
" Chelsea kau tinggal di mana?" tanya Bulan.
" Aku tinggal di daerah selatan Dok, aku dari kampung." jawab Chelsea.
" Kenapa kau di pecat?" tanya Sanny.
" Pasienku tidak mau di suntik, tapi kan memang harus mendapatkan injeksi, tapi ya mereka memang sangat kaya, aku sudah tahu aku akan segera dipecat, saat mendapatkan pasien yang sulit seperti pesienku!" ujar Chelsea.
" Berapa orang yang akan dipecat setelah mu?" ujar Sanny heran.
" Aku tidak berharap mereka bernasib sama sepertiku!" tegas Chelsea.
" Mulai sekarang kau tinggal bersamaku di sini ya!" ujar Bulan.
" Memangnya boleh?" tanya Chelsea.
" Aku berharap kau tinggal dan menemani adikku, agar dia tidak kesepian, hari ini aku akan ikut dengan Ayahku, maaf Bulan Abang tidak bisa menemanimu untuk sementara!" Sanny tampak sedih karena tidak tahu apakah nanti dia akan ada waktu untuk bersama dengan adiknya itu atau tidak.
" Iya Abang, semangat!" Bulan sangat senang karena abangnya rupanya bukan dari keluarga sembarangan.
Tak lama Moses datang bersama orangnya.
" Tuan, ..." Sapa Bulan.
" Rumah kecil seperti ini, apa kau bisa tidur nyenyak?" ujar Moses.
" Bisalah, Tuan ini aneh sekali." jawab Bulan.
" Ayo, Sanny ikut ayah pulang!" tegas Moses.
"Ayah, bagaimana dengan Bulan?, aku sangat khawatir." Sanny tak tega meninggalkan adiknya sendirian.
" Pindahkan Nona Bulan ke tempat yang sudah aku aturkan!" Tegas Moses.
" Apa? Pindah?" Bulan terkejut.
Moses mencarikan kediaman di dekat perusahaan Zenta, karena Moses tahu jika putranya itu tidak bisa jauh dari adik kesayangannya itu.
Bulan dan Chelsea pun di tarik paksa, semua barang-barangnya di bawa, oleh orang - orang Moses.
" Kau tinggal di sini sekarang, mulai besok akan ada sopir yang akan mengantar jemput pulang, tidak ada penolakan, sudah ada pelayan di kediaman ini, makan apapun kau tinggal minta pada mereka." ujar Moses.
__ADS_1
" Tuan, ini berlebihan!" ujar Bulan.
" Diam, aku tidak butuh pendapatmu!" ujar Moses.
Moses pun segera pergi, Sanny pun meminta adiknya untuk menikmati apanya di berikan oleh ayahnya.
Sanny pun segera ikut kembali ke kediaman Zenta.
Sanny sangat terkejut, rupanya keluarga Zenta itu sangat luar biasa kaya.
Sanny memasuki ruang utama di kediaman itu, rupanya ada pesta di rumah itu, namun saat melihat Moses, tiba-tiba suasana menjadi kacau, mereka sangat terkejut dengan kehadiran Moses yang tiba - tiba, karena setahu mereka Moses masih di rawat di rumah sakit.
" Tuan, tuan, anda sudah baikan." seorang wanita muda mendekati Moses.
Dia adalah wanita Moses, yang ketiga, istri sah Moses hanya satu saja, yang lain hanya wanita yang di peliharaannya tanpa status.
Total wanita Moses ada 7 dan yang satu istri Sah, Ibu Sanny tentu belum terhitung, dan yang tidak terlihat juga tidak tahu.
" Wah, aku sedang sekarat kalian berpesta, memang kalian ini cukup tahu menghibur diri!" tegas Moses.
Moses segera meminta anak buahnya mengusir semua wanitanya dari kediaman itu, mereka sudah tidak berguna untuk Moses, karena Moses sudah memiliki Sanny.
Dan yang tersisa hanya istri sah saja, yang berdiam diri di kamarnya, istri sah Moses tidak pernah peduli dengan kelakuan Moses dan wanitanya, asal mereka tidak mengganggunya saja, meskipun di bawa di satu atap yang sama istri sah Moses tidak pernah ribut dengan wanita - wanita Moses yang lain.
