
“Apa aku yang harus mencoba membuka hati untuknya?”
“Hah sudahlah. Biarkan saja dulu seperti ini,” ucap Bianca sambil menghela nafas panjang.
Bianca pun melanjutkan pekerjaannya hingga lupa waktu. Hari pun semakin gelap, Butik miliknya pun sudah tutup. Wanita itu akhirnya memutuskan untuk pulang karena merasa sedikit lelah.
“Kalau aku mati lalu terlahir kembali, aku berharap menjadi Putri dari konglomerat. Biar aku bisa hidup nyaman tanpa bekerja,” ucap Bianca sembari meregangkan tubuhnya.
“Bianca?” ucap Raka sembari menepuk pundak Bianca.
“Astaga! Kau membuatku terkejut!” racau Bianca sembari membalikkan badannya.
“Hahaha. Kau bicara dengan siapa?” tanya Raka.
“Bicara dengan diri sendiri. Kau baru pulang?” tanya Bianca kemudian melirik tas kerja Raka.
“Iya,” ucap Raka.
“Apakah kau benar-benar seorang CEO?” ejek Bianca.
“Hei, apa maksudmu?” kesal Raka.
“Tidak. Kau terlihat seperti pegawai. Contohnya Office Boy,” ejek Bianca.
“Kau ini menyebalkan juga ya?” ujar Raka.
“Tidak juga,” ucap Bianca mengelak.
“Kau sudah makan?” tanya Raka tiba-tiba.
“Sudah. Tadi siang,” ujar Bianca.
“Apa kau sedang diet? Kenapa tidak makan malam?” tanya Raka.
“Aku lupa. Mungkin nanti aku akan membelinya di supermarket,” ucap Bianca.
“Kau ini Wanita tapi tidak tahu mengurus diri. Tidak sehat bagimu jika memakan makanan Instan setiap hari,” ucap Raka.
“Lalu aku harus bagaimana? Aku sangat sibuk dan tidak punya waktu untuk memasak,” kesal Bianca kemudian berjongkok dipinggir jalan.
“Sudahlah. Ayo ke Apartemenku. Aku akan memasak untukmu,” ujar Raka.
“Tidak perlu. Aku tidak mau merepotkanmu. Kau pasti lelah setelah bekerja seharian,” ucap Bianca sembari menggeleng.
Raka kemudian ikut berjongkok dihadapan Bianca. “Tidak perlu sungkan. Kan aku yang mengajakmu,” ujar Raka.
“Tidak usah. Kau pasti lelah!” tolak Bianca.
Raka kemudian berdiri dan langsung menggenggam tangan Bianca kemudian menariknya menuju Apartemen miliknya. Setelah sampai, Raka pun langsung menuju dapur dan mulai memasak.
“Apa tidak merepotkan?”
“Tidak.”
“Apa kau tidak lelah?”
“Tidak.”
“Baiklah. Ada yang bisa kubantu?”
__ADS_1
“Tidak ada. Duduklah.”
“Apa Pacarmu tidak marah kau membawa Wanita lain?”
Tiba-tiba Raka berbalik badan dan mendekat kearah Bianca. Pria itu kemudian menghimpit tubuh Bianca hingga menabrak dinding dapur.
“Kau ini cerewet sekali ya?”
“Tidak juga,” ucap Bianca sembari memalingkan wajahnya.
“Menyingkirlah,” batin Bianca yang mencoba menstablikan detak jantungnya. Pasalnya, posisi tubuh mereka sangat berdekatan. Bahkan deru nafas Raka bisa ia rasakan.
“K-kau tidak jadi masak?” tanya Bianca gugup.
“Ah, aku hampir lupa,” ucap Raka kemudian kembali melanjutkan acara memasaknya itu.
“Apa kau benar-benar bisa memasak?” tanya Bianca sembari mendekat kearah Raka yang sedang fokus didepan kompor.
“Kau akan tahu nanti,” ucap Raka.
“Istrimu nanti pasti akan sangat senang karena mendapat Suami yang pandai memasak,” ujar Bianca kemudian menepuk tangannya.
“Benarkah?”
“Tentu saja!”
“Sepertinya tidak semua Wanita seperti itu,” ucap Raka dengan senyuman mirisnya.
“Kenapa? Apa kau pernah menikah dengan orang yang tidak menyukai masakanmu?” tanya Bianca dengan wajah lugunya.
“Tidak. Mantan Kekasihku berkata aku lebih cocok menjadi Ibu rumah tangga,” ucap Raka.
“Hei, dia sedang memujimu,” ujar Bianca.
“Kau pasti memiliki pengalaman tidak menyenangkan dengan Mantan Kekasihmu itu ya?” ucap Bianca.
