
“Apa yang kau lakukan?”
Alice dan Bianca serta Satu Perawat Wanita lainnya menoleh kesumber suara. Gilen. Pria itu sudah berada didalam ruangan sembari mengepalkan tangannya dan menatap tajam kearah Alice yang masih mengenakan baju perawat.
“S-saya akan menyuntikkan obat pereda nyeri kepada Nona,” gumam Alice yang dapat didengar oleh semua orang.
Belum sempat menyuntikkannya, Gilen langsung menarik tangan Alice dan mengambil suntikan dari tangannya. Alice pun langsung menunduk dan tak berani bertatapan mata dengan Gilen. Beberapa Pria berjas hitam pun masuk dan mengamankan kedua Perawat itu.
“Caca kau tidak apa?” tanya Gilen khawatir.
“Hm,” ucap Bianca sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar.
“Dia memasang cctv ternyata. Pantas saja dia tahu,” batin Bianca sambil memicingkan matanya.
“Apa dia bisa mendengar percakapan tadi?” batin Bianca kemudian melirik kearah Gilen yang sedang menatapnya.
“Ekhem,” Bianca kemudian berdehem seolah ia sedang kesakitan. Gilen pun reflek langsung mendekat dan menanyakan keadaan Istrinya itu.
“Apa ada yang sakit?” tanya Gilen khawatir sembari menyentuh lengan Bianca. Bianca kemudian menepis pelan tangan Gilen.
“Jangan takut. Aku adalah Suamimu. Tunggu sebentar, Aku akan segera memanggil Dokter,” ucap Gilen kemudian pergi.
“Oh? Dia belum tau ternyata. Baguslah,” batin Bianca dengan ekspresi datar.
Beberapa saat kemudian Dokter Hans datang dan memeriksa kondisi tubuh Bianca. “Nona bagian mana yang tidak nyaman?” tanya Dokter Hans.
“Kepalaku sedikit sakit. Dokter apa aku akan lumpuh selamanya?” tanya Bianca dengan raut wajah sedih.
“Nona tenang saja. Nona tidak lumpuh permanen. Lebih baik Nona beristirahat dan tidak perlu memikirkan hal yang lain,” ucap Dokter Hans dan diangguki oleh Bianca.
Dokter Hans kemudian keluar. Ia kemudian berbicara dengan Gilen dan Gavin yang berada didepan pintu tentang keadaan Bianca.
“2 Perawat yang tadi apakah bawahanmu?” tanya Gilen pada Dokter Hans.
“Perawat yang mana Tuan Muda? Sepertinya saya tidak menyuruh orang untuk kesini,” ucap Dokter Hans kebingungan.
“Tidak. Lanjutkan saja pekerjaanmu,” ucap Gilen sembari memijat keningnya.
Dokter Hans kemudian berpamitan dan pergi.
“Jangan berlagak bodoh. Alice yang datang kemari dan ingin membunuh Bianca,” sahut Mike yan baru saja tiba.
“Mike? Bagaimana kau tahu?” tanya Gavin.
__ADS_1
“Aku sudah berkata aku akan melindungi Bianca. Mana mungkin aku tidak tahu soal ini?” celetuk Mike kemudian melirik kearah Gilen.
“Kau sudah menangkap kedua orang itu tapi masih tidak tahu? Kau bukanlah orang bodoh dan aku tahu itu,” ucap Mike pada Gilen.
“Gilen sudah cukup untuk melindungi Alice. Kau benar-benar bisa kehilangan Istrimu jika seperti ini terus!” geram Gavin pada Gilen yang hanya bisa diam mematung.
“Terimakasih karena selalu mengingatkanku,” ucap Gilen sembari menepuk pundak Gavin.
“Wanita itu sangat berbahaya. Kalau kau tidak mau turun tangan, biarkan aku yang melakukannya,” ucap Mike seraya menggulung lengan bajunya hingga siku.
“Benar kata Mike. Kalau dia tetap dibiarkan seperti itu, aku tidak menjamin Bianca akan aman,” ucap Gavin.
“Aku akan mengurusnya. Kalian tidak perlu ikut campur,” ucap Gilen.
“Sebaiknya kali ini kamu melakukannya dengan benar,” ucap Mike.
Ketiga Pria itu kemudian masuk kedalam ruangan Bianca dan mendapati Bianca yang sedang menonton Tv sembari memakan buah. Bianca yang melihat Ketiga Pria itu masuk pun hanya bersikap cuek dan terus melanjutkan aktivitasnya.