" Ayah, sebenarnya siapa dia?" tanya putri Moses bernama Silya.
" Kakakmu!" jawab Moses.
" Mana boleh ayah sembarangan membawa orang untuk menjadi kakakku!" protes Silya.
" Mama ... Mama ... " Silya berlari memanggil ibunya, tak lama Silya keluar dengan ibunya.
Ibu Silya sangat terkejut saat melihat Sanny, itu seperti melihat Moses di masa mudanya.
" Tere, aku sudah menemukan putraku!" ujar Moses.
Tere berjalan mendekati Sanny, wajah Tere sangat datar sampai Sanny tidak bisa menilai seperti apa karakter istri ayahnya ini.
Sanny menghindar, saat Tere mengangkat tangannya, Sanny pikir, Tere akan menamparnya, rupanya Tere membelai wajah Sanny dengan lembut.
" Siapa namamu Nak?" tanya Tere.
__ADS_1
" Sa--sa--saya, Sanny." jawab Sanny tergagap.
" Syukurlah suamiku menemukan pewaris untuk keluarga Zenta." ujar Tere.
" Maafkan saya Tante ." ujar Sanny.
" Untuk apa?" tanya Tere.
" Saya, terlahir dari wanita lain." ujar Sanny.
" Tidak masalah, tanpa tes DNA aku percaya bahwa kau adalah darah dagingnya, dan satu hal lagi, ibumu lebih dulu bertemu dengan Moses sebelum aku, karena umurmu lebih tua dari putriku!" ujar Tere.
Tere adalah wanita yang baik hati, dan juga cerdas, meski suaminya itu termasuk penjahat kelamin, ya mau bagaimana lagi, dia juga mengiyakan dulu saat dijodohkan dengan Moses.
" Panggil dia Mama, mulai sekarang!" tegas Moses.
"Tidak boleh dia ibuku, enak saja kau mau memanggilnya mama!" sahut Silya tidak terima.
" Aku panggil Bibi saja!" ujar Moses.
" Tidak, aku hanya memiliki satu istri sah, dan yang harus kau panggil ibu dia bukan ibumu kandung!" tegas Moses.
Meskipun Mosws bajingan, tapi dia hanya mengakui Tere saja sebagai istri sahnya.
Sialan, aku benar - benar masuk dalam keluarga yang sangat rumit, bagaimana bisa seperti ini, apa salahku Tuhan.
Dalam hati Sanny.
" Senyamanmu saja Sanny, tapi aku tidak akan membedakanmu, aku akan menyayangimu seperti aku menyayangi Silya." ujar Tere.
Tere sangat senang sebenarnya, karena kehadiran Sanny yang tiba-tiba ini, langsung membersihkan seluruh wanita murahan dikediamannya.
" Mama, aku tidak mau kau membagi kasih sayangmu padanya!" protes Silya.
" Silya, kalian ini satu ayah, kalian harus akur, kalian tidak boleh menyakiti satu sama lain." ujar Tere.
" Mama, ... Aku tidak suka dengannya!" Silya langsung berlari pergi dengan kesal.
" Sanny, maafkan Silya, ... Aku terlalu memanjakannya, nanti lama-lama dia akan menerimamu, sebenarnya dia anak yang baik, tapi dia sangat tidak patuh pada suamiku, karena suamiku banyak selirnya, makanya dia selalu kasar pada ayahnya, dia selama ini berjuang untuk menyelamatkan hartanya dari wanita - wanita ayahmu itu, tapi sekarang sudah ada dirimu, aku lega ..." ujar Tere.
" Bibi, apa Bibi tidak merasa terganggu dengan kehadiranku ini, bagaimana jika aku jahat dan mengusir kalian?" ujar Sanny.
__ADS_1
" Oh, kau tidak sejahat itu ... Aku tahu kau anak baik walaupun hanya sekali lihat, aku tidak akan salah menilai, jika kau ini anak serakah, Moses juga tidak akan membawamu pulang!" ujar Tere tersenyum.
Sanny berkaca-kaca mendengar ucapan Tere, andaikan ibunya sebaik Tere, padahal Sanny sudah berpikir jika nanti mungkin istri Moses akan sekejam Lala ibu tiri James, tapi itu berbanding terbalik, malah justru ibu kandungnya yang kejam.