
" Kalian menginap di sini kan?" tanya Matriks.
" Tidak Ayah, kami ke sini sekalian bulan madu, nanti kalau menginap di sini, Ayah ganggu lagi." ujar James.
" Astaga, ini anak ." Matriks tidak bisa berkata-kata lagi dengan putranya.
" Ayah, mulut James sangat berbisa maafkan James Ayah." Ujar Bulan tak enak hati dengan mertuanya.
" Kenapa kau yang minta maaf?, tenang saja Bulan, Ayah sangat paham dengan putra Ayah sendiri, kau tidak perlu meminta maaf." ujar Matriks.
" Tetap saja, Bulan tidak enak hati pada Ayah, sekali lagi maafkan James Ayah." ujar Bulan.
" Ayah saja banyak salahnya tidak pernah minta maaf, kenapa kau begitu tidak enak hati Moon?, Ayah kami pergi dulu!" ujar James bodo amat.
" Ayah, maaf ya ..." Bulan rasanya ingin menjitak kepala suaminya itu dengan keras, jadi anak sangat tidak sopan pada orang tua.
" Sudah, jangan pikirkan rasa tidak enak, anak itu memang benar, Ayah ini sangat banyak kesalahan, Bulan tolong jaga James ya, dia sebenarnya anak yang penyayang, karena keadaan lah yang membuat hatinya keras dan kejam." ujar Matriks pada Bulan.
" Siap Ayah, kalau begitu kami pergi dulu, Ayah jaga kesehatan, nanti kalau senggang Bulan akan menelpon Ayah." ujar Bulan.
" Anak baik, semoga Tuhan menyertai mu." Matriks mengusap kepala menantunya itu dengan lembut.
Bulan segera berlari menyusul suaminya yang sudah masuk ke dalam mobil lebih dulu dengan abangnya.
Matriks sangat bahagia melihat anaknya mendapatkan istri yang tepat.
" Sayang, aku lupa bertanya, dari mana kau dapat mobil?" tanya Bulan.
" Ya kalau ada uang langsung beli dong." jawab James.
" Begitu rupanya." Bulan pun segera masuk ke dalam mobil.
James sudah mencari tempat tinggal untuk mereka yang letaknya jauh dari kediaman pak tua.
" Wah ini kediaman siapa?" tanya Bulan keheranan.
" Tempat tinggal kita selama 2 Minggu, apa kau suka Moon?" tanya James.
__ADS_1
" Suka, di Dubai semuanya serba mewah dan berkilau, punya uang itu sangat penting juga ya." ujar Bulan.
" Tuan sudah sampai." ujar Sanny segera menurunkan James dan juga Bulan, kemudian Sanny pergi begitu saja.
" Lah, Abang mau kemana lagi?" Bulan bingung karena abangnya pergi begitu saja.
" Dia tidak tinggal dengan kita, aku memberinya uang dan memintanya untuk menikmati waktu nya sendiri di Dubai." ujar James.
" Bagaimana jika nanti Abang tersesat." Bulan sangat menghawatirkan Abangnya kalau hilang di Dubai.
" Kau jangan meremehkan Abangmu Moon dia ini orang berpendidikan terlepas dari kesalahannya di masalalu, dia kan juga pernah bekerja di perusahaan besar, dia pasti juga pernah dinas keluar negeri, dia saja bisa 3 bahasa sudah lumayan." ujar James.
" Oh ya, Abang memang hebat!" ujar Bulan.
James langsung berdiri dari kursi rodanya, James langsung menggendong Bulan dan membawanya masuk.
" Eh, aku bisa jalan sendiri, tunggu turunkan aku Sayang." ujar Bulan meronta-ronta.
" Sudah waktunya Moon, kau tidak akan bisa lepas hari ini sampai aku puas!" tegas James.
" Kita bisa bisa bicarakan baik-baik suamiku, kita santai dulu, jangan buru-buru." jantung Bulan sudah berpacu hebat, tentu saja ini adalah pengalaman pertama, yang katanya sudah pasti sakit.
" Itu, tapi ini di ruang tamu suamiku, bagaimana bisa kita melakukannya di sini?" ujar Bulan gugup.
" Pemanasan di sini dulu, nanti yang bagian inti kita lakukan di dalam sayang." bisik James.
