
“Aku akan mengantar Bianca. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku,” ucap Mike pada Gavin.
Saat hendak pergi, tiba-tiba Hp Bianca berdering. Wanita itu kemudian melihat Ponselnya sebelum akhirnya mengangkat telepon itu.
“Halo Ibu?” ucap Bianca dan membuat Mike dan Gavin menoleh pada dirinya.
“Ibu tidak usah khawatir. Gavin dan Mike akan menemani Gilen,” ucap Bianca dengan senyuman manisnya.
“Iya Bu. Sampai jumpa,” ucap Bianca kemudian menutup telepon.
“Ibu meminta kalian menjaga Gilen,” ucap Bianca.
“Pasti Bibi sangat khawatir sekarang,” ucap Gavin dan diangguki oleh Kedua temannya itu.
“Yasudah. Aku pulang dulu ya Gavin,” ucap Bianca sembari melambaikan tangannya pada Gavin.
Mike kemudian segera mendorong kursi roda menuju parkiran mobil. “Mike, maaf merepotkan. Aku pasti akan membalasmu kalau sudah sembuh nanti,” ucap Bianca.
“Tidak usah. Aku malah senang karena bisa menjagamu sepanjang waktu,” ucap Mike.
“Jangan bilang kau berhenti bekerja karena aku,” ucap Bianca.
“Memang karena kau,” ucap Mike seperti orang yang tidak memiliki beban.
“Yaampun Mike! Kau ini. Jangan begitu. Karirmu lebih penting,” ucap Bianca mengomeli Pria itu.
“Tidak peduli. Aku hanya ingin bersamamu,” ucap Mike.
“Anak ini keras kepala sekali sih,” ujar Bianca kesal.
“Baiklah. Aku tidak akan menjadikanmu sebagai alasan. Aku ingin berhenti karena aku bosan. Apa alasanku ini jauh lebih baik?” ucap Mike.
“Ish kau ini! Menyebalkan sekali,” gerutu Bianca sembari memukul pelan tangan Mike.
Mereka berdua kemudian segera kembali ke Hotel tempat mereka menginap. Sesampainya dikamar, Bianca langsung menyuruh Mike pergi karena ia ingin berendam untuk menghilangkan kegelisahannya.
“Apa kau bisa sendiri?” tanya Mike mencoba meyakinkan.
“Tentu saja bisa. Kenapa tidak percaya padaku sih?” kesal Bianca.
“Kalau butuh bantuan segera panggil aku ya?” ucap Mike kemudian pergi.
“Iya, iya! Sudah pergi sana!” ujar Bianca sembari mendorong tubuh Mike.
__ADS_1
Bianca kemudian pergi kekamar mandi dan mulai mengisi bathub dengan perlahan. Ia kemudian mencoba bangkit dari kursi roda dan mulai masuk kedalam bathub dengan sangat hati-hati karena kaki sebelah kirinya belum pulih.
Wanita itu mencoba untuk menenangkan dirinya karena sudah merasa sangat frustasi dengan semua kejadian yang ia alami. Tanpa sadar, air mata Bianca mulai mengalir di pipi nya. Ia menangis sejadi-jadinya agar pikiran dan hatinya bisa menjadi lebih lega.
Sementara itu, diluar kamar mandi, ternyata Mike sedang berdiri sembari bersandar didinding karena khawatir pada Bianca. Ia berniat menjaga Bianca, tapi ia malah mendengar tangisan sendu Wanita itu yang membuatnya juga ikut bersedih.
“Jangan menangis,” gumam Mike dengan wajah tertunduk.
Beberapa saat kemudian, setelah memastikan Bianca benar-benar aman dan melihat wanita itu sudah tertidur pulsa diranjangnya, Mike kemudian pergi kerumah sakit untuk melihat keadaan Gilen.
“Halo,” ucap Mike saat memasuki ruangan Gilen.
Gavin dan Gilen yang sudah sadar pun langsung menoleh kearah Mike yang mulai berjalan mendekat.
“Ada apa denganmu bro? Apa kau sudah gila?” celetuk Mike sembari menepuk pundak Gilen.
“Entahlah,” jawab Gilen.
“Apa Bianca baik-baik saja?” tanya Gilen pada Mike.
“Tidak usah khawatir. Aku akan menjaganya dengan baik,” ucap Mike.
“Apa dia benar-benar akan menceraikanku?” tanya Gilen.
“Banyak berdoa saja,” ucap Gavin.
