Istri Kesayangan Milliader Tampan

Istri Kesayangan Milliader Tampan
• IKMT 25 •


__ADS_3

“Bi, apa kau akan jatuh hati padaku jika aku bekerja keras?” ucap Mike sembari menatap dalam mata Bianca.


Bianca pun terdiam sejenak. “E-eh kenapa tiba-tiba bertanya soal itu?” ucap Bianca mencoba mengelak.


Mike kemudian menggenggam kedua tangan Bianca dan menatap wajah Wanita itu dengan serius. “Kau tahu pasti selama ini aku memiliki perasaan padamu kan?”


“Bi, apa kau juga memiliki perasaan yang sama sepertiku?” tanya Mike dengan penuh harap.


“A-ah itu. Aku tidak tahu,” ucap Bianca canggung kemudian mencoba memalingkan wajahnya.


Tiba-tiba, Mike mendekat dan langsung mencium bibir Bianca hingga membuat Wanita itu terkejut dan membulatkan matanya. Mike kemudian menarik pinggang Bianca, tapi Bianca tetap tak merespon ciuman darinya. Bianca mematung dan mencoba mencerna situasinya saat ini.


“Emh,” lenguh Bianca kemudian mendorong pelan tubuh Mike.


“A-aku harus segera ke Butik,” ucap Bianca kemudian meninggalkan Mike yang masih mematung.


“Bianca, Sadarlah,” gumam Bianca sambil berjalan dengan cepat dan terus merutuki dirinya karena tidak bisa mengontrol detak jantungnya.


“Pagi,” sapa Bianca pada para Pegawainya saat ia baru memasuki butik.


“Pagi Nona,” balas beberapa Pegawainya dengan senyuman manis.


Bianca pun segera menuju keruangannya yang terletak dilantai 2 Butik tersebut. Saat ia membuka pintu, betapa terkejutnya ia mendapati Gilen Sang Mantan Suami yang sudah duduk manis sembari meminum secangkir teh.


“A-ada urusan apa?” tanya Bianca yang tiba-tiba menjadi gagap saat melihat Gilen.


“Aku punya penawaran kerjasama untukmu,” ucap Gilen sembari menyeruput tehnya.


Bianca pun masuk dan berjalan menuju kearah Sofa dan duduk dihadapan Gilen. “Kerjasama apa?” tanya Bianca dengan tatapan curiga.


Gilen kemudian menunjuk sebuah map yang terletak diatas meja dengan dagunya. Bianca pun mulai mengambil map itu dan membukanya kemudian membacanya dengan seksama.


“Kau ingin aku merancang busana untuk Acara ini?” tanya Bianca.


“Iya. Apakah kamu bersedia?” tanya Gilen dengan wajah penuh harap.


“Ini kesempatan yang sangat bagus. Tapi,” batin Bianca sembari melirik kearah Gilen yang juga ternyata sedang menatapnya.


Bianca kemudian tersadar dan langsung menutup map itu. “Akan kupertimbangkan,” ucap Bianca kemudian menaruh kembali Map nya diatas meja.


“Pertimbangkan secepat mungkin,” ucap Gilen.


“Baiklah. Kau boleh pergi. Aku ingin bekerja,” ujar Bianca kemudian bangkit dari sofa dan hendak menuju ke Meja kerjanya.


Tapi, Gilen menahan tangan Wanita itu. “Kau mengusirku?”

__ADS_1


Bianca pun menoleh dan menepis tangannya. “Bukan begitu. Aku hanya tidak ingin diganggu,” ujar Bianca.


Gilen pun kembali menarik tangan Bianca hingga tubuh Wanita itu jatuh keatas pangkuan Gilen. “Kau tidak merindukanku?” goda Gilen sembari memeluk pinggang ramping milik Bianca.


“Jangan kurang ajar! Jaga sikapmu. Kita ini sudah cerai,” ujar Bianca mencoba bangkit dari tubuh Pria itu.


“Heh, mana mungkin aku lupa kalau kita sudah cerai,” ujar Gilen.


“Baguslah kalau kau ingat. Maka dari itu, jaga sikapmu,” ucap Bianca.


Gilen kemudian mengeratkan pelukannya pada Pinggang Wanita dihadapannya itu. “Aku tidak tahu caranya menjaga sikap. Bisakah kau mengajariku?”


“Jangan bersikap bodoh Gilen. Aku harus bekerja! Jangan ganggu aku!” kesal Bianca kemudian dengan sekuat tenaga mencoba melepaskan diri dari pelukan Pria itu.


