
Esok harinya Bulan sangat bersemangat, dia tampak begitu ceria.
" Sayang, aku antar kerja ya, hari ini biar Sanny dan Betran di rumah saja." ujar James.
" Tidak, mereka kita ajaklah ..." ujar Bulan.
" Haih, padahal aku ingin berduaan denganmu!" keluh James.
" Jika kau bisa menggantikan kerjaan Abang Sanny, boleh!" ujar Bulan.
" Yang ada pasiennya kejang-kejang kalau aku yang bantu tangani!" ujar James.
James yang kesabarannya setipis tisu itu mana bisa menghadapi berbagai macam jenis pasien.
Mereka berempat pun berangkat, Betran dan James menunggu di ruangan Bulan, sementara Bulan dan Sanny, keliling memeriksa pasiennya sesuai jadwal termasuk Tuan Moses.
Saat memeriksa Tuan Moses, rupanya Tuan Moses sedang bertengkar dengan putrinya.
" Apa kau ini orang tua sudah mau mati, masih susah di atur!" ujar Anak perempuan tuan Moses.
" Sebaiknya aku tidak punya anak sepertimu!" ujar Moses.
"Cepat makan!, aku tidak punya waktu lagi, aku sibuk!" putri Moses terdengar terus mengomel tidak karuan.
" Nona, bukan begitu mengurus pasien!" ujar Bulan mengingatkan dengan lembut.
" Terserah dia Ayahku, apa kau mau ikut campur?, aku sedang berusaha membujuknya makan yang sangat susah makan!" keluh putri Moses.
" Biar saya saja yang menyuapi!" ujar Sanny mengambil alih makanan di tangan anak Moses.
" Kau ..." Anak Moses terlihat terkejut melihat Sanny.
" Ada apa Nona?" tanya Sanny.
Anak Moses menggeleng kepala, dan mundur.
" Tuan ayo makanlah, sedikit ..." bujuk Sanny.
Moses langsung membuka mulutnya dengan lebar, Sanny menyuapkan sedikit demi sedikit pada Moses.
" Kau siapa?, kenapa Ayah sangat menurut denganmu?" tanya putri Moses bernama Silya.
Sanny diam saja tidak menjawab pertanyaan Silya.
" Sudahlah, aku pulang saja!" Silya pun segera pergi begitu saja.
" Anak nakal itu, selalu membuat mood ku jelek!" keluh Moses.
__ADS_1
" Aduh aku jadi melupakan hal penting!" Bulan segera berlari ke tempat laboratorium.
Dia mengambil hasil tes DNA kemarin dan segera membawanya ke pada Moses.
" Tuan coba kau buka, kemarin kan katamu Abangku terlihat mirip denganmu, aku mengambil sampel darah dan rambut kalian, untuk tes DNA, lihatlah hasilnya, aku juga mau tahu tapi kau lihatlah dulu!" ujar Bulan.
" Kau sangat gercep, jika dia benar anakku, berati kau juga putriku?" ujar Moses.
" Heheh, kalau Tuan mau saya mau lah jadi anak tuan, tapi saya dan Abang saya tidak ada ikatan darah!" jawab Bulan.
" Wah sayang sekali, aku akan. Bahagia jika punya anak sepertimu!" ujar Moses.
Moses membuka hasil tes DNA.
Dan hasilnya ternyata 99.9999% akurat.
Moses seakan tak percaya, matanya sudah berkaca - kaca, melihat hasilnya.
" Ini bukan rekayasa kan?" tanya Moses.
" Ini hasil DNA darah, yang rambut masih menunggu 3 hari, Tuan tidak akan meragukan aturan rumah sakit kami ini kan?" tanya Bulan.
Karena rumah sakit itu memang paling terbaik di provinsi itu.
" Nak, apa kau menerima aku sebagai ayahmu?" tanya Moses.
" Tapi tunggu, siapa nama ibumu Nak?" tanya Moses.
" Nama ibunya Ririn, dulu dia menjadi asisten yang membantu ibunya mengurus klinik tradisional di kota H." jelas Bulan.
" Ririn, wanita itu?" Moses sangat ingat soal itu, Ririn memang saat itu menggodanya, dia yang play boy jelas tergoda oleh kecantikan Ririn.
" Saat itu Ririn mengatakan belum menikah. Tapi saat aku kembali mencarinya dia sudah menikah dengan seorang petani di desanya, aku pun sangat kesal dan melupakannya, rupanya dia mengandung anakku, dan malah menikah dengan orang lain.
Di mana ibumu sekarang?" tanya Moses.
" Ibu dan ayahku sudah bercerai, sebaiknya kau tidak menemui ibuku, karena dia bukan wanita baik!" ujar Sanny.
