Istri Kesayangan Milliader Tampan

Istri Kesayangan Milliader Tampan
• IKMT 27 •


__ADS_3

“Kau terlihat cantik saat memakai itu,” puji Raka saat melihat Bianca mengenakan baju yang ia berikan tadi.


“Aku memang selalu cantik. Kau tidak perlu memujiku,” ujar Bianca percaya diri.


“Iya. Kau memang cantik,” ucap Raka sembari menaruh kantong plastik berisi beberapa kaleng bir diatas meja.


“Aku juga membeli ayam untuk menemani kita minum,” ucap Raka.


“Wah, pasti lezat sekali!” ujar Bianca antusias.


“Tentu saja,” ucap Raka.


Bianca pun mengambil sekaleng Bir lalu ia minum. “Argh, nikmatnya,” ujar Bianca.


“Apa mau battle minum?” tantang Raka.


“Tidak. Aku takut akan menggila jika terlalu banyak minum,” tolak Bianca.


Kedua nya pun minum diselingi Bianca memeriksa pekerjaannya di laptopnya. Hingga beberapa saat kemudian, Bianca sudah terlihat mabuk berat.


“Kau sudah mabuk?” tanya Raka saat melihat Bianca memejamkan matanya diatas sofa dengan tangan yang masih menggenggam kaleng bir.


“Mana mungkin! Aku ini sangat kuat!” ujar Bianca.


“Heh, sudah mabuk rupanya,” gumam Raka dengan senyuman kecilnya.


“Kau siapa? Kenapa kau tampan sekali?” ucap Bianca kemudian menangkup kedua pipi Raka.


“Aku? aku Suamimu,” ucap Raka kemudian tersenyum.


“Benarkah? Aku tidak ingat bahwa aku sudah memiliki Suami,” ucap Bianca sempoyongan.


“Coba cium aku. Kau pasti akan mengingatnya,” ujar Raka.


“Aku? Menciummu? Tidak! Mana ada Wanita yang mencium Pria terlebih dahulu!”


Raka pun langsung mencium bibir tipis milik Bianca dalam kondisi sadar. “Kenapa sebentar sekali? Kau tidak mencintaiku ya?” gerutu Bianca sembari mempoutkan bibirnya.


“Lalu kau ingin bagaimana hm?” ucap Raka kemudian menangkup kedua pipi Bianca.


“Seperti i-“ belum selesai Bianca mengucapkan kata-katanya, tiba-tiba ponselnya berdering. Keduanya pun terkejut dan langsung menoleh kearah ponsel milik Bianca itu.


“Cih, mengganggu saja,” gumam Raka.


“Halo. Siapa ini?” ucap Bianca sempoyongan.


“Kau mabuk? Kau dimana?” tanya Mike khawatir.


“Aku tidak mabuk! Aku sedang bersenang-senang bersama Suamiku!”


“Suami? Siapa? Gilen?” tanya Mike kebingungan.


“Sejak kapan kau punya suami?” lanjut Mike.

__ADS_1


“Eh, kau tidak tahu? Suamiku ini sangat tampan loh!” ujar Bianca sembari tersenyum kearah Raka.


“Siapa Suamimu? Kau dimana?!” ucap Mike dengan nada yang mulai meninggi.


“Ck, jangan mengganggu kami,” ucap Raka kemudian merebut telepon Bianca dan mematikannya.


“Brengsek!” umpat Mike.


Pria itu kemudian segera mengambil jaketnya dan pergi menuju Apartemen Bianca. Sementara Raka dan Bianca, kedua insan itu mulai kehilangan kendali. Bianca kini sudah berada dibawah kukungan Raka yang semakin mengganas. Sementara itu, Ponsel milik Bianca sedari tadi bergetar karena panggilan masuk dari Mike.


“Ah, pelan sedikit,” rintih Bianca.


“Kau semakin cantik jika dilihat dari dekat,” bisik Raka seduktif ditelinga Bianca.


“Jangan menggombal. Aku tahu aku memang cantik,” ujar Bianca yang masih belum sadar.


Raka pun mulai memasukkan tangannya kedalam hoodie Bianca dan mengelus perut rata Wanita itu.


“Apa kau tidak mau melarikan diri?” tanya Raka.


“Kenapa aku harus melarikan diri dari Suamiku?” ucap Bianca kemudian mengalungkan tangannya dileher Raka.


“Kau percaya padaku?” tanya Raka.


“Tentu saja,” ujar Bianca dengan senyuman manisnya.


“Kau ini memang sangat berbahaya jika mabuk,” ucap Raka kemudian menjatuhkan tubuhnya di samping Bianca.


