
" Moon kita bulan madu yuk! " ajak James.
" Kemana?" tanya Bulan.
" Keluar Negeri, di sana aku bisa berjalan semauku, tapi kalau di sini aku masih harus berpura-pura lumpuh." ujar James.
" Kita susul ayah mertua saja bagaimana, lama sekali aku tidak bertemu ayah mertua." ujar Bulan.
" Kenapa harus menemui orang tua itu?" James langsung kesal.
" Paman kan baik denganku sejak kecil, kan aku sebagai menantu yang baik mengunjungi Ayah mertua." ujar Bulan.
" Ya sudah, minta Sanny untuk mengatur waktu untuk kita, kita berangkat pagi buta." ujar James.
" Yea, ... " Bulan merasa sangat bahagia.
" Apa Abang juga sudah tahu kalau aku ini bukan adik kandungnya, lalu Kak Betran bagaimana?" Tiba-tiba Bulan menjadi melow.
"Sudah, Betran tahu tapi dia ada pekerjaan yang harus dia selesaikan." ujar James.
"Rasanya sangat senang juga agak menyedihkan, hiks hiks ..." ujar Bulan.
"Kau tidurlah lebih dulu, aku akan berbicara dengan Sanny Moon." ujar James mengecup kening Bulan.
James kembali duduk di kursi roda, dan segera keluar untuk mencari Sanny.
" Tuan, ..." ujar Sanny yang duduk di ruang tamu.
" Ikut aku!" ajak James ke ruangannya.
" Iya ..." Sanny pun segera masuk ke ruangan James.
" Ada apa denganmu?" tanya James melihat gelagat Sanny terlihat tidak bersemangat sama sekali.
" Tuan, anda sudah bisa berdiri." ujar Sanny.
" Kau tidak suka aku berdiri?" tanya James.
" Bukan, saya sangat suka, bukan hanya anda bisa berdiri, tapi Bulan juga sudah ingat siapa dirinya, lalu siapalah aku untuk tetap berada di sisi Bulan." ujar Sanny.
" Sanny, dia tetap adikmu, kemana kau akan pergi jika tidak di sisi Bulan?" tanya James.
" Tapi, ..." Sanny tentu sangat tahu diri.
" Aku tidak mau membuat Bulan bersedih, dia sangat menyayangi mu, jalani saja seperti biasanya, jangan terlalu dipikirkan, kita masih harus menjaga semua rahasia ini, apa kau mengerti Sanny?" tanya James.
" Saya mengerti Tuan, terima kasih sekali karena tetap mengijinkan saya tinggal di sisi Bulan." ujar Sanny terlihat senang.
" Pesan tiket ke Dubai, 3 orang cari penerbangan pagi- pagi sekali, jangan beritahu siapapun termasuk Rio dan Lindam." tegas James.
__ADS_1
" Saya mengerti!" Sanny pun segera mempersiapkan semuanya untuk besok pergi ke Dubai.
Sanny pun mendapatkan penerbangan pukul 5 pagi.
Pukul 4 pagi petang ketiganya sudah siap untuk pergi ke bandara.
Tidak ada yang tahu kepergian mereka, setelah melakukan penerbangan selama 9 jam akhirnya mereka sampai di Dubai.
Mereka segera menuju ke kediaman Matriks di Dubai.
" Sayang kau mau pakai kursi rodamu?" tanya Bulan pada suaminya.
" Ya, pakai dulu untuk menemui pak tua." jawab James.
James pun segera duduk di kursi roda, dan mereka pun segera sampai di kediaman Matriks.
Terlihat Matriks sedang bersantai sambil membaca koran di teras depan rumah.
" Ayah ... " Panggil Bulan.
Karena Matriks sudah berumur dia tidak kelihatan siapa yang memanggilnya, Matriks segera mengenakan kacamatanya.
" Oh Bulan ... " Matriks segera berdiri menghampiri anak dan menantunya itu.
" James, Bulan ayo masuk, ayah tidak menyangka jika kalian akan mengunjungi kami!" ujar Matriks.
Matriks terlihat senang dengan kedatangan James dan juga menantunya itu.
" Ayah tinggal sendiri, dengan siapa lagi?, Ayah datang ke sini karena ingin menyendiri." jawab Matriks.
" Kenapa?, kembali saja dan tinggal bersama kita, sendiri itu apa enaknya Ayah." ujar Bulan.
