
Keesokan paginya Bulan dan Sanny mempersiapkan untuk piknik dekat-dekat saja sambil membawa bekal dari rumah.
Bulan menyiapkan semua bekal untuk barbeque an nanti. Bulan tampak bersemangat karena ini kali pertamanya dia piknik keluarga.
Sayang sekali Betran masih belum kembali, jadi mereka berangkat hanya bertiga saja.
Setelah sudah siap mereka pun segera berangkat menuju tempat yang mereka sepakati, di tepi danau.
Rupanya banyak orang sedang menikmati waktu dengan keluarganya.
Sanny membuat panggangan dan sementara Bulan menggelar tikar dan menata beberapa camilan dan buah-buahan yang dia bawa.
James hanya bisa diam di kursi roda memperhatikan istrinya menata semua bekal yang di bawanya.
James memang tidak diperbolehkan membantu oleh Bulan, jadi ya menurut saja.
Setelah selesai Bulan segera membantu Sanny untuk memanggang semua makanan barbequenya.
Bulan terlihat sangat bahagia, begitu juga dengan Sanny. James pun turut bahagia melihat istrinya sangat bahagia.
Istirinya ini memang sangat baik, semua orang di bagikan tusuk barbequenya untuk mencicipi, pantas saja dia membawa begitu banya seperti orang ingin membuka lapak kaki lima saja.
" Suamiku, ini milikmu." ujar Bulan memberikan bagiannya.
" Kau ini rupanya ingin berbagi ya?" tanya James.
" Ya, aku juga meminta doa pada mereka semua untuk mendoakan agar suamiku lekas sembuh." ujar Bulan.
"Terimakasih Moon, kau ini selalu mengejutkanku." James mencubit pipi Bulan dengan gemas.
" Apanya yang mengejutkan?" tanya Bulan.
" Kau ... adalah sebuah kejutan dalam hidupku!" ujar James.
" Apa aku sangat mengagetkan?" tanya Bulan lagi.
" Ya." jawab James tanpa ragu.
" Hehehe, ayo cicipi dulu makanannya, ..." Pinta Bulan.
James pun melahap makanannya dengan lahap, karena masakan Istrinya tidak ada duanya.
Mereka menghabiskan waktu untuk berbincang banyak hal sambil menghabiskan makanan yang Bulan bawa, sebelum makanan itu habis, Bulan tidak akan mengajak pulang.
Tapi makanan itu terlalu banyak, padahal juga sudah di bagikan.
" Kenapa tidak mengajak Rio dan Lindam, untuk membantu menghabiskannya!" ujar James.
__ADS_1
" Tidak, dia akan merusak suasana baik!" ujar Bulan langsung moodnya turun.
" Baik-baik, tidak menyebutnya." Ujar James.
Terdengar suara ponsel berdering.
Rupanya, itu ponsel Sanny dan ibunya lah yang menghubunginya.
Sanny melihat ke arah James dan Bulan.
" Cepat angkat!" ujar James.
Sanny pun baru berani mengangkat, karena memang dirinya sudah berjanji tidak akan mengkhianati James dan menjadi orang nya.
" Hallo, Sanny ... kau di mana Sanny?" tanya Ririn.
" Aku sedang keluar, ada apa?" tanya Sanny.
" Sanny, bisakah kau mengirimkan uang 200 juta untuk ibu?" ujar Ririn.
" Aku tidak ada uang Bu, maaf!" ujar Sanny.
Ririn tidak percaya jika Sanny tidak punya uang, karena Ririn tahu Sanny bekerja dengan keluarga Yomana, mana mungkin tidak ada uang itu mustahil.
" Sungguh tidak ada." jelas Sanny.
Padahal dia sudah tidak pernah membesuk Lena lagi, meskipun sudah mendapatkan uang dari Sanny.
Sanny menarik nafas panjang, agar tidak marah pada ibunya itu.
" Ibu tidak mau tahu kau kirim sekarang!" tegas Ririn.
" Tidak ada ya, tidak ada, kenapa Ibu tidak minta pada lelaki yang menidurimu itu Ibu di rumah?" Ujar Sanny sangking kesal.
" Apa?" Ririn sangat terkejut, rupanya Sanny pernah memergokinya diam-diam.
" Ya, minta saja sama pria itu, jangan hanya bisa meniduri saja, kenapa ibu malah lebih murah dari pelacur?" Sanny semakin mengolok ibunya karena sakit hati pada ibunya itu.
" Kau bicara apa Sanny?, kau sangat jahat!" tegas Ririn.
