
“Baiklah, aku ingin minta maaf Caca,” lirih Gilen dengan kepala tertunduk.
“U-untuk apa?” tanya Bianca gugup.
“Karena sudah menyakitimu. Aku benar-benar hilang kendali saat itu,” ucapnya.
Bianca kemudian mendekat kearah Gilen dan menangkup pipi Gilen dengan senyuman manisnya. “Kau sangat lucu!”
“H-hah?”
“Suamiku, memangnya aku marah padamu? Tidak kan? Jadi untuk apa minta maaf padaku?”
“I-itu kau terluka,” ucap Gilen terbata-bata.
“Tidak papa kok. Lagipula, Permainanmu kemarin itu sungguh menyenangkan,” bisik Bianca yang membuat Pipi Gilen memerah.
“K-kau.”
“Sudahlah. Aku tidak mau diantara kita ada kecanggungan lagi. Lagipula aku sudah tidak papa kok!” ujar Bianca kemudian berdiri dan meregangkan tubuhnya.
“Hei jangan bergerak sembarangan!” ujar Gilen.
“Kau tidak percaya? Lihat nih!” ucap Bianca kemudian salto dihadapan Gilen.
Brug\~
“Ouch,” rintih Bianca saat tubuhnya terjatuh kelantai.
“Kau ini kenapa keras kepala sih?” gerutu Gilen sambil membantu Bianca bangkit.
“Hahaha! Aku hanya mengerjaimu,” ujar Bianca dengan tawa renyahnya itu. Padahal, Wanita itu memang sedang menahan sakit.
“Diamlah dan beristirahatlah dengan baik,” ucap Gilen kemudian menggendong Istrinya kembali keranjang.
Hubungan mereka pun kembali membaik tanpa ada rasa canggung sedikit pun.
“Sayang, sebentar lagi kan ulang tahun pernikahan kalian. Apa tidak mau mengadakan acara?” ujar Ibu Gilen membuka suara sembari menghidangkan makanan.
“Ah itu, kami akan berdiskusi nanti Bu,” ucap Bianca.
“Ibu tidak sabar untuk memperkenalkanmu pada teman-teman Ibu. Pasti mereka sangat iri nanti,” ujar Ibu Gilen antusias.
“Tentu saja mereka akan iri karena Ibu memiliki menantu yang sangat cantik,” sahut Gilen.
Bianca pun tersenyum sambil menyenggol lengan Suaminya itu.
“Jangan memaksa. Biarkan Bianca yang mengambil keputusan. Ini kan ulang tahun pernikahan mereka berdua,” ujar Ayah Gilen menengahi.
“Aku akan memenuhi permintaan Ibu. Ayah tidak usah khawatir,” ujar Bianca dengan senyuman manisnya.
__ADS_1
Sang Ibu Mertua yang mendengar pun langsung memeluk Bianca dengan hati gembira saat mendengar persetujuan dari Menantunya itu.
“Aku akan mempersiapkannya saat kita kembali nanti,” ujar Gilen sembari mengacak rambut Bianca,
***
1 Minggu Kemudian. (Mansion Gilen)
“Caca, are you ok?”
“Gilen! Help me! Please! Huwe!” jerit Bianca dari dalam kamar mandi yang membuat Gilen semakin panik.
“Aaaaa!” jerit Bianca kemudian membuka pintu kamar mandi dan segera berlari kedalam pelukan Gilen.
“TIKUSSS!” jerit Bianca diikuti dengan Jeritan Gilen.
“AAH KENAPA KAU TIDAK BILANG ADA TIKUS?!”
Para pelayan yang mendengar keributan itu segera menghampiri kamar mereka dan memabantu keduanya membasmi Tikus yang berkeliaran itu.
“Sudah dibersihkan Tuan,” ucap Kepala Pelayan yang bernama Joe.
“Ekhem, Baiklah terimakasih,” ucap Gilen berusaha tenang.
Setelah Kepala Pelayan itu keluar Bianca dan Gilen saling bertatapan kemudian saling menertawakan diri masing-masing.
“Hahaha! Kau ini laki-laki masa takut tikus sih?” ejek Bianca dengan tawa renyahnya.
Saat mereka sedang asyik mengejek satu sama lain, tiba-tiba pintu diketuk kemudian dibuka oleh Gavin yang menongolkan kepalanya dicelah pintu.
“Hei, aku ada urusan denganmu. Kemarilah,” ujar Gavin memanggil Gilen.
“Ada apa?” tanya Gilen seraya mendatangi Teman nya itu.
“Alice, ada Alice datang,” bisik Gavin pada Gilen.
“Untuk apa dia datang?” tanya Gilen sembari menoleh kearah Bianca yang terus memperhatikan keduanya.
