
Setelah selesai makan dan mengobrol dengan cukup hangat, semuanya berpamitan, kembali.
Paul yang paling terakhir, James meminta Bulan masuk dan meminta waktu pada Paul untuk mengobrol berdua di halaman depan kediamannya.
" Paul, kau hanya berpacaran beberapa hari saja dengan Bulan, tolong jangan ganggu lagi Bulanku, dia adalah milikku!" tegas James to the point.
" Tapi aku sudah menunggunya selama 3 tahun lamanya Kak, aku baru menyatakan cintaku padanya setelah dia lulus dari sekolah menengah pertama." Ujar Paul.
" Aku lebih lama darimu, aku menunggunya sejak dia masih kecil, untuk dia tumbuh dewasa, namun kami terpisah setelah aku memutuskan untuk menunggunya." ujar James.
Paul sangat bingung dengan ucapan sepupunya.
" Kau adalah sepupuku yang tidak pernah bertentangan denganku sejak dulu hingga sekarang, kita tidak saling membenci bukan?, meskipun kita tidak dekat kita tahu sebagai saudara harus bagaimana, saat aku di asingkan kau masih mau menyapaku, tidak ada masalah di antara kita, aku tidak mau Bulan menjadi masalah untuk kita!" ujar James.
" Tapi Kak, ..."
" Paul, aku tahu kau bisa menjaga rahasia, tapi memang Bulan adalah milikku sebelum bertemu denganmu, memang dulu aku mengabaikannya, sampai sering memarahinya, namun anak itu sejak kecil tidak mudah menyerah, akhirnya aku juga terbiasa dengannya dan berjanji akan menunggunya dewasa, namun kami terpisah karena kecelakaan itu." ujar James.
Betapa terkejutnya Paul, mendengar cerita James.
" Maksudnya Kakak, Bulan itu adalah Lu-- "
" Ssssttt ... Jangan diperjelas, kau tahu kan diantara aku dan Rio ada seorang gadis?" ujar James.
" Bagaimana bisa, kenapa sekebetulan ini?, Kakak kau tidak mengarangnya kan?, hanya untuk membuatku mundur?" Paul sangat tidak percaya.
"Nyatanya memang ada, ..." ujar James.
" Dia memang diciptakan untukku Paul, kami terpisah begitu jauh dan sangat lama, tapi dia kembali menjadi istriku." ujar James.
Paul sudah kalah, dia tidak bisa berbuat apapun lagi untuk mengambil Bulan dari James, Paul tahu bagaimana gadis kecil itu selalu mengikuti James dan berbicara untuk menikahi James setiap hari tiada bosannya, dan Rio juga menyukai Gadis itu setiap hari Rio merengek karena juga ingin menikah dengan Gadis itu.
" Rio belum tahu, dan tidak ada yang tahu soal ini, jagalah semua ini dari orang lain, karena Bulan juga korban, aku sedang menyelidiki orang yang merencanakan pembunuhan kami!" tegas James.
" Aku akan membantumu Kak, mencaritahunya!" Paul sebenarnya merasa sangat kecewa rupanya memang dia sudah kalah langkah dengan James rupanya Bulan adalah Luna.
" Jangan, aku sudah hampir menemukannya, kau tetap pada tempatmu, aku tidak akan melarangmu bertemu dengan Bulanku, tapi tolong tahu batasanmu Paul, aku tidak ingin hubungan kita rusak." Ujar James.
" Ya, mau bagaimana lagi, aku sudah kalah." Ujar Paul.
" Bagus, ... aku tidak akan memperpanjang lagi." ujar James.
" Kalau begitu aku pamit ya Kak!" Paul pun segera masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan kediaman Yomana.
" Ada apa Tuan?" tanya Lula.
" Lula, kau coba cari tahu tentang kecelakaan Kak James, ingat jangan sampai orang lain tahu!" Tegas Paul pada Lula.
__ADS_1
Lula pun mengangguk mengerti.
Paul terlihat sangat sedih, sudah jelas dia tidak akan bisa mendapatkan Bulan, selama ini dia menjaga Bulan untuk James.
" Sayang, apa kau berhasil membujuk Paul?" tanya Bulan.
" Ayo masuk dulu." ajak James, ya dia harus berpura-pura lumpuh meskipun di rumahnya sendiri.