" Nak, aku Ayahmu, ...aku membutuhkan pewaris, ayo pulang dengan Ayah, Ayah akan memberikan semuanya padamu, jika kau tidak mau ayah hanya akan menyumbangkan semua harta kekayaan ayah ke panti asuhan, untuk orang - orang itu Ayah tidak sudi memberikannya, mereka tidak pernah patuh, dan setiap hari mengajukan pertanyaan berapa mereka akan mendapatkan warisan, padahal aku masih hidup!" ujar Moses.
" Maafkan saya Tuan, saya tidak tertarik sama sekali dengan warisan anda, karena anda juga bukan ayah ku!" ujar Sanny menolak kebenaran.
" Mana bisa kau menolak aku ayahmu!" Moses langsung naik darah mendengar ucapan Sanny.
" Bisa, anda tidak pernah merawat saya, bagaimana bisa saya masuk dalam kehidupan keluarga anda?, tidak ada ingatan tentang saya di masa kecil tentang Anda, aku hanya akan mengakui Ayah Rudy saja dalam hidupku ini!" Sanny sama keras kepalanya dengan Moses.
" Jika kau tidak mau masuk dalam keluargaku, aku akan menyeret keluargamu, ayahmu dan juga ibumu ke ranah hukum bagaimana pun caranya!" Ancam Moses.
__ADS_1
Dia sudah bertahun-tahun berharap ada wanita datang membawa seorang putra untuknya, namun tidak ada yang datang sama sekali, kini malah dipertemukan dengan cara yang tidak di sangka, malah anaknya tidak mau, rasanya sangat menyebalkan untuk Moses.
Sebelum mengetahui Sanny anak kandungnya, Moses juga sudah menyukai Sanny.
Apalagi dia sudah tahu jika Sanny darah dagingnya dengan Ririn.
" Tuan, saya akan bicara dengan Abang saya dulu, Tuan jangan marah-marah, nanti kalau Tuan malah drop!" ujar Bulan.
" Kau adiknya kan?, cepat bujuk dia, jika tidak bisa aku juga akan menuntutmu perihal perlakuan kasar pada pasien!" tegas Moses.
" Kenapa aku jadi kena?" protes Bulan.
" Bodo amat!" ujar Moses memalingkan mukanya.
Bulan segera menarik Sanny dan membawanya ke ruangannya.
" Abang, dia sungguh ayah biologismu, kenapa kau menolaknya, dia sangat kaya Abang, dan dia butuh pewaris, lihat anak perempuan tadi, eh maksudnya adikmu tadi, dia sangat jahat pada Tuan Moses, apa kau tidak kasihan?" ujar Bulan.
" Aku tidak tertarik dengan warisannya, dan adikku hanya Bulan seorang, ayahku hanya Ayah Rudy saja." tegas Sanny.
" Tapi dia akan mengancam karir Bulan jika kau menolak kebenarannya." ujar Bulan.
James dan Betran hanya menyimak keduan kakak beradik yang berdebat itu.
" Tidak, aku malas untuk bersaing, aku hanya ingin berada di sampingmu dan melindungimu!" ujar Sanny.
Bulan memepet Abangnya ditembok,
" Abang, jika Abang kaya, punya uang, punya kuasa, punya jabatan, dan disegani orang, Abang pasti bisa menjaga Bulan dengan baik, membantu Karir Bulan, dan juga membalas dendam pada mantan kekasihmu yang dulu pergi meninggalkanmu tanpa berperasaan." ujar Bulan.
James dan Betran menepuk jidatnya mendengar rayuan Bulan pada Sanny.
" Kau tahu Ibu seperti apa?, aku tidak mau dia datang padaku, dan masuk dalam kehidupan ku lagi, aku sudah tidak mau pusing!" ujar Sanny.
" Tidak apa-apa, berikan saja yang untuk memutuskan hubungan lebih jelas, dengan surat perjanjian, sama halnya seperti ibu menjualku pada ayah mertuaku!" bujuk Bulan.
" Tidak semudah itu, kau kira ibu itu mudah di hadapi?" ujar Sanny.
" Ibu kita pikirkan nanti, yang penting Abang masuk dulu deh, Abang kan bisa merahasiakan identitas Abang." ujar Bulan.
" Bulan, Abang tidak tertarik!" Sanny masih keras kepala.
" Sekarang temui tuan Moses, dan mengakuinya sebagai Ayah!" Bulan menarik lagi Sanny ke ruangan Moses, ini menyangkut karir yang dia cita-cita kan selama ini, jika sampai Moses mencari masalah itu akan menghambat karirnya.
" Tuan, kenapa tiba-tiba Luna begitu menggilai uang?" tanya Betran.
" Bukan dia sedang mengamankan karirnya." jawab James.
__ADS_1
" Sudah ku duga anak itu tidak berubah rupanya." ujar Betran.