
“Kalian gila?! Ini rumah sakit!” ujar Gavin yang berusaha melerai kedua Temannya itu.
“Lebih baik kita berdoa agar Bianca bisa sembuh dan berkumpul bersama kita lagi,” lanjutnya.
“Bianca tidak akan seperti ini kalau bukan karena kau!” geram Mike sembari memukul tembok.
“Sudahlah Mike. Tidak ada gunanya menyalahkan dia,” ucap Gavin.
Sementara itu, Orang Tua Gilen yang mendapat kabar bahwa Bianca koma segera datang untuk sekedar melihat kondisi menantunya itu.
“Apa yang terjadi?” tanya Ayah Gilen dengan memapah Istrinya yang sedang menangis.
“Maaf Paman, Bianca koma karena suatu kecelakaan. Maafkan kami,” ucap Gavin.
“Maksudnya kecelakaan bagaimana?” tanya Ayah Gilen lagi.
“Wanita kemarin membayar orang untuk membuatnya menjadi seperti ini,” jelas Gavin.
Ayah Gilen pun langsung menatap kearah Gilen yang masih tertunduk frustasi. “Lalu kau tidak melakukan apapun Gilen?”
“Tidak Ayah,” jawab Gilen.
“Ck. Memang tidak berguna,” gumam Mike.
“Kau bahkan masih melindungi Selingkuhanmu disaat dia hampir membuat Istrimu mati?” lirih Sang Ibu dengan perasaan kecewa.
“Ibu dia bukan selingkuhanku Bu,” ucap Gilen yang mencoba menjelaskan.
“Lalu apa nak? Kenapa kau terus membuat kami kecewa? Kami tidak pernah mengajarkanmu seperti ini,” ucap Sang Ibu dengan air mata yang tak berhenti mengalir.
“Kami akan mengirim dokter terbaik untuk Bianca. Kau teruslah jaga dia,” ucap Ayah Gilen kemudian mengajak Sang Istri pergi.
“Terimakasih Ayah,” lirih Gilen.
***
1 minggu berlalu. Tapi Wanita itu tak kunjung sadar juga. Semua orang hampir putus asa dengan keadaan ini. Sampai akhirnya, ada kemajuan, Jari Bianca perlahan tergerak hingga membuat semua orang menangis histeris karena benar-benar bersyukur.
Dokter yang diutus oleh Ayah Gilen pun langsung segera menghampiri Bianca dan mengecek seluruh keadaan Wanita itu. Dan benar saja, tak beberapa lama kemudian Bianca mulai membuka matanya dengan sangat perlahan.
“Nona apa kau bisa mendengarku?” ucap Dokter Hans sembari melambaikan tangannya tepat didepan wajah Bianca.
“Nona kalau kau bisa mendengarku tolong gerakkan jarimu,” ujarnya lagi.
__ADS_1
“Caca,” lirih Gilen dengan air mata yang tak berhenti mengalir.
Pria itu kemudian terjatuh ke lantai dan menangis bahagia karena Sang Istri kembali sadar. Gavin yang melihat itu pun turut bahagia dan langsung memeluk Gilen.
Beberapa saat kemudian, kesadaran Bianca semakin berangsur pulih. Ia seakan teringat apa yang telah menimpa dirinya. Dokter juga sudah menyampaikan kabar bahagia ini pada Ayah Gilen yang sudah lama menunggu Menantu Kesayangannya itu kembali sadar.
“Kami akan segera memindahkan Nona keruang perawatan. Saya permisi dulu Tuan Muda,” ucap Dokter Hans kemudian pergi meninggalkan Gavin dan Gilen yang tengah berbahagia.
Setelah Bianca dipindahkan keruang rawat inap, Kedua Orang Tua Gilen pun turut serta menjenguk Menantu nya itu. Gilen dan Gavin pun sedari tadi sudah berada didalam kamar Bianca dan menatapi Wanita yang masih tertidur itu.
“Bagaimana Keadaannya sekarang?” tanya Ibu Gilen yang baru saja tiba.
“Dia tertidur sejak tadi Bu. Tunggulah sebentar,” ucap Gilen.
Sang Ibu kemudian mendekat kearah Bianca dan mengusap rambut Bianca dengan penuh kasih sayang. Mata Bianca perlahan terbuka. Ia mulai mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya dan mencoba mengenali satu-persatu manusia yang dilihatnya.
“Bianca kau sudah sadar Nak?” ucap Ibu Gilen seraya terus mengelus lembut rambut milik Bianca.
“Em. M-maaf anda siapa?” gumam Bianca yang dapat didengar oleh semua orang yang berada didalam ruangan itu.
