Istri Kesayangan Milliader Tampan

Istri Kesayangan Milliader Tampan
• IKMT 6 •


__ADS_3

“Aku tahu kau akan memaafkanku,” ujar Gilen bahagia dan langsung menarik Bianca kedalam pelukannya.


“Apa aku salah karena memilih langkah yang akan menyakitiku?” batin Bianca.


Malam itu, Gilen membawa Bianca kembali ke Mansion bersama Gavin dan Mike. Sepanjang perjalanan, keheningan hanya menyelimuti mereka. Setiap orang tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


“Besok aku akan keluar negeri untuk menjalani syuting. Jadi tidak akan bisa berkumpul dalam waktu dekat,” ucap Mike dengan raut wajah yang tak bisa diartikan.


“Jangan lupa membawa oleh-oleh ketika kembali!” ujar Gavin.


“Baiklah,” ucap Mike pasrah.


Sedangkan Bianca, mendengar perkataan Mike barusan ia menjadi teringat saat Pria itu mengungkapkan perasaan kepadanya. Sejujurnya, Bianca sangat menyukai Mike karena Pria itu sangat lembut dan perhatian padanya. Tapi, ia hanya menganggap Mike sebagai Kakak saja.


“Semoga syutingmu berjalan lancar ya!” ucap Bianca membuka suara dan menyemangati Mike.


Mobil pun mulai memasuki pekarangan Mansion yang mewah itu. Gilen dan Bianca kemudian masuk terlebih dahulu kedalam Mansion dan meninggalkan Gavin yang masih berada didalam mobil bersama Mike.


“Kau tahu, kau tidak akan bisa mendapatkan Wanita itu kembali. Dia sudah jatuh terlalu dalam,” ucap Gavin memperingati Mike.


“Tentu saja aku tahu. Bagaimanapun aku yang sudah melepasnya. Tapi kalau Gilen berani menyakitinya sekali lagi, maka aku akan merebutnya dengan cara apapun. Aku tidak akan memandang bahwa ia adalah Teman Kecilku,” ujar Mike.


“Hingga tiba saat itu, aku pasti juga akan membantumu,” ucap Gavin kemudian tersenyum.


Gilen, Gavin, dan Mike adalah Tiga Pria yang berteman sejak Kecil. Mereka sangat akrab melebihi Keluarga mereka sendiri. Ketiga Pria itu juga ternyata pernah memiliki perasaan yang sama terhadap satu Wanita yaitu Bianca. Tapi akhirnya, Gavin dan Mike mengalah karena Bianca ternyata memilih Gilen sebagai Suaminya.


“Istirahatlah. Besok kau harus bekerja bukan?”


“Hm. Selamat malam,” ucap Bianca kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi Suaminya.


“Dia sangat dekat denganku. Tapi rasanya hatinya semakin jauh dariku,” batin Gilen sembari menatap punggung Bianca yang mulus itu.


Keesokan paginya, Bianca membuka matanya perlahan dan mendapati Suaminya yang masih tertidur disebelahnya. Wanita itu kemudian bangkit dengan perlahan dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


“Pria itu, apakah sungguh mencintaiku?” batin Bianca sambil merenung dibawah Shower.


Beberapa saat kemudian, Ia keluar dan mendapati Gilen yang sedang melakukan kebiasaan Paginya. Yaitu meminum teh sembari membaca berita di gadgetnya.


“Selamat pagi,” sapa Bianca dengan senyuman manisnya.


“Pagi Caca,” balas Gilen dengan senyuman yang tak kalah manis.


Bianca kemudian mendekat kearah Gilen dan duduk diatas pangkuan Suaminya itu. “Tidurmu nyenyak?”


“Tentu saja nyenyak. Bersiaplah Istriku, kalau tidak kau akan terlambat,” ujar Gilen.


“Sayang, kembalikan aku ke Departeman artistik ya?”

__ADS_1


“Yasudah kalau itu maumu. Aku akan menyuruh Leo mengembalikanmu kesana,” ucap Gilen pasrah.


“Kau memang yang terbaik. Terimakasih!”


Bianca kemudian segera bersiap dengan Pakaian kantornya. “Tidak mau berangkat denganku?” tanya Gilen.


Bianca pun menoleh dan berpikir untuk sejenak. “Apa ini waktunya untuk mempublish hubunganku?” batin Bianca.


“Aku berangkat sendiri saja ya,” tolak Bianca.


“Baiklah. Jangan lupa sarapan!” ujar Gilen.


“Tentu saja! Dah!” ujar Bianca kemudian pergi sambil melambaikan tangan pada Suaminya itu.


“Hubungan kami sudah menjadi seperti ini. Bukankah harusnya aku senang?” batin Bianca dengan wajah murung.


