
“Gilen sudah cukup! Jangan sampai membuat Ibu marah hanya karena kau terus-terusan membela Wanita itu. Buka matamu! Dia mencelakai Istrimu!” bentak Sang Ibu.
“Ibu aku bukan membela dia, aku hanya-“
“Sudah cukup. Ibu tidak mau mendengar alasan apapun lagi. Kalau kau lebih membela Wanita itu jangan pernah anggap aku sebagai Ibumu lagi,” ujar Sang Ibu yang kemudian pergi meninggalkan Gilen dengan emosi yang masih menggebu-gebu.
“Anak itu memang semakin kelewatan batas,” gumam Nyonya Farensca sembari berjalan menuju kamar Bianca.
Nyonya Farensca kemudian mengetuk pintu kamar Bianca sebelum ia masuk.
“Ibu?” ucap Bianca saat melihat Sang Ibu Mertua datang dengan wajah emosi.
“Ibu, ada apa?” tanya Bianca.
“Bianca, apa kamu sudah merasa lebih baik?” tanya Nyonya Farensca.
“Iya Ibu. Ibu ada masalah apa? Kenapa Ibu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu?” tanya Bianca.
“Tidak Nak. Tidak ada apa-apa,” ucap Nyonya Farensca sembari mengelus tangan mungil Menantunya itu.
“Ibu Terimakasih!” ucap Bianca seraya memeluk Inu Mertuanya itu.
“Untuk apa Nak?”
“Karena Ibu sudah sangat menyayangiku,” ujar Bianca.
“Tentu saja Ibu harus menyayangimu. Kau kan Anak Ibu,” balas Nyonya Farensca.
Keduanya pun berbincang-bincang hingga larut malam. Diluar kamar, Gilen berdiri dan menyaksikan Istri dan Ibu nya yang sangat penuh semangat dan penuh kasih sayang itu. Ia tidak masuk dan lebih memilih untuk pergi daripada mengganggu Keduanya. Saat Ayah Gilen tiba, Ibu Mertuanya pun langsung berpamitan pada Bianca dan menyuruh Bianca untuk Istirahat.
“Halo Paman,” sapa Gavin pada Ayah Gilen yang akrab disebut dengan panggilan Paman Bagas.
“Halo. Kalian ini sudah tua masih saja bermain Game,” ejek Tuan Bagaskara saat melihat Gavin dan Mike masih asyik bermain.
“Ini kan untuk refreshing saja Paman,” celetuk Mike.
“Dimana Bibi?” tanya Tuan Bagaskara.
“Dia berada dikamar Bianca, Paman,” ucap Mike.
“Pah, kenapa lama sekali?” tanga Nyonya Farensca yang tiba-tiba muncul dan mulai menuruni tangga.
__ADS_1
“Maaf, tadi keasyikan mengobrol dengan rekan,” ucap Tuan Bagaskara pada Istrinya.
“Paman dan Bibi akan menginap?” tanya Gavin.
“Tidak Gavin. Besok kami ada urusan undangan diluar kota jadi harus berangkat malam ini,” ucap Nyonya Farensca.
“Paman dan Bibi ini masih saja sibuk,” celetuk Mike.
“Lain kali Paman dan Bibi harus menginap bersama kami ya!” lanjut Mike.
“Iya Mike. Kalau begitu kami pergi dulu ya. Kalian hiburlah Gilen dan jangan lupa untuk terus memantau Bianca,” ucap Nyonya Farensca.
“Baik Bibi. Hati-hati dijalan!” ujar Gavin dan Mike bersamaan.
Setelah Kedua Orang Tuanya pergi, Gilen keluar dan menemui Kedua Temannya itu. “Kau bertengkar dengan Ibumu?” tanya Gavin sembari menoleh kearah Gilen yang baru akan duduk.
“Entahlah. Aku juga tidak yakin,” ucap Gilen dengan helaan nafas yang cukup panjang.
“Ibumu itu sangat menyayangi Bianca seperti anaknya sendiri. Mana mungkin dia tega melihat Bianca seperti itu karena ulahmu,” ucap Gavin.
“Biarkan Ibu mu yang mengurusnya. Kau tidak usah ikut campur. Ini demi kebaikanmu dan Bianca juga,” lanjutnya.
“Memang! Kenapa kau baru menyadarinya sekarang?!” celetuk Mike yang sedari tadi diam dan hanya menyimak pembicaraan Kedua temannya.
Waktu terus berlalu, Kini tiba saatnya dimana Persidangan dimulai. Keluarga Alice dan Keluarga Gilen beserta Gavin, Mike dan Bianca pun turut hadir di dalam persidangan itu.
“Caca, apa kau tidak nyaman?” bisik Gilen pada Bianca yang tengah melamun.