Mendengar itu, Semua orang menjadi saling bertatapan. Gilen kemudian mendekat kearah Bianca dan menggenggam tangan Istrinya itu.
“Ca, Aku Suamimu,” ucap Gilen.
Siapa sangka, Bianca malah menepis tangan milik Gilen dan memalingkan wajahnya. “M-maaf. Aku tidak kenal denganmu,” lirih Bianca.
“Untuk saat ini sebaiknya jangan terlalu memaksakan Nona Bianca untuk mendapatkan kembali ingatannya. Biarkan dia rileks dan mendapatkan ingatannya kembali dengan perlahan,” jelas Dokter Hans.
“Baik. Terimakasih Dok,” ucap Ayah Gilen.
“Kalau begitu saya permisi dulu,” ucap Dokter Hans kemudian pergi.
“Kalian pulang dan beristirahatlah. Aku akan menjaganya disini,” ucap Gilen.
“Aku akan menemanimu,” ucap Gavin dan diangguki oleh Gilen.
“Bianca, Ibu pulang dulu ya?” ucap Ibu Gilen lembut dan diangguki oleh Bianca yang masih kebingungan.
Kedua Orang Tua Gilen kemudian meninggalkan Ruangan dan memastikan bahwa Bianca dalam kondisi aman. Disisi lain, Alice yang mendapat kabar bahwa Bianca sudah sadar pun semakin marah. Ia mulai menyusun kembali rencana untuk menyingkirkan Wanita itu.
“Pokoknya Wanita itu harus pergi selama-lamanya!” geram Alice.
“Ca, mau makan?” tanya Gilen sembari menawari makanan.
__ADS_1
“Engga,” balas Bianca.
“Caca, aku ini Suamimu. Jadi jangan sungkan,” ucap Gilen.
Bianca yang mendengar itu langsung meringis kesakitan dan memegangi kepalanya.
“Jangan terlalu memaksakan dia,” ujar Gavin yang panik saat melihat Bianca kesakitan.
“K-kalian pergi dulu. Aku tidak mau bertemu kalian,” lirih Bianca sembari menahan sakit dikepalanya.
“Mana mungkin aku meninggalkanmu disaat seperti ini?!” ucap Gilen.
“PERGI!” bentak Bianca dengan suara yang cukup keras dan membuat Kedua Pria itu terkejut.
Gavin pun langsung menarik Gilen keluar dan segera memberitahu perawat tentang kondisi Bianca. 2 Perawat Wanita kemudian masuk kekamar Bianca dengan masker yang menutupi wajahnya.
“Kau berbohong kan?” ucap salah satu Perawat dengan suara yang terdengar familiar ditelinga Bianca.
Bianca kemudian memasang wajah dingin dan melirik kearah Perawat itu.
“Jangan berpura-pura lagi. Aku tau kamu berbohong,” ucap nya.
“Alice? Kau bahkan masih berani menemuiku?”
“Heh, dasar Wanita licik,” ujar Alice sembari mengusap dagu Bianca kemudian menampar pipi Bianca dengan cukup keras hingga membuat Perawat Wanita satunya ketakutan.
“Ck, Kau sangat tidak sabaran untuk membunuhku ya?” lirih Bianca dengan senyuman paksanya.
“Tentu saja. Kalau kau mati, Pasti Gilen akan kembali kedalam pelukanku. Dan kami akan hidup bahagia tanpa pengganggu seperti dirimu!”
“Tidak ada gunanya kau membunuhku. Lagipula aku tidak tertarik untuk mengganggu sampah seperti kalian,” celetuk Bianca dengan mulut tajamnya.
“Bianca, Bianca. Nyalimu ini sungguh besar ya? Kau sudah terbaring seperti ini saja masih berani melawanku?”
“Untuk apa takut pada pengecut sepertimu yang cuma berani melawan orang lumpuh sepertiku,” ucap Bianca.
Alice kemudian mencekik leher Bianca dan membuat Wanita itu kesulitan bernapas.
“Wanita ****** sepertimu memang pantas mati!” geram Alice sembari terus mencekik Bianca.
“Bu-nuh saja a-ku B-rengsek!” umpat Bianca disela-sela nafasnya yang terengah engah.
Alice kemudian menarik tangannya dan kembali menampar Bianca dengan cukup keras.
__ADS_1
“Jangan pikir aku takut membunuhmu. Aku hanya ingin sedikit bermain-main denganmu,” ujar Alice kemudian mengeluarkan sebuah suntikan dari saku bajunya.
“Apa yang kau lakukan?”