Istri Kesayangan Milliader Tampan

Istri Kesayangan Milliader Tampan
• IKMT 33 •


__ADS_3

“Kau harus berjanji padaku bahwa kau tidak akan menangis lagi,” ucap Raka tulus.


“Hm. Baiklah,” balas Bianca.


Raka kemudian melepaskan pelukannya dan mengacak rambut Bianca sebelum ia pergi. “Hubungi aku jika kau butuh bantuan,” ucap Raka sembari mengulas senyumannya.


Raka kemudian kembali ke Apartemennya yang terletak hanya beberapa langkah saja dari Aprtemen Bianca. Bianca kemudian masuk dan memilih untuk membersihkan diri sebelum ia beristirahat. “Hah, besok aku harus kembali bekerja lagi,” ucap Bianca sembari meregangkan tubuhnya.


“Aku tidak berbuat apa-apa tapi mengapa aku merasa sangat lelah?” gumam Bianca kemudian menjatuhan dirinya keatas ranjang empuknya itu.


“Raka dan Mike. Kenapa mereka sangat baik padaku?” lanjutnya sembari menatap langit-langit kamarnya.


“Hah, tapi jika dilihat-lihat bukankah Raka sedikit manis?” ucap Bianca sembari tersenyum kecil.


Wanita itu kemudian mengambil Ponselnya dan mulai membuka Akun sosial media milik Raka. Ia kemudian mulai penasaran tentang kehidupan Pria yang selalu berbuat baik padanya itu. Tanpa sadar, Bianca mulai tersenyum saat menatap satu persatu foto Raka yang berada di Akun Sosial medianya itu.


“Dia tampan juga,” gumam Bianca.


Bianca pun keasikan melihat Akun Sosial media Raka hingga lupa waktu. Hari mulai menjelang malam, Ponsel Wanita itu tiba-tiba berdering.


“Halo?”


“Caca, ini aku,” ucap seorang Pria yang suaranya sangat familiar ditelinga Bianca.


“Untuk apa meneleponku?” tanya Bianca dengan nada dingin.


“Kudengar kau sudah keluar rumah sakit. Sekarang kau dimana? Aku ingin mengunjungimu,” ucap Pria itu.


“Tidak perlu. Aku tidak ingin bertemu denganmu,” ketus Bianca.


“Benarkah? Sayang sekali. Aku sudah berada dilift dan sudah menuju Apartemenmu. Aku membawakanmu makanan. Apa mau kuletakkan dipintu?”


Mendengar itu, Bianca segera berlari keluar dari Apartemennya dan menuju Apartemen Raka karena ketakutan. Bianca pun langsung menekan bel Apartemen Raka dengan cepat.


“Bianca? Ada apa?”


Tanpa menjawab pertanyaan Raka, Wanita itu langsung berlari masuk dan duduk disofa dengan wajah panik.


“Hei, ada apa?” tanya Raka khawatir saat melihat wajah Bianca pucat pasi.


“Halo?” ucap Pria itu.

__ADS_1


Bianca kemudian segera melempar Ponselnya kesembarang arah hingga membuat Ponsel nya pecah. Wanita itu kemudian memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya.


“Bianca. Kau kenapa?” tanya Raka yang semakin khawatir dengan kondisi Wanita dihadapannya itu.


“D-dia datang lagi,” lirih Bianca.


“Siapa? Siapa yang datang?” tanya Raka.


“Pria itu,” lirih Bianca.


“Pria siapa? Bicara yang jelas,” ucap Raka.


“Apa Gilen datang menemuimu lagi?” tanya Raka.


“Raka. Hiks. Aku tidak mau bertemu dengannya,” lirih Bianca sembari menjambak rambutnya sendiri.


“Hei, Hei dengarkan aku. Aku tidak akan membiarkan dia datang menemuimu maupun mengganggumu lagi, oke?”


“Bianca, aku tau ini berat tapi kamu harus kuat melewati semuanya. Jangan menyakiti dirimu lagi,” ucap Raka mencoba menenangkan Bianca.


Pria itu kemudian memeluk Bianca dengan erat. Sementara Bianca, ia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Raka. Saat itu, rasanya ia tak bisa berpikir apapun selain mengingat kejadian dulu dimana ia melihat Gilen dan Alice berciuman. Rasa traumanya sangat membekas didalam ingatannya hingga membuat Bianca menjadi seperti ini.


“Raka, 2 tahun aku bertahan dengannya karena sangat mencintainya. Saat aku tahu dia juga membalas cintaku aku sangat senang. Tapi saat aku melihatnya menghianatiku seketika semuanya hancur. Aku bahkan tidak sanggup menatap wajahnya lagi,” racau Bianca dengan sesegukan.