Gavin kemudian melirik kearah Bianca sebelum akhirnya menarik Gilen untuk keluar dari kamar.
“Bianca akan mengamuk saat dia melihat Mantan Pacarmu datang,” bisik Gavin pada Gilen sembari menuruni anak tangga dan mulai menuju ruang tamu.
“Haduh Wanita itu merepotkan sekali. Bukankah dia sudah kularang untuk kembali? Kenapa malah kembali sekarang!” gerutu Gilen frustasi.
“Gilen, aku merindukanmu,” ujar Alice yang tiba-tiba muncul dihadapan Gilen dan langsung memeluk tubuh Pria itu.
“Jaga sikapmu. Kenapa kau kembali? Bukankah sudah kuperingatkan untuk tidak kembali kesini?” ujar Gilen dengab nada bicara yang sangat ketus.
“Aku kemarin melihat berita tentangmu dengan seorang Wanita di berita. Makanya aku langsung berangkat kesini untuk memastikan. Gilen, berita itu tidak benar kan?”
__ADS_1
Sementara Gavin yang melihat interaksi mereka hanya menatap dengan frustasi sambil terus melihat ke seluruh penjuru Mansion karena takut Bianca tiba-tiba muncul.
“Berita itu benar. Aku sudah lama menikah sejak kita berpisah,” ujar Gilen.
“Gilen kau berbohong kan? Kau pasti masih mencintaiku,” ujar Alice penuh harap sambil terus bergelayutan manja pada lengan Gilen.
“Cukup! Kembalilah. Aku takut Istriku salah paham karena melihatmu disini,” ucap Gilen sembari menepis tubuh Alice.
“Salah paham kenapa?” sahut Bianca yang tiba-tiba muncul dari lantai atas.
Gavin dan Gilen pun langsung mengusap wajahnya frustasi.
“Habis sudah,” gumam Gavin sambil melirik kearah Gilen.
“Ada tamu yang datang? Kenapa tidak memberi tahuku?” tanya Bianca sambil terus berjalan mendekat kearah mereka.
“Halo! Saya Alice Cecilia Felisha. Kau bisa memanggilku Alice. Aku adalah-“
“Dia adalah Pacarku!” sela Gavin kemudian langsung merangkul tubuh Alice dengan ekspresi terpaksa.
“Hah? Kau sudah memiliki pacar?”
“S-sudah! Dia baru saja datang dari luar negeri dan sengaja membawanya kesini untuk memperkenalkannya pada kalian,” ujar Gavin canggung.
“Salam kenal aku Bianca Istrinya Gilen. Kau cantik sekali! Gavin tidak salah pilih!” ujar Bianca dengan senyuman manisnya.
“A-aku sebenarnya-“
Lagi-lagi ucapan Alice dipotong oleh Gavin karena tidak ingin membuat keributan.
“Dia sebenarnya tidak cantik! Hahaha! Dia sangat jelek percayalah padaku!” ucap Gavin sembrono.
“Kau ini mana boleh mengatakan seperti itu pada Pacarmu! Alice kalau kau ditindas katakan saja padaku. Aku akan membantumu untuk memukulnya!” ujar Bianca.
“Sudahlah biarkan mereka bermesraan. Ayo kembali,” ujar Gilen kemudian merangkul pinggang Bianca dan membawanya kembali kekamar.
“Selamat beristirahat ya!” ujar Bianca kemudian melambaikan tangan dan tersenyum manis pada Alice.
“Hei! Kenapa kau malah mengatakan aku pacarmu?!” gerutu Alice sembari menepis tangan Gavin yang masih menempel.
“Kau ini sebaiknya jangan membuat kerusuhan disini. Gilen sudah memiliki Istri. Jadi sebaiknya kau kembali!” ujar Gavin memperingati.
“Lalu kenapa jika dia sudah memiliki Istri? Dia pasti masih sangat mencintaiku, huh,” ujar Alice kemudian segera menarik kopernya kearah kamar tamu.
“Hei! Kau tidak mau pergi?” tanya Gavin dengan suara yang cukup nyaring.
“Aku akan menginap. Kau saja yang pergi!” ujar Alice.
Alice Cecilia Felisha. Wanita cantik berambut pirang yang baru saja kembali dari Negara C. Dia sudah berada disana kurang lebih sekitar 4 tahun lamanya untuk menjalankan pendidikan. Wanita itu adalah Mantan Kekasih Gilen sekaligus cinta pertama Gilen. Mereka berpacaran kurang lebih selama 2,5 tahun sebelum akhirnya putus karena Alice meninggalkan Gilen untuk melanjutkan pendidikannya.
__ADS_1
“Perempuan Sialan itu berani-beraninya merebut milikku!” geram Alice sembari mengepalkan tangannya.