
" Aku sudah bertobat Lindam!" tegas Rio.
" Iya - iya Tuan, apa kita harus panggil pak rt dan pak rw untuk mengrebek mereka?" tanya Lindam.
" Jangan kau mau mempermalukan keluarga Yomana?" tanya Rio.
" Lalu bagaimana mana?" tanya Lindam bingung.
" Sudah kita kembali saja!" tegas Rio.
Mereka berdua segera pergi ke kediaman utama dan segera tidur dan tidak jadi makan.
Keesokan paginya, saat Sanny terbangun , Betran sudah hilang begitu saja.
" Kemana anak itu pergi?" gumam Sanny segera berdiri dan pergi ke kamarnya yang di belakang.
Sanny mengetuk kamarnya, untuk memastikan adiknya sudah bangun apa belum.
Beberapa kali mengetuk, tidak ada sahutan, Sanny berpikir mungkin adiknya sudah bangun, karena adiknya itu biasa bangun pagi.
Sanny pun membuka pintu, memang adiknya sudah tidak ada di ranjangnya.
Sanny pun segera mengambil pakaian untuk mandi, saat berjalan Sanny tersandung dan terjatuh. Betapa terkejutnya Sanny melihat adiknya tidur di lantai dengan tengkurap.
" Bulan, ... " Sanny mencoba membangunkan adiknya.
Rupanya Bulan demam tinggi, Sanny segera menggendong adiknya dan membawanya ke mobil langsung tancap gas ke rumah sakit terdekat.
Tidak ada yang dipikirkan Sanny kecuali hanya segera membawanya ke dokter.
Sampai di rumah sakit, Sanny segera membawa masuk ke Igd, Sanny segera mendaftar sementara Bulan di tangani boleh dokter.
Setelah selesai mendaftar Sanny segera kembali pada Bulan.
Dokter mengatakan jika Bulan, hanya kecapekan saja, dan mungkin karena banyak pikiran, jadi hanya butuh istirahat dengan cukup, karena jika dilihat Bulan memang kurang tidur dan istirahat, makan pun juga tidak teratur.
Sanny segera menghubungi Betran, namun tidak di angkat, akhirnya Sanny menghubungi Lindam.
Lindam pun segera mengatakan pada Rio yang baru bangun tidur, tanpa cuci muka atau mandi, Rio langsung bangun dan pergi ke rumah sakit. Ibunya memintanya untuk sarapan tapi Rio tidak menggubrisnya.
Sesampainya di rumah sakit.
" Di mana Abang?, kenapa kakak ipar?" tanya Sanny.
" Saya tidak tahu, Bulan kelelahan, coba kau hubungi Abangmu, aku tidak punya nomernya!" pinta Sanny.
Rio pun segera menghubungi abangnya, dan di angkat, rupanya Abangnya pergi dengan Betran.
__ADS_1
Rio mengatakan untuk segera kembali karena Bulan masuk rumah sakit. James langsung menutup telponnya begitu saja.
" Bagaimana?" tanya Sanny.
" Abang, menutup telponnya begitu saja!" jawab Rio.
" Ya sudah biarkan saja, Tuan Rio tolong dong berikan adikku kamar yang terbaik, aku lupa tidak bawa dompet, mendaftar saja pakai sim." ujar Sanny.
Rio dengan senang hati memberikan yang terbaik untuk kakak iparnya, lebih baik rawat inap saja biar Bulan istirahat total, jika di rumah Bulan memang tidak bisa diam.
Bulan pun di pindahkan di ruang inap VVIP.
Tak lama James tiba dengan Betran.
" Abang kemana sih?" Rio sangat gemas pada Abangnya.
" Bagaimana keadaan Moon?" James terlihat sangat khawatir.
Sanny menjelaskan semua keadaan Bulan, James pun mengangguk.
Sanny juga menceritakan kesedihan Bulan tentang kalung itu, pada James, jika Bulan sangat khawatir jika nanti James tidak lagi menyukainya.
"Mana mungkin aku tidak menyukainya lagi, dasar bodoh." ujar James memegangi tangan istrinya yang sangat lemah lalu menciumnya.
" Rio kau berangkatlah ke kantor!" pinta James.
" Tetaplah di perusahaan dari pada ibumu membuat ulah!" ujar James.