“Hah? Eh, tidak. Aku baik-baik saja,” ucap Bianca.
Persidangan pun berjalan lancar. Alice dijatuhi hukuman 15 tahun penjara. Setelah sidang selesai, Gilen yang merasa bersalah pada Keluarga Alice langsung menghampiri Kedua Orang Tua Alice.
“Bibi, Maaf,” ujar Gilen sembari berlutut dihadapan Ibu Alice. Ibu Alice yang sudah terlanjur sakit hati pun langsung memalingkan wajahnya dan tak mau menatap Gilen.
“Bibi aku akan memberimu hadiah sebagai tanda maafku,” ucap Gilen.
“Tidak perlu. Kau tidak usah melakukan hal sia-sia seperti itu. Aku tidak akan memaafkanmu,” ujar Ibu Alice.
“Gilen! Kau tidak pulang?” panggil Nyonya Farensca yang kesal karena melihat Gilen berlutut di hadapan Ibu Alice.
“Duluan saja Ibu,” ucap Gilen.
__ADS_1
Tiba-tiba Bianca menghampiri Gilen beserta Kedua Orang Tua Alice.
“Bibi, Perkenalkan Saya Bianca. Saya mau minta maaf karena sudah membuat Alice masuk penjara. Tapi asal Bibi tahu, dia tidak akan masuk penjara kalau dia tidak melakukan hal bodoh seperti ini. Kau lihat aku sekarang, aku bahkan tidak bisa menggunakan kedua kaki ku untuk sementara karena Alice. Jadi, aku berharap Paman dan Bibi bisa mengerti,” ucap Bianca.
“Heh, Alice tidak mungkin melakukan ini jika bukan kamu yang merebut Gilen,” gumam Ibu Alice yang bisa didengar oleh semua orang termasuk Kedua Orang Tua Gilen.
“Jaga mulut anda. Saya tidak segan mengirim anda kedalam penjara bersama Putri Anda,” sahut Nyonya Farensca dengan nada penuh penekanan.
“Silahkan saja! Jangan karena kamu Kaya kamu bisa seenaknya dengan Keluarga kami!” geram Ibu Alice yang tiba-tiba bangkit dan membanting kursi.
“Saya tidak akan memperlakukan orang seenaknya jika orang itu memperlakukan saya dengan baik. Anak Anda yang duluan mengusik Keluarga Anak Saya. Jangan lupa akan hal itu!” ujar Nyonya Farensca.
“Gilen, kau berjanji untuk selalu melindungi Alice! Apa ini caramu menepati janji pada kami?!”
“Bibi jangan menyalahkan Gilen. Dia bahkan mau mengirim Alice pergi agar Alice aman,” sahut Gavin.
“Aku tidak bicara denganmu! Kau bahkan membela Keluarga mereka!” ujar Ibu Alice dengan emosi yang semakin menggebu-gebu.
“Bibi, maaf,” ujar Gilen tak berdaya.
“Dimana harga dirimu Gilen? Pantaskah kau minta maaf demi Keluarga yang sudah mencelakai Istrimu? Kau benar-benar mengecewakan kami,” ujar Nyonya Farensca.
“Gilen ini benar-benar mencintai Alice?” batin Bianca dengan raut wajah sedih.
Mike kemudian mengelus pundak Bianca seakan mengerti dengan perasaan Wanita itu. “Kalau dia benar-benar mencintai Alice, aku seharusnya tidak menjadi penghalang bagi mereka kan?” batin Bianca.
“Alice melakukan itu karena dia sangat mencintaimu! Kau yang menghianati Alice!” murka Sang Ibu sambil menunjuk-nunjuk kearah Gilen.
“Bibi, tapi aku dan Alice sudah putus sejak lama,” ujar Gilen.
Suasana pun semakin ricuh dengan jeritan dari Ibu Alice yang terus memaki-maki Gilen. Kedua Orang Tuan Gilen juga hanya menyaksikan tanpa berniat membuka suara lagi. Sampai akhirnya Bianca geram dan mencoba menghentikan kegaduhan itu.
“Sudah cukup! Aku akan mengeluarkan Alice. Apa Bibi puas?”
“Ck, aku tidak sudi menerima bantuanmu,” ucap Ibu Alice sambil berkacak pinggang.
“Aku tidak peduli. Aku melakukannya bukan untukmu. Aku akan mengeluarkan Alice dan menceraikan Gilen supaya mereka bisa menikah. Itu kan yang kau harapkan?” ujar Bianca dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Bianca kemudian melirik kearah Gilen sebelum akhirnya menjalankan kursi rodanya dan pergi meninggalkan semua orang yang masih mematung.
“Itulah akibat jika kau terus membela Wanita itu!”
__ADS_1