Setelah berhasil lepas, Bianca langsung menuju ke Meja kerjanya dan mulai bekerja tanpa memperdulikan Gilen yang masih berada diruangannya sembari terus menatapnya.


“Kenapa kau kemari? Bukankah saat bercerai kita sudah sepakat untuk menjalani hidup masing-masing?” ketus Bianca.


“Aku kemari dengan tujuan yang jelas. Apa kau masih tidak mengerti?”


“Bisa saja itu trikmu,” ucap Bianca.


“Ternyata, kau masih marah padaku ya?”


“Heh, tidak ada gunanya marah padamu,” gumam Bianca yang dapat didengar oleh Gilen.


“Baik. Aku akan segera kesana,” ucap Bianca kemudian segera mengambil beberapa berkas penting dan keluar dari ruangan.


“Wanita itu sama sekali tidak berubah ya,” gumam Gilen dengan senyuman manisnya.


Bianca kemudian memulai Rapatnya. Tapi, sepanjang rapat, Wanita itu tidak fokus karena otaknya dipenuhi oleh mantan Suaminya.


“Nona, jadi bagaimana?” tanya salah satu Pegawainya.


“A-ah. Konsep ini sepertinya kurang cocok dengan tema yang diberikan,” ujar Bianca kemudian kembali terdiam.


“Jadi bagaimana?” tanya Pegawainya.


“Begini saja, kalian coba buat Konsep baru lagi. Setelah selesai, segera berikan kepadaku. Waktu kita tidak banyak. Jadi aku harap, Kalian bisa menggunakan waktu sebaik mungkin,” ucap Bianca.


“Kalau begitu Rapat sampai disini saja. Kerja bagus semuanya,” ucap Bianca kemudian merapihkan barang-barangnya dan beranjak dari kursinya untuk kembali menuju Ruang kerjanya.


“Belum pergi?” tanya Bianca saat melihat Gilen yang masih berada didalam Ruangannya.


“Aku tidak bisa pergi,” ucap Gilen.

__ADS_1


“Kenapa?”


“Kekasihku belum memberiku Kecupan,” ucap Gilen.


“Jangan konyol. Pergilah temui Kekasihmu. Untuk apa tetap berdiam diri disini?” kesal Bianca sembari duduk di Kursi Kerjanya.


Gilen kemudian bangkit dari Sofa dan berjalan kearah Bianca. “Ada apa?” ketus Bianca.


Gilen kemudian menarik mundur kursi Bianca dan membungkuk dihadapan Wanita itu. Cup. Pria itu dengan cepat mengecup bibir milik Bianca.


“Hei! Jangan kurang ajar!” jerit Bianca sembari memukul tubuh Gilen.


Gilen pun terkekeh saat melihat ekspresi Bianca. “Kau imut sekali,” goda Gilen sembari menarik pelan hidung Bianca.


“Jangan sentuh aku. Pergi sana!” ujar Bianca kesal.


“Baiklah. Aku akan pergi,” ucap Gilen kemudian pergi keluar dari ruangan Wanita itu.


“Jangan pernah kembali lagi atau aku sendiri yang akan menendangmu keluar Brengsek!” kesal Bianca merutuki Gilen.


“Dia pikir aku ini apa? Main cium seenaknya!” gerutu Bianca.


“Ada apa?” tanya Mike yang tiba-tiba nongol.


“Kau datang?” ucap Bianca.


“Aku membawakanmu makan siang. Oh ya, aku bertemu Gilen. Kalian, ada urusan apa?” tanya Mike sembari meletakkan makanan dimeja.


“Entahlah. Aku juga tidak tahu kenapa dia tiba-tiba datang kemari,” ucap Bianca.


“Makanlah dulu. Aku masih ada kerjaan,” ucap Bianca.


“Tidak. Aku ada urusan. Jadi tidak bisa menemanimu makan,” ucap Mike.


“Oh ya? Ada urusan apa?” tanya Bianca.


“Urusan kantor. Nanti aku akan menemuimu lagi. Jangan lupa dimakan ya?” ucap Mike.


“Iya. Terimakasih makan siangnya,” ucap Bianca.


Mike pun berjalan kearah Bianca dan mengecup pucuk kepala Wanita itu sembari mengacak rambutnya. “Sudah pergilah,” ucap Bianca dan mencoba mendorong tubuh Mike pelan.


“Baiklah-baiklah. Selamat bekerja,” kekeh Mike kemudian pergi meninggalkan Bianca.


“Pria itu benar-benar tidak mau menyerah ya?” gumam Bianca sembari menatap pintu ruangannya yang baru saja tertutup.

__ADS_1


“Apa aku yang harus mencoba membuka hati untuknya?”


__ADS_2