Dengan menghentakkan kakinya karena kesal, Rio pun segera berangkat ke kantor dengan Lindam.
" Betran, kau urus semuanya di bantu oleh Sanny agar cepat kelar, aku akan menjaga istriku!" pinta James.
Betran pun segera pergi bersama Sanny.
James menciumi punggung tangan istrinya karena khawatir.
" Kenapa masih belum bangun?, suamimu sudah datang untukmu!" ujar James.
James mengusap lembut pipi istrinya, agar istrinya cepat bangun.
Setelah menunggus selama 15 menit akhirnya Bulan terbangun.
" Di mana ini?" gumam Bulan lirih.
Bulan mengamati bangunan yang asing untuknya itu.
" Moon ... " panggil James lembut.
__ADS_1
Bulan langsung terbangun terduduk dan melihat ke arah James.
" Suamiku!" Bulan langsung turun dari ranjang dan bersimpuh di hadapan suaminya.
" Suamiku, tolong maafkan aku karena masih belum menjadi istri yang baik sehingga kau kecewa, tolong beri aku kesempatan, bukankah kau tidak akan melepaskanku, tapi kenapa kau menyendiri tidak peduli padaku semalam, semalaman aku berpikir apa salahku, apakah ada perbuatanku yang tidak berkenan untukmu, tolong beritahu aku, aku akan mencoba merubahnya, Suamiku, jangan tidak peduli lagi denganku, aku tidak tahu kemana lagi harus pergi jika kau sudah tidak peduli padaku!" Bulan menangis di hadapan suaminya.
" Dasar bodoh!" James menarik Bulan duduk dipangkuannya.
" Seharusnya aku yang minta maaf padamu, karena membuatmu seperti ini, lain kali tidak alan ku ulangi lagi, maaf ya." James memeluk istrinya yang masih lemah itu.
" Syukurlah, terimakasih Suamiku!" Bulan sangat lega karena James tidak marah lagi.
James meminta Bulan untuk kembali berbaring dan beristirahat, Bulan tidak boleh berpikir macam-macam pokoknya hanya istirahat saja sampai benar-benar sembuh total.
" Suamiku, aku mau pulang saja, aku hanya kelelahan aku akan meracik resep untuk diriku sendiri." ujar Bulan.
" Kata Sanny, jika di rumah kau tidak akan istirahat!" jawab James.
Tapi Bulan sangat keras kepala, dan meminta untuk pulang saja tidak mau di rumah sakit lama-lama.
Akhirnya James mengiyakan tapi menunggu Betran dan Sanny selesai dengan urusannya.
Sebenarnya Bulan ingin menanyakan pada James, siapakah Luna itu?, lalu di manakah dia?.
Tapi mulutnya tidak bisa terbuka sama sekali, Bulan takut mood suaminya kembali memburuk dan nanti dia di cuekin lagi.
Bulan benar-benar menahan diri meskipun rasanya ingin meledak-ledak memberikan banyak pertanyaan yang tersirat di kepalanya.
James tahu jika Bulan memiliki banyak pertanyaan untuknya dan mencoba menahan sekuat tenaga.
" Simpan rasa ingin tahumu Moon, jika saatnya aku ingin bicara tentang hal semalam, aku akan menceritakan semua tanpa kurang sedikit pun, sekarang aku mau kau sembuh dulu!" tegas James.
Bulan pun tersenyum dan mengagguk, hatinya agak lega karena memang James tidak ingin menyembunyikan apapun pada diri nya.
Makan siang pun tiba, James menyuapi istrinya dengan perlahan, biasanya Bulan yang melayani James dengan segala hal.
Kini gantian James yang melayani istrinya yang comel dan manja itu.
Setelah selesai makan, tak lama Betran dan Sanny tiba, mereka segera mengurus Bulan untuk pulang.
Setelah diijinkan pulang, mereka pun segera pulang.
" Bul-bul istirahatlah!" ujar Betran.
" Terimakasih kak!" ujar Bulan.
Sanny pun juga meminta adiknya itu memperbanyak istirahat dan dia tidak akan mengganggu, adiknya pun di serahkan sepenuhnya pada James untuk jaga.
__ADS_1
Tentu saja James akan mengurus istrinya dengan baik, meskipun penuh dengan keterbatasan.