
Beberapa bulan kemudian.
“Bianca, apa kau akan datang ke acara pernikahanku?” tanya Mauren yang berbicara dengan Bianca melalui telepon.
“Tentu saja. Mana mungkin aku tidak hadir di acara sepenting ini?” ucap Bianca.
“Apa kau tidak sibuk?” tanya Mauren mencoba memastikan.
“Aku akan mengosongkan jadwalku untukmu. Apakah kau senang?”
“Terimakasih Bi! Kau memang yang terbaik!” ucap Mauren yang langsung kegirangan saat mendengar kabar bahwa Bianca bisa hadir.
Setelah telepon terputus, Bianca kembali ke Ruang kerjanya dan melanjutkan pekerjaannya dengan serius. Tapi tak lama setelah itu, Pintu ruangannya diketuk oleh seseorang. Setelah Bianca mempersilahkan masuk, Pintu terbuka dan menunjukkan Mike datang dengan membawa sebuah pizza berukuran besar ditangannya.
“Kenapa lama sekali?” tanya Bianca dengan raut wajah kesal.
“Maaf. Aku ada urusan sebentar,” ucap Mike kemudian menaruh pizza yang ia bawa di meja.
Bianca pun menghampiri Mike yang baru saja menjatuhkan pantatnya disofa empuk milik Bianca.
“Aku sangat lapar,” ucap Bianca kemudian memakan sepotong Pizza yang dibawa oleh Mike.
“Kau bekerja terlalu keras sampai lupa untuk makan,” ucap Mike.
“Hais, sebentar lagi Acara pertunjukan busana akan dimulai. Aku harus mempersiapkan semuanya dengan rapi. Aku tidak mau penampilan pertamaku gagal,” ucap Bianca dengan mulut penuh.
“Hei, selesaikan dulu mengunyahnya baru bicara,” celetuk Mike.
“Kau tahu, aku sangat stres. Pokoknya setelah acara selesai aku akan pergi berlibur!” racau Bianca.
“Jangan banyak mengeluh. Jika kau bekerja keras pasti hasilnya akan bagus nanti,” ucap Mike.
“Hm. Mike, apa kau mau menjadi modelku?” ucap Bianca tiba-tiba.
“E-eh kenapa tiba-tiba sekali?” tanya Mike.
“Aku kekurangan model Pria. Bantu aku ya? Aku mohon!” rengek Bianca pada Mike dengan wajah memelas.
“Aku sudah lama tidak menjadi model. Akan sangat kaku bagiku jika tiba-tiba naik ke panggung nantinya,” ucap Mike.
“Kau hanya perlu berlatih sedikit agar tidak kaku. Ayolah bantu aku. Apa kau tega melihat acaraku berantakan hiks,” bujuk Bianca.
“Hais. Baiklah, baiklah. Aku mana bisa menolak keinginanmu,” ucap Mike pasrah.
“Kau memang yang terbaik! Terimakasih ya,” ucap Bianca sembari melanjutkan makan siangnya.
Tapi lagi-lagi pintu ruangan Bianca diketuk oleh seseorang. “Masuk!” ujar Bianca.
__ADS_1
Pintu pun terbuka dan masuk seorang Wanita cantik dengan seragam kerjanya. “Nona, Nyonya Adeline mendesak untuk segera mengirim desain baju yang akan ditampilkan,” ucap Pegawai itu.
“Baik. Aku akan segera mengirimkan melalui email,” ucap Bianca.
“Baik Nona,” ucap Pegawai Wanita itu kemudian keluar dari ruangan.
“Hah, sepertinya aku akan lembur lagi,” ucap Bianca kemudian meregangkan tubuhnya sebelum akhirnya kembali ke meja kerjanya.
“Aku akan menemanimu,” ucap Mike.
“Tidak usah. Aku akan lembur di rumah tidak disini,” ucap Bianca.
“Oh. Baiklah,” ucap Mike.
Hari pun menjelang sore. Bianca dan Mike kemudian keluar dari butik milik Bianca yang baru saja diresmikan beberapa minggu lalu. Mereka kemudian berjalan kaki menuju Apartemen Bianca yang terletak tak jauh dari Butik miliknya.
“Apa kau tidak ingin melakukan sesuatu?” tanya Bianca pada Mike.
“Maksudmu?”
“Beberapa bulan ini kau menganggur. Apa kau tidak bosan?” tanya Bianca.
“Entahlah. Akhir-akhir ini, Ayahku mendesakku untuk mulai bekerja diKantornya,” ucap Mike.