“Ck, Wanita ini,” gumam Raka kemudian mengelus lembut surai Bianca.


Saat hendak tidur, tiba-tiba bel berbunyi. Raka pun dengan perlahan turun dari kasur dan pergi membuka pintu.


“Brengsek!” murka Mike dan langsung memukul wajah Raka tanpa ampun.


Raka yang tidak terima pun membalas pukulan Mike hingga terjadi tragedi pukul memukul untuk beberapa saat.


“Apa yang kau lakukan padanya Brengsek!” maki Mike pada Raka.


“Memangnya apa yang kulakukan?” ucap Raka sembari menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.


Mike kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh apartemen Raka. Dan benar saja, ia mendapati tas, laptop, dan beberapa barang milik Bianca. Mike kemudian masuk kedalam kamar Raka dan mendapati Bianca yang sedang tertidur pulas dengan baju yang tak karuan.


“Kenapa? Kau merasa kalah?” ucap Raka dengan nada ejekan.


“Kau, apa yang sudah kau perbuat padanya?” ucap Mike dengan nada dingin.


“Kami hanya bersenang-senang. Apa aku harus menjelaskan detailnya padamu?” ucap Raka.


Saat Mike hendak masuk, Raka langsung menahan Mike. “Jangan berani sentuh dia,” geram Raka.


“Memangnya kau siapa? Apa hakmu melarangku?” ujar Mike menggertak Raka.


“Aku Kekasihnya. Aku berhak untuk melarang Pria lain menyentuhnya!” ujar Raka dengan nada penuh penekanan.

__ADS_1


Mike pun menatap wajah Raka dengan penuh emosi. “Heh,” geram Mike dengan senyuman sinisnya. Mike kemudian pergi dari Apartemen Raka dan membanting pintu.


“Siapa suruh mau bersaing denganku,” ujar Raka.


Pria itu kemudian membersihkan diri agar dapat tidur dengan fresh. Setelah itu, dia berberes sebentar sebelum akhirnya kembali kekamar dan tidur disamping Bianca.


“Gilen sangat bodoh karena melepasmu,” gumam Raka sembari menatap wajah Bianca.


Raka pun tertidur sembari memeluk tubuh mungil milik Bianca. Keesokan harinya, keduanya terbangun karena sinar matahari yang masuk menembus jendela kamar Raka.


“Ughh,” lenguh Bianca sembari membuka matanya.


Ia kemudian mengucek pelan kedua matanya dan mencoba melihat sekelilingnya. Betapa terkejutnya ia saat melihat Raka yang tertidur disebelahnya tanpa mengenakan busana. Bianca pun langsung terbangun dan meraba tubuhnya.


“Ini masih pagi. Tidurlah,” ucap Raka kemudian menarik tubuh Bianca kembali kedalam pelukannya.


“Apa aku sudah gila?” batin Bianca sembari terus mematung.


“Hm, cobalah untuk mengingat apa yang terjadi tadi malam,” ucap Raka sembari mengendus leher Bianca.


“A-apa yang terjadi?” tanya Bianca gugup.


“Hah, sedih sekali kalau kau tidak mengingatnya,” ucap Raka.


“Apa perlu ku ingatkan kembali?” bisik Raka dengan tangan yang mulai meraba masuk kedalam hoodie Bianca.


Bianca pun segera menahan tangan Raka dan mencoba menatap wajah Pria itu. “Apa aku benar-benar sudah melakukannya?” batin Bianca gelisah.


“Apa aku tampan?” tanya Raka dengan percaya diri.


“Jangan gila kau. Dengarkan aku, tadi malam aku sepertinya memang tidak bisa mengendalikan diri. Jadi-“


“Jadi apa?” sela Raka.


“Kau ingin mengatakan bahwa ini kesalahan dan aku harus melupakannya?” lanjut Raka.


“T-tidak! Bukan begitu,” tukas Bianca.


“Lalu bagaimana?”


“Em, ah pokoknya lupakan saja!”


Raka pun tiba-tiba mencium bibir Bianca. Bianca pun mencoba mencerna situasi sebelum akhirnya mencoba mendorong tubuh Raka pelan.


“A-aku harus pergi,” ucap Bianca kemudian hendak bangkit tetapi kembali ditarik oleh Raka.


“Apa kau tidak mau bertanggung jawab?”


“Hah? Bertanggung jawab soal apa?”


Raka kemudian menindih tubuh Bianca dengan secepat kilat. “Soal ini,” ucap Raka kemudian mengecup leher Bianca.


“H-hei! Hentikan!”

__ADS_1


__ADS_2