" Maaf Ibu, aku tidak ada uang sebaiknya ibu tidak usah menghubungi Sanny lagi." tegas Sanny.
" Sanny, kau anak kurang ajar yang pernah ibu lahirkan, kau berengsek!" Ririn langsung mengumpat putranya itu dengan kata-kata kasar yang begitu memedihkan telingannya.
Sanny langsung mengkhiri panggilannya, mata Sanny sudah berkunang-kunang karena mendengar umpatan yang begitu luar biasa dari ibu kandungnya.
" Kedengarannya kami ini bukan anakmu, tapi investasi jaminan masa depanmu, apakah kau ini sungguh tidak menyayangi kami seperti ibu yang lain?" Gumam Sanny.
__ADS_1
Sanny mencoba menenangkan dirinya lebih dulu, karena berbicara dengan ibunya benar - benar menguras isi hati dan kepalanya.
" Melelahkan sekali hidup seperti ini, jika memang Bulan itu bukan bagian dari kami maka sungguh dia anak yang beruntung." Gumam Sanny.
Sementara Bulan terlihat masih bercanda dengan suaminya, dia sangat ceria saat bersama James, Sanny pun merasa bersalah karena selama ini tidak menjadi Abang yang bisa melindunginya.
" Aku akan pergi membelikan Bulan permen gulali, aku ingat di sana ada orang yang menjual permen gulali." Sanny pun segera pergi membelikan permen kesukaan Bulan itu.
" Lah Abang kemana itu?" Ujar Bulan yang melihat Sanny berjalan ke arah luar area wisata.
" Biarkan saja, mungkin ada hal penting!" ujar James.
" Dia masih memikirkan Ibu kah?" gumam Bulan.
" Tidak tahu, tapi itu tadi telpon dari Ibumu, mungkin juga ada hubungannya dengan Ibu kalian." jawab James.
" Ada apa ya?, bikin hati dam pikiran tidak tenang saja!" ujar Bulan.
" Sebaiknya kau membawaku jalan-jalan ke sana!" pinta James.
" Baik kita jalan-jalan sebentar!" Bulan pun mendorong kursi roda suaminya dan membawanya berjalan-jalan ke tapi danau.
Hari sudah mulai sore, beberapa pengunjung satu persatu berkurang, suasananya sudah lumayan tenang, meskipun masih ada beberapa keluarga yang mungkin masih ingin menikmati sunset di tepi danau.
Bulan merangkul suaminya dari belakang, dia sangat bahagia bisa menjadi bagian dari suaminya itu.
" Suamiku, aku sempat lelah untuk memgobatimu, aku hampir menyerah, karena kau sungguh tidak ada kemajuan sedikit pun, tapi hari ini aku sudah mengumpulkan banyak semangat membara, mengumpulkan banyak sabar dan kekuatan, aku akan mencoba dan tidak akan menyerah, maafkan istrimu ini yang pernah berpikir untuk menyerah atasmu!" ujar Bulan jujur.
" Aku percaya pada istriku." ujar James.
" Terimakasih kali ini aku akan akan lebih bersemangat lagi Sayang. " ujar Bulan
Bulan pun melepaskan pelukannya dan mendorong lagi kursi roda suaminya.
Namun dari arah kiri ada anak kecil berbadan gemuk sekali berlari menuju danau, Bulan spontan menghalangi anak itu agar tidak tercebur ke dalam kolam, anak itu mencoba menahan langkahnya namun malah jatuh menabrak tubuh Bulan, sialnya Bulan terpental karena tubuh anak itu dan masuk ke dalam sumur.
" Bulan ..." teriak James khawatir.
Namun James tidak bisa apa-apa, karena dia lumpuh.
Anak kecil itu menangis, berteriak karena ketakutan ibunya datang segera membangunkan anaknya dan meminta tolong pada orang - orang sekitar, memang sudah tidak banyak orang hanya tinggal beberapa, mereka hanya melihat saja, karena mungkin tidak bisa berenang.
James sudah histeris berteriak - teriak dia berusaha sekuat tenaga ingin berdiri menolong Bulan namun tetap tidak bisa, air mata James sudah berlinang dia tidak ingin kehilangan Luna untuk kedua kalinya.
Sanny yang datang membawa permen gulali pun sangat terkejut melihat Bulan sudah berada di dalam air dan tidak ada yang bergerak menolongnya, Sanny membuang gulalinya dan berlari untuk melompat, namu saat akan melompat mata Sanny terbelalak.
Dia melihat James melompat dengan sendirinya ke dalam Danau.
__ADS_1