Setelah masuk ke dalam kamar James langsung menarik Bulan dalam pelukannya.
" Siapapun tidak boleh mengambilmu dariku Moon." ujar James.
" Aku juga tidak kemana-mana Sayang, aku hanya ingin bersamamu, tidak ingin yang lain." Ujar Bulan berjinjit untuk mencium James.
James langsung meraih pinggang Bulan dan menjatuhkannya ke ranjang.
" Ayo waktunya setor lagi, sampai perutmu kembung!" Ujar James langsung mengunboxing Bulan.
Satu Minggu kemudian.
Lindam mengetuk pintu kamar Rio.
Rio pun terbangun, rupanya dia kesiangan untuk bekerja padahal ada rapat penting.
" Sialan, dia membuatku begadang." Rio segera mandi dan berpakaian dan pergi dengan Lindam ke kantor, sementara Fara masih terkulai lemas karena harus melayani Rio sampai pagi.
" Rumiya, apa Farah belum bangun?" tanya Matriks.
"Sepertinya belum Tuan." jawab Rumiya.
" Kenapa Rio bisa mendapatkan istri pemalas seperti dia, bangunkan!" tegas Lala.
" Jangan, biarkan saja." sahut Matriks.
" Apa maksudnya?, perempuan itu harus bangun pagi!" Lala langsung berdiri dan segera naik ke atas untuk membangunkan menantunya itu.
Lala langsung membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu.
Lala terkejut melihat Fara yang tidur tanpa pakaian sehelai pun.
" ******!" Lala langsung masuk ke kamar mandi dan mengambil air untuk mengguyur Farah agar bangun.
Farah pun terbangun dan berteriak, karena di guyur air.
"I--i--bu." Farah langsung menarik selimutnya dan membalut tubuhnya yang masih telanjang.
" Siapa yang kau panggil Ibu?" tanya Lala.
__ADS_1
" Panggil aku Nyonya, aku tidak setuju kau menikah dengan putraku!, bangun cepat!, ini bukan waktunya bersantai, kau sangat pemalas, wanita gatal, kau pasti menggoda anakku dengan lubang murahan mu!" tegas Lala mengomel.
Farah sangat sakit hati dengan ucapan Ibu Rio itu.
" Kenapa kau diam saja!" bentak Lala.
Farah pun segera bangun dan masuk ke kamar mandi tanpa sepatah kata pun dia ingat harus mencoba menghormatinya sekali dua atau tiga kali, jika tidak berefek maka dia harus melawan sesuai dengan yang dikatakan Bulan.
" ******, apa kau tuli dan bisu!" ujar Lala kesal .
Lala pun segera turun karena Farah sudah bangun.
Lala menangis di kamar mandi, bagaimana hidupnya jadi begini hina.
Suaminya hanya menganggapnya sebagai alat pemuas ibu mertuanya sangat kejam.
" Siapa yang mau jadi begini, hiks hiks hiks." Farah benar - benar meratapi nasibnya.
Tok tok tok
" Nak, cepat selesaikan mandimu dan makan agar tidak sakit." terdengar suara Matrik dari luar.
Farah segera mengusap air matanya.
" Iya Ayah." jawab Farah.
Farah segera menyelesaikannya mandinya lalu segera turun untuk sarapan.
" Bangun untuk makan saja malas, apa lagi untuk pekerjaan!" ujar Lala ketus.
" Diamlah, dia itu menantu yang harus kita perlakukan seperti anak kita!" ujar Matriks.
"Cih..." Lala segera pergi.
"Jangan di masukan hati ucapan ibu mertuamu Farah, kau bebas bangun jam berapa saja, yang terpenting jangan telat makan." ujar Matriks lembut.
" Terimakasih Ayah sudah memperlakukan Farah dengan baik di sini." ujar Farah berkaca-kaca.
" Tentu saja, sekarang kau juga anakku!" ujar Matriks.
Farah tersenyum lega karena masih ada orang -orang yang menerimanya dengan sangat baik.
" Sudah ya, kau makan yang kenyang, setelah itu kau bisa ke rumah James, ajaklah Bulan jalan-jalan!" ujar Matriks.
" Siap Ayah." jawab Farah.
Benar juga dia harus segera beradaptasi di negara dia tinggal sekarang.
__ADS_1