Sementara itu, Raka hanya bisa diam dan mendengarkan cerita Wanita didalam pelukannya itu dengan seksama. “Raka, saat itu sebenarnya aku tidak ingin bercerai dengannya. Tapi saat aku melihat dia rela dimaki oleh kedua Orang Tua Alice aku jadi yakin bahwa dia sangat mencintai Wanita itu,” ucap Bianca.


“Kalau dia masih mencintai Alice kenapa dia memilihku?”


“Sudah. Tidak perlu diingat lagi,” ucap Raka.


Raka kemudian melepas pelukannya dan menatap dalam mata Wanita dihadapannya itu. “Bianca, kau adalah Wanita yang sangat berharga. Kalau Gilen tidak bisa menghargaimu, maka aku siap untuk menggantikan posisinya dan menerimamu dengan tulus. Aku benar-benar tidak sanggup lagi melihatmu seperti ini,” ucap Raka.


Pria itu kemudian menggenggam kedua tangan Bianca. “Aku tahu kita baru kenal. Tapi, aku sangat ingin menjaga dan melindungimu,” jelas Raka.


“Aku sungguh benar-benar tidak bisa melihatmu menderita seperti ini Ca,” ucap Raka lirih.


Dengan mata sembab, Bianca menatap dalam wajah sendu Raka yang juga menatap kearahnya. “Raka,” lirih Bianca.


“Kau tahu, aku menyukaimu sejak aku melihatmu sebagai Istrinya Gilen. Dan siapa sangka aku bisa menjadi sedekat ini denganmu,” ucap Raka dengan senyuman manisnya.


“Bianca, aku sangat menyukaimu. Apa kau mau menjadi Kekasihku?”

__ADS_1


Mendengar itu, Bianca menjadi gugup. Air matanya pun seketika berhenti. Ia tidak lagi mengingat hal-hal buruk yang menghantui pikirannya. Jantungnya menjadi berdebar. Dan pikirannya pun hanya tertuju pada Pria dihadapannya itu.


“K-kau ingin aku menjadi Kekasihmu?” tanya Bianca memastikan.


“Iya. Apa kau bersedia?” ucap Raka dengan wajah penuh harapan.


“T-tapi bukankah kita baru saling mengenal?”


“Itu tidak menjadi masalah. Aku akan mencoba mengenalmu lebih dalam lagi nanti,” ucap Raka sembari terus menggenggam erat kedua tangan Bianca.


“Raka, aku ini seorang Janda. Apa kau benar-benar bisa menerimaku dan masa laluku?” tanya Bianca lagi.


“Aku tidak ingin sakit hati lagi, Raka,” lanjutnya.


Raka kemudian mengulas senyuman kecilnya. “Aku tidak akan memperdulikan Status dan Masalalumu. Yang aku tahu, kau adalah Wanita yang aku suka. Aku hanya ingin menjaga dan membuatmu bahagia,” ucap Raka.


Dengan mata yang masih sembab, Bianca kemudian tersenyum kecil kemudian mengangguk pelan sebagai jawabannya kepada Raka.


“Eh? Kau menerimanya?” tanya Raka mencoba memastikan.


Bianca kemudian mengangguk sekali lagi dengan senyuman sumringah. “Terimakasih,” ucap Raka kemudian langsung menghambur dan memeluk erat tubuh Wanita yang sudah menjadi Kekasihnya itu.


“Terimakasih juga Raka,” ucap Bianca sembari membalas pelukan Raka.


Raka kemudian melepas pelukan Bianca dan tersenyum sumringah sambil berlompat lompat kecil seperti anak kecil.


“Kau ini seperti anak kecil saja,” ucap Bianca meledek tingkah Raka.


“Kau tahu? Aku sangat bahagia sekarang,” ucap Raka yang kemudian mendekat dan langsung mengecup bibir Wanita itu.


“Hei! Kau ini!” kesal Bianca sembari memukul Raka dengan bantal.


“Hahaha. Aku kan Kekasihmu!” ujar Raka tak terima.


Mereka pun bercanda tawa hingga mereka kelelahan. “Besok aku akan pergi ke butik,” ucap Bianca sembari merebahkan badannya disofa dengan kepalanya ditaruh di paha Raka.


“Kau baru saja pulih. Istirahat saja dulu,” ucap Raka.


“Tidak. Kerjaanku pasti sudah sangat menumpuk,” ucap Bianca.


“Kau ini keras kepala sekali,” ujar Raka sembari mencubit pelan hidung Bianca.

__ADS_1


“Hah, sudahlah aku akan kembali ke Apartemenku,” ucap Bianca sembari bangkit dari sofa.


Raka kemudian menarik lengan Bianca. “Apa tidak menginap disini saja?”


__ADS_2