“Bi apa kau sudah baikan?” ujar Mike dengan senyuman manisnya sembari mendekat kearah Bianca.
“Sudah. Tapi maaf Tuan, kau ini siapa?” tanya Bianca dengan wajah lugunya.
“Eh? Kau melupakanku? Aku kan pangeranmu,” ujar Mike kemudian mengacak rambut Bianca.
Melihat itu, Gilen memasang wajah tidak senang karena terbakar api cemburu. Gilen kemudian pergi meninggalkan ruangan dan menyisakan Gavin dan Mike yang masih menemani Bianca.
“Cepatlah pulih. Kami akan membawamu berjalan-jalan,” ucap Gavin.
“Sebenarnya kalian ini siapa? Apa kalian Kakakku?” tanya Bianca.
“Benar aku adalah Kakakmu,” ujar Gavin antusias.
“Kau bohong. Wajah kita tidak mirip,” celetuk Bianca.
“Hais kau ini. Dia bukan anak kecil lagi yang bisa kau bodohi,” ujar Mike merutuki Gavin.
“Tidak perlu tahu siapa kami. Yang jelas kami tidak akan menyakitimu,” ucap Gavin dengan senyuman manisnya yang membuat Bianca semakin terharu.
“Terimakasih,” ucap Bianca dengan kepala tertunduk.
Mereka pun melewati hari-hari dirumah sakit untuk bergantian menjaga Bianca. Bahkan Mike rela mengambil cuti untuk ikut serta membantu menjaga Bianca dalam proses pemulihannya. Hingga tiba hari dimana Wanita itu diperbolehkan pulang kerumah oleh Dokter.
“Em, Ibu ku apa tidak datang mengunjungiku?” tanya Bianca dengan wajah lugu pada Ketiga Pria yang berada dalam satu mobil dengannya.
__ADS_1
“Ibu sedang diluar negeri untuk urusan bisnis. Dia akan segera mengunjungimu setelah dia kembali nanti,” jawab Gilen.
“Hm. Baiklah,” ucap bianca.
“Dia benar-benar tidak ingat?” batin Ketiga Pria itu sembari menatap sendu kearah Bianca yang sedang menatap keluar jendela mobil.
Tak berselang lama, mereka pun akhirnya tiba di Mansion Gilen. “Kemari. Aku akan membantumu,” ucap Gilen yang sudah memasang posisi untuk menggendong Bianca.
“Tidak perlu. Aku akan naik kursi roda saja,” tolak Bianca kemudian dibantu oleh Mike untuk naik kekursi roda.
Mereka kemudian masuk kedalam Mansion dan membawa Bianca untuk beristirahat dikamar. “Beritahu kami jika membutuhkan sesuatu ya!” ujar Gavin pada Bianca.
“Terimakasih,” ucap Bianca.
“Hah, kamar ini lagi,” batin Bianca yang masih trauma akibat kejadian saat ia melihat Alice dan Gilen berciuman.
“Bertahanlah. Setelah pulih, aku akan keluar dari sini,” batin Bianca dengan mata terpejam.
Cup.
“Kau,” ujar Bianca terlonjak kaget saat Gilen tiba-tiba menciumnya.
“Kenapa? Kau adalah Istriku. Apa tidak boleh jika aku menciummu?”
“A-aku hanya sedikit tidak nyaman,” ucap Bianca kemudian memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
“Kau ini menggemaskan sekali,” ucap Gilen dengan kekehan kecilnya.
“Caca. Terimakasih untuk bertahan sejauh ini. Maaf karena aku tidak menjagamu dengan baik,” ucap Gilen sembari menggenggam erat jari tangan Istrinya itu.
“Tidak perlu berkata seperti itu. Ini bukan salahmu,”
balas Bianca dengan air mata yang sudah menumpuk dipelupuk matanya.
“Ini salahku. Jika bukan karena aku, kau tidak akan menjadi seperti ini,” lirih Gilen.
“Oh ya? Bolehkah kau menceritakan kenapa aku bisa sampai seperti ini?” ucap Bianca.
“Nanti aku akan menceritakannya. Lebih baik kau Istirahat dulu. Aku akan membantumu berbaring dikasur,” ucap Gilen.
“Tidak perlu. Aku masih ingin disini,” ucap Bianca yang masih duduk dikursi roda sembari menikmati pemandangan dari jendela kamarnya.
“Baiklah,” ucap Gilen.
__ADS_1
“Kenapa sangat susah untuk mengabaikanmu?” batin Bianca.