
Bulan pun segera pergi mencari abangnya di parkiran.
"Bulan!" Paul rupanya mengejarnya sampai parkiran.
Bulan menoleh,
" Bulan, akhirnya kita bisa bertemu setiap hari!" ujar Paul terlihat senang.
"Paul, kenapa kau mengajar di sini?" tanya Bulan.
"Tentu saja ingin bertemu denganmu setiap hari!" jawab Paul.
"Oh ..." Bulan mengangguk.
Paul sangat terkejut dengan respon Bulan yang begitu biasa saja.
"Bulan, apa kau tidak suka bertemu denganku lagi?" tanya Paul.
"Oh, tidak juga ... Tapi aku tidak ingin suamiku salah paham, dia tahu tentang masalalu kita." ujar Bulan.
"Bulan, apa kau sungguh ingin meninggalkanku?" tanya Paul.
"Aku sudah meninggalkanmu sejak saat itu Paul, sekarang aku sudah menjadi saudara iparmu!" jawab Bulan.
Bulan merasa bersalah pada Paul, tapi bagaimana lagi dia sudah menikah dengan James dan James memperlakukannya dengan baik.
" Ayo Bulan kita pulang, kau masih harus membawakan bekal suamimu untuk makan siang!" Sanny mengingatkan adiknya.
Bulan pun segera masuk ke dalam mobil.
"Jangan ganggu adikku lagi!" Sanny memperingatkan Paul.
" Sanny, kenapa kau ada dipihak James sekarang?, aku yang membantumu masuk ke dalam keluarga James!" tegas Paul.
" Jangan kepedean, saat itu aku ditolak dan mencarimu, katamu kau akan membantuku tapi kau tidak ada kabar, James menerimaku karena Bulan!" Sanny pun segera masuk ke dalam mobil dan langsung tancap gas meninggalkan Paul yang terlihat sangat kesal.
Paul pun segera masuk ke dalam mobilnya.
" Tuan muda, bagaimana?" tanya Lula.
"Kenapa menjadi seperti ini, aku kira Bulan akan sangat senang melihatku, apa dia sudah jatuh cinta dengan Kak James?" ujar Paul.
"Apakah secepat itu?" tanya Lula.
" Aku juga tidak tahu, Bulan itu takut atau sudah jatuh cinta dengan Kak James." Paul benar - benar merasa kacau, dia tidak bisa melawan James terang-terangan untuk mengambil Bulan kembali.
__ADS_1
"Pelan-pelan dulu Tuan." ujar Lula menghibur tuannya.
Padahal Paul berpikir, mungkin dalam waktu 3 bulan mereka akan bercerai, tapi ini sudah 6 bulan lebih kenapa James tidak menceraikan Bulan.
Paul harus memutar otaknya lagi, bagaimana pun dia harus bisa mengambil Bulan kembali, tapi tanpa berseteru dengan James.
Bulan pun mengantar makan siang untuk suaminya, tapi Bulan tidak menunggu, hanya meletakkan box makanan itu di kantor James, dan menitipkan bekal untuk Rio juga pada Lindam.
Dia bergegas pulang untuk Live produk yang dia stok melimpah.
Hal seperti itu berlangsung selama satu bulan, Bulan dan Sanny pun kualahan karena masih harus Live, packing dan kirim.
Bulan pun mengadu pada suaminya sebelum tidur, jika dia kelelahan karena bekerja.
"Suamiku, kakiku pegal dan tenggorokanku sakit, karena bekerja." ujar Bulan.
James hanya tersenyum.
"Huhuhu, mencari uang itu sangat sulit." keluh Bulan lagi.
Tapi respon James hanya tersenyum saja melihat istrinya mengeluh.
" Kenapa kau hanya senyam-senyum?" tanya Bulan.
Hal itu tidak membuat James terganggu, dia sangat senang karena istrinya selalu melakukan semua hal secara terang-terangan, dan memberitahu semua padanya tanpa ada yang ditutupinya.
James senang karena Bulan seakan menjadikannya tempat pengaduan apapun itu, James merasa diandalkan dan memacu semangat dirinya untuk semakin memperkuat dirinya agar bisa melindungi orang-orangnya dengan baik.
"Kau disuruh hanya menghabiskan uang saja menolak, katanya ingin menjadi istri yang produktif, tapi kau tidak memikirkan resikonya, sekarang aku harus berkomentar apa istriku?" ujar James.
