
Setelah selesai makan Farah segera pergi ke kediaman James untuk bertemu Bulan.
" Kakak, ... " Panggil Fara pada Bulan yang sedang bercocok tanam.
" Farah, kau sudah bangun?" tanya Bulan.
" Kakak, bukankah kau sekolah kedokteran, kenapa kau malah bercocok tanam?" ujar Farah bingung.
" Iya, setelah seleksi kelulusan aku bakal intership 6 bulan di puskesmas lanjut 6 bulan berikutnya ke rumah sakit." jawab Bulan.
" Kalau Kakak magang, aku dengan siapa?" tanya Farah agak sedih.
" Hei, kenapa sedih?" tanya Bulan.
" Kak, nanti aku tidak ada temannya, tadi saja aku diomeli oleh ibu mertuaku, karena bangun kesiangan." ujar Farah.
" Besok bangun pagi dulu, bantu memasak di dapur, kau bisa masak?" tanya Bulan.
" Heheh, tidak Kak, tolong ajari aku memasak kak." pinta Farah.
" Ya boleh, mumpung aku belum magang aku akan mengajarimu memasak dan ini juga Cara agar Rio bergantung padamu, aku akan membocorkan semua makanan kesukaan Rio.
"Ya kak, terimakasih." Farah terlihat sangat senang dengan bantuan Bulan.
Dalam waktu satu bulan itu Bulan benar - benar mengajari Farah untuk memasak makanan indo.
Setelah satu bulan, Bulan pun segera berangkat ke kota B untuk intership di puskemas di daerah agak terpencil, yang di temani oleh Sanny.
" Buhuhuhu aku baru sampai kota B udah rindu dengan suamiku Bang." ujar Bulan.
" Satu tahun juga lama, kan kata suamimu dia bakalan sering mengunjungimu!" ujar Sanny.
" Aku nggak bisa LDR an lama-lama huhu." Bulan merengek karena harus long distance
Relationship.
Sanny membantu adiknya menata semua barang bawaannya dengan rabi di kediaman yang dia sewa untuk satu tahun ini.
" Kak Lena bagaimana?" tiba-tiba Bulan menanyakan tentang Lena.
" Betran membantuku memberi keringanan untuk Lena, dia bis keluar penjara setelah 3,5 tahun, rupanya ibu tidak peduli pada kami, yang dia perdulikan hanya dirinya sendiri saja, dan pria-pria istri orang!" ujar Sanny.
" Apa Ibu benar - benar seperti itu?" tanya Bulan.
" Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri Bul, untunglah kau bukan anaknya." ujar Sanny mengusap kepala Bulan dengan lembut.
"Sudah kita jangan membahasnya,..." ujar Bulan Itu pasti akan membuat abangnya sedih.
3 Minggu pun berlalu.
Di kediaman James.
__ADS_1
" Abang, kenapa Kakak ipar tidak di rumah selama 3 Minggu kemana dia?" tanya Rio.
" Sementara ini kami LDR-an, kau tidak usah datang ke sini untuk makan, kau minta makan pada istrimu sana!" tegas James.
" Tidak mau, kakak dengan siapa pergi?" tanya Rio penasaran.
" Dengan Sanny." jawab James.
Rio tiba-tiba menghampiri Betran dan menepuk pundak Betran.
"Kau juga LDR-AN ya?, sabar ..." ujar Rio.
" Apa maksudmu Rio?" tanya James
" Oh tidak apa-apa, aku hanya bercanda denga Betran bang!" sahut Rio.
Rio mengedipkan satu matanya pada Betran, lalu berbisik.
" Santai, santai ,santai aku tidak ember." ujar Rio percayakan diri.
Lindam menepuk jidatnya melihat tingkah konyol tuan mudanya.
Sementara Betran melihat Rio dengan aneh dan bingung karena tidak mengerti maksudnya Rio itu apa.
Tiba-tiba datanglah Farah membawa makanan banyak untuk James dan juga Betran, karena beberapa kali dia memasak untuk Rio, Rio tidak pernah memakannya.