“Aku bingung harus berbuat apa. Aku dan Alice benar-benar sudah tidak ada hubungan,” ucap Gilen.
“Tapi kau terus membuat Wanita itu salah paham dengan hubungan kalian. Gilen, apa kau mau melihat Bianca terus menerus tersakiti karenamu?” ucap Mike dengan bibi bergetar karena teringat tangisan Bianca yang begitu mengiris hatinya.
“Aku ingin menjelaskan padanya,” ucap Gilen.
“Jangan terlalu membuat dia tertekan. Ingatannya belum sepenuhnya pulih,” cegah Gavin mengingat kondisi Bianca yang belum benar-benar pulih.
“Tapi dia mengingat kejadian saat itu. Sepertinya dia memang berniat untuk menghindar dariku,” ucap Gilen.
“Dia juga berkata akan membiarkanku dan Alice bersama. Bukankah ingatannya memang sudah kembali?” lanjut Gilen.
“Jangan bodoh Gilen. Apa kau tidak tahu dia hanya berpura-pura karena ingin menyembunyikan rasa sakitnya sendiri?” celetuk Mike.
“Aku saja yang bukan Suaminya tau. Masa kau yang selalu bersama dia tidak tau,” ejek Mike.
“Sepertinya dia sangat kesulitan karena ulahku,” lirih Gilen.
__ADS_1
“Kenapa kau baru menyadari semuanya sekarang sih? Bianca bahkan menangis dihadapanku dan mengatakan semuanya dengan jujur. Aku bahkan tidak sanggup lagi untuk melihatnya bersedih seperti itu,” racau Mike.
“Kalau kau benar-benar mencintai Wanita itu, lepaskanlah dia. Aku yakin kau tidak akan rela melihatnya terus menerus bersedih seperti itu kan?” ucap Gavin.
“Melepaskan? Lalu kalian akan merebutnya kan?” celetuk Gilen.
“Tentu saja. Mana mungkin aku akan melewatkan kesempatan ini lagi,” ujar Mike.
“Jangan mimpi!” ketus Gilen.
“Kalau Mike tidak boleh, apakah aku boleh?” ucap Gavin dengan tampang tidak berdosanya itu.
“Tidak ada yang boleh. Hanya aku yang boleh,” ucap Gilen.
“Cih, jangan berharap. Besok Bianca akan kepengadilan untuk menggugatmu,” ujar Mike.
“Hais, apa yang harus kulakukan?!” racau Gilen frustasi.
Keesokan harinya, Bianca bersama Mike dan Gavin pergi ke pengadilan untuk mengurus perceraiannya dengan Gilen. Semalaman ia menangis dan terus meyakinkan hatinya untuk menceraikan Gilen. Walaupun ini sangat sulit, tapi ia harus melakukannya demi kesehatan mentalnya.
“Apa kau yakin?” tanya Gavin pada Bianca saat hendak berjalan masuk kedalam pengadilan.
“Iya,” jawab Bianca dengan yakin.
Saat mereka hendak masuk, tiba-tiba Gilen muncul dan langsung berlutut dihadapan Bianca.
“Tolong jangan lakukan ini,” lirih Gilen dengan air mata yang hampir jatuh dari pelupuk matanya.
“Maaf. Jangan menghalangi,” ucap Bianca yang mencoba untuk tidak merespon Gilen.
“Caca kumohon, beri aku satu kesempatan lagi,” ucap Gilen sembari menggenggam tangan Istrinya itu.
Bianca kemudian menepis pelan tangan Gilen dan memalingkan wajahnya karena ia tau ia akan luluh jika ia melihat wajah Gilen.
“Tidak. Keputusanku sudah bulat. Kita sudah tidak bisa bersama lagi,” ujar Bianca yang berusaha menahan air matanya untuk tidak jatuh.
“Pergilah. Aku tidak mau melihat wajahmu. Atau tidak aku akan berubah pikiran,” batin Bianca sambil terus memalingkan pandangannya kearah lain.
“Jangan memaksa Bianca,” ucap Mike.
“Aku tahu aku salah. Tapi aku benar-benar tidak ada hubungan dengan Alice. Aku benar-benar mencintaimu Caca,” lirih Gilen.
“Gilen, kumohon. Jangan ganggu aku lagi, aku sudah tidak sanggup menahan semua ini. Kau tidak kasihan padaku? Aku sudah tidak memiliki semangat hidup lagi karena ulahmu dan ulah Mantan Kekasihmu itu. Aku mohon, biarkan aku pergi.”
__ADS_1