“Ya begitulah. Kami putus saat menjelang pernikahan,” ucap Raka.
“Miris sekali. Yang sabar ya,” ujar Bianca sembari menepuk punggung Raka.
Mereka pun berbincang-bincang tentang kehidupan mereka masing-masing hingga makanan siap.
“Silahkan dicoba,” ucap Raka sembari duduk dihadapan Bianca.
“Hm. Enak sekali!” ujar Bianca sembari terus menyuap makanan kedalam mulutnya.
“Pelan-pelan. Kau bisa tersedak nanti,” ucap Raka kemudian menuangkan segelas air untuk Bianca.
“Kau berbakat sekali. Aku bahkan tidak bisa memasak seperti ini,” ucap Bianca.
“Pasti bisa asalkan kau mau belajar,” ucap Raka.
“Kau tidak makan?” tanya Bianca sembari melirik kearah Raka yang terus memperhatikannya.
“Aku tidak tertarik memakan masakanku sendiri,” ujar Raka.
“Kau ini sangat aneh. Untuk apa kau masak jika tidak mau memakannya?”
“Untuk diberikan kepadamu,” ucap Raka dengan senyuman manisnya.
__ADS_1
“Hais kau ini!” gerutu Bianca.
“Oh iya, apa kau sudah mempertimbangkan soal tawaranku?” tanya Raka.
“Hm sebenarnya begini, Tadi pagi tiba-tiba Perusahaan Gilen juga memberi tawaran kerja sama denganku. Dan ternyata tawaran yang kalian berikan kepadaku itu tawaran dengan acara yang sama. Aku jadi sedikit bimbang,” ucap Bianca.
“Benarkah? Aku tidak tahu bahwa Perusahaan Gilen mengikuti Acara ini,” ucap Raka.
“Kalau begitu, apa kau bisa mempertimbangkan secepatnya? Karena waktu kita sudah sangat mepet,” ucap Raka.
“Kau memaksaku ya?” ujar Bianca sembari menyipitkan kedua matanya.
“Hei mana mungkin aku memaksamu,” elak Raka.
“Baiklah-baiklah. Omong-omong kenapa kau tinggal sendiri disini?” tanya Bianca.
“Aku lebih nyaman tinggal sendiri seperti ini,” ucap Raka.
“Hah, kau memang Pria berdarah dingin ya,” ujar Bianca.
Raka pun tak menggubris perkataan Wanita itu dan memilih untuk tersenyum saja. Beberapa saat kemudian, mereka pun mengobrol disofa ruang tamu Apartemen Raka.
“Apa mau minum bir?” tanya Raka.
“Tidak deh. Aku harus lembur malam ini,” tolak Bianca sembari melirik jam dinding.
“Bukankah lembur ditemani bir lebih menyenangkan? Kau juga bisa bekerja disini,” ucap Raka.
Bianca pun terdiam sejenak sembari memandang wajah Raka. “Hm, apakah tidak mengganggu istirahatmu?” tanya Bianca kemudian menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Tidak. Kalau begitu aku akan pergi membeli bir terlebih dahulu ya?”
“A-ah baiklah. Oh ya, aku ingin ke toilet. Dimana ya?”
“Disitu,” ujar Raka kemudian menunjuk toilet yang terletak tak jauh dari ruang tamu.
Bianca kemudian pergi ketoilet untuk membasuh mukanya agar terlihat lebih fresh. Tapi saat ia didalam toilet, tiba-tiba Raka mengetuk pintu tersebut.
“Aku membawakanmu baju ganti dan handuk. Siapa tahu kau ingin mandi,” ujar Raka dari luar.
Bianca kemudian membuka pintu. “Terimakasih,” ucap Bianca.
Bianca pun memutuskan untuk membersihkan diri dan memakai hoodie dan celana panjang yang diberikan oleh Raka agar lebih nyaman saat lembur nanti. Setelah selesai, Bianca keluar dan menunggu Raka di sofa. Wanita itu berbaring sembari bermain ponselnya.
“Halo?” ucap Bianca saat mengangkat telepon.
“Kau dimana?” tanya Mike yang ternyata menghubungi Bianca.
“A-ah aku sedang ada urusan. Kenapa?”
“Aku didepan kamarmu. Aku pikir kau ada didalam,” ucap Mike.
“Sepertinya aku tidak pulang. Kita bertenu besok saja ya?”
“Kau menginap dimana?”
“Di, em dirumah Mauren!”
“Oh begitu. Yasudah, sampai bertemu besok!”
__ADS_1
Bianca pun menutup ponselnya. Dan kebetulan sekali, pintu terbuka menandakan Raka telah kembali. Bianca pun langsung bangkit dan duduk sembari merapihkan rambutnya.
“Kau terlihat cantik saat memakai itu.”