" Kakak ipar, kata kak Bulan aku harus membagi hasil masakanku setiap hari pada kakak ipar dan juga kak Betran." ujar Farah.
" Terimakasih Farah, seharusnya kau tidak usah repot-repot." ujar James.
Farah melewati Rio begitu saja.
" Wanita itu berani sekali mengabaikan ku!" tegas Rio kesal.
" Kau yang tidak menghargainya, Betran ayo kita makan, masakan adik ipar memang cukup lezat dia sangat pandai memasak, Lindam ayo sekalian makan!" ajak James.
" Ayo Lindam, kau tidak akan menyesal!" sambung Betran membujuk.
Lindam hanya melihat ke arah Rio, kenapa malah dia yang diajak makan, bukan tuannya.
" Makanlah!" ujar Rio.
" Kau kalau juga mau makan, makan saja!" sahut James.
" Tidak aku tidak lapar!" ujar Rio jual mahal, namun tiba-tiba, terdengar Suara gemericik dari perutnya.
James , Betran dan juga Lindam menahan tawa mendengarnya.
" Mulut dan perut tidak sinkron!, cepat makan!" tegas James.
Akhirnya dengan malas-malas dan menahan malu Rio pun segera duduk dan makan, dia sebenarnya tidak berselera tapi karena sudah kepalang malu, terpaksa memakannya.
__ADS_1
"Eh, ini enak, kok mirip masakan kakak ipar?." ujar Rio sangat terkejut.
" Jelas, dia belajar juga dari istriku!" tegas James.
Sialan kalau tahu rasanya seenak ini aku juga tidak akan menolak masakannya.
Dalam hati Rio.
Sebelum Bulan berangkat, dia meminta pada James untuk membantuk keduanya agar lebih dekat lagi, dan itulah yang dilakukan James, memancing Rio untuk memakan masakan Farah.
Rio langsung mengambil nasi lagi dan makan lagi sampai dia puas.
James hanya tersenyum, semoga adiknya itu segera bisa menerima Farah.
" Abang, besok tolong bilang wanita itu untuk menambah lebih banyak porsi aku akan makan di sini!" ujar Rio.
" Tidak, enak saja ... Aku sangat tahu diri, sudah dikasih, masak mau minta tambah porsi, aku tidak setidak tahu malu dirimu!"
ujar James.
" Ya, ya ..." Rio juga tidak bisa membujuk abangnya, Rio sangat menyesal selama ini menolak makanan Farah.
Di malam hari,
Farah sekarang sangat mudah lapar, dia juga sudah mulai terbiasa dengan makanan lokal di negara suaminya.
Farah pergi ke dapur untuk membuat nasi goreng yang simple dan telur ceplok.
Rio yang berada di kamar langsung turun karena mencium masakan enak.
Rio berjalan ke dapur.
" Sekarang kau sangat nyaman di sini!" ujar Rio.
" Iya, karena ayahmu sangat baik padaku, dan beberapa hari ini ibu mertua tidak pulang jadi aku senang." jawab Farah jujur.
Sialan dia bahkan sangat jujur jika tidak menyukai ibuku.
Dalam hati Rio.
" Apa kau lapar?" tanya Farah.
" Tidak aku mau ambil air minum!" Rio Lang menuju lemari es mengambil botol minum sambil melirik nasi goreng yang dibuat Farah.
" Mau tidak?" tanya Farah lagi.
" Nggak!" jawab Rio, namun dia sampai menelan ludah melihat Farah makan.
" Sinih aku coba!" Rio langsung mengambil sendok bekas Farah dan memakan nasi goreng buatan Farah.
" Masak lebih banyak lagi, aku hanya berniat baik menghargai usahamu, mulai besok masakan aku setiap hari!" Rio memang selalu kehilangan harga diri untuk urusan makanan enak.
__ADS_1
Farah diam-diam tersenyum melihat suaminya itu seperti anak kecil padahal sudah cukup matang.
Farah memasak lagi untuk dirinya dan juga Rio, saran dari Bulan sangat sukses.