“Oh ya? Apa kamu setuju?” tanya Bianca.
“Hei, jangan terus menempel padaku. Kau juga harus mengembangkan karirmu,” celetuk Bianca.
“Apa kau tidak akan rindu padaku?” goda Mike.
“Cih, jangan mimpi,” celetuk Bianca sembari menyenggol pelan lengan Mike.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai didepan kamar Apartemen Bianca. “Apa mau mampir dulu?” tanya Bianca.
“Tidak. Aku ada urusan. Sampai jumpa,” ucap Mike kemudian pergi sembari melambaikan tangannya.
Bianca kemudian masuk dan melempar tasnya ke sembarang arah kemudian melompat keatas sofa empuknya itu. “Aku harus bisa sukses,” gumamnya sembari menutup kedua matanya.
“Hah, sangat membosankan,” lanjutnya sembari mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru Apartemen itu.
Ia kemudian melamun sembari menatap langit-langit dan mengingat kenangannya dulu saat ia masih menjadi Istri Gilen. Tanpa sadar, air matanya mulai jatuh. Beberapa bulan ini, ia terus menerus menangis saat ia sendiri. Ia bahkan berpikir untuk pergi ke Psikiater karena benar-benar merasa sangat terpuruk jika ia sendiri.
Bahkan sesekali ia ingin melakukan percobaan bunuh diri karena tidak sanggup lagi menjalani kehidupannya. Tapi ini adalah keputusan yang ia ambil demi kebaikan bersama. Makanya ia berusaha kuat dan berusaha untuk terlihat baik-baik saja didepan orang lain.
Bianca kemudian memilih untuk membersihkan diri sebelum akhirnya ia akan lembur untuk melanjutkan pekerjaan yang belum ia selesaikan. Wanita itu bekerja hingga larut malam. Ia bahkan melewatkan jam makan malamnya karena terlalu fokus bekerja.
“Aku lapar,” gumam Bianca sembari membuka kulkas yang tidak ada isinya itu.
__ADS_1
Bianca kemudian memutuskan untuk keluar dan pergi ke supermarket untuk membeli beberapa makanan.
“Maaf, kartu mu jatuh,” ucap Seorang Pria sembari menyodorkan kartu ATM milik Bianca.
“Terimakasih,” ucap Bianca dengan senyuman manisnya.
“Apa kau tinggal disini?” tanya Pria bertubuh semampai itu.
“Iya. Aku baru saja pindah 2 bulan yang lalu,” ucap Bianca.
“Oh begitu. Perkenalkan aku Raka. Aku tinggal dikamar 1405,” ucap Pria itu sembari menjulurkan tangannya.
“Ah benarkah? Aku tinggal di 1408, namaku Bianca,” ucap Bianca sedikit terkejut karena Pria didepannya adalah tetangganya.
“Ternyata kamar kita cukup dekat. Oh iya kau ingin kemana selarut ini?“ tanya Raka.
“Aku ingin kesupermarket untuk membeli makanan,” ucap Bianca.
“Apa mau kutemani?” tanya Raka to the point.
“Em, Boleh,” jawab Bianca.
Keduanya pun mulai turun dan berjalan bersama menuju supermarket yang tak terlalu jauh dari Apartemen mereka. “Kau sepertinya tidak asing,” ucap Raka.
“Ah benarkah?”
“Bukankah kau Mantan Istrinya CEO Gilen?” tanya Raka.
“Ah, ternyata kau mengetahuinya,” ucap Bianca sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu.
“Mana mungkin aku tidak tahu? Kalian sangat populer,” ucap Raka.
“Tidak juga,” ucap Bianca malu.
“Aku juga mendengar kau telah meresmikan butik milikmu ya?” ucap Raka.
“Iya. Baru beberapa minggu yang lalu,” balas Bianca.
“Kalau kau mau, apa mau bekerja sama denganku?”
“Bekerja sama? Dalam hal apa?”
“Jadi begini, Perusahaan kami sedang mencari Desaigner berbakat untuk membuat Desain terbaru. Desain ini akan kami kirim ke Acara Fashion Show di Negara C. Apa kamu berminat?” tanya Raka.
“Jangan-jangan kamu CEO perusahaan Cath Raka Virendra?” ucap Bianca memastikan identitas Raka dengan wajah terkejut.
“Hah, ketahuan juga,” ucap Raka sembari menghela nafasnya panjang.
__ADS_1