“Pagi Cantik!” sapa Gavin yang sedang bersantai dihalaman depan Mansion sembari meneguk sebotol air putih.


“Pagi Gavin! Enak sekali hidupmu menjadi pengangguran Kaya Raya!” ujar Bianca.


“Yah mau bagaimana lagi. Aku kaya sejak lahir. Aku pun bingung apa yang harus kuperbuat,” ujar Gavin.


“Hais kau ini sangat sombong! Kalau begitu berikan saja aku saham Perusahaan Keluargamu! Hahah!” ucap Bianca dengan tawa girangnya.


“Boleh kalau kau mau?” ujar Gavin.


“Aku serius. Aku akan memberikannya jika kamu mau,” ujar Gavin dengan wajah serius.


“Hah sudahlah. Aku pergi dulu ya! Dadah!” ujar Bianca kemudian masuk kedalam mobilnya.


“Wanita itu benar-benar membuatku tidak bisa berpaling,” gumam Gavin.


“Sayangnya kau tidak akan memiliki kesempatan sedikit pun bro,” ujar Gilen yang tiba-tiba berada dibelakang Gavin.


“Hais, aku sudah tahu itu! Dia adalah milikmu kan?” kesal Gavin.


“Carilah Wanita lain. Aku tidak ingin melihatmu sendirian seperti ini terus,” ucap Gilen.


“Tidak usah memerintahku. Aku juga sangat ingin memiliki pujaan hati seperti dirimu. Tapi, pujaan hatiku adalah Wanitamu. Apa yang bisa kulakukan?” ujar Gavin.


“Coba saja kencan dengan Wanita lain. Siapa tahu kau bisa melupakannya?” ujar Gilen memberi saran.


“Hm. Biar kupikirkan dulu,” ucap Gavin.


“Sudahlah. Aku harus bekerja. Jaga Rumah dengan baik ya!”


“Hei! Kau pikir aku Babumu?!”

__ADS_1


Disisi lain, Bianca sudah dikembalikan ke Departemen Artistik sesuai janji Gilen tadi pagi. Bianca pun sangat senang dan memulai pekerjaannya dengan hati gembira.


“Mauren! Aku kembali!” girang Bianca yang langsung menghambur ke pelukan Mauren.


“Huhu, Bianca aku sangat kesulitan tanpamu!” ujar Mauren.


“Ada apa? Apakah Ketua menindasmu?!” tany Bianca.


“E-eh tidak! Hanya saja pekerjaanku semakin menumpuk! Rasanya aku ingin pingsan saja!” rengek Mauren.


“Sudahlah. Ayo kita bekerja!” ujar Bianca.


“Tapi Bi, apa kau benar-benar membuat kekacauan makanya Bos mengembalikanmu?”


“Apalagi yang bisa kuperbuat? Hehehe,” ujar Bianca.


“Kau ini benar-benar tidak takut Bos akan memecatmu? Sikapmu sungguh keterlaluan tapi Bos tidak marah,” ujar Mauren.


“Karena dia adalah penggemar beratku! Mana mungkin dia berani memecat karyawan teladan ini,” ucap Bianca menyombongkan diri.


“Kau ini sangat percaya diri ya?” ejek Mauren.


“Sudahlah lupakan itu. Pekerjaan sangat banyak, kita bisa lembur jika kita bermalas-malasan,” ucap Bianca.


“Apakah Mike hari ini bisa hadir untuk syuting? Bukankah dia sedang diluar negeri?” batin Bianca.


Kedua Wanita itu pun bekerja dengan giat tanpa jeda hingga jam makan siang tiba. “Bianca! Bos memintamu untuk ke ruangannya sekarang!” ujar Ketua Will.


“Baik aku segera kesana,” ujar Bianca.


“Kenapa Bos memanggilmu lagi?” tanya Mauren.


“Tidak tahu. Aku kesana dulu ya! Dah!” ujar Bianca kemudian pergi sambil melambaikan tangan kearah Mauren.


“Aneh,” gumam Mauren sambil memicingkan matanya.


Bianca pun masuk kedalam ruangan Gilen dan mendapati Gilen yang sedang berdiri menatap pemandangab kota dari jendela nya itu.


“Ada apa?” tanya Bianca.


“Makan siang denganku!” ujar Gilen.


“Kenapa sekarang kau selalu ingin makan siang denganku sih?” tanya Bianca sambil mendudukkan pantatnya disofa empuk milik Gilen.


“Aku tidak berselera jika tidak ada kamu,” ujar Gilen membual.


“Heh, mana mungkin bisa seperti itu. Kau ini mengada-ngada saja kan?” ujar Bianca.

__ADS_1


“Sayang, mana mungkin aku berbohong,” goda Gilen sambil mengecup telinga Bianca.


__ADS_2