" Hahah, benar tapi Ayah masih ingin di sini untuk beberapa waktu, oh ya kalian datang ke sini ada perlu apa?" tanya Matriks.
" Mengunjungi Ayah lah ." jawab Bulan.
" Anak baik, Ayah tidak salah memilihmu untuk James, Apa James masih tidak baik padamu?" tanya Matriks.
" Putra Ayah sangat baik pada Bulan, dia suami yang luar biasa untuk Bulan." jawab Bulan tanpa ragu.
Matriks senang mendengar jawaban menantunya.
" Ayah, kau sudah semakin tua jagalah kesehatamu." ujar James.
" Ya, terima kasih, kau tampak lebih baik, kau lebih segar dan berisi, Bulan sangat pandai mengurusmu!" ujar Matriks.
" Ya, kalau itu aku sependapat denganmu, berkat perjodohanmu itu aku menemukan kebahagiaanku, kali ini kau cukup berkontribusi!" ujar James.
"Kenapa kau tidak sopan, bagaimana pun dia ayahmu, kenapa kau kasar sekali." protes Bulan.
__ADS_1
Bulan sangat tidak suka dengan cara bicara James pada ayahnya.
" Iya, Ayah maafkan aku Ayah." ujar James.
Matriks tertawa melihat James begitu sangat patuh pada istrinya.
" Kapan kalian memberikan ayah cucu?, jika ada cucu Ayah akan pulang." ujar Matriks.
" Lah, James juga tidak meminta Ayah pergi, jika Ayah pergi juga tidak apa-apa, kenapa pakai alasan ada cucu baru pulang?, kau juga tahu kondisi ku bagaimana." ujar James.
" Suamiku..." Bulan mencubit lengan James.
" Ah, ah ... sayang cubitan mu sakit sekali." keluh James.
" Ayah, kami sedang berusaha, doakan saja semoga kami segera bisa memberikan cucu untuk Ayah." sahut Bulan.
" Pffft ... " James menahan tawanya sebisa mungkin.
Awas saja nanti kalau kamu tidak berusaha, aku tidak akan melepaskanmu.
Dalam hati James.
" Ya, Ayah hanya bisa mendoakan kebahagiaan kalian, oh ya bagaimana dengan keadaan adikmu, oh kenapa Betran tidak ikut?" tanya Matriks.
" Betran nanti menyusul Ayah, Rio baik!" jawab James.
" Hubungan James dengan Rio sangat baik loe, Ayah ... Ayah tidak usah khawatir pokoknya!" sambung Bulan.
" Semenjak Bulan tinggal, banyak hal yang berubah, kau memang anak yang membawa keberuntungan." ujar Matriks.
" Ayah jangan seperti itu, nanti aku besar kepala, Ayah bagaimana jika Bulan memasak, karena sudah waktunya makan siang, apakah ada bahan-bahan untuk di masak?" tanya Bulan.
" Ada dong, Ayah sampai lupa tidak menjamu kalian kalau begitu ayo memasak dengan Ayah Bulan." ajak Matriks.
Bulan langsung mengekor Matriks ke dapur, Matriks benar-benar tinggal seorang diri di Dubai, dia pun harus memasak sendiri saat ingin makan, jadi dapur aman terkendali soal stok.
" Ayo mau masak apa?" tanya Matriks sambil memperlihatkan semua bahan makanan yang ada.
" Buat Shawarma aja deh Ayah, makanan orang timur tengah, kan lagi di Dubai ... Tapi Bulan belum pernah membuatnya." ujar Bulan.
" Sekarang bantu Ayah potong sayuran, sisanya serahkan pada Ayah." ujar Matriks.
Mertua dan menantu itu berkolaborasi membuat beberapa makanan khas timur tengah, Bulan sangat senang karena bisa akur dengan mertua memasak di dapur meskipun mertua laki-laki tapi keahliannya tidak bisa di pandang sebelah mata.
" Wah, Ayah kau luar biasa!" Bulan mengacungkan kedua jempolnya.
" Tentu saja, ... ayo kita makan, panggil suamimu dan juga orang yang datang bersama kalian tadi." ujar Matriks.
Mereka pun makan bersama berempat, Matriks benar-benar senang melihat keceriaan di wajah James yang sudah lama tidak tampak di depannya.
__ADS_1
Terima Tuhan, kau mengirimkan malaikat tak bersayap itu untuk Putraku yang satu ini.
Dalam hati Matriks.