Raka kau seharusnya tidak perlu repot-repot seperti ini,” ucap Bianca dengan wajah bersalah.
“Sayang, aku sangat senang melakukan hal ini. Dihabiskan ya,” ucap Raka sembari mengacak rambut Bianca kemudian menjatuhkan pantatnya disofa.
“Baiklah. Sebentar ya, aku akan segera bersiap,” ucap Bianca kemudian menaruh bekal yang dibawakan Raka dimeja dan langsung berlari menuju kamar.
“Hah, pasti kerjaan akan sangat menumpuk,” gumam Bianca sembari memakai dress selutut berwarna biru langit.
“Haish, susahnya,” gerutunya sembari mencoba menutup resleting bajunya dibelakang.
“Apa butuh bantuan?” tanya Raka yang tiba-tiba muncul dipintu kamar Bianca.
__ADS_1
“Ah, ini, bisakah kau menutupnya?” ucap Bianca.
Raka kemudian mendekat dan membantu Bianca menutup Resleting pada Dressnya. Pria itu kemudian mengecup bahu Bianca yang sedikit terekspos dengan seduktif.
“Kau cantik sekali,” bisik Raka kemudian memeluk tubuh Kekasihnya itu dari belakang.
“Terimakasih,” balas Bianca dengan senyuman manisnya.
Raka kemudian membalikkan tubuh Bianca dan mengangkat tubuh Bianca keatas meja riasnya. “Raka kita harus segera berangkat,” ucap Bianca sembari menahan tubuh Raka yang semakin mendekat dengan kedua tangannya.
“Hm? Aku belum mendapat morning kiss dari kekasihku. Aku tidak bisa fokus kerja tanpa itu,” goda Raka sembari menyibakkan rambut Bianca.
Bianca kemudian tersenyum dan mengecup bibir tebal milik Raka. “Sudah kan?”
Raka pun tersenyum senang kemudian langsung menarik tengkuk Bianca dan mencium bibir Wanita itu dengan cukup ganas. Tangan Pria itu pun tak tinggal diam, Ia mulai mengerayangi tubuh Bianca. Bianca yang tersadar pun langsung mendorong tubuh Raka pelan kemudian memalingkan wajahnya.
“Raka, kita harus bekerja,” ucap Bianca tanpa menatap wajah Prianya itu.
“Sayang.”
“Maaf, aku harus segera pergi,” Sela Bianca kemudian turun dari meja rias dan merapikan pakaiannya.
“Hah, ayo,” ucap Raka sembari menghela nafas kemudian melenggang pergi keluar kamar.
“Tidak papa. Aku senang seperti ini,” ucap Raka sembari merangkul pundak Kekasihnya dan terus menerus menciumi pucuk kepala Bianca.
“Hahah, Raka kau ini suka sekali menempel ya?” ejek Bianca dengan kekehan kecilnya.
“Benar. Aku sangat suka menempel denganmu,” ucap Raka sembari memeluk tubuh Bianca.
Tanpa sadar, beberapa orang pun memotret kemesraan mereka hingga keduanya kembali menjadi trending topik di kota itu.
“Oh iya, tentang kerja sama kita aku akan menyelesaikannya secepat mungkin,” ucap Bianca.
“Tidak perlu terburu-buru Sayang. Eventnya masih lama kan? Kau harus tetap menjaga kesehatanmu ya?” ucap Raka.
“Em, baiklah,” ucap Bianca dengan senyuman manisnya.
“Kalau begitu aku masuk dulu. Kau bekerja dengan baik ya?” ucap Bianca.
“Masuklah,” ucap Raka.
__ADS_1
Bianca kemudian mendekat dan mengecup bibir Pria dihadapannya itu. “Kau, hati-hati dijalan ya. Daah,” ucap Bianca kemudian masuk kedalam Butiknya sembari melambaikan tangan pada Raka.
Raka pun membalas lambaian tangan Kekasihnya itu sembari mengulas senyuman manisnya. “Hah, cantiknya,” gumam Raka sembari menatap pintu Butik yang sudah kembali tertutup.
Pria itu kemudian menuju mobilnya yang terletak tak terlalu jauh dari Butik Bianca. “Kau benar-benar berpacaran dengannya?”
Mendengar itu, Raka langsung menghentikan langkahnya dan berbalik badan. “Heh, kau tidak percaya?” celetuk Raka saat melihat yang berkata padanya adalah Mike.
“Hah sudahlah. Kau harus menjaganya dengan baik,” ucap Mike sembari menghela nafasnya kasar.
“Kau tidak ingin bersaing denganku?” tanya Raka heran.
“Aku menghargai pilihan Wanita itu. Aku tidak mau memaksakan perasaanku,” ucap Mike.
“Kau memang Pria yang baik,” ucap Raka.
“Sudahlah. Aku pergi dulu,” ucap Mike kemudian melenggang pergi meninggalkan Raka.
“Kasihan sekali dia,” gumam Raka sembari menatap punggung Mike yang semakin menjauh.
Sementara itu, Berita tentang kedekatan antara Raka dan Bianca sudah tersebar. Gilen yang juga mendengar berita itu pun menjadi kesal. Ia kemudian langsung menyuruh Leo untuk memblokir semua berita itu.
“Aku tidak mau berita itu muncul lagi,” ucap Gilen pada Leo.
Leo kemudian mengangguk dan pergi. Sementara itu, Gilen memutar kursinya dan menatap kota dari jendela kantornya dengan perasaan kesal.
“Bianca, kau ini benar-benar membuatku gila,” gumam Gilen sembari mengepalkan tangannya.
Disisi lain, Bianca saat ini sedang fokus mengerjakan semua pekerjaannya yang tertunda akibat dirinya masuk rumah sakit. Ia kemudian memeriksa semua Kinerja para karyawannya, keuangan, dan beberapa lainnya yang harus ia cek sebagai pemilik dari butik tersebut.
Setelah selesai, Bianca langsung melanjutkan pekerjaannya yang lain seperti merancang busana yang akan ia kirim pada Raka. “Lelah sekali,” lirih Bianca sembari beristirahat dan merengangkan ototnya terlebih dahulu.
“Apa ini?” gumamnya sembari membuka pesan dari Mauren.
Mata Bianca tiba-tiba membulat karena membaca pesan itu. “Aku sepertinya akan kesusahan lagi,” gumamnya sembari mengikat rambutnya.
Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka. “Nona, Tuan Gilen mencarimu,” ucap salah satu Karyawannya.
Belum sempat Bianca membalas perkataan itu, Gilen sudah masuk sembari melonggarkan dasinya. “Untuk apa kesini lagi?” ketus Bianca dengan tubuh yang mulai gemetaran.
“Caca, kau kenapa menghindariku sih?” ucap Gilen.
__ADS_1
“Maaf. Aku tidak mau melihatmu lagi. Silahkan pergi.”