"Buahahaha, bukan itu yang aku ingin dengar, huh ... aku ini sedang meminta solusi padamu, kenapa kau malah begitu?" ujar Bulan agak kesal.
"Moon aku ini seorang pebisnis, tidak mengerti basa-basi, tolong bicara dengan jelas dengan bahasa langsung!" ujar James.
Bulan menempel pada lengan suaminya.
"Aku masih ingin mencari uang sendiri tapi aku sangat kelelahan, apa suamiku ada solusi?" ujar Bulan manja.
Wah, sungguh meluluhkan hati saat Bulan sedang bermanja pada James.
"Oh, ya ... Kau ingin aku memberi solusi?" tanya James.
Bulan mengangguk kegirangan.
"Di jalan Husada aku memiliki sebuah ruko, bukalah store di sana dengan barang yang ingin kau jual, tapi kau lebih memfokuskan pada reseller atau penjualan online, kau bisa mencari 4 pegawai, satu bagian Live, yang satu packing yang satu dia bekerja sebagai kurir, satu lagi standby untuk pelanggan offline!" ujar James memberi saran.
__ADS_1
"Berapa gaji yang harus aku bayar, aku tidak mengerti!" ujar Bulan.
"Abangmu kan lulusan management, dia bisa membantumu masalah pembayaran!" ujar James.
" Benar, itu bagus!" Bulan mengeratkan pelukannya yang memeluk lengan James.
" Ya kau pandai berjualan, baru satu Bulan saja kau langsung bisa membuka Store!" James memuji Istrinya.
"Itu karena modalnya kan dari uang yang suamiku berikan, semua juga akan jalan kalau modal dan effortnya aman!" Bulan merasa semua itu ya karena uang suaminya, tanpa itu juga semua tidak akan berjalan.
James mengusap kepala Istrinya dengan lembut.
"Besok ke dokter, periksakan tenggorokanmu!" pinta James.
Bulan pun mengangguk, siapa sih wanita yang tidak luluh dengan perhatian - perhatian seperti itu terus-menerus, apalagi bulan termasuk anak yang kurang perhatian semenjak ditinggal oleh neneknya.
"Lalu kakiku bagaimana?" Bulan sudah berani mengode minta dipijit suaminya.
"Bawa sini kakimu!" James meminta Bulan menaikan kakinya di pahanya untuk dipijit.
"Sudah ku bilang, katakan dengan bahasa langsung Moon, kenapa wanita ini sangat suka main tebak-tebakan?, mereka sangat rumit!" ujar James sambil memijit kaki istrinya.
Bukannya keenakan dipijit Bulan malah kegelian dipijit oleh James yang tidak memiliki bakat memijit.
Bulan terkikik - kikik karena kegelian dan segera menarik kakinya karena tidak tahan.
"Tangan yang hanya terbiasa mengangkat bolpen, memang tidak bisa diandalkan untuk masalah seperti ini, aku salah meminta pijit pada suamiku!" ujar Bulan.
Tidak tahu kenapa kalau sudah sayang, olokan dari bibir Bulan itu terdengar merdu ditelinga James.
James menarik Bulan mendekat padanya, lalu mencapit kedua pipi Bulan sampai bibirnya seperti ikan koi.
"Lalu istri yang berani meminta pijit suaminya, dan masih mengolok suaminya ini harus diapakan ya?" ujar James gemas.
Bulan menjawab pertanyaan James namun karena mulutnya seperti ikan koi membuat komuk Bulan terlihat sangat lucu.
James pun tertawa terpingkal-pingkal melihat wujud istrinya itu.
James pun melepaskan tangannya dan langsung memeluk istrinya karena dia merasa sangat bahagia.
"Terimakasih karena sudah menerimaku menjadi suamimu, semakin kau baik dan selalu mengandalkanku, semakin luar biasa juga aku akan memanjakanmu Moon." ujar James.
"Huaaaaaa, suamiku aku bahagia bersamamu... " Bulan benar - benar bisa menjadi dirinya sendiri saat bersama dengan James, meskipun awalnya sangat patuh karena ketakutan, tapi sekarang Bulan itu sangat patuh tapi juga terkadang suka kekanak-kanakan pada suaminya.
Karena sikap James yang terlewat baik pada Bulan itu, benar - benar membuat Bulan merasa memiliki rumah, untuk bersandar, berlindung dari segala mara bahaya.
__ADS_1