Mampuslah, aku kira hari seperti ini masih agak lama, tapi rupanya datang begitu cepat, aku berbicara tanpa berpikir membuatku mati dengan ucapanku sendiri.
Dalam hati Bulan.
" Moon, kau ini sangat cantik dan sexy, hampir saja aku memberikanmu pada Rio, sekarang tidak akan." James mencium rambut Bulan yang sudah terurai dengan indah dan sangat wangi.
" Heheh, kau berikan juga aku tidak akan mau." ujar Bulan.
" Sayang, bagaimana kalau mandi dulu?" ujar Bulan mencari alasan untuk mengulur waktu.
" Istriku sangat wangi dan selalu enak di pandang, kau tidak perlu mandi, suamimu ini bisa menerima kekurangamu dengan sepenuh hati."James mencium bibir Bulan, agar tidak banyak beralasan lagi, memang niatnya datang ke Dubai untuk mencetak James dan Luna Junior, tidak ada toleransi lagi untuk Bulan.
__ADS_1
Karena James sudah lama bersabar dengan keterbatasanya selama ini.
Bulan benar- benar tidak bisa menghindar lagi, James sangat bergairah dan sangat kuat.
Tapi bukankah, pria ini yang sangat dia inginkan sejak kecil, yang dulu selalu menolaknya sekarang sudah jatuh ke dalam pelukannya.
Takdir terkadang memang lucu mereka dipisahkan untuk disatukan lagi dengan cara tak terduga.
Keduanya kini begitu bergairah karena merasa memiliki satu sama lain. Saat James ingin membuka pakaian Bulan, Bulan menahannya.
" Lanjut di kamar suamiku." pinta Bulan.
" Gas!" James langsung menggendong Bulan di pundaknya dengan satu tangan, James menjatuhkan tubuh istrinya di ranjang, tidak pakai basa-basi langsung terlepaslah semua casing dari tubuh mereka.
" Sudah siap Moon?" tanya James.
" Tunggu-tunggu, ... " Bulan menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan.
" Ayo cepat, keburu letoi kamu terlalu lama menarik nafas!" Ujar James sudah kesal, padahal dia ini buka termasuk orang yang sabar.
" Sebentar, kau kira ini pemilu, coblos masuk kotak, aku sedang mengumpulkan mentalku." ujar Bulan.
Karena sudah tidak sabar, James langsung mencium bibir Bulan dengan sekuat tenaga, karena tujuannya mencetak anak ya cetak, James langsung menghunuskan pedangnya ke lawan, sekali, dua, kali tidak tepat sasaran, Bulan sudah teriak-teriak semakin membuat dirinya semakin hilang kendali.
" Tenang Moon, kau ini jangan banyak gerak, kau kira aku tidak gugup?" ujar James.
Bulan pun mulai tenang, ...
" Lembutlah sedikit, aku ini ketakutan." ujar Bulan.
" Maaf, ..." James pun mencubu istrinya dengan lembut sehingga Bulan terbuai dalam sentuhan suaminya.
" Aagggggh ... " teriakan panjang menandakan James sukses dalam misinya.
" Sssshhh ... sakit suamiku." Air mata Bulan pun mengalir deras, berbeda dengan James yang merasakan kenikmatan yang luar biasa.
James ya hajar terus, sampai Bulan benar-benar terbiasa dengan rasa sakitnya, dia kan bukan orang yang sabaran.
__ADS_1
" Ampun suamiku, istirahat dulu ..." ujar Bulan meminta ampun pada suaminya agar diberi waktu untuk istirahat.
James tidak mendengarkan istrinya, karena kali ini dia sedang menjadi pria egois, bisa memiliki orang yang dicintainya dan mencintai nya adalah anugerah yang tidak terlukiskan untuk James, kehadiran Bulan benar-benar merubah cara hidupnya, dia yang tidak berambisi dalam apapun kini dia sangat bertekad dan ambisinya sangat kuat, sekarang dia benar-benar ingin memiliki keluarga yang bahagia dengan Bulan, dan tentunya di umurnya yang sudah matang, pasti ingin sekali memiliki seorang anak, entah itu laki-laki atau pun perempuan sama saja jika itu adalah hasil karyanya dengan Bulan.