
“Itulah akibat jika kau terus membela Wanita itu!” geram Mike yang kemudian berlari mengejar Bianca.
Kedua Orang Tua Gilen pun ikut pergi menyusul Mike dan Bianca. Kini hanya tersisa Gilen, Gavin, dan Kedua Orang Tua Alice.
“Kalau kau kembali dengan Alice mungkin Bibi bisa memaafkanmu,” ucap Ibu Alice.
Gavin yang mendengar perkataan Bibinya itu kemudian menaikkan sebelah alisnya sebelum membisikkan sesuatu kepada Gilen. “Jangan pernah anggap aku temanmu jika kau benar-benar kembali dengan Alice,” bisik Gavin kemudian pergi.
Disisi lain, Kedua Orang Tua Gilen bersama Mike dan Bianca kini sudah berada diparkiran gedung kejaksaan. “Ibu maafkan aku,” lirih Bianca.
“Aku sudah tidak sanggup lagi Bu,” lanjutnya.
“Bianca bukan kamu yang harusnya minta maaf, tapi Ibu. Ibu gagal mendidik Gilen,” lirih Nyonya Farensca yang kemudian berlutut dan memeluk menantunya itu dengan air mata yang mengalir.
“Ibu tidak salah. Ini memang takdirku Bu. Mungkin kami memang tidak cocok,” lirih Bianca.
“Bianca, kelak kau harus mendapatkan Pasangan yang lebih baik dari Gilen ya?”
“Hiks, Ibu,” lirih Bianca dengan tangisan yang semakin pecah.
Keduanya kemudian menangis dan menyalurkan perasaan mereka dengan pelukan hangat itu. Sementara Mike dan Tuan Bagaskara yang menyaksikan ikut menangis karena terbawa suasana. Gavin yang menyaksikan dari jauh pun ikut menangis karena tidak tega terhadap Bianca.
“Bianca, Kau tidak usah takut. Ayah akan menjamin hidupmu dan semua kebutuhanmu serta biaya pengobatanmu sebagai permohonan maaf kami,” ucap Tuan Bagaskara pada Bianca sembari mengelus surai Bianca.
“Tidak usah Ayah. Aku sudah banyak merepotkan kalian,” tolak Bianca lembut.
“Bianca, Ibu mohon. Ini adalah bentuk Kasih Sayang kami kepadamu. Jangan menolak ya?” ucap Nyonya Farensca dengan wajah berharap.
“Baiklah. Terimakasih Ayah, Terimakasih Ibu,” ucap Bianca.
“Kalau begitu kami akan mengantarmu pulang,” ucap Nyonya Farensca.
“Aku tidak akan kembali ke Mansion Gilen Bu. Aku akan menginap dihotel untuk beberapa waktu sambil mencari tempat tinggal baru,” ujar Bianca.
“Apa kau yakin? Ibu masih khawatir dengan keadaanmu,” ucap Nyonya Farensca.
“Bibi tenang saja, Aku dan Gavin akan menemani Bianca,” ucap Mike.
“Baiklah kalau begitu. Bibi akan menitipkan Bianca pada Kau dan Gavin ya. Kalau ada apa-apa segera beritahu kami,” ujar Nyonya Farensca.
“Kami ada urusan lain. Bianca, jaga dirimu ya Nak. Kami akan sering berkunjung,” ucap Tuan Bagaskara.
“Iya Ayah. Hati-hati dijalan,” ucap Bianca sembari melambaikan tangan.
__ADS_1
“Ayo. Aku akan mengantarmu,” ucap Mike.
“Hei tunggu! Aku ikut bersama kalian!” teriak Gavin sembari berlari menuju Mike dan Bianca.
Gavin dan Mike kemudian mengantar Bianca ke sebuah Hotel bintang lima yang terletak dipusat Kota. Sesampainya dihotel, Kedua Pria itu membantu semua urusan dari mulai check in hingga mengantar Bianca kedalam kamar.
“Kami membuka kamar disebelah. Dan kamar kita terhubung dari pintu itu. Jangan segan jika butuh bantuan,” ucap Gavin.
“Gavin kau ini sudah seperti petugas hotel saja,” ejek Bianca.
“Kau ini. Aku masih sedikit canggung akibat kejadian tadi tahu,” ucap Gavin seraya menjatuhkan pantatnya disofa.
“Hah sudahlah. Aku tidak ingin membahas itu lagi,” ujar Bianca sambil menatap lurus pemandangan kota dari jendela kamarnya.
“Aku akan mengundurkan diri dari dunia Entertainment,” ucap Mike tiba-tiba hingga membuat Gavin dan Bianca terkejut.
“Kenapa tiba-tiba?” tanya Bianca dengan ekspresi kaget.
“Aku ingin menjadi pengangguran seperti Gavin,” ucap Mike asal.
“Heh, kalian enak sekali ya. Pengangguran tapi tetap bisa hidup karena berasal dari keluarga Kaya raya,” ujar Bianca sembari mengingat masa lalunya yang begitu pahit.
“Tidak selalu enak tuh,” celetuk Gavin.
“Oh ya, besok aku akan pergi ke pengadilan untuk mengajukan perceraian. Apa kalian bisa menemaniku?” tanya Bianca.
“Tentu saja bisa!” ucap Gavin dan Mike bersamaan.
“Kalian ini kompak sekali ya. Sudah sana kembali kekamar! Aku ingin istirahat,” ucap Bianca.
“Aku akan membantumu,” ucap Mike kemudian mendekat kearah Bianca dan membantu Bianca berbaring dikasur.
“Terimakasih,” ucap Bianca.
Gavin dan Mike kemudian kembali kekamarnya yang berada tepat disebelah kamar Bianca. Sementara Gilen, ia sedang berada diruang kerjanya dengan keadaan yang sangat kacau. Ruang kerjanya menjadi berantakan karena ia baru saja mengamuk dan hampir menghancurkan semua barangnya.
Ia juga memegang sebotol minuman beralkohol sambil terus meneguknya. “Brengsek!” jerit Gilen sembari terus menghancurkan benda apapun yang ia lihat.
Tangannya berlumuran darah karena terkena beberapa beling dari kaca yang ia pukul. Para pelayan yang mendengar kericuhan dari luar pun merasa khawatir dan mencoba untuk menghubungi Gavin maupun Bianca. Tapi sayangnya, tidak ada yang merespon. Akhirnya mereka memutuskan untuk menelepon Leo sekertaris Gilen untuk segera datang.
“Dimana Nona Bianca?” tanya Leo saat ia baru saja tiba di Mansion Gilen.
“Saya tidak tahu. Tuan pulang sendiri. Tidak bersama Nyonya,” balas Salah satu pelayan Wanita yang akrab disebut Via.
__ADS_1
Leo kemudian segera menuju ruang kerja milik Gilen. Betapa terkejutnya Leo saat melihat Bosnya sudah terkapar dilantai dengan darah yang sudah tercecer dilantai. Leo kemudian segera menelepon Ambulance dan membawa Gilen kerumah sakit terdekat sembari mencoba menghubungi Bianca.
“Ada apa?” tanya Bianca saat mengangkat telepon dari Leo.
“Nona, Tuan masuk rumah sakit. Aku menemukannya di ruang kerjanya dengan tubuh berlumuran darah,” ucap Leo yang membuat Bianca shock.
Bianca kemudian segera memanggil Gavin dan Mike untuk memberitahu kabar yang baru ia dapat dari Leo. Ketiganya kemudian segera menuju rumah sakit tempat dimana Gilen berada.
“Leo!” panggil Gavin saat melihat Leo sedang berdiri didepan ruangan Gawat darurat.
“Tuan Gavin, kau sudah datang,” ucap Leo kemudian menoleh kearah Mike dan Bianca yang menyusul dibelakang.
“Apa yang terjadi?” tanya Bianca yang berusaha untuk tenang.
“Tadi Pelayan diMansion tiba-tiba menghubungiku dan menyuruhku datang karena khawatir dengan keadaan Tuan. Saat aku datang aku menemukan Tuan sudah terkapar dengan darah yang berceceran dilantai,” ucap Leo menjelaskan dengan detail.
“Apa dia mencoba bunuh diri?” celetuk Mike.
“Saya merasa Tuan Gilen sedang mabuk,” ucap Leo.
“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Bianca.
“Sepertinya dia masih ditangani oleh Dokter, Nona,” jawab Leo.
“Baiklah,” ucap Bianca sembari menghela nafasnya.
“Pasti dia sangat frustasi,” gumam Gavin yang dapat didengar oleh Bianca.
“Hm. Mungkin,” ucap Bianca.
“Itu salahnya sendiri,” celetuk Mike.
Beberapa saat kemudian, Dokter keluar dan berkata bahwa Gilen sudah baik-baik saja dan sedang tertidur. Gavin, Mike dan Bianca beserta Leo pun menghela nafas lega mendengar kabar itu.
“Terimakasih karena telah membawa Gilen kerumah sakit. Pulanglah kalau kau mau pulang,” ucap Bianca pada Leo.
“Baik Nona. Kalau begitu, Saya permisi dulu,” ucap Lep kemudian meninggalkan Ketiga Orang itu.
“Aku juga ingin kembali. Gavin, kau temani Gilen ya,” lirih Bianca.
“Kau tidak ingin menemui dia?” tanya Gavin.
“Tidak mau. Aku takut jika bertemu dengannya aku menjadi berubah